Sementara ini banyak orang berpendapatMenulis itu pekerjaan pikiran
Rumit
Memangnya dia bisa melihat pikiran?
Mata saya sendiri, ampun, tidak bisa melihatnya
Lebih memusingkan lagi, ada yang berkata menulis itu dengan perasaan
Gimana caranya heh?
Saya pusing, beneran pusing, pusing berguling-guling!!
Gimana caranya sih menulis dengan perasaan, memangnya ada anggota badan yang bernama perasaan. Saya lihat dari atas ke bawah, tidak ada organ yang bernama perasaan.
Makanya, kalau ada orang yang bisa menulis dengan mulut, itu mungkin. Kalau ada orang menulis dengan kaki, itu juga mungkin. Kalau ada orang menulis dengan ketiak, itu juga mungkin, kalau ada orang menulis dengan dagu dijepitkan ke dada, itu juga mungkin. Semua anggota badan itu ada dan terlihat.
Tapi ada orang mengatakan menulis itu harus dengan perasaan, harus dengan hati, harus dengan pikiran.
Saya pusing! Bagaimana caranya.
MENULIS ITU PEKERJAAN TANGAN
Makanya jika mau punya banyak tulisan, itu tangan harus rajin menulis. Pasti Anda produktif dan tulisan Anda banyak.
Kenapa tulisan Anda sedikit dan tersendat-sendat.
Antara lain sebabnya karena ajaran tadi, yaitu menulis dengan pikiran, menulis dengan perasaan, padahal selama ini, dia sendiri menulis dengan tangan.
Akhirnya, dikarenakan fakta dirinya sendiri yang bertentangan--yaitu sementara dia berpendapat menulis dengan perasaan dan pikiran, padahal nyatanya dia menulis dengan tangan--akibatnya, dia menulis tidak lancar, tersendat-sendat, seperti tersendatnya perkembangan dan ekonomi negara yang di dalamnya banyak konflik dan peperangan.
Tulisannya tersendat-sendat, karena alih-alih ditulis dengan tangan, ini malah terus dipikirkan. Tulisannya tersendat-sendat, karena alih-alih dituliskan dengan tangan, ini malah terus saja dirasa-rasa.
Menulis itu pekerjaan tangan. Karena itu, menulislah dengan tangan!
(Maaf, sekali lagi ini hanya menasihati diri sendiri. Judul diambil dari ungkapan Andrias Harefa, di bukunya HAPPY WRITING)
No comments:
Post a Comment