Begitu bingungnya saya mau menentukan nama tokoh, sampai ketika cerita ini tengah ditulis, belum juga saya temukan harus memberi nama apa. Ojo, baiklah, itu saja namanya. Tidak perlu pusing menentukan nama. Waktu itu berharga, jangan dibuang-buang.
Selesai menulis, Ojo, pria miskin ceking korengan, datang langsung ke kantor sebuah penerbitan menyerahkan naskah kepada team redaksi di sana. Editor meminta Ojo pulang, dan seminggu kemudian kembali diundang buat datang, Ojo kira akan mendapatkan tanggapan bagus, tapi ternyata tidak, sebaliknya malah menerima hinaan.
Editor mengatakan, "Sepanjang kerja di sini belum pernah saya menerima naskah novel seburuk punya kamu!"
Ojo terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Setelah sekian lama kerja keras menulis, ternyata sekarang mendapatkan hinaan.
"Mungkin kami akan menerbitkannya, tapi tidak dengan judul seperti yang Anda gunakan, tapi judul baru."
"Apa itu Mbak?" tanya Ojo.
"NOVEL TERBURUK DI DUNIA."
Kembali Ojo terdiam,
"Bagaimana, setuju emh, siapa namamu?"
"Ojo Mbak."
"Ya bagaimana Ojo, setuju?"
"Baiklah Mbak."
Dan novel itu pun terbit, tersebar ke seluruh pelosok dan mendapatkan hinaan dari berbagai media.
"Ini novel terburuk yang pernah ditulis manusia." tulis sebuah tabloid mingguan.
"Ketidakkonsistenan karakter, banyak sekali kata diulang, banyak kalimat diulang. Opening membosankan dan ending yang sangat basi." tulis koran lain.
"Novel yang ditulis dengan kebodohan dan pemikiran dangkal," bunyi sebuah media online.
Di facebook lebih ramai lagi, status-status bertebaran menjelek-jelekkan novel Ojo. Sebuah status menulis cukup panjang.
"Tidak salah novel ini diberi judul NOVEL TERBURUK, memang novel yang sangat buruk."
Kemudian status itu mendata semua keburukan-keburukannya. Mulai banyaknya salah tulis, kalimat-kalimat rumit dan susah dicerna, nama tokoh yang tidak sesuai dengan wataknya, dan segudang kesalahan penulisan lain yang sangat banyak.
Status itu viral dishare oleh 956.985 orang dalam dua hari saja. Dua hari kemudian, share bertambah menjadi 3.765.987 dan sebagian besar di antaranya, menshare sambil mengamini dan ikut menghina buku Ojo.
Di twitter, tagar #NOVELTERBURUK terus menjadi trendig topik teratas, dan tidak pernah turun ke bawah, meski baris kedua, dan ketika tagar itu dicek, cuitan-cuitan hinaan pun keluar. Mulai hinaan biasa sampai hinaan sadis. Malah sebagian ada yang dibarengi oleh foto sedang merobek-robek buku itu, sebagian cuitan disertai foto orang yang sedang meludahinya.
Instagram pun demikian. Sampai jutaan foto bertebaran memperlihatkan orang menghina buku Ojo dengan berbagai cara. Ada yang sedang melemparkannya ke got, ratusan foto memperlihatkan sedang membakarnya, foto lain orang sedang menginjak-nginjak buku itu, ada juga yang menumpuk buku itu di kandang kambing, malah sebagian ada video sedang menguburkannya dengan kotoran sapi.
Banyak toko buku sengaja menyediakan rak yang diberi nama"BUKU JELEK DAN BODOH" dan satu-satunya buku yang dipajang di sana adalah buku karya Ojo. Ketika berkunjung ke salah satu toko. Seseorang menceritakan itu kepada Ojo dan penulis ini menjadi sedih. Sore hari dia bergeas ke kota, menuju toko buku itu, dan berniat mau memindahkannya, tapi datang ke sana, Ojo melihat rak BUKU JELAK DAN BODOH, sudah kosong, tidak tersedia lagi satu pun. Dia tanyakan ke kasir, apakah masih ada? Kasir itu bilang buku itu sudah habis.
Sekolah-sekolah di seluruh tanah air, dari mulai SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi, meminta setiap siswa membeli buku itu untuk dibedah dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk menceritakan keburukan-keburukan dan kekurangannya.
Orang suka membaca, orang tidak suka membaca, semua berusaha membeli buku itu, dan membacanya, kemudian menjelek-jelekkannya di setiap kesempatan. Di mobil angkutan, di halte bus, di kerumunan penjual sayur, di pasar, di warung-warung kopi, di kelontongan, orang tidak pernah bosan menghina buku itu dan dan mentertawakan nama penulisnya.
Setiap hari, toko-toko buku bisa sampai empat kali mengalami kehabisan buku Ojo. Dan karena banyaknya permintaan, dalam sebulan, buku itu mengalami sembilan puluh delapan kali cetak ulang, yang setiap cetak ulangnya membuat sepuluh ribu eksemplar, dan yang membuat tidak hanya satu percetakan melainkan sampai ratusan.
Setahun kemudian, Ojo tampak sedang duduk di halaman belakang rumahnya yang besar enam lantai, menghadapi kolam renang berair jernih dan tenang, duduk termenung, dari pagi sampai siang, dari siang sampai malam, terus merasakan sakit hati dan sedih karena hinaan orang-orang yang sempat dibaca dan didengarnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment