Saturday, February 13, 2016

TULISAN DENGAN BAHASA SEDERHANA

Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan "Tidak Semua Musibah itu Luka", dia menulis dengan bahasa ringan, biasa, bahasa yang terjangkau oleh banyak orang. Bukan tidak tahu istilah-istilah keren, populer dan ilmiah--Pak Agung tahu banyak--buktinya, bukan sekali dua kali saya menemukan istilah ilmiah lalu tanyakan pada Pak Agung, dan dia bisa menjawab.

Bukan sebab tidak tahu, dia tahu banyak, tapi lebih memilih berbagi tulisan dengan bahasa ringan, sederhana, dalam bentuk kisah, argumentasi ringan, dan ibarat-ibarat yang mudah dimengerti orang awam. Dia mengerti betul asas dakwah yang Nabi Sampaikah, "Berbicaralah kepada manusia sesuain dengan kadar kemampuan pikiran mereka."

Khotibunnas alaa qodri uquulihim.

Tengah menggarap tulisan ini, karena kebetulan satu ruangan kerja, saya wawancara dia sebentar, "Pak Agung, kenapa dalam menulis tidak mau menggunakan bahasa Ilmiah?"

"Dulu pernah menulis buku, terlalu banyak menggunakan bahasa ilmiah malah tidak ada yang baca."

"Dari sejak itu berhenti mengunakan bahasa ilmiah?"

"Iya. Tulisan saya pernah dimuat di Koran Tempo, membahas otonomi daerah, bahasanya biasa saja."

Beberapa kali saya mengangguk mendapatkan pengertian. Iya juga, kenapa

Seketika saya teringat kepada Amr Khalid, seorang dai mesir, dalam menyampaikan pemikiran, baik ceramah atau tulisan yang dia bagikan melalui buku-bukunya, dia lebih suka menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti banyak orang. Tidak seperti orator hebat dengan suara mengguntur meledak-ledak. Cara dia bicara biasa saja, akan tetapi isi materi yang dia sampaikan kaya akan kisah, hadits-hadits dan ayat. Catatan-catatan sunnah, ayat suci Al-Qur'an yang dia sampaikan meresap lalu orang tersentuh dan tidak jarang mata mereka berkaca-kaca. Itu terjadi karena--sekali lagi-- antara lain dia menyampaikan dengan bahasa sederhana. Maka dia menjadi dai favorit banyak anak muda. Para gadis memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah mendengar ceramahnya.

Saya tulis ini tanpa maksud mengatakan buruk kepada tulisan yang disajikan dengan bahasa ilmiah. Sama sekali tidak. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk  novel legendaris karya Buya Hamka, pada bab "Jiwa Pengarang" beliau berbagi kesan tentang betapa susah menghakimikarya bagus itu seperti apa. Yang ditulis sesuai kaidah atau justru yang melanggar. Ada kalanya sebuah tulisan justru disukai karena kerumitannya. Dan saya sepakat.

Ini soal selera saya. Rata-rata jatuh suka pada tulisan yang tersaji dengan bahasa biasa dan sederhana.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape