Saturday, February 6, 2016

BUKU NOVEL REMBULAN UNGU

Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan
Melukis gambar rembulan
Rembulan merah muda,
Dan dua ekor merpati terbang di kedua sisinya.
Untuk dia persembahkan suatu saat kepada pemuda yang pertama menggetarkan hatinya.

Panjalu, nama pemuda itu
Adalah prajurit kerajaan Mataram, datang ke rumah sang gadis, membawa surat untuk ayahnya
Tinggal beberapa hari
Dan merasakan getar yang sama.
Tentu saja karena gadis ini perawan kencur yang sangat cantik jelita
Bawaan rupa dari ayahnya yang keturunan China.
Tanpa Panjalu ketahui, sesungguhnya isi surat yang dia antarkan itu meminta, supaya si ayah merelakan gadis ini diambil Mataram untuk dijadikan selir kerajaan.

Setelah beberapa hari Panjalu tinggal
Datanglah prajurit lain sebagai utusan kerajaan, untuk membawa sang gadis

Maka dibawalah
Dan panjalu ikut serta, karena dia memang prajurit Kerajaan Mataram juga
Itulah yang membuat sang gadis mau, sebab merasa aman
Disertai pria yang dicintainya

Akan tetapi sampai di Mataram, dan tahu ternyata dirinya akan dijadikan selir raja
Dengan linangan air mata memohon Panjalu membela
Sebenarnya tak terelakkan
Hati pemuda ini pun hancur berantakan
Tapi demi keselamatan semuanya, keselamatan dirinya, keselamatan gadis yang dicintainya, dia memilih diam.

Dibawalah gadis ini menghadap raja
Sunan Amangkurat, dan langsung terpikat, kemudian memerintahkan supaya menempatkan sang gadis pada sebuah rumah bernama wirarejan, untuk dilatih menari, melantunkan tembang, berdandan, memakai pakaian pantas, dan mempelajari sopan santun istana.

Saat dalam pemingitan itulah Putra Mahkota Raja bernama Adipati Anom datang, melihatnya dan tertarik juga, lalu dengan bantuan kakeknya, Pangeran Pekik, Adipati Anom berhasil mengambil si gadis dan dia jadikan istrinya.

Saat Amangkurat tahu, betapa marahnya dia
Marah kepada orang-orang yang membiarkan calon selirnya dinikahi putranya sendiri
Marah kepada pangeran pekik dan istrinya, lalu menghukum mati keduanya dengan sadis di alun-alun. Marah kepada Wirareja dan membakar rumah beserta isi dan orang-orang di dalamnya sampai binasa.

Marah kepada sang putra mahkota yang memeluk kakinya minta maaf
Amangkurat mengacungkan keris, dan sang putra merasakan itulah detik-detik terakhir hidupnya.

"Tenanglah anakku, keris ini kucabut bukan untuk membunuhmu. Kamu hanyalah orang yang diperalat. Pangeran Pekik adalah kakekmu, mertuaku yang ingin menggulingkanku, dan caranya adalah membuatmu jatuh cinta kepada selirku supaya nanti namaku menjadi hancur karena berebutan wanita dengan anaknya sendiri. Karena itu, nanti akan kuadakan pesta besar dengan keramaian besar, untuk membuktikan kesetiaanmu, kau pegang keris ini, dan tusuklah wanita itu sampai binasa di hadapanku, hanya dengan cara itulah aku bisa memberikanmu maaf."

Pesta besar itu pun diadakan.
Dari kerangkeng gadis itu dikeluarkan, namun sang pangeran ragu
Gemetaran dia pegang keris itu,
Diam
Ragu, bingung memilih mana
"Ayo lakukan, jika kamu seorang yang setia kepada ayahmu."
Masih juga diam, bingung, ragu, takut,
Si gadis lari mendekat, menusukkan diri pada keris itu hingga terkapar, bersimbah darah

Panjalu terbelalak melihat gadis yang dicintainya dengan tulus kini rubuh tergeletak, disanggahnya dengan satu kaki dan tangan. Menjerit lirih meminta maaf tak bisa melindungi, menjerit hatinya kenapa jadi begini.

Mata si gadis masih terbuka, tangan masih sanggup bergerak. Dari pinggang dicabutnya sapu tangan, dia berikan kepada Panjalu, sapu tangan bersulam gambar rembulan merah muda yang sangat indah itu kini tertetesi darah, dan warnanya berubah menjadi ungu.

(Diringkas dari novel Rembulan Ungu karya Bondan Nusantara)

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape