Buku kecil, seperti buku anak-anak. Tapi mengapa begitu legendaris. Dibaca dari generasi ke generasi, sampai kini, dan masuk jajaran buku sastra.
Bahkan sebuah rumah produksi mengangkatnya ke layar lebar.
Little Princes
"Pangeran Kecil" ditulis sastrawan Perancis, Antoine de Saint Exupery dan menjadi mastepiecenya.
Dihiasi banyak gambar langsung oleh penulisnya, menjadikan novel kecil ini sangat mirip buku anak-anak.
Ternyata bukan.
Ini karya sastra. Bacaan orang dewasa. Kisah ini penuh perlambang. Untuk memahami berbagai watak dan perilaku manusia, dan rahasia-rahasia sukses membangun hubungan.
Semula tahu buku ini saat main ke rumah teman. Si teman berkata, buku Pangeran Kecil ini kurang dia mengerti apa maksudnya. Anak kecil, terbang dengan burung, menemui raja di plenet mana, terus menemui pemabuk, ada kereta, menimba air, apa ini maksudnya.
Saya ikut membuka. Dan benar, susah paham.
Sampai suatu ketika, saya membaca sebuah buku yang menyebutkan, sebenarnya novel "Pangeran Kecil" ini berisi renungan tentang kehidupan, tentang membangun hubungan.
Oh, benarkah?
Tiba-tiba saya jadi kangen kepada buku "Pangeran Kecil". Ingin membaca, merenungkan, dan mencoba membuka rahasia di dalamnya. Setelah bertahun-tahun, kembali ke rumah si teman, meminjam buku itu dan mulai membaca. Tekun di rumah. Berulang-ulang. Tanpa bosan. Tiap datang kesempatan, membuka. Dari halaman ke halaman, dari paragraf ke paragraf, dari kalimat ke kalimat.
Pangeran kecil dengan planetnya, adalah perlambang seorang remaja yang mulai membangun dunia. Dunianya sendiri. Di planet itu tumbuh mawar, dan mawar itu perlambang hadirnya seorang pasangan. Mawar itu terkadang sangat manja dan melelahkan. Harus dijaga, harus disiram, harus dilindungi dari terpaan angin dan ulat-ulat.
Nasihat pertama tak terlupakan dari buku itu adalah, "Jangan sekali-kali mendengarkan kata-kata mawar. Mereka penuh perbantahan. Hanyalah nikmati kehadirannya."
Seketika teringat kepada orang terdekat. Istri saya. Jika mendengarkan omongannya, terkadang kesal. Pening pikiran. Namun jangan fokus ke sana. Jangan fokus kepada kata-katanya. Mereka penuh perbantahan. Sering apa yang dikatakannnya bukanlah apa yang sebenarnya dia inginkan. Fokuslah kepada arti kehadirannya. Bahwa betapa berartinya kehadiran dia bagi hidup saya. Bahwa kehadiran dia bagi saya anugerah besar. Kebahagiaan tak ternilai. Bahwa dia ada bersama saya dan menjadi istri saya, orang yang bisa saya pegang dan rangkul dengan halal. Kepada itu seharusnya fokus pikiran, Dengan begitu maka hati ini bertambah sayang.
Jangan pernah berpikir meninggalkan. Seperti pangeran kecil yang meninggalkan si mawar di planetnya karena sangat manja dan merepotkan. Namun setelah jauh, tiba-tiba dia menyesal. Dia rindu kepada si mawar.
"Bunga mawar yang sudah kau jinakkan itu satu-satunya bunga bagimu di dunia ini. Karena itu dia sangat berharga." kata Si Rubah, teman baru dia yang membuat Pangeran Kecil begitu kangen kepada mawar yang dia tinggalkan.
Dari lembar ke lembar, dari paragraf ke paragraf, membaca berulang-ulang, novel ini terus saya renungkan. Mengorek makna di baliknya, dan luar biasa. Novel ini banyak memberi pelajaran bagaimana membangun hubungan. Bagaimana menjalani hidup sebagai orang dewasa. Betapa banyak orang dewasa semata usia. Betapa banyak orang dewasa berperilaku menyebalkan. Bagaimana seharusnya memandang kehidupan. Bagaimana memandang orang di sekitar kita.
"Hanya dengan hati orang bisa memandang dengan baik. Yang inti tidak terlihat oleh mata." nasihat Si Rubah.
Beberapa kali membaca, beberapa kali mengulang, beberapa kali merenungkan. Buku itu memengaruhi materi perbincangan saya dengan teman. Setiap kali menemukan teman yang mengalami masalah dalam hubungan dengan orang terdekatnya, setiap kali itu pula saya mengingatkan dia kepada pangeran kecil dan si mawar. Jangan sampai mengalami seperti pangeran kecil, merasakan penyesalan setelah berjauhan. "Jangan pernah dengarkan kata-kata mawar. Hanyalah nikmati kehadirannya di sisimu."
Lama di rumah, akhirnya buku itu saya pulangkan ke rumah teman, dan sejak itu tak pernah lagi membaca. Kangen, ingin punya bukunya. Tapi tak tahu harus membeli di mana. Sampai suatu ketika saya mendatangi sebuah bazar, tampak sebuah buku tertera di depannya judul. "The Little Princes."
Wah, ini dia.
Mumpung bazar murah. Langsung saya beli. Sebenarnya ingin beli banyak kalau-kalau ada orang lain pesan. Tapi khawatir yang tertarik hanya saya. Nanti beli banyak, buku ini hanya bertumpuk di rak. Ya sudah beli satu saja.
No comments:
Post a Comment