Sunday, July 23, 2017

Mau Betulin Hape

Beli hape iPhone bagus leren tapi kemudian mati...layar sentuhnya tidak respon lagi. Saya kadi bingung soalnya jauh.harus ke Jakarta buat memperbaikinya.

Hari ini nekad pergi ke sana. Sebetulnya takut mendapatkan teguran karena pergi di hari kerja.

Ini karena hari minggu dulu pernah ke sini tapi tokonya tutup. Sebetulnya Jumat kemarin sudah minta izin sama Pak Isa. Entah dia bakal ingat atau enggak. Jika nanti saya ditegur, tinggal bilang aja ke dia. "Saya hari Jumat udah bilang, Pak saya mau ke Jakarta. Mau memperbaiki iPhone."

Tuesday, June 6, 2017

MOMENT-MOMENT PENTING ANAK KITA

Dari kemarin mau nulis ini tapi bingung dari mana harus memulainya. Jadi saya SMS-an dengan istri di kampung, saya menanyakan kepadanya, apakah Si Nai sekarang masih suka ikut makan sahur? Istri jawab, tidak. Pas dibangunkan, Si Nai berkata, badanku sedang gak enak. Haha, jawabannya niru-niru orang tua.

Tapi memang siangnya dia sakit. Pilek.

Istri bilang, Si Nai pun tidak ikut taroweh. Jika pulang dari Masjid, dia biasanya mendapati Si Nai sudah tidur di kasur barunya di kamar depan. Saat itulah istri, jika saya nanti mendapatkan THR dari perusahaan, mending dipake beli ranjang buat Si Nai aja, dia sudah mau tidur sendiri, di kamarnya sendiri.

Sebenarnya saya bertanya-tanya, apa iya benar, dia sudah mau punya kamar sendiri, dia kan masih kecil.

Ini fase baru buat Si Nai, ketika dia sudah ingin tidur sendiri di kamar sendiri.

Seketika ini mengingatkan saya selama ini saya tidak pernah melihat fase-fase perkembangannya. Saat dia mulai tengkurap, saya tidak menyaksikan bagaimana dia belajar tengkurap. Saat dia mulai belajar duduk, saya tidak menonton bagaimana dia kerja keras belajar duduk. Saat dia belajar merangkak, tidak menyaksikan juga saya bagaimana dia mulai belajar merangkak, tahu tahu udah bisa merangkak, tahu-tahu sudah bisa berdiri, tahu-tahu sudah berjalan, tahu-tahu sudah lari, tahu-tahu sudah bicara, dan sama sekali tidak tahu bagaimana fase-fase perkembangannya, saya sedih sekali ketika mengingat ini, kok bisa saya sampai tidak melihat,

Kemudian tiba-tiba saja dia sudah bisa membaca, dan saya tidak melihat bagaimana dia belajar membaca, bagaimana susahnya mengenal huruf-huruf, saya juga tidak tahu bagaimana dia belajar menulis, bagaimana susahnya tangan dia membentuk huruf a, lalu kok bisa membentuk huruf b, bagaimana dia bisa hafal menuli huruf s, saya juga tidak melihat bagaimana dia mulai sekolah, bagaimana bingungnya dia melihat ternyata banyak anak lain, saat kenaikan kelas di PAUD, saat dia menari dengan hanya pake kemben ke panggung, saat menerima hadiah karena juara 1 di kelasnya, dan sekarang, saat dia sudah tidak mau lagi tidur dengan ibunya, dan masuk kamarnya sendiri, naik ke ranjang yang tinggi, lalu tidur sendiri ....

Saya tidak menyaksikan. Tidak melihat. Hanya mendengar kabarnya saja dari SMS, dari SMS dan dari SMS, dan begitulah sejak dulu hanya dari SMS.

Sejak SMS pertama, "A, aku sudah melahirkan." dan saya pun pulang dari kampus.

Beberapa bulan kemudian, "A beli karet ya, ada di apotik buat gigitan bayi."

"A, nanti beli roda ya, biar Si Nai cepat belajar berjalan."

"A beli poster yang ada huruf arabnya, biar Si Nai belajar," dan saya pun membelinya di Pasar Kemiri Depok tapi kemudian lupa membawanya pulang, bulan berikutnya juga lupa membawanya pulang

"A, beli IQRO ya, Si Nai mau belajar membaca."

Dan sekarang SMS yang datang memberitahu kalau dia sudah mau tinggal di kamarnya sendiri. Ini moment pentin, tapi lagi-lagi, saya sedang tidak berada di rumah.

Jika Anda ayah yang setiap hari melihat fase-fase perkembangan anak, bersyukurlah Anda, karena Anda sangat beruntung bisa melihat pemandangan menakjubkan itu, sebab tidak semua ayah bisa merasakan nikmat seperti yang Anda rasakan.

Monday, June 5, 2017

SEMANGAT LAGI NULIS

Tapi ketika saya bagikan terusannya, banyak sekali orang membaca, dan mereka tertawa.

Sebagian bahkan menshare ke wall pribadinya difacebook, dan bahkan ada yang meminta sambungannya.

Ada yang minta, jika sudah ada sambungannya dia minta dimention.

Ini membuat saya jadi optimis untuk menyelesaikan novel tentang bayam ini, sekalipun belum ada judulnya, tapi saya sudah mempunyai gambaran.

Saya jadi optimis untuk menulis komedi lagi lagi banyak. Dan saya optimis untuk mempelajari komedi lagi lebih dalam.

Kemarin nemu situsya, punya orang barat, di situ komedi dibedah dan dibahas bagaimana teknik-tekniknya.

Tapi saya merasa aneh kepada diri sendiri. Kok amal perbuatan saya begini. Kok tergantung orang lain. Kalau orang lain suka, jadi semangat. Kalau orang lain tidak suka, jadi tidak semangat. Amal macam apa an yang kayak gini.

Harusnya, orang lain tidak suka, orang lain suka, semua tetap semangat, tetap meningkatkan diri, tetap bekerja setiap saat menulis, berbagi nasihat dan pengetahuan dan hikmah dengan kisah-kisah, yang komedi hanyalah sebagai bumbunya dan bukan yang utama.

Akhir-akhir ini saya menjadikan komedi sebagai tujuan utama. Asal lucu aja dan tidak peduli hikmah yang terselip di sana apa.

=====

Saya sudah tidak berurusan lagi dengan nama baik sudah tidak berurusan lagi dengan kesan ganteng, pintar, sudah tidak berurusan lagi dengan sebutan cerdas, saya hanya ingin jujur dengan diri saya apa adanya, jujur dengan kehidupan saya apa adanya, jujur dengan kisah yang saya alami dalam keseharian, jujur dengan kecemasan diri, kegelisahan diri, ketakutan diri, dan semua kejujuran itu saya ingin jadikan kunci menulis sehingga ketika ada orang bertanya, apa kunci rahasia menulismu?

Kunci rahasia menulis saya adalah TIDAK ADA RAHASIA

Saya ingin bebas, saya ingin menulis bebas.

Saturday, June 3, 2017

JANGAN PERNAH MENYERAH, TERUS BELAJAR!!!

Posting potongan novel saya, lumayan ada beberapa orang tertawa, tetapi hanya sedikit orang yang minat membaca. Mungkin judulnya kurang menarik.

Tapi ini jadi pertanyaan tersendiri di hati saya, jika sekarang saja di sosial media tidak menarik minat orang buat membaca. Jika dari 5000 teman hanya sedikit saja yang mau membaca, hanya satu dua orang, lalu bagaimana saat novelnya saya keluarkan. Mencetak buku hanya akan menjadi kerugian.

Saya paling tidak mau membuat orang merasa rugi setelah membeli buku saya, itulah sebabnya sampai sekarang saya tidak juga membuat buku dan lebih suka tulisan saya tersebar saja di facebook tanpa menjadi apa-apa.

Jika tulisan saya tidak menarik minat orang buat membaca, jika hanya sedikit saja orang yang suka, akankah menulis ini saya teruskan?

Harus tetap diteruskan.

Harus saya evaluasi lagi kenapa orang tidak suka. Kenapa tulisan lainnya mereka suka.

Dulu pernah punya tulisan yang banyak share, banyak like, banyak komentar.

Tulisan seperti apa itu biasanya?

1. Tulisan yang lahir dari perasaan cinta berat kepada seseorang.
2. Tulisan yang saya tulis untuk menyatakan protes, tapi tidak bisa, jadi saya menyusun cerita.
3. Tulisan yang lahir dari kejadian tidak menyenangkan.

Apa pun yang terjadi jangan sampai membuat saya menyerah, apa pun yang terjadi harus menjadi pelajaran.

Tapi ada yang lucu nih. Ketika apa pun yang terjadi harus menjadi pelajaran, bawaannya pengen memikirkan mulu, ada masalah sekecil apa pun bawaannya jadi mikir, kalau mikir jadinya pusing, kadang juga bisa jadi sedih.

Ah gak papa pusing, gak papa sedih.

Justru itu akan menjadikan sebuah pelajaran membekas lebih dalam

Saya harus terus belajar menulis. belajar kepada yang lebih pandai, jangan berhenti membaca buku-buku bagus, membaca buku-buku yang membuat saya kagum dan bertanya mengapa saya menjadi kagum, bagaimana teknik penulisannya, bagaimana penyusnan kalimatnya. saya harus terus pelajari dan ini proses yang sangat menarik.

Saya harus belajar bikin skenario, saya harus belajar bikin naskah yang dialognya bagus, berbobot, dan membekas.


KETIKA DIRI MERDEKA DARI SEBUTAN APA PUN YANG ORANG BERIKAN

Terus terang saya adalah orang yang takut dengan komentar-komentar buruk, sehingga ketika mengemukan sebuah pendapat hanya gembira ketika orang lain mengaminkan pendapat saya, dan ketika ada orang lain membantah, perasaan kepala suka jadi panas karena marah. Misalnya ketika kasus angkot dan ojek online lagi panas-panasnya, tersebar tulisan suara hati dari para pengguna angkot yang katanya pindah ke ojek online. Surat itu berisi suara hati dan keluhan kepada sopir angkot, yang kadang menurunkannya di mana saja sebelum sampai tujuan, yang kadang tidak juga jalan sebelum penumpang penuh padahal sedang buru-buru.

Tulisan itu saya share di grup kafe curcol telegram, dan eh saat itu ada yang protes, tidak seharusnya saya menshare tulisan itu karena isinya menyakiti, yang intinya dia berpesan kepada saya harus hati-hati dalam menulis, dan tidak perlu berpihak, dan saya pun kembali menyerang orang itu dengan berkata, apakah kamu berpikir dulu sebelum berkata? apakah kamu memikirkan efeknya setelah menulis barusan? kalau kamu sendiri tidak selalu hati-hati sebelum menulis, kenapa begitu mudahnya menuntut orang lain hati-hati? Konyol itu adalah ketika begitu asyik menuntut orang lain padahal diri sendiri pun tidak bisa, dan beru kepala saya dingin setelah dia mengiyakan kata-kata saya, tapi sebenarnya saat itu ada perasaan kalah, ada perasaan diri saya ini lemah, mengapa mudah sekali tersinggung saat tulisan saya dibantah orang, mengapa ketika beradu pendapat malah orang lain duluan yang mengalah, mengapa saya kalah dalam mengatasi kemarahan.

Dan kalau sudah sampai situ saya merasa tidak nyaman, keluar energi buat hal-hal yang menurut saya tidak akan akan ada hasilnya, tidak menjadi sebuah karya, tidak menjadi tulisan, tidak menjadi cerpen, tidak menjadi buku. Itulah makanya ketika ramai-ramainya orang membahas Ahok, Habieb Rizieq, trus Afi, seorang anak yang tulisannya firal, saya cuma nyimak, dan gak mau bahas tentang itu, gak mau pro kepada siapa pun.

Kalau ada orang nyebut saya netral, dan netral itu sebuah keburukan, oke, tak masalah, baiklah saya netral, dan tak masalah jika kenetralan saya menjadi sebuah keburukan.

Kalau ada orang nyebut saya tidak punya pendirian, ok tak masalah, saya akui diri saya tidak punya pendirian, dan selesai.

Kalau ada orang mau menyebut saya tidak mau bersikap, ok saya terima, tidak mengapa orang menyebut saya tidak bisa bersikap, penakut, cemen, dan sebagainya.

Terserah orang mau menyebut saya apa dan saya merdeka dari sebutan apa pun yang mau orang berikan kepada saya, dan saat-saat ketika saya merasa bebas dan lapang dada dengan apa pun sebutan yang orang berikan, ketika saya justru malah bahagia dengan sebutan apa pun dari mereka, maka itulah saat-saat paling menyenangkan dalam pergaulan saya dengan manusia.

Intinya, saya tidak mau menghabiskan waktu buat perdebatan tidak berguna, saya hanya ingin menghasilkan karya. Ingin menghasilan cerpen, ingin menghasilkan novel, ingin menghasilkan buku, dan jika ingin tahu apa yang saya pikirkan tentang sesuatu, baca saja karya saya, baca saja buku saya!

Friday, June 2, 2017

KANG DIDI

Sayang banget Kang Didi harus close mic, padahal dari semua komik, yang paling saya suka itu dia. Awalnya kurang simpati. Saya melihat dia hanya seorang kuli bangunan yang mau ikut-ikutan doang, terus ngelawak mengandalkan kemiskinan. Tapi setelah beberapa kali nonton, ternyata enggak. Dia lawakan-lawakannya cerdas dan unik.

Apa karena dia sama seperti saya orang Sunda?

Sepertinya bukan.

Unik aja dia itu materinya. Pas ketika membahas liburan, dia bilang, kalau liburan, orang kaya sibuk mencari tempat-tempat menarik, tapi dia mah sibuk cari alasan. Anaknya minta ke Dupan, dia bilang, Nak Jakarta banjir. Anaknya mau ke Tangkuban Perahu, dia bilang, Nak, perahunya bocor. Dia juga cerita selama jadi komika ini dia merasa sedang liburan. Tinggal di hotel, tidur di atas kasur empuk, yang terbayang hal-hal indah, gak kayak di rumah, yang kebayang cicilan. Gara-gara dia suka nginap di hotel, anaknya protes, "Bapak mah enak, tiap hari liburan, tidur di kasur empuk, makan nasi kotak, tiap hari naik lift." Dia bilang ke anaknya, "Nak, kan Bapak kerja." Anaknya protes, "Apa Pak? Kerja? Pret!! Katanya Jakarta banjir."

Hebat, dia bisa bikin collback. Bagi yang tidak tahu istilah collback cari aja di google, itu sudah umum di dunia stand up.

Terus saking jarangnya liburan, anaknya suka norak. Mau diajak mandi bola, anaknya bawa handuk. Terus ibunya bilang, "Nak, gak usah bawa handuk, kan udah disediain." Trus dia juga bilang di Dupan itu ada rumah miring, maka dia protes, kalau mandor dia tahu, bakal dibongkar itu rumah miring. Miring memasang satu bata saja dia suka ditegur, ini orang dengan kesadaran tanpa pengaruh alkohol, membangun rumah miring! Ini anak proyek mana? Mencemarkan komunitas!!

Yang lucu juga pas lagi ngomongin film, dia bilang, "Di film-film itu suka ada tokoh jahat yang menganiyaya orang miskin. Tujuannya mungkin supaya dramatis. Tapi menurut saya, gak perlu ada orang jahat. Tanpa orang jahat pun, hidup orang miskin udah dramatis. Jangankan dijahatin ya, dalam seminggu saja ada teman yang kawinan, kita mah merasa dibegal. Bayangin aja, 50.000 satu amplop, kali tiga = 150.000. Duit buat cicilan kasur hilang. Kurang dramatis apa. Terus di film-film itu suka ada tokoh yang gak masuk akal, gak pantes, ada nih biasanya gadis miskin, buat makan aja susah, tapi make upnya tebak, alisnya ditato, tato naga, bibirnya nih bibirnya gurih-gurih nyoy.

"Istri saya aja, boro-boro kebeli make up. Lipstik aja pake krayon. Anak saya lagi ngegambar, 'Nak, pinjam ya sebentar.' 'yang mana mah?' 'itu yang warna hijau.'"

Dia juga protes sama pemeran orang miskin yang berlebihan, sampai baju robek-robek, kayak habis berantem sama macan, muka kumal, sampai dia bilang, itu orang miskin kok malas amat cuci muka. Dia bilang, bukan bermaksud merendahkan pembuat film, karena pasti sudah sepuluh tahun berpengalaman bikin film, tapi, "jangan salah, saya sudah 34 tahun berperan menjadi orang miskin. Kurang pengalaman apa, coba? Jadi kalau ada orang bilang, kenapa wajahnya seperti orang susah melulu? ini karena mendalami karakter."

Hal lucu lainnya ketika dia protes kepada Indro Warkop, "Ngomong-ngomong soal film, saya itu mau nanya sama Pakde Indro. Pakde, kenapa hampir di setiap film Warkop itu selalu ada orang miskin diceburin ke empang?  Kuli bangunan ketiban bata? Tukang beca nyangkut di pohon. Itu pesan moral apa yang ingin disampaikan?"

Indro sampai terguncang-guncang karena ngakak, penonton juga, karena semua tahu memang kenyataannya demikian. Cara membawakan materinya juga bagus, tidak sok lucu, sayang banget, pada penampilannya di show 10, dia ngeblank di tengah materi. Nilainya jadi rendah, dan juri mendiskualifikasinya untuk pulang.

Saya penasaran, reaksi orang-orang bagaimana di komentar youtube. Ternyata banyak yang seperti saya. Banyak yang menyayangkan, banyak yang bilang harusnya yang close mic bukan dia.

"Shock abis, Kang Didi tetap juara di hati fans Suci."

"Kayak nonton Rossi jatuh kemaren, pengen matiin TV langsung."

"Cerita tentang kemiskinan dengan gaya khas Anda sudah menghibur dan mengajarkan banyak hal kepada kami. Terima kasih Kang Didi."

"Kenapa harus Kang Didi?"

"Udah bosen kalau gak ada Kang Didi."

Tapi ada juga yang bilang, "Sabar Bro, namanya juga kompetisi."

Thursday, June 1, 2017

MERANCANG MASA DEPAN

Saya bertanya kepada diri sendiri, mau apa saya ke depannya?

Tadi saya coba membagikan novel humor saya di facebook tapi orang-orang hanya like saja, tidak memberikan komentar, tidak juga mereka tertawa, padahal saya meniatkan itu sebagai cerita lucu. Itu postingan saya untuk kedua kalina. 

Dulu sebelumnya pernah, tapi saat itu orang-orang tidak tertawa, berarti tidak lucu. Kemudian saya perbaiki, orang-orang masih sama tidak tertawa juga. Berarti kelucuan yang coba saya buat gagal. Padahal ingin sekali saya menulis cerita lucu. Dan sudah belajar bagaimana caranya menulis cerita lucu.

Menulis cerita romantis rasanya bosan. Memang banyak orang yang suka, tapi sayanya bosan. 

Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?

Belajar lagi, berlatih lagi, dan perbaiki lagi.

Ingat lagi dasar dari komedi: ADALAH KEJUJURAN

====

Ketika kita jujur, maka hati semua orang akan setuju dengan apa yang kita sampaikan, karena hati mereka pun merasakannya. Di situlah mereka tertawa. Itulah kelucuan sesungguhnya.

Sebenarnya yang saya inginkan adalah bahagia sepenuhnya di rumah, makanan, tempat tidur, tengah rumah, anak, istri, alam, buku-buku, sawah, semuanya, menikmati keseruan-keseruan rumah dan menuliskannya ke dalam kisah, kemudian menjual dan membagikannya kepada orang-orang.

Jika ada hal yang tidak membahagiakan, carilah cara untuk mengatasinya dan tuliskan, kemudian mempraktikkannya. Baik itu masalah pengasuhan, keuangan, hubungan dengan istri, rumah, apa saja. Praktikkan dan ceritakan apa saja yang dirasakan setelah mempraktikkannya.

====

Tapi mungkin sekarang, mungkin akan di kota dulu, berjuang. 

Wednesday, May 31, 2017

HARUS MEMBUAT MISI

Saya harus punya misi dalam hidup ini

Misi saya adalah, berbagai kedamaian dengan sesama
Berbagi kebahagiaan dengan sesama
Berbagi kebaikan dengan sesama
Memaafkan
Dan menjalin sillaturrahmi
Mencintai ilmu pengetahuan dan pengembangan diri

Misi saya itu nanti bisa saya sebarkan lewat blog, dan berbagai sosial media. Terpusat di blog, kemudian setiap kali memposting sesuatu di blog, garis besarnya saya bagikan melalui sosial media.

Kedamaian dan kebahagiaan itu bisa saya sajikan dalam bentuk apa saja tulisan. Mungkin artikel berisi langsung tentang kebahagiaan, atau dalam bentuk cerita tentang pentingnya bahagia, apa saja yang bisa membuat orang bahagia.

Memaafkan. Saya kagum kepada orang-orang yang sanggup memaafkan. Dia menjadi pribadi santai santai dan bahagia. Ketika dirinya bersalah, dia tidak membencinya, tapi langsung memaafkan, berusaha memperbaiki diri untuk ke depannya. Ketika orang lain ramai-ramai menghina, menggunjing, dia mau memaafkan, lalu kembali dirinya santai melanjutkan perjalanan, berkarya lebih banyak lagi, lebih baik lagi, lebih berkualitas lagi.

====

Saat berbeda pemahaman dengan orang lain, menurut saya yang lebih baik adalah kembali konsentrasi kepada diri sendiri untuk berusah membuktikan pemahaman itu benar dan manfaatnya nyata.

Misalnya dalam beragama, kemudian bertemu dengan orang yang pemahamannya menurut kita salah. Daripada berdebat dengannya, lebih baik kembali kepada diri untuk berusaha membuktikan pemahaman yang diri kita punya ini benar-benar nyata hasilnya.

====

Jadi ketika saya mau beradu pemahaman dengan orang lain, lebih baik katakan kepada diri sendiri, "Kalau memang keyakinanmu benar, ayo buktikan kebenarannya. Terapkan kepada dirimu, satukan dengan akhlakmu, resapkan ke dalam hatimu, dan buktikan, jika itu membuatmu lebih baik, berarti pemahamanmu benar. Tapi jika ternyata kamu sendiri tidak mau menterapkannya, tidak mau meresapkan ke dalam hatimu, lalu apa yang kamu harapkan dengan mengadukan pemahaman itu dengan orang lain?"

=====

Yang Maha Benar itu Allah, bukan saya.  Saya hanyalah orang yang berusaha menjadi benar dengan kemampuan yang diberikan kepada saya, dengan pemahaman yang diberikan pada saya.

Ketika saya ingin menyalahkan orang, saya lebih suka memeriksa diri, sudah sebesar apa pengaruh kebenaran yang saya anut kepada perilaku saya, wajah saya, dan cara berkata saya? Jika ternyata kebenaran yang saya pegang, pada diri saya sendiri pun belum ada pengaruhnya, maka


======

Tahapan-tahapan yang akan saya kerjakan:

1. Saya membuat artikel di blog, artikel tentang kebahagiaan dan kedamaian.

2. Kemudian nanti sebarkan lewat sosial media:

Twitter
Instagram
Facebook, ke berbagai akun
Fanspage
Path
Miko
Line
Wechat




Friday, May 26, 2017

HANCURKAN ATURAN!!!

Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperlihatkan kenormalan dalam tulisannya, saya berusaha segila-gilanya dalam tulisan.

Orang berusaha selogis mungkin, saya berusaha segila mungkin. 

Orang berusaha menggunakan logika, saya berusaha meninggalkan logika.

Menjadi beda, langgar aturan, dan lakukanlah kesalahan paling spektakuler.

Kalau ada yang mengannggap dunia ini sebagai masalah berat silakan. Buat saya, kehidupan dunia dan segala permasalahannya ini hanyalah permainan dan bahan-bahan menarik untuk menjadi bahan tertawaan.

Saya menulis cerita hanya untuk ketawa, tidak lebih dari itu. Tidak penting apa itu logika, tidak penting apa yang orang sebut dengan masuk akal. Saya cuma ingin tertawa, cuma ingin ngakak, cuma ingin bersenang-senang. Saya bosan dengan semua konsep menulis yang bukannya membuat saya bebas dan kreatif tapi sebaliknya membuat saya susah.

Dulu saya senang membuat aturan menulis, mengumpulkan aturan menulis buat saya sendiri dan menyebarkannya kepada orang lain, lalu bahagia melihat orang lain teriak, "Ijinkan aku jadi muridmu," 

Atau

"Terima kasih suhu."

"Izin copas."

"Izin share ya."

Tapi ternyata aturan itu buat saya sendiri bukannya jadi lebih baik, malah lebih buruk pusing, terhambat kreativitas, dan menjadi mandek.

Maka sekarang, saya yakin satu-satunya aturan menulis adalah MENULIS SEENAKNYA, dan ketika kita dihadapkan pada sebaris aturan, maka caranya hanyalah HANCURKAN ATURAN ITU!!

Thursday, May 25, 2017

NOVEL TERBURUK DI DUNIA

Begitu bingungnya saya mau menentukan nama tokoh, sampai ketika cerita ini tengah ditulis, belum juga saya temukan harus memberi nama apa. Ojo, baiklah, itu saja namanya. Tidak perlu pusing menentukan nama. Waktu itu berharga, jangan dibuang-buang.

Selesai menulis, Ojo, pria miskin ceking korengan, datang langsung ke kantor sebuah penerbitan menyerahkan naskah kepada team redaksi di sana. Editor meminta Ojo pulang, dan seminggu kemudian kembali diundang buat datang, Ojo kira akan mendapatkan tanggapan bagus, tapi ternyata tidak, sebaliknya malah menerima hinaan.

Editor mengatakan, "Sepanjang kerja di sini belum pernah saya menerima naskah novel seburuk punya kamu!"

Ojo terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Setelah sekian lama kerja keras menulis, ternyata sekarang mendapatkan hinaan.

"Mungkin kami akan menerbitkannya, tapi tidak dengan judul seperti yang Anda gunakan, tapi judul baru."

"Apa itu Mbak?" tanya Ojo.

"NOVEL TERBURUK DI DUNIA."

Kembali Ojo terdiam,

"Bagaimana, setuju emh, siapa namamu?"

"Ojo Mbak."

"Ya bagaimana Ojo, setuju?"

"Baiklah Mbak."

Dan novel itu pun terbit, tersebar ke seluruh pelosok dan mendapatkan hinaan dari berbagai media.

"Ini novel terburuk yang pernah ditulis manusia." tulis sebuah tabloid mingguan.

"Ketidakkonsistenan karakter, banyak sekali kata diulang, banyak kalimat diulang. Opening membosankan dan ending yang sangat basi." tulis koran lain.

"Novel yang ditulis dengan kebodohan dan pemikiran dangkal," bunyi sebuah media online.

Di facebook lebih ramai lagi, status-status bertebaran menjelek-jelekkan novel Ojo. Sebuah status menulis cukup panjang.

"Tidak salah novel ini diberi judul NOVEL TERBURUK, memang novel yang sangat buruk."

Kemudian status itu mendata semua keburukan-keburukannya. Mulai banyaknya salah tulis, kalimat-kalimat rumit dan susah dicerna, nama tokoh yang tidak sesuai dengan wataknya, dan segudang kesalahan penulisan lain yang sangat banyak.

Status itu viral dishare oleh 956.985 orang dalam dua hari saja. Dua hari kemudian, share bertambah menjadi 3.765.987 dan sebagian besar di antaranya, menshare sambil mengamini dan ikut menghina buku Ojo.

Di twitter, tagar #NOVELTERBURUK terus menjadi trendig topik teratas, dan tidak pernah turun ke bawah, meski baris kedua, dan ketika tagar itu dicek, cuitan-cuitan hinaan pun keluar. Mulai hinaan biasa sampai hinaan sadis. Malah sebagian ada yang dibarengi oleh foto sedang merobek-robek buku itu, sebagian cuitan disertai foto orang yang sedang meludahinya.

Instagram pun demikian. Sampai jutaan foto bertebaran memperlihatkan orang menghina buku Ojo dengan berbagai cara. Ada yang sedang melemparkannya ke got, ratusan foto memperlihatkan sedang membakarnya, foto lain orang sedang menginjak-nginjak buku itu, ada juga yang menumpuk buku itu di kandang kambing, malah sebagian ada video sedang menguburkannya dengan kotoran sapi.

Banyak toko buku sengaja menyediakan rak yang diberi nama"BUKU JELEK DAN BODOH" dan satu-satunya buku yang dipajang di sana adalah buku karya Ojo. Ketika berkunjung ke salah satu toko. Seseorang menceritakan itu kepada Ojo dan penulis ini menjadi sedih. Sore hari dia bergeas ke kota, menuju toko buku itu, dan berniat mau memindahkannya, tapi datang ke sana, Ojo melihat rak BUKU JELAK DAN BODOH, sudah kosong, tidak tersedia lagi satu pun. Dia tanyakan ke kasir, apakah masih ada? Kasir itu bilang buku itu sudah habis.

Sekolah-sekolah di seluruh tanah air, dari mulai SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi, meminta setiap siswa membeli buku itu untuk dibedah dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk menceritakan keburukan-keburukan dan kekurangannya.

Orang suka membaca, orang tidak suka membaca, semua berusaha membeli buku itu, dan membacanya, kemudian menjelek-jelekkannya di setiap kesempatan. Di mobil angkutan, di halte bus, di kerumunan penjual sayur, di pasar, di warung-warung kopi, di kelontongan, orang tidak pernah bosan menghina buku itu dan dan mentertawakan nama penulisnya.

Setiap hari, toko-toko buku bisa sampai empat kali mengalami kehabisan buku Ojo. Dan karena banyaknya permintaan, dalam sebulan, buku itu mengalami sembilan puluh delapan kali cetak ulang, yang setiap cetak ulangnya membuat sepuluh ribu eksemplar, dan yang membuat tidak hanya satu percetakan melainkan sampai ratusan.

Setahun kemudian, Ojo tampak sedang duduk di halaman belakang rumahnya yang besar enam lantai, menghadapi kolam renang berair jernih dan tenang, duduk termenung, dari pagi sampai siang, dari siang sampai malam, terus merasakan sakit hati dan sedih karena hinaan orang-orang yang sempat dibaca dan didengarnya.

KETAWA

Kemarin Pak Isa nanya, "Lo ngeluarin orang dari grup whatsapp?"

Saya jawab, "Iya Pak, itu salah lagi, saya gak sengaja lagi ngangkat admin, terus langsung saja saya keluarin."

"Kok bisa gitu sih?"

"Hahaha" saya malah ketawa.

"Lo jangan ketawa, kenapa ini sampai dua kali?"

"Hehe, itu pak jadi kan pas mau nyimpen nomor itu handphone, pas lurusa jari ada pilihan, "jadikan admin" eh saya klik itu lagi. Haha."

"Lo harus hati-hati, jangan sampai terjadi lagi."

"Haha."

"Dan lo jangan ketawa. Karena itu gal lucu. Lo harusnya malu."

"Baik Pak!"

Sebenarnya saya ketawa mentertawakan kebodohan saya sendiri, sampai dua kali melakukan kesalahan yang sama. 

Kayaknya itu sering saya lakukan deh dalam hidup saya. Saya melakukan kesalahan, kemudian mendapatkan kerugian, kemudian kesalahan itu saya ulangi dalam kesempatan lainnya, dan kembali lagi mendapatkan kerugian. Iya betul, itu sering saya lakukan, dan sepertinya itu yang membuat hidup saya gak ada peningkatan bahkan seringnya jatuh dan jatuh kembali untuk ke sekian kalinya.

Tapi soal ketawa, saya tetap merasa ketawa ingin menjadi bagian dari hidup saya, dan lebih baik ketawa daripada marah-marah. Orang mudah marah biasanya akan mendapatkan banyak masalah, sebaliknya orang santai, gembira, akan mendapatkan banyak keberuntungan. 

Orang santai, ketawa, akan mudah berhubungan dengan orang dan akan mempunyai banyak teman.

Dan saya ingin menjadi orang yang pandai mentertawakan diri. Mentertawakan kebodohan diri, mentertawakan kegagalan diri, mentertawakan ketololan diri, mentertawakan kemiskinan diri saya sendiri. 

Saya kisahkan dengan jujur tentang saya kepada semua orang dan biarkan mereka terhibur dibuatnya. Cara hidup ini sepertinya akan lebih membuat saya nyaman dan bahagia daripada harus tegang dan memandang semuanya yang terjadi pada saya sebagai masalah yang membuat saya berduka. Selamat datang hidup, selamat datang masalah, selamat datang kesusahan, selamat datang semuanya, dan saya mencintaimu sebagai karunia termahal dari Allah yang harus saya syukuri.

Wednesday, May 10, 2017

KOTORAN KEBO

Pagi hari jalan-jalan, melewati kotoran kebo. Masih hangat, dan saya tahu itu dari uap yang mengepul darinya. Saya tatap penuh hina, sambil hati berkata, "Dasar kebo, buang kotoran sembarangan."

Saat itu, saya sedang memenuhi mata dan hati dengan kotoran kebo.

Tak puas hati berkata, mulut pun ikut-ikutan. "Kebo siapa sih, buang kotoran sembarangan!"

Saat itu, saya memenuhi mulut sekaligus telinga dengan kotoran kebo.

Tak puas mengatai, saya mencari batu besar dan lempar keras sampai muncrat dan terciprat ke celana dan baju saya.

Masih tidak puas juga, sekarang langsung saya injak-injak sampai bercipratan ke mana-mana. Sandal dan kaki sudah tak jelas rupa.

Masih tak puas juga, saking bencinya saya raup dengan tangan, dan lemparkan, raup lagi dengan tangan, dan lemparkan.

Masih tak puas juga, saya gigit, kunyah, muntahkan, saya gigit, kunyah, muntahkan.

Masih tidak puas juga, tapi saya sudah kehabisan cara.


Thursday, May 4, 2017

SABTU DEPAN

Saya sudah tidak tahan, ingin pulang. Dari kampung pun, SMS istri terus-terusan datang.

"Kalau bisa pulangnya besok ya!"

"Nanti, saya minta izin dulu sama Pak Isa."

Pak Isa datang ke kantor, langsung bilang, "Pak, Sabtu saya izin."

"Sabtu?"

"Iya Pak."

"Yang izinnya Sabtu atau Kamu?"

"Sabtu Pak."

"Hah? Gimana sih?" mata Pak Isa memicing.

"Iya Pak, Sabtu."

"Ya sudah, berarti biarkan aja Sabtunya yang pulang, Elo tetap di sini."

"Enggak Pak. Jadi Sabtu akan membawa saya pulang ke kampung."

"Sabtu kapan?"

"Sabtu depan?"

"Sabtu depan atau Sabtu ini?"

"Sabtu depan."

"Kalau Sabtu depan, berarti setelah Sabtu besok, kamu pulang Sabtu depannya lagi."

"Lha itu kan namanya Sabtu lusa."

"Bukan."

"Terus, harunya saya menyebut Sabtu apa?"

"Sabtu ini."

"Lho, ini kan bukan Sabtu, ini malam Jumat."

ACAKADUT

Sebagian orang suka membebani pikiran sendiri dengan keinginan ingin kelihatan sempurna. Jika berkarya, ingin memperlihatkan yang terhebat bia rmendapat decak kagum, pujian. Jika tampil, inginnya sampai bukin mata orang yang meloncat keluar dengan lidah terjulur saking kagum kepadanya.

Gue tidak berusaha menjadi Tuhan, dan merasa telah cukup bahagia dengan diri gue sebagai manusia, dan bergaul dengan orang lain yang juga manusia. Berdekatan dengan mereka, nyaman dengan mereka.

Gue tidak, gua main playerground apa adanya, dalam keaadaan gak bisa langsung live, guer pertontonkan kepada orang-orang. Dan karena gue sering mati konyol, orang-orang yang melihat pada ngebuli gue, pada ngeledekin.

Gue mungkin bakal alergi kalau membebani pikiran ini dengan rasa ingin kelihata sempurna. Karena dengan begitu gua menjadi orang yangb hanya merindukan pujian dari orang-orang.


Apa arti teman-teman buat lo?

Buat gue, sangat berarti.

Mau dia ngomongnya baik, mau ngomongnya jahat! Buat gue tetap berharga. Tetap berharga, dan sangat berharga.

Teman-teman bikin hidup gue jadi lebih berharga.

Lo kadang alergi dengan orang-orang yang komentarnya kurang enak didengar. Trus lo anggap dia haters Lo, trus lu blokir dia.

Gua gak punya waktu buat itu. Gue lebih suka mereka tetap ada dan memberi warna. Gue lebih suka memanfaatkan mereka untuk menjadikan hidup gue ini hasil karya seni terbaik.

Buat gua, kehadiran mereka justru bisa menjadi cerita menarik.

Contohnya, pernah gue memaikan sebuah permainan secara live, dan karena gue kalah, orang pada komen ngebuli, justru buat gua jadi bahan materi motivasi di sebuah video gue.

Ini materi motivasinya gue bikin jadi tulisan:

Gue jelasin, game ini apa. Ini adalah game di mana gue diturunkan di sebuah pulau terpencil bersama 99 orang lain, dan kita harus saling bunuh hingga tersisa satu orang di pulau itu. Jadi di sana kita bunuh-bunuhan. Yang masih hidup itu yang menang. Terjun di sebuah pulau, ngelawan 99 orang lain yang mereka itu bukan komputer, tapi beneran melawan orang lain yang sedang main di rumah mereka, sama kayak gue. Berarti kita ngelawan orang asli yang susahnya berarti susah banget, karena mereka bukan komputer. Mereka mikirnya kadang lebih pinter dari kita. Ketika kita diturunkan bersama seratus orang lain itu kita tidak punya senjata apa-apa. Kita mencari dan mencaari senjata mana yang terbaik, pake helm, pake rompi, pake backpack, pake tas, cari senjata ini itu sampai akhirnya, terserah gimana caranya harus saling bunuh sampai akhirnya sisa satu orang.

Pada awalnya kalian melihat gue bermain permainan ini, dan dalam permainan itu pas awal-awal gue sering sekali mati konyol. Di dalam sebuah rumah, gue tiarap di belakang kursi, mau nembak yang ada di belakang kursi sana, siapa tahu tembus, ternyata enggak. Eh malah dia yang muncul, trus nembakin gue. "Dorrr!!!" nyawa gue melayang.

Kali berikutnya pernah juga dalam sebuah rumah, gue denger suara orang. Dari kamar mengendap-ngendap dengan pistol siap menembak, keluar kamar, mencari orang, tapi dari depan sana, "Dorrr!!" gue ditembak, dan mati.

Lalu gue mencoba main game sistem yang lain di mana kalau tadi sendirian, sekarang gue temenan dua-dua. Karena gak punya temen sesama Indonesia, gue sempet nyoba cari temen secara acak, kemudian temenan sama Jasmit, nicknamenya begitu. Kayaknya dia dari Tiongkok, China. Gue sempet ngobrol sama dia, gue sempet temanan sama dia, dan ternyata hanya beberapa menit saja, Jasmit mati.

Jadi gini adegannya. Waktu itu Jasmit sedang berada di dalam rumah, dia dikeroyok dua orang. Sebagai teman, gue samperin dia ke sana, biar gue belum punya senjata. Gue lari sambil teriak, "Jasmit, are you oke? Gue bantuin! Gue bantuin!"

Gue bantu dia, gue pukul orang yang mencoba membunuh Jasmit, sampai roboh, dan orang itu merangkak keluar kamar, tapi terus gue kejar, dan pukul terus sampai mati. Berhasil, gue berhasil bunuh dia tengan tangan kosong, tapi. "Aahhhhhh!!!!" teriakan gue mengagetkan sepulau Jawa. Ternyata temannya ada di depan, dan dia udah dapat pistol, "Dorrr!!!" dia tembak Jasmit, dan gue cepet sembunyi ke kamar. Itu pengalaman paling traumatik buat gue, karena sudah punya siapa-siapa lagi, gue coba tolong Jasmit, dengan mendekatinya, dan gue pun ditembak mati.

Berikutnya gue main besama teman 4 orang. Kali ini sesama orang Indonesia, teman yang sudah biasa main Overwatch, sekarang coba bareng main Playunknown juga, dan sama juga beresama mereka, mati konyol demi mati konyol gue lalui. Gue lagi baca komen, datang orang nembak ... "Aaah, apa an tuh!! Apaan tuh!! Aaahhh." dan nyawa gue melayang.

Trus kali berikutnya, temen gue udah mati. Gue bilang ke dia, "Tenang, gue balaskan dendam Lo!" Gue pun lari ke rumah lain, cari senjata, tengok sana, tengok sini, ke ruang tengah, ke kamar  nah itu ada senjata, tapi... "Ahh!! ADA ORANG!! ADA ORANG!! AH AHHHHHH!!!! DOOORRR!!! DORRR!!!" Kembali gue mati konyol.

Kali lain temen gue udah mati, tinggal gue sendirian di atas, mau bunuh orang di bawah, tapi melihat ke sana ngeri, takut dia duluan nembak. Untungnya ada geratan. Gue cabut, dibuka pinnya, siap-siap melempar, cari posisi bagus, cari posisi bagus, dan "DUAAARRRRR!!!!" Geranat meledak di tangan gue! Gue mati Cuy!! Gue mati lagi!!

Permaian berikutnya, macem-macem cara mati gue. Udah kesetrum listri, udah kebakar, dan karena life orang-orang yang nonton mencaci-maki gue. Ada yang bilang,

"Bego Lo Bang!!"

"Cupu Lo Dit, mending maen kelereng aja Dah!!"

"Mainnya gak usah panikan kayak gitu lah Bang. Mainan kayak gini mah butuh tenang."

"CUPUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!"

"Gregetan sendiri lihatnya!!"

"Lo matinya konyol Bang, ngebakar sendiri. Wkwkwkwkwk."

"Frustasi gak bisa nge-kill, malah bunuh diri!"

"Abang cucok mainnya."

Tapi gue tetep berusaha. Gue gak mau menyerah.  Dan setelah satu kematian demi kematian lain, setelah satu mati konyol ke mati konyol lain, akhirnya gue berhasil ngekill 3 orang dengan tangan kosong. Satu persatu gue bunuh dengan tenang, tanpa perlawanan, sampai gue ke orang yang nonton, "Malam ini lo bisa tidur tenang, karena gue bisa bunuh orang."

Berikutnya, gue mulai bisa menembak orang sampai mati. Gue tembak, dia naik tangga, mau masuk rumah, di pintunya gue kembali tembak, dan kena. Gue susul dia ke sana, sudah merangkak-rangkak, dan gue tembak mampus. Terus juga di rumah, gue tembak orang dan kena, tapi dia mencoba kabur, turun tangga, gue susul juga turun tangga, dan kelihatan di ujung sedang merangkak memegang perutnya yang luka. Gue tembak sekali lagi, dan mati.

Sampai suatu ketika, saat itu pun datang. Gue berempat. bersama tiga orang teman, dan inilah yang terjadi. Di sebuah pelataran tinggi yang banyak pohonnya, tersisa musuh satu orang lagi. Gue cari gak ketemu-ketemu! Sambil takut-takut deg-degan gitu, gue jalan, cari dia, dan "Nah itu!"

Kelihatan dia lari mau sembunyi ke balik pohon, cepet gue tembak. Tapi gak kena. Dia sembunyi ke balik pohon, dan mungkin karena kena listrik, dia mati, Akhirna kami menang!! Kami menang!! Di dalam kamar gue sorak sendirian sambil merentangkan tangan ke atas dan menjatuhkan punggung ke sandaran kuri.

Tadinya kami mau merayakan kemenangan ini, tapi harga tumpeng mahal, jadi gue rayain aja dengan membuat video cuplikan-cuplikannya, yang di dalamnya gue bisa bercerita bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kalian, di mana hidup ini seperti Playerunknown Battleground di mana kalian bisa terus berusaha, kalian mencoba terus untuk jadi yang terbaik, sekalipun banyak orangb memberi komentar payah, bodoh, cupu, tapi kalian harus tetap berusaha, kalian harus tetap menjalani hidup kalian sampai akhirnya kalian bisa menjadi pemenang.

Wednesday, May 3, 2017

IBUNYA SI PINK

Gelombang roadshow film Koala Kumal ngelempar gue sampai ke Tasikmalaya. Terdampar di sebuah hotel, bangun tidur, mandi, trus buka tirai, melihat ke luar, hari sudah sangat terang. Mendekat ke jendela, tampak hamparan rumah-rumah memadati kota.

Seperti dibicarakan semalam, sebelum acara, gue mau mampir dulu, ke rumah Zizi, ponakannya Pak Parwez pemilik Starvision. Dia breader kucing gitu, dan waktu ngobrol sama dia semalam, gue baru tahu ternyata ibunya Pink--kucing gue yang sudah meninggal itu--ada di rumah dia.

Gue mau lihat kayak gimana bentukan ibunya pink, jadi gue bersiap berangkat ke sana.

Tapi pas mau turun, liftnya aneh gitu. Beberapa kali gue pencet gak kebuka juga. Dasboard digitalnya berhenti di angka delapan, terus gue pencet ke bawah gak mau nyala. Gue bingung musti gimana buat turun. Gak mungkin buka jendela terus loncat, ilmu spydermen gue belum cukup matang buat melakukan itu.

Sedang bingung begitu, datang petugas. Gue bilang ke dia, "Ini gak mau nyala ya?"

"Lagi trouble Pak! Gak bisa, lewat sini aja." dia nyebut gue bapak, gak tahu gue belum jadi bapak-bapak. Gue belum punya anak Cuy.

"Lewat apa?"

"Lewat lift service Pak!!" buset dah. Itu lift buat ngangkut barang. Tapi gak papa. Masalahnya dia nyebut gue Bapak.

Sekali lagi nyebut bapak, gue keluarin jurus pamungkas. Kayaknya orang ini belum pernah ngerasain hame-hame deh.

"Dari kapan troublenya?"

"Barusan Pak!"

Untungnya dia staf hotel ini. Jadi meskipun sejengkel apa, gue gak berdaya. Lagi pula dia mau baik nganterin gue sampai ke bawah yang ternyata langsung masuk parkiran.

Karena gue gak tahu jalan, keluarga Zizi yang datang menjemput. Di kursi depan, duduk anak gemuk berkacamata, berhidung mancung, kulit kehitaman dengan struktur wajah mirip anak-anak yang biasa main di film India. Tapi yang lebih menarik perhatian gue adalah kucing di pangkuan dia. Kucing ras sphink, sama seperti si pink.

"Siapa namaya ini?"

"Clause." jawab anak gendut itu.

Zizi bilang, Clause ini ponakannya Si Pink. Jadi anak saudaranya. Trus kita berangkat meningalkan kotel, mengikutin mobil menuju rumah Zizi. Di sana banyak kucing.

"Berapa banyak kucingnya Zi?"

"Sekitar 30."

Gue mau masuk ke dalam, tapi entah kenapa Zizi nyuruh gue nunggu di luar aja. Dia sendiri yang ke dalam, terus satu persatu kucing bugil itu dia panggul dan bawa keluar. Gila, gue sampe ngakak melihat kucing itu gemuk-gemuk. Kayak obesitas gitu, lalu gue sakit perut ketawa terus lihat kucing berikutnya.

"Hahahaha," beneran gak tahan lihatnya.

Ini kucing sphink lagi hamil buncit banget perutnya. Zizi menurunkan kucing itu ke halaman, terus nyuruh jalan sendiri, lari-lari. Geli banget gue melihat larinya bawa perutnya yang hampir nyentuh tembok halaman. Saking perutnya berat dan menggelayut ke bawah, sampai-sampai ekornya terus-menerus mencuat ke atas. Gokil abis, tapi dari hati ini keluar rasa sayang. Jadi gue tangkap, bawa ke pangkuan, trus duduk di tangga, minta difoto bareng dia.

Tapi satu hal belum terjawab, tadi gue nanya Ibunya Si Pink yang mana, Zizi belum ngasih tahu juga, padahal tujuan terpenting datang ke rumahnya ya itu, gue pengen banget ketemu ibunya. Ibaratnya seorang tua angkat, kini dalam gemetaran buat ketemu orang tua si anak, dan udah gak sabar pengen segera ketemu dia, pengen membungkuk trus duduk simpuh, minta maaf, mengakui diri bodoh, teledor, gak bisa ngurus anaknya, kok sampai bisa meninggal.

Entah kenapa Zizi gak ngasih lihat juga, jadi gue minta masuk ke rumah kucing. Zizi bilang, "Tempatnya bau?"

"Gak papa." jawab gue.

"Tempatnya bau, gak papa?" tanya Zizi sekali lagi.

"Gak papa."

Akhirnya Zizi membawa gue ke rumah kucing, trus masuk ruangan yang di dalamnya ada kandang, di situ seekor kucing tengah berdiam santai. Gue gak tahu musti ngomong apa sama kucing itu, yang bisa gue lakuin waktu Zizi mengeluarkannya dari kandang, gue cuma bisa ngusap-ngusap dia, dan gak pernah tahu mau ngomong apa buat minta maaf, dan gue juga gak tahu, kalau saja dia manusia, bakal bilang apa dia ke gue jika tahu anaknya meninggal dalam perawatan gue.

Sunday, April 30, 2017

LEBIH BAIK MENJADI ORANG BODOH

Saya menulis ini sambil makan kopimix. Iya makan, tidak salah tuls, kopi ini saya makan tidak saya minum, alias membuka plastiknya dan ditenggak langsung ke mulut sambil megangkat muka dan hampir tersedak.

Oh tadi saya membuka blog sebenarnya mau menulis ini, masalah Raditya Dika.

Kenapa Raditya Dika?

Sebenarnya ini hanya pendalaman saja sih. Ketika saya suka dengan karya seseorang, maka saya suka penasaran dengan karya lainnya bahkan sampai kepada pribadi orang itu.

Dulu saya suka dengan La Tahzan, karya Aidh Al Qarni, maka apa pun tentang dia ingin saya baca. Karya apa pun keluar daari dia saya suka penasaran, selalu berusaha membeli dan membacanya. Ketika suka dengan Aa Gym, kaset dia, buku dia, saya beli dan baca. Ada acaranya di TV berusaha saya tonton. Dan sekarang, sedang tertarik dengan Raditya Dika, apa pun dari dia, buku, video, film, bahkan video keseharian dia yang menurutnya sendiri gak penting, saya senang sekali menontonnnya, sambil bertanya-tanya, kenapa saya nyaman ya nonton dia, dan kenapa orang lain pun banyak yang suka kepadanya.

Itulah latar belakang saya menulis tentang dia.

======

Aduh kalimat awalnya jadi lupa, padahal tadi sudah menemukan kalimat bagus. Apa ya? Benar-benar lupa. 

Pelajaran: kalau menemukan hal luar biasa ingin ditulis, langsung saja tulis. Menundanya dan malah menulis hal lain, ide penting utama malah bisa hilang.

Begini, saya awali saja:

Saya temukan orang lain tidak seperti dia. Saat mendapatkan komentator menyerang, yang lain berusaha membela diri. Berusaha membuat dirinyah kelihatan benar dan menyalahkan komentator. Seperti kemarin, saya melihat yang posting video dia baru saja mempunyai rumah, kemudian banyak komentator bilang dia itu pamer, norak, sombong, dia membela diri dengan mengatakan komentator itu HANYA BISA MELIHAT NEGATIFNYA TIDAK BISA MELIHAT SISI POSITIFNYA.

Kemudia saya bayangkan Raditya Dika jika mendapatkan komentar seperti itu, apa yang dia lakukan?

Karena sibuk dengan berkarya, dia tidak sempat menjawab. Dia biarkan saja komentar itu datang, tidak memblokirnya tidak punya menyerangnya, dia biarkan dia ada, dia memberi ruang, dan itu membuat orang, siapa pun itu, tetap betah mengunjungi videonya dengan tetap merasa nyaman menjadi pelanggan.

Beda dengan saya yang dulu pernah membuat grup facebook, Fiksimini Bahasa Indonesia. Pertama kali dibuka grup itu ramai. Orang banyak tertarik datang buat belajar dan membangun sillaturrahmi. Tapi kemudian, ketika datang orang menyerang saya dengan kata-katanya yang tidak menyenangkan melalui sindiran, saya menyerang balik dia dengan kata-kata menyakitkan, dan ini membuat suasana jadi panas yang akibatnya, bukan hanya orang itu yang pergi meninggalkan grup, tapi member lainnya pun ikut merasa tidak nyaman.

Bagaimana akhirnya grup itu sekarang?

Sepi

Dan itu saya lakukan di grup lainnya yang saya buat. Saya berusaha menjadi orang yang tidak bisa dibantah, anti kritik, dan setiap kali orang mendebat, saya menyerang dia balik. Akibatnya bagaimana? Di grup yang saya buat, saya sendiri tidak punya harga diri, hanya sedikit orang yang respek, hanya beberapa orang saja yang akrab. Mereka hanya akrab dengan member lain dan sepertinya sungkan ketika harus berinteraksi dengan saya.

Sungguh ini pelajaran berharga tentang menyedihkannya nasib orang yang MENJADI ORANG YANG MAU TERUS DIBENARKAN DAN TIDAK MAU  DISALAHKAN.

Itulah yang semakin meyakinkan saya bahwa bergaul dengan orang lain lebih baik menjadi orang bodoh, yang tidak merasa diri memegang kebenaran yang paling benar, yang tidak mudah menyalahkan orang, menjadi orang yang bisa menerima nasihat, bisa menerima kritik, dan menerima siapa saja untuk berdekatan dengan kita.

Saturday, April 29, 2017

KALAU NULIS TUH JUJUR AJA

Dulu saya pernah berniat menjadi penulis kisah nyata. Jika bercerita maka cerita yang kutuliskan benar-benar dari kisah nyata. Bukan kisah rekaan, mengingat berbohong itu gak dibolehkan.

Dan beberapa cerpen saya pun dengan begitu mudahnya terbit di koran karena saya tulis dari kisah nyata. Kisah-kisah yang saya alami dari keseharian.

Eh kemudian saya terpengaruh pendapat yang membolehkan membuat cerpen, novel, sekalipun ceritanya khayalan. Kemudian saya ikuti pendapat itu dan sampai sekarang senang berbohong dengan membuat cerita khayalan.

Dan ternyata sekarang menemukan lagi, yang lebih baik justru kisah nyata, kisah jujur, apa adanya, tidak berusaha menutupi diri dari apa yang dirasakan


Dari Raditya Dika saya belajar. Waktu dia membagikan 5 Quote yang Mengubah Hidupnya, salah satunya dia berkata mengutip kata-kata Neil Geiman, "Komedi adalah segala hal tentang kejujuran."

"Jadi yang penting Lo jujur aja! Jadi kalau kita jujur biasanya jadinya lucu." kata Raditya Dika.

Dan pagi ini saya membaca lagi artikel tentang komedi yang ditulis Radar Panca Dahana, dia apun menulis, orang normal menghafalkan komedi untuk melucu, sedang komedian sejati mentransformasikan pengalaman hidupnya menjadi lelucon.

Saya sering mengulang stand up komedi Fico, dia itu lucu sekali. Selain didukung penampilannya yang gendut, dia pun cerdas. Komedianya dibuat dari fakta. Membicarakn kecap. Dia bisa sulap. Nasi dimasak pake kecap, jadi nasi goreng. Kecap itu hitam, tapi enak. Tidak semua yang hitam itu enak, contohnya oli bekas.

Yang sederhana-sederhana aja. Dari fakta-fakta yang ada. Dari kebenaran-kebenaran yang ada, yang orang lain pun melihatnya, dan dia sebutkan lagi. Dan lucu banget jadinya.

Seringkali saya pergi meninggalkan jalan yang Allah sediakan, Meninggalkan ayat-Nya meninggalkan ajaran-Nya, kemudian pergi jauh mencari jalan lain, dan terus pindah dari satu jalan ke jalan lainnya, sampai akhirnya saya menemukan petunjuk yang mengarahkan saya kembali ke jalan yang Allah berikan, dan meyakinkan justru dari semua jalan, jalan itulah yang lebih benar dan menguntungkan.

Dulu Allah menunjuki saya, untuk mempunyai tekad hanya menulis dari kisah nyata, menulis secara jujur tanpa bumbu kebohongan. Menulis dari kehidupan apa adanya tanpa harus main fiksi-fiksian. Eh tapi kemudian saya tergoda untuk membuat, dan tertulislah banyak kisah khayalan saya, cerpen, novel, dan semuanya belum ada yang benar-benar menghasilkan uang buat mencukupi hidup saya. Dan sekarang menemukan lagi, ternyata, menulis dengan penuh kejujuran, menulis apa adanya dari hidup kita, sejujurnya dari apa yang kita rasakan, jutsur tulisan semacam itu akan menjadi karya luar biasa, original, karena itu berarti melahirkan keunikan yang telah diberikan Allah kepada kita.

Ah tapi sekarang saya sedang menyusun novel komedi yang fiksi, gimana ya. Membaca hadits ini, jadi khawatir juga:

Nabi pernah bersabda, celakalah orang yang berdusta untuk mengundang orang lain tertawa.

Friday, April 28, 2017

SANGAT MENYAKITKAN

Mas Lili adalah teman saya sesama karyawan. Sehari-hari mendapatan tugas cleaning servis dan terkadang pengepakan. Setiap haris dia terbang mengepakkan sayapnya? Bukan, tapi mengepak barang buat dikirimkan kepada pemesan.

Pagi ini dia naik ke lantai dua, tiduran pada kursi yang berbaris di depan meja rapat. Trus dia bilang, "Hari ulang tahun kota Depok. Walikota mengumumkan ada pesta kuliner, siapa saja bisa makan gratis di sana."

Mendengar ada makan gratis, usus saya kontan menyalak, "Guk! Guk!!"

"Syaratnya bawa KTP." dia melanjutkan.

"Bawa KTP?"

"Iya."

"Berarti itu harus orang Depok asli dong."

"Iya,"

"Kenapa sih Mas Lili pake bilang segala? Itu kan kabar buruk buat saya."

"Kabar buruk?"

"Iya Mas, saya kan bukan orang Depok."

"Eh ini beritanya beneran," dia bangkit dari tidurannya, lalu berjalan dan mendekat, "Nih, lihat, ada gambarnya malah."

Sepertinya Mas Lili tidak mengerti perasaan saya. Sudah jelas mendengarnya saja sudah sakit hati, eh malah sengaja dia perlihatkan gambar masakan-masakan enak pada banner, seperti bakar ayam berhias sayuran.

"Aduh Mas Lili ini. Sudah! Mas! Cukup Mas Lili! Cukup!!"

"Bisa kok siapa pun datang ke sana, terbuka untuk umum."

"Tapi orang luar Depok kan harus bayar."

"Iya."

"Nah itu dia Mas! Itu yang menyakitkan buat saya. Orang lain makan gratis, saya sendirian harus bayar. Itu sangat menyakitkan Mas, sangat menyakitkan!"

CERITA YANG BAIK

Terkadang saya berpendapat cerita bagus itu cerita yang seperti ini:

Sejak awal cerita itu sudah menyajikan ketegangan dan ketegangan itu tak pernah selesai sampai tulisan tamat. Cerita itu merupakan rangkaian dari ketegangan demi ketegangan, masalah demi masalah, kecemasan demi kecemasan, kegelisahan demi kegelisahan, kesepian demi kesepian, kegalauan demi kegalauan, kecelakaan demi kecelakaan, perkhianatan demi pengkhianatan, penipuan demi penipuan, pembodohan demi pembodohan, pembunuhan demi pembunuhan, dan masalah itu tak pernah selesai sebelum cerita tamat.

Cerita semacam itulah yang biasa dengan antusias bisa saya baca dari awal sampai tuntas.

Nafsu menggebu tak jua terpuaskan, syahwat meluap tak jua tertuntaskan, dendam membara tak juga terbalaskan, juga bisa menjadi bahan ketegangan. 

Waktu sekolah pernah mendengar kata suspens, kalau tak salah suspens itu berarti ketegangan. Ketegangan dalam sebuah cerita sehingga pembaca benar-benar merasakan seperti apa yang tokohnya rasakan. Tidak tahu sih arti sebenarnya dari suspens itu apa. Benar dan tidaknya silakan cari sendiri, biar ingatan Anda terhadap kata itu lebih kuat.

Intinya, ketegangan sangat dibutuhkan dalam sebuah cerita.

Selama cerita berjalan pembaca, harus dibuat bertanya dan bertanya, harus membuat hati mereka berkata,  siapa, kenapa, bagaimana....

Siapa sebenarnya pelaku pembunuhannnya. Kenapa melakukan pembunuhan itu. Bagaimana cara melakukannya.

Ketegangan dan pertanyaan itu saya rasakan saat membaca karya-karya S. Mara Gd. Bisa sekali dia merangkaikan bahasa yang membuat pembaca merasakan penasaran. Karena kisah yang disajikannya kisah kriminal, maka sepanjang membaca bukunya saya terus bertanya, bagaimana pembuhunan itu akan terjadi, siapa yang akan melakukannya, dan bagaimana melakukannya.

Begitu pula saat membaca cerpen-cerpen karya Ahmad Bakri. Pengarang berkebangsaan Sunda ini cukup banyak diminati karya-karyanya. Caranya bercerita pandai sekali membuat pembaca penasaran. Sebagian besar cerita-ceritanya menegangkan, menyajikan kasus mengerikan yang bisa terjadi dalam kehidupan masyarakat. Misalnya pembunuhan. Saya masih ingat kisah "Dina Kalangkang Panjara." menceritakan seorang wanita yang dicintai seorang pria di kampungnya, kemudian datang ke kampung itu seorang china yang tampan dan mencoba mendatangi wanita itu untuk meminang. 

JUMAT, 28 APRIL 2017

Menemukan kembali facebook teman lama, suka penasaran, ingin stalking facebooknya, ingin melihat-lihat fotonya, sudahkah menikah. Jika sudah, secantik apa istrinya. Menemukan satu foto, ah ini kurang jelas, terus menscroll ke bawah mau melihat yang lainnya, mau melihat lebih jelas. Parah, itu yang saya lakukan selama ini, dan itu membuang-buang waktu saja.

Dari sebagian ciri bagusnya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak penting baginya.

Berarti keislaman saya masih bermasalah, masih belum bisa dikatakan baik, dengan kata lain, keislaman saya masih buruk.

Waktu yang saya gunakan buat melihat foto-foto teman itu menjadi waktu terbuang yang sebenarnya jika saya gunakan buat menulis dan menyusun karya mungkin karya itu sudah sangat banyak.

Tadi setelah shalat Jumat saya melihat lewat di beranda facebook foto teman sedang mencium perut hamil istrinya, yang membuat saya tertarik untuk klik profil akun dia dan membuka-buka fotonya, ternyata dia sudah menikah, dan istrinya tengah hamil, tapi seperti apakah istrinya, saya buka foto-foto dia. Oh berjilbab, dan saat itulah saya sadara, "Saya ini sedang melakukan apa?"

"Apa gunanya?"

"Bukankah sedang menulis buku dan ingin segera dipublikasikan?"

"Kenapa malah buang-buang waktu untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan kamu?"

Dan setelah memikirkan itu, saya berhenti.

=======

Cerita apa lagi ya?

Oh tadi ke warteg mau duduk makan, kelihatan di meja ada koran terlipat dengan tulisan, "Perang suku ..."

Bagi saya ini mengagetkan. Persatuan dan kesatuan negeri ini kian rusak. Kenapa sih antar suku harus berperang. Apa yang disisakan perang selain luka-luka dan penderitaan. Kenapa tidak hidup bersama saja, dengan damai, tenteram, bersama-sama membangun negeri ini biar bisa segera melunasi hutang.

Sambil mulai menyendok nasi dan memasukkan ke mulut, saya masukkan pula huruf-huruf artikel koran, dan saat itu baru ngeh, ternyata ini bukan berita perang suku, seperti perang suku yang dulu pernah terjadi di sebuah pulau, ternyata ini hanya berita perang suku bunga antar bank. Tadi koran terlipat, jadi saya hanya membaca judul sepotong saja.

Banyak sekali hal keseharian saya lewatkan yang padahal jika ditulis bisa diambil pelajaran dan hikmahnya.

Saya baca buku Raditya Dika juga ternyata dibuat dengan ringan dan sederhana, ditulis berdasarkan kisah nyata kesehariannya, dengan jujur, terbuka tanpa berusaha menutup-nutupi biar terkesan baik oleh orang, namun dengan itu jutru tulisannya jadi lucu, dan saya bisa membaca untuk mengambil pelajaran dan hikmahnya.

Seperti buku Koala Kumal yang sedang saya baca sekarang. Dari bab ke bab tidak ada nyambung-nyambungnya. Saya membaca sudah hampir ke bagian tengah dan semuanya merupakan cerita terpisah. Pertama cerita tentang petasan berbeda dengan cerita yang sekarang sedang saya baca, cerita tentang kucing. Tapi tetap cerita itu bisa saya nikmati dengan asyik dan setiap kali selesai bab, saya penasaran buat membaca dan membuka bab berikutnya.

Kira-kira kenapa tulisannya bisa asyik buat dibaca:

Pertama, karena saya suka dengan orangnya, banyak hal yang bisa saya pelajari dari kepribadiannya. Kedua, karena dia seorang penulis dan saya banyak berbagi kisah keseharian sehingga sebagai orang yang ingin jadi penulis, saya pun suatu saat ingin mempunyai budaya keseharian seperti dia. Ketiga, tulisannya menjadi sangat nyaman saya baca karena, dia menuliskannya dengan lancar dan sepenuh hati karena sesuai dengan apa yang dirasakan hatinya.

====

Datang ke meja saya undangan nonton premiere film CRITICAL ELEVEN. Mengingat Mbak Asma dan Pak Isa sedang ke Malaysia, hati langsung berkata, jangan-jangan nanti saya kebagian tugas pergi menghadiri undangan ini, diam-diam saya berharap menggantikan mereka menghadiri undangan nonton film yang biasanya banyak artisnya itu. Kalau iya, betapa menyenangkan saya akan jalan-jalan.

Pak Arief yang menyerahkan undangan itu berkata, "Foto dan masukkan ke whatsapp, bilang ada undangan. Tapi karena belum dibuka jadi belum tahu tanggal acaranya kapan."

Dan saya membuka buat memfotonya kemudian masukkan ke whatsapp sambil menulis, "Pak, ada undangan premiere, tapi belum tahu kapan, belum dibuka."

"Buka saja ya, dan lihat tanggalnya," kata Kamal.

Saya buka dan melihat tanggal, yang terbaca di sana langsung nama hari: Jumat. Jumat itu kan hari ini. Hah, jangan-jangan nanti malam. Pak Isa dan Mbak Asma sedang di Malaysia, wah sepertinya bakal saya nih yang menggantikan mereka datang ke sana.

Namun lalu melanjutkan membaca, tertera tanggal 5 Mei 2017, yah itu kan bukan Jumat sekarang, tapi minggu depan, dan saat itu Pak Isa dan Mbak Asma sudah datang kembali ke tanah air, kalau begini sih pasti mereka.

Ah lagi pula sebenarnya saya tidak pantas berharap. Mengingat pengalaman sebelumnya setiap kali ada acara premiere film dari penerbit tempat saya kerja pun, saya termasuk orang yang tidak diajak, langsung memupus harapan. Mungkin saya termasuk karyawan yang penampilannya cukup memalukan buat diajak ke tempat ramai, dan orang yang kurang nyaman buat diajak jalan. Jadi saya tidak mau terlalu berharap. Sepertinya.

Sakit banget curhat saya kali ini, tapi sepertinya ini mendekati fakta.

====

Mau Betulin Hape