Friday, April 28, 2017

JUMAT, 28 APRIL 2017

Menemukan kembali facebook teman lama, suka penasaran, ingin stalking facebooknya, ingin melihat-lihat fotonya, sudahkah menikah. Jika sudah, secantik apa istrinya. Menemukan satu foto, ah ini kurang jelas, terus menscroll ke bawah mau melihat yang lainnya, mau melihat lebih jelas. Parah, itu yang saya lakukan selama ini, dan itu membuang-buang waktu saja.

Dari sebagian ciri bagusnya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak penting baginya.

Berarti keislaman saya masih bermasalah, masih belum bisa dikatakan baik, dengan kata lain, keislaman saya masih buruk.

Waktu yang saya gunakan buat melihat foto-foto teman itu menjadi waktu terbuang yang sebenarnya jika saya gunakan buat menulis dan menyusun karya mungkin karya itu sudah sangat banyak.

Tadi setelah shalat Jumat saya melihat lewat di beranda facebook foto teman sedang mencium perut hamil istrinya, yang membuat saya tertarik untuk klik profil akun dia dan membuka-buka fotonya, ternyata dia sudah menikah, dan istrinya tengah hamil, tapi seperti apakah istrinya, saya buka foto-foto dia. Oh berjilbab, dan saat itulah saya sadara, "Saya ini sedang melakukan apa?"

"Apa gunanya?"

"Bukankah sedang menulis buku dan ingin segera dipublikasikan?"

"Kenapa malah buang-buang waktu untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan kamu?"

Dan setelah memikirkan itu, saya berhenti.

=======

Cerita apa lagi ya?

Oh tadi ke warteg mau duduk makan, kelihatan di meja ada koran terlipat dengan tulisan, "Perang suku ..."

Bagi saya ini mengagetkan. Persatuan dan kesatuan negeri ini kian rusak. Kenapa sih antar suku harus berperang. Apa yang disisakan perang selain luka-luka dan penderitaan. Kenapa tidak hidup bersama saja, dengan damai, tenteram, bersama-sama membangun negeri ini biar bisa segera melunasi hutang.

Sambil mulai menyendok nasi dan memasukkan ke mulut, saya masukkan pula huruf-huruf artikel koran, dan saat itu baru ngeh, ternyata ini bukan berita perang suku, seperti perang suku yang dulu pernah terjadi di sebuah pulau, ternyata ini hanya berita perang suku bunga antar bank. Tadi koran terlipat, jadi saya hanya membaca judul sepotong saja.

Banyak sekali hal keseharian saya lewatkan yang padahal jika ditulis bisa diambil pelajaran dan hikmahnya.

Saya baca buku Raditya Dika juga ternyata dibuat dengan ringan dan sederhana, ditulis berdasarkan kisah nyata kesehariannya, dengan jujur, terbuka tanpa berusaha menutup-nutupi biar terkesan baik oleh orang, namun dengan itu jutru tulisannya jadi lucu, dan saya bisa membaca untuk mengambil pelajaran dan hikmahnya.

Seperti buku Koala Kumal yang sedang saya baca sekarang. Dari bab ke bab tidak ada nyambung-nyambungnya. Saya membaca sudah hampir ke bagian tengah dan semuanya merupakan cerita terpisah. Pertama cerita tentang petasan berbeda dengan cerita yang sekarang sedang saya baca, cerita tentang kucing. Tapi tetap cerita itu bisa saya nikmati dengan asyik dan setiap kali selesai bab, saya penasaran buat membaca dan membuka bab berikutnya.

Kira-kira kenapa tulisannya bisa asyik buat dibaca:

Pertama, karena saya suka dengan orangnya, banyak hal yang bisa saya pelajari dari kepribadiannya. Kedua, karena dia seorang penulis dan saya banyak berbagi kisah keseharian sehingga sebagai orang yang ingin jadi penulis, saya pun suatu saat ingin mempunyai budaya keseharian seperti dia. Ketiga, tulisannya menjadi sangat nyaman saya baca karena, dia menuliskannya dengan lancar dan sepenuh hati karena sesuai dengan apa yang dirasakan hatinya.

====

Datang ke meja saya undangan nonton premiere film CRITICAL ELEVEN. Mengingat Mbak Asma dan Pak Isa sedang ke Malaysia, hati langsung berkata, jangan-jangan nanti saya kebagian tugas pergi menghadiri undangan ini, diam-diam saya berharap menggantikan mereka menghadiri undangan nonton film yang biasanya banyak artisnya itu. Kalau iya, betapa menyenangkan saya akan jalan-jalan.

Pak Arief yang menyerahkan undangan itu berkata, "Foto dan masukkan ke whatsapp, bilang ada undangan. Tapi karena belum dibuka jadi belum tahu tanggal acaranya kapan."

Dan saya membuka buat memfotonya kemudian masukkan ke whatsapp sambil menulis, "Pak, ada undangan premiere, tapi belum tahu kapan, belum dibuka."

"Buka saja ya, dan lihat tanggalnya," kata Kamal.

Saya buka dan melihat tanggal, yang terbaca di sana langsung nama hari: Jumat. Jumat itu kan hari ini. Hah, jangan-jangan nanti malam. Pak Isa dan Mbak Asma sedang di Malaysia, wah sepertinya bakal saya nih yang menggantikan mereka datang ke sana.

Namun lalu melanjutkan membaca, tertera tanggal 5 Mei 2017, yah itu kan bukan Jumat sekarang, tapi minggu depan, dan saat itu Pak Isa dan Mbak Asma sudah datang kembali ke tanah air, kalau begini sih pasti mereka.

Ah lagi pula sebenarnya saya tidak pantas berharap. Mengingat pengalaman sebelumnya setiap kali ada acara premiere film dari penerbit tempat saya kerja pun, saya termasuk orang yang tidak diajak, langsung memupus harapan. Mungkin saya termasuk karyawan yang penampilannya cukup memalukan buat diajak ke tempat ramai, dan orang yang kurang nyaman buat diajak jalan. Jadi saya tidak mau terlalu berharap. Sepertinya.

Sakit banget curhat saya kali ini, tapi sepertinya ini mendekati fakta.

====

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape