Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan "Tidak Semua Musibah itu Luka", dia menulis dengan bahasa ringan, biasa, bahasa yang terjangkau oleh banyak orang. Bukan tidak tahu istilah-istilah keren, populer dan ilmiah--Pak Agung tahu banyak--buktinya, bukan sekali dua kali saya menemukan istilah ilmiah lalu tanyakan pada Pak Agung, dan dia bisa menjawab.
Bukan sebab tidak tahu, dia tahu banyak, tapi lebih memilih berbagi tulisan dengan bahasa ringan, sederhana, dalam bentuk kisah, argumentasi ringan, dan ibarat-ibarat yang mudah dimengerti orang awam. Dia mengerti betul asas dakwah yang Nabi Sampaikah, "Berbicaralah kepada manusia sesuain dengan kadar kemampuan pikiran mereka."
Khotibunnas alaa qodri uquulihim.
Tengah menggarap tulisan ini, karena kebetulan satu ruangan kerja, saya wawancara dia sebentar, "Pak Agung, kenapa dalam menulis tidak mau menggunakan bahasa Ilmiah?"
"Dulu pernah menulis buku, terlalu banyak menggunakan bahasa ilmiah malah tidak ada yang baca."
"Dari sejak itu berhenti mengunakan bahasa ilmiah?"
"Iya. Tulisan saya pernah dimuat di Koran Tempo, membahas otonomi daerah, bahasanya biasa saja."
Beberapa kali saya mengangguk mendapatkan pengertian. Iya juga, kenapa
Seketika saya teringat kepada Amr Khalid, seorang dai mesir, dalam menyampaikan pemikiran, baik ceramah atau tulisan yang dia bagikan melalui buku-bukunya, dia lebih suka menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti banyak orang. Tidak seperti orator hebat dengan suara mengguntur meledak-ledak. Cara dia bicara biasa saja, akan tetapi isi materi yang dia sampaikan kaya akan kisah, hadits-hadits dan ayat. Catatan-catatan sunnah, ayat suci Al-Qur'an yang dia sampaikan meresap lalu orang tersentuh dan tidak jarang mata mereka berkaca-kaca. Itu terjadi karena--sekali lagi-- antara lain dia menyampaikan dengan bahasa sederhana. Maka dia menjadi dai favorit banyak anak muda. Para gadis memutuskan untuk mengenakan jilbab setelah mendengar ceramahnya.
Saya tulis ini tanpa maksud mengatakan buruk kepada tulisan yang disajikan dengan bahasa ilmiah. Sama sekali tidak. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk novel legendaris karya Buya Hamka, pada bab "Jiwa Pengarang" beliau berbagi kesan tentang betapa susah menghakimikarya bagus itu seperti apa. Yang ditulis sesuai kaidah atau justru yang melanggar. Ada kalanya sebuah tulisan justru disukai karena kerumitannya. Dan saya sepakat.
Ini soal selera saya. Rata-rata jatuh suka pada tulisan yang tersaji dengan bahasa biasa dan sederhana.
Showing posts with label Nyantai. Show all posts
Showing posts with label Nyantai. Show all posts
Saturday, February 13, 2016
Friday, February 12, 2016
NASKAH CERAMAH UNTUK SEORANG TEMAN
Seorang teman minta tolong dibuatkan pidato. Dia pengurus ODOZ, One Day One Juz, sebuah komunitas yang membangun komitmen sehari membaca satu juz Al-Qur'an. Akan dia adakan pertemuan dan di sana, sebagai pengurus dia akan diminta menjadi pembicara. Buat persiapan, dia minta bantuan saya.
Waduh keberatan. Saya katakan padanya, sekarang kepala dipenuhi banyak hal, disibukkan banyak hal, sepertinya tak bisa lagi menulis semenyentuh dulu. Dia jawab, tak mengapa kata katanya biasa saja, tidak usah menyentuh segala. Biasa saja.
Oh baik temanku.
Tapi maaf, jika ini saya buat seenaknya:
Benarkah seperti itu tujuan pembangunan taman itu digagas? Ah ini hanya perkiraan saya, tapi darinya saya ingin mengambil renungan, begitulah kiranya kita membangun pertemanan, fokus kepada kebaikan teman daripada kekurangannya. Seperti dari bunga raflesia mengambil keindahannya buat penghias taman dan melupakan baunya, begitu pula kepada teman, lebih memusatkan kepada kebaikan mereka daripada kekurangannya.
Seorang ulama pernah berkata, untuk menyambung sillaturrahmi dengan mudah, semestinya kita melakukan 4 hal: Melupakan keburukan orang dan memaafkannya, mengingat kebaikan orang dan berterima kasih padanya, melupakan kebaikan diri sendiri jangan terus mengingatnya, mengingat kesalahan diri sendiri dan berusaha meminta maaf.
Allah berfirman dalam surta Alfatihah ayat 3, "Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang." Jika Allah begitu murah, kenapa kita tidak menjadi pemurah dengan murah memaafkan. Jika Allah begitu penyayang, mengapa kita makhluk yang tak berdaya tidak menjadi penyayang dengan mudah memaafkan. Saling memaafkan, saling memberi semangat, saling memotivasi, saling mengingatkan dalam kebaikan, begitulah antara lain yang menjadi landasan sillaturrahmi kita.
KENALKAN, SAYA PENJILAT
Bukan baru-baru ini saya disebut penjilat, cari muka. Sudah lama, sudah sejak setahun yang lalu, dan itu tak mengapa. Hehe, beneran. Karena kesenangan saya bukan cuma cari muka, tapi juga cari maki-maki. Soalnya suka lucu, suka datang orang maki-maki postingan saya, mengatakan sampahlah, asal bunyi lah, menyesatkan lah, eh tapi dia terus komentar di postingan saya. Kan aneh. Menyebut postingan sampah, tapi terus memberikan komentar. Ya jadinya terangkat. Itu sih sama saja mendukung. Itulah sebabnya saya gembira. Jadi sekali lagi, jangankan disebut cari muka, dapat maki-maki saja tak mengapa.
Menurut saya, menjadi penjilat masih lebih terhormat daripada menjadi penjilat ludah sendiri yang sudah meleleh di lantai. Misalnya orang yang mencela-cela sebuah grup kepenulisan, tapi masih saja dia gentayangan di sana karena penasaran.
Eh jangan kira saya sedang marah ya.
Enggak!
Sungguh. Bahkan sebutan penjilat di kantor saya sempat dijadikan candaan. Pas sedang kerja, guru saya masuk kantor, dia langsung berseru, "Hai Penjilat!" dan orang-orang kantor tertawa. Saya juga. Kenapa harus susah dengan sebutan seburuk apapun dari orang jika saya bisa menjadikannya sebagai bahan tertawaan. Salah satu halaman buku Humortivasi menyebut, tertawa membawa pengaruh positif bagi pikiran.
Sebenarnya tidak bermaksud menjilat, saya hanya suka memberikan penghargaan kepada kebaikan seseorang, sekalipun itu hanya ucapan. Saya hanya ingin orang lebih fokus kepada kebaikan yang didapat daripada kebaikan yang belum didapat. Itu karena saya sendiri merasakan, betapa jengkelnya setelah berusaha memberi banyak, tapi yang diberi malah meminta sesuatu yang bagi saya cukup berat.
Kepada orang yang saya hormat, lebih suka menyebutkan kebaikan-kebaikannya, bahkan keburukannya seringkali saya maknai sebagai kebaikan yang dia kemas dengan cara berbeda.
Saya sangat hormat kepada orang yang berbuat baik kepada saya, tapi saya lebih hormat lagi kepada orang yang berusaha berbuat baik kepada banyak orang.
Saat menulis ini, Wiro memutar lagu dangdut. Harus jujur nadanya sangat enak. Semangat seperti terbangunkan, kursi saya geser cepat, tapi mendengar itu Wiro bertanya, "Mengganggu ya?"
"Oh tidak. Ini lagu enak, saya baru dengar. Judulnya apa?"
Tidak perlu Anda tahu judulnya apa, yang penting tahu bahwa saya, saat memulai tulisan ini, menggarap tengah, dan mengakhirinya, hati ini dalam keadaan senang.
Jadi dengan bahagia, saya ingin mengenalkan diri kepada Anda, "Halo, kenalkan. Saya seorang penjilat!"
Jadi dengan bahagia, saya ingin mengenalkan diri kepada Anda, "Halo, kenalkan. Saya seorang penjilat!"
Sunday, January 24, 2016
SEPOTONG COKLAT DI TANGGA
Dini hari, bangun sendirian, kerja, kemudian saat lelah, berbaring di barisan kursi samping meja bundar. Dari kolong terdengar, suara keresek plastik, seperti diseret, namun saya tengok, tidak ada apa-apa.
Siangnya, sepotong coklat di tangga yang menuju ke lantai empat. Tidak mau saya sebutkan mereknya, supaya tidak jadi iklan, tapi supaya lebih jelas, baiklah, saya sebutkan, Beng-Beng. Sudah kosong, tinggal plastiknya saja. Enak sekali coklat itu, dan beberapa menit kemudian, ketika saya berjalan menuruni tangga dari lantai tiga menuju lantai dua, di bawah barisan kursi tempat pak Agung kerja, terlirik plastik bungkus Beng-Beng juga. Saya pegang, ternyata masih ada isinya. Tapi sebagian sisi robek, kecil, pasti bekas tikus. Oh, jangan-jangan, ini Beng-Beng yang suara keresek plastiknya terdengar tadi malam, dini hari saat sendirian.
Bengbeng bekas gigitan tikus itu tidak saya buang. Tapi disimpan di atas kulkas. Khawatir, jika saya buang nanti ada orang menanyakan bengbengnya, saya punya barang bukti. Tanpa barang bukti, bisa-bisa nanti saya yang tertuduh. Menjawab dicuri tikus, tapi orang tetap berpikir, bengbeng itu dimakan olehku.
Curiga, pasti yang di tangga pun asalnya ada isinya, tapi dimakan si tikus sampai habis, dan yang ini, mungkin baru diseret tapi keburu ketahuan, jadi dia kabur ketakutan. Wah jangan-jangan banyak bengbeng lainnya. Jangan-jangan dia mencuri dari dusnya. Tapi dari mana. Tidak mungkin dari dalam kulkas. Tak mungkin tikus bisa membuka.
Desi biasanya menyimpan makanan. Saya periksa ke mejanya. Ternyata iya, di kolong satu dus tergeletak, salah satu sudutnya sudah berlubang. Bekas gigitan tikus. Aduh, sayang sekali.
Saya simpan saja di lemari.
Wah, Des, kenapa tidak disimpan di kulkas? Di sini menyimpan makanan sembarangan suka dicuri si monyong.
Oh ya, bagi yang ingin mengenal Dessy, bisa tanyakan ke akun yang menggambar lukisan ini. Silakan klik DI SINI
Siangnya, sepotong coklat di tangga yang menuju ke lantai empat. Tidak mau saya sebutkan mereknya, supaya tidak jadi iklan, tapi supaya lebih jelas, baiklah, saya sebutkan, Beng-Beng. Sudah kosong, tinggal plastiknya saja. Enak sekali coklat itu, dan beberapa menit kemudian, ketika saya berjalan menuruni tangga dari lantai tiga menuju lantai dua, di bawah barisan kursi tempat pak Agung kerja, terlirik plastik bungkus Beng-Beng juga. Saya pegang, ternyata masih ada isinya. Tapi sebagian sisi robek, kecil, pasti bekas tikus. Oh, jangan-jangan, ini Beng-Beng yang suara keresek plastiknya terdengar tadi malam, dini hari saat sendirian.
Bengbeng bekas gigitan tikus itu tidak saya buang. Tapi disimpan di atas kulkas. Khawatir, jika saya buang nanti ada orang menanyakan bengbengnya, saya punya barang bukti. Tanpa barang bukti, bisa-bisa nanti saya yang tertuduh. Menjawab dicuri tikus, tapi orang tetap berpikir, bengbeng itu dimakan olehku.
Curiga, pasti yang di tangga pun asalnya ada isinya, tapi dimakan si tikus sampai habis, dan yang ini, mungkin baru diseret tapi keburu ketahuan, jadi dia kabur ketakutan. Wah jangan-jangan banyak bengbeng lainnya. Jangan-jangan dia mencuri dari dusnya. Tapi dari mana. Tidak mungkin dari dalam kulkas. Tak mungkin tikus bisa membuka.
Desi biasanya menyimpan makanan. Saya periksa ke mejanya. Ternyata iya, di kolong satu dus tergeletak, salah satu sudutnya sudah berlubang. Bekas gigitan tikus. Aduh, sayang sekali.
Saya simpan saja di lemari.
Oh ya, bagi yang ingin mengenal Dessy, bisa tanyakan ke akun yang menggambar lukisan ini. Silakan klik DI SINI
Saturday, January 23, 2016
LATAR SHOOTING SINETRON "GO BMX"
Kerja di Kota Depok menjadikan saya dekat dengan lokasi shooting. Seringkali mendapati mobil parkir di muka toko, dan di depannya tertulis kata "Film", para kru berkeliaran, tapi artisnya entah di mana, mungkin sudah duluan masuk Mall. Seringnya shooting sinetron "Tukang Bubur Naik Haji." pernah juga shooting sinetron "3 Semprul Mengejar Sorga" yang--kalau tidak salah, disutradarai oleh Andhika Pratama.
Tapi itu tidak terlalu berkesan. Sinetron dengan latar shooting di Mall rasanya biasa. Ada sinetron tak biasa. Go BMX yang ditayangkan MNCTV, shootingnya di tempat terbuka, yang ternyata sering saya lewati.
Berawal dari kebiasaan meluangkan waktu berolah raga. Lari melewati jalan sunyi di samping rel kereta. Pada samping jalan yang banyak penduduknya, suatu ketika saya lihat mobil bak memuat kotak listrik besar, kemudian seperangkat kamera. Seorang pria duduk memegang bundelan kertas. Tak salah, itu kertas skenario. Ini sedang shooting. Saya beranikan diri bertanya,
Shooting film apa?"
"Sinetron."
"Sinetron apa?"
"Go BMX."
Penasaran ingin melihat bintang, sekaligus proses shootingnya. Tapi berkali-kali lewat, dan melihat para kru, tak juga saya melihat. Padahal sangat penasaran. Soalnya, selain shooting di tempat terbuka, sinetron ini menjadi luar biasa karena para bintangnya bukan cuma dituntut hafal naskah, tapi juga keterampilan antraksi. Berdiri dengan sepeda, meloncat, mengejar mobil, bahkan jungkir balik, yang mana, tentu saja ini tidak bisa hanya mengandalkan trik kamera, para pemain harus betul-betul orang yang bisa.
Bintang utamanya, Okke Oktavianus memang seorang ahli. Ini bukan tipuan kamera.
Atau ini
Itu benar-benar meloncat. Ini videonya.
Beberapa kali saya cek youtube, adakah adegan di tempat saya lewat? Tidak saya temukan juga. Tapi ketika saya buka lagi untuk ke sekian kalinya... Nah...
Itu dia, saya sering lewat di sana. Tempat itu, ya tempat itulah.
Si Udin sedang beraksi melewati besi-besi berat buat persiapan pembangunan jalan tol (3). Tempatnya persis di samping jalan tempat biasa saya lari dan lewat (2). Tuh di sana kelihatan gedung hotel di belakang DETOS, kelihatan juga sedikit bagian puncak gedung MARGO HOTEL. Bagi orang Kota Depok, atau sudah lama tinggal di sini, pasti sudah tak asing lagi dengan dua gedung itu, DETOS dan MARGO HOTEL.
Video ini saya dapatkan dari acara syukuran episode ke-50 Sinetron "Go BMX".
Menurut saya, ini salah satu kehebatan film. Seperti karya seni lainnya, film bisa mengubah tempat biasa menjadi istimewa. Ini tempat sebenarnya huh apaan. Hanya jalan samping kereta yang sering di lewati mobil pengangkut sampah, tidak jauh dari sini, berbaris rumah-rumah tukang rongsokan. Seringkali saat lewat saya harus menahan nafas karena bau bangkai tikus. Bahkan karena mau dibangun jalan tol, di tempat ini banyak besi bergelimpangan. Karena berantakannya tempat, saya sempat bertanya, apa menariknya buat dipakai latar film layar kaca?
Tapi setelah melihat tayangan ini, ternyata, tempat biasa jadi kelihatan luar biasa.
Tapi itu tidak terlalu berkesan. Sinetron dengan latar shooting di Mall rasanya biasa. Ada sinetron tak biasa. Go BMX yang ditayangkan MNCTV, shootingnya di tempat terbuka, yang ternyata sering saya lewati.
Berawal dari kebiasaan meluangkan waktu berolah raga. Lari melewati jalan sunyi di samping rel kereta. Pada samping jalan yang banyak penduduknya, suatu ketika saya lihat mobil bak memuat kotak listrik besar, kemudian seperangkat kamera. Seorang pria duduk memegang bundelan kertas. Tak salah, itu kertas skenario. Ini sedang shooting. Saya beranikan diri bertanya,
Shooting film apa?"
"Sinetron."
"Sinetron apa?"
"Go BMX."
Penasaran ingin melihat bintang, sekaligus proses shootingnya. Tapi berkali-kali lewat, dan melihat para kru, tak juga saya melihat. Padahal sangat penasaran. Soalnya, selain shooting di tempat terbuka, sinetron ini menjadi luar biasa karena para bintangnya bukan cuma dituntut hafal naskah, tapi juga keterampilan antraksi. Berdiri dengan sepeda, meloncat, mengejar mobil, bahkan jungkir balik, yang mana, tentu saja ini tidak bisa hanya mengandalkan trik kamera, para pemain harus betul-betul orang yang bisa.
Bintang utamanya, Okke Oktavianus memang seorang ahli. Ini bukan tipuan kamera.
Atau ini
Itu benar-benar meloncat. Ini videonya.
Beberapa kali saya cek youtube, adakah adegan di tempat saya lewat? Tidak saya temukan juga. Tapi ketika saya buka lagi untuk ke sekian kalinya... Nah...
Itu dia, saya sering lewat di sana. Tempat itu, ya tempat itulah.
Si Udin sedang beraksi melewati besi-besi berat buat persiapan pembangunan jalan tol (3). Tempatnya persis di samping jalan tempat biasa saya lari dan lewat (2). Tuh di sana kelihatan gedung hotel di belakang DETOS, kelihatan juga sedikit bagian puncak gedung MARGO HOTEL. Bagi orang Kota Depok, atau sudah lama tinggal di sini, pasti sudah tak asing lagi dengan dua gedung itu, DETOS dan MARGO HOTEL.
Video ini saya dapatkan dari acara syukuran episode ke-50 Sinetron "Go BMX".
Menurut saya, ini salah satu kehebatan film. Seperti karya seni lainnya, film bisa mengubah tempat biasa menjadi istimewa. Ini tempat sebenarnya huh apaan. Hanya jalan samping kereta yang sering di lewati mobil pengangkut sampah, tidak jauh dari sini, berbaris rumah-rumah tukang rongsokan. Seringkali saat lewat saya harus menahan nafas karena bau bangkai tikus. Bahkan karena mau dibangun jalan tol, di tempat ini banyak besi bergelimpangan. Karena berantakannya tempat, saya sempat bertanya, apa menariknya buat dipakai latar film layar kaca?
Tapi setelah melihat tayangan ini, ternyata, tempat biasa jadi kelihatan luar biasa.
Wednesday, December 30, 2015
Kumulai Mengenalnya Dengan Kecurigaan
Dia mulai mengenalku dengan kepercayaan, padahal aku memulai mengenalnya dengan kecurigaan. Dimulai dari postingan di grup kepenulisan, saat itu, terbaca tidak sengaja sebuah judul tulisan unik, "Karindangan" bukan Bahasa Indonesia biasa, baru kali ini saya menemukannya, bahkan mungkin bukan sebuah kata bagian dari kosa kata Bahasa Indonesia, entah bahasa apa, tapi dibacanya enak, dan tak terlupakan. Dari tertarik judulnya, mencoba membaca teks ke bawah, "Dia terbuat dari sekumpulan waktu, jarak, dan kesepian."
Indah sekali, pikirku, tapi membaca tidak kulanjutkan. Itu salah satu watak burukku, kurang tertarik membaca tulisan orang, kecuali tulisan dari orang yang sebelumnya sudah kupercayai bagus tulisan-tulisannya, dan karena nama akunnya baru kutemukan, kulewati sambil lalu saja. Akan tetapi, beberapa kali membuka grup, postingan itu terus naik, artinya banyak orang tertarik dan memberi komentar, dan kubaca komentar-komentar di bawahnya, rata-rata orang menyatakan suka.
Mengutip kata kata Pak Haji Rhoma Irama, "Sungguh mati aku jadi penasaran", sebagus apa tulisannya. Coba baca, memangbegitu lancar, tiada kejelimetan bahasa yang membuat mata harus bolak-balik membaca berulang-ulang. Indah, melukiskan hal sederhana dengan cara yang tidak sederhana, menceritakan hal sepele dengan cara yang tidak bisa dipandang sepele. Pikiran berkata, ini tulisan bukan sekedar coretan penulis pemula, ini coretan orang berpengalaman.
Tak cukup satu tulisan, aku cek juga tulisan lainnya dengan cara search di grup, dan kubaca, semuanya indah, banyak ungkapan memikat dan membacanya menghanyutkan perasaan. Misalnya saat ungkapan dia dalam tulisan berjudul "Bangku Taman dan Bumi Yang Lain" menceritakan suasana sederhana di suatu tempat sunyi dengan tokoh seorang wanita dengan khayalan sederhana, impian sederhana dan perasaan sederhana. Memikat, benar-benar memikat, jarang saya menemukan tulisan sebagus ini sebelumnya.
Akan tetapi mendapatkan penemuan mengagumkan itu bukannya jadi kagum kepada penulisnya dan ingin akrab, malah sebaliknya, aku justru jadi curiga. Kuperhatikan namanya, nama samaran. Jangan-jangan, ini hanya akun penmencari perhatian, memposting hanya untuk mengundang decak kagum dari orang-orang, dengan cara-cara kurang terhormat, misalnya tulisan hasil copy paste. Ya jangan-jangan tulisannya hasil copas.
Harus aku cek, jangan-jangan cerpen yang ditulisnya dia ambil dari tulisan orang lain yang bagus, atau bahkan mungkin dari penulis terkenal.
Maka sebagian paragraf dari tulisannya kucopy paste ke kolom search google. Enter, dan... wah wah wah, ternyata tulisannya terdapat pada sebuah situs. Sebuah blog, dan tulisan di facebook itu persis sama dengan blog ini. Ya persis sama. Tulisan berjudul "Bangku Taman dan Bumi Yang Lain" Wah, benar-benar nih orang. Harus kubongkar!
Eh, tapi tunggu dulu, jangan terburu-buru. Jangan asal tuduh. Salah-salah nanti, bukannya orang itu sukses kubuat malu, sebaliknya malah aku yang terpermalukan.
Harus kucari tahu dulu siapa pemilik blog ini, akan kutanyakan nama akun facebooknya. Nanti, akun facebook ini akan kuajukan pertemanan, dan setelah berteman, akan kuberitahu bahwa ada akun facebook lain yang telah berani mencuri dan memposting karya dia tanpa menyebutkan nama.
Maka dengan pura-pura ramah, kutinggalkan pertanyaan di kolom komentar,
"Tulisannya bagus Mbak, apakah Anda mempunyai akun facebook?":
Lewat semalam, sesiang, semalam lagi, sesiang lagi, kubuka blog jawaban tak kunjung kutemukan. Kubuka lagi, sambil menikmati tulisan-tulisan lainnya yang juga indah, jawaban belum juga ada.
Karena jawaban tak kunjung datang, akhirnya ku ADD akun facebook orang yang kuanggap melakukan pencurian itu, kemudian dengan pura-pura ramah, kutanyakan padanya di kolom komentar, "Apakah Anda punya blog?"
Dengan lancar sang tertuduh menjawab, "Ya punya," kemudian dia berikan link blognya, YANG TERNYATAA......SAMA PERSIS DENGAN BLOG YANG KUTEMUKAN.
Dari situ mulai percaya, berarti pemilik akun facebook dengan blog itu sebenarnya orang yang sama, dan dari situ pula aku percaya tulisan yang dia bagikan di facebook bukan hasil curian, tapi benar-benar hasil karyanya.
(Bersambung)
Indah sekali, pikirku, tapi membaca tidak kulanjutkan. Itu salah satu watak burukku, kurang tertarik membaca tulisan orang, kecuali tulisan dari orang yang sebelumnya sudah kupercayai bagus tulisan-tulisannya, dan karena nama akunnya baru kutemukan, kulewati sambil lalu saja. Akan tetapi, beberapa kali membuka grup, postingan itu terus naik, artinya banyak orang tertarik dan memberi komentar, dan kubaca komentar-komentar di bawahnya, rata-rata orang menyatakan suka.
Mengutip kata kata Pak Haji Rhoma Irama, "Sungguh mati aku jadi penasaran", sebagus apa tulisannya. Coba baca, memangbegitu lancar, tiada kejelimetan bahasa yang membuat mata harus bolak-balik membaca berulang-ulang. Indah, melukiskan hal sederhana dengan cara yang tidak sederhana, menceritakan hal sepele dengan cara yang tidak bisa dipandang sepele. Pikiran berkata, ini tulisan bukan sekedar coretan penulis pemula, ini coretan orang berpengalaman.
Tak cukup satu tulisan, aku cek juga tulisan lainnya dengan cara search di grup, dan kubaca, semuanya indah, banyak ungkapan memikat dan membacanya menghanyutkan perasaan. Misalnya saat ungkapan dia dalam tulisan berjudul "Bangku Taman dan Bumi Yang Lain" menceritakan suasana sederhana di suatu tempat sunyi dengan tokoh seorang wanita dengan khayalan sederhana, impian sederhana dan perasaan sederhana. Memikat, benar-benar memikat, jarang saya menemukan tulisan sebagus ini sebelumnya.
Akan tetapi mendapatkan penemuan mengagumkan itu bukannya jadi kagum kepada penulisnya dan ingin akrab, malah sebaliknya, aku justru jadi curiga. Kuperhatikan namanya, nama samaran. Jangan-jangan, ini hanya akun penmencari perhatian, memposting hanya untuk mengundang decak kagum dari orang-orang, dengan cara-cara kurang terhormat, misalnya tulisan hasil copy paste. Ya jangan-jangan tulisannya hasil copas.
Harus aku cek, jangan-jangan cerpen yang ditulisnya dia ambil dari tulisan orang lain yang bagus, atau bahkan mungkin dari penulis terkenal.
Maka sebagian paragraf dari tulisannya kucopy paste ke kolom search google. Enter, dan... wah wah wah, ternyata tulisannya terdapat pada sebuah situs. Sebuah blog, dan tulisan di facebook itu persis sama dengan blog ini. Ya persis sama. Tulisan berjudul "Bangku Taman dan Bumi Yang Lain" Wah, benar-benar nih orang. Harus kubongkar!
Eh, tapi tunggu dulu, jangan terburu-buru. Jangan asal tuduh. Salah-salah nanti, bukannya orang itu sukses kubuat malu, sebaliknya malah aku yang terpermalukan.
Harus kucari tahu dulu siapa pemilik blog ini, akan kutanyakan nama akun facebooknya. Nanti, akun facebook ini akan kuajukan pertemanan, dan setelah berteman, akan kuberitahu bahwa ada akun facebook lain yang telah berani mencuri dan memposting karya dia tanpa menyebutkan nama.
Maka dengan pura-pura ramah, kutinggalkan pertanyaan di kolom komentar,
"Tulisannya bagus Mbak, apakah Anda mempunyai akun facebook?":
Lewat semalam, sesiang, semalam lagi, sesiang lagi, kubuka blog jawaban tak kunjung kutemukan. Kubuka lagi, sambil menikmati tulisan-tulisan lainnya yang juga indah, jawaban belum juga ada.
Karena jawaban tak kunjung datang, akhirnya ku ADD akun facebook orang yang kuanggap melakukan pencurian itu, kemudian dengan pura-pura ramah, kutanyakan padanya di kolom komentar, "Apakah Anda punya blog?"
Dengan lancar sang tertuduh menjawab, "Ya punya," kemudian dia berikan link blognya, YANG TERNYATAA......SAMA PERSIS DENGAN BLOG YANG KUTEMUKAN.
Dari situ mulai percaya, berarti pemilik akun facebook dengan blog itu sebenarnya orang yang sama, dan dari situ pula aku percaya tulisan yang dia bagikan di facebook bukan hasil curian, tapi benar-benar hasil karyanya.
(Bersambung)
Saturday, December 26, 2015
Wiro! Kamu Kenapa?
Kantor senyap, orang-orang sudah pulang. Tinggal saya sendirian, duduk menghadap monitor, melalui facebook menerima pesasanan-pesanan barang dari pelanggan. Ini jam kerja malam, setelah Maghrib menunggu Isya.
Samar dari kamar suara. Tidak begitu saya gubris untuk pertama kalinya. Mungkin itu salah dengar, mungkin suara teriakan tukang parkir dari depan. Kantor ini menghadap area samping mall, dan nyaris setiap hari tukang parkir teriak-teriak di sana, mengatur posisi kendaraan.
Tapi suara itu berulang, parau memanggil nama saya. Ya, jelas memanggil nama saya. Saya buka lebar telinga, ternyata suara Wiro dari kamar.
Parau, untuk ketiga kalinya terdengar.
"Ya"
Tak ada sahutan.
"Kang Dana... "
"Ya Wir, kenapa?" tanya saya datar, karena jarak ruang kerja dengan kamar hanya dibatasi dinding asbes.
Wiro tidak menjawab.
"Wir, ada apa?" lebih keras.
Tidak ada jawaban.
Penasaran, beranjak dari meja sampai di pintu kamar, berdiri di sana, melongokkan kepala, tampak Wiro berbaring di atas kursi panjang. Mata terbelalak ke atas, badan kejang-kejang, bibir gemetaran, seperti orang sekarat. Wiro sedang bercanda, begitu lintasan pikiran awal, tapi muka itu pucat seperti kehabisan darah meyakinkan saya Wiro tidak sedang bercanda. Sampai beberapa detik saya terpaku di pintu kamar saya hanya terpana, terus memastikan Wiro tidak bercanda.
Dan sepertinya tidak bercanda, dia terus dengan mulut gemetaran dan matanya yang terbelalak ke atas. Badannya kejang-kejang.
Waduh, Wiro kamu kenapa. Punya penyakit apa?
Selama ini dia kelihatan baik-baik saja. Bahkan dibanding saya, dari segi kesuburan badan bisa dikatakan dia lebih sehat, malah karena makanannya bergizi sekarang lemak perutnya bertambah. Ini Wiro sebenarnya kenapa? Kalau keracunan, keracunan dari makanan apa? Tadi siang di kantin dia makan sama saya. Jika racun itu dari makanan, harusnya berreaksi sejak tadi sore, tapi mengapa baru sekarang?
Masih terpaku di pintu, saya bingung harus berbuat apa. Tentu harus mencari pertolongan, terus kepada siapa, jarang orang lingkungan sini saya kenal. Cemas datang, berbagai pikiran sudah macam-macam. Jika ini malam terakhirnya, pasti akan menjadi malam yang sangat menghebohkan. Semua karyawan akan kaget, karena Wiro di sini cukup dikenal, dengan tingkah polahnya yang sering mengundang tawa.
Kebiasaan orang membullinya dengan sebutan macam-macam, pasti akan membuat mereka menyesal, begitu cepat ditinggalkan Wiro sebelum sempat minta maaf.
Pemilik perusaan ini juga sedang pergi luar negeri, kasihan mungkin nanti tak sempat melihat Wiro untuk terkakhir kalinya.
Terus akan dikuburkan di mana? Kalau bapak ibunya tidak merelakan dikubur di Pulau Jawa, dan minta jenazahnya dipulangkan ke kampung mereka, tentu sangat merepotkan. Mungkinkah menggunakan pesawat terbang? Jika menggunakan kapal laut, berapa hari baru sampai? Jalan satu-satunya dikuburkan di sini.
Kalau pun maksa harus dipulangkan ke Sulawesi, cara terbaik menurut saya mungkin dengan melemparkan mayatnya ke laut, dibiarkan mengambang. Semoga selamat tidak dimakan ikan dan terdampar di Pantai Losari Makassar. Biar orang-orang menemukan dan memungutnya di sana, membuka kantong plastik yang diikatkan kuat pada lehernya. Biarkan KTP dalam kantong itu mereka temukan, untuk mendapatkan identitas Wiro lalu mengembalikannya ke Toraja.
Ah, terlalu jauh ini pikiran, dan sembarangan pula. Maafkan saya Wiro, kebiasaanmu bercanda membuat saya bahkan dalam kondisi segawat ini pun ingin mencandaimu juga.
Setelah beberapa detik terpaku di pintu, saya berjalan perlahan, masuk kamar, mendekat. Badan Wiro masih kejang-kejang, lurus telentang, tangan terkepal, bibir gemetaran, masih seperti tadi, mata terbeliak ke atas.
"Wir!! Wiro!!" panggil saya perlahan.
Saya terdiam, dan...
"Hahahaha.... " dia terbahak!
Sialan!
Ah Wiro bikin saya cemas saja. Sementara dia tertawa, saya masih dengan air muka datar, masih merasakan sisa-sisa kaget akibat ulahnya. Campur baur perasaan antara gembira dan heran. Gembira karena Wiro tidak jadi meninggal, dan heran kok wajahnya sangat meyakinkan.
"Itu wajahmu pake apa Wir?"
Wiro masih tertawa, merayakan kepuasannya, sukses membuat saya kaget dan cemas.
"Wir! Pake apa?"
"Pake bedak."
"Bedak?"
"Iya. Wardah."
Begitulah, sebelum tulisan ini saya pungkas, mohon maaf kepada pembaca yang mungkin tadi sempat merasa gembira, akhirnya jadi harus kecewa ternyata Wiro hanya bercanda, tidak benar-benar sekarat.
Samar dari kamar suara. Tidak begitu saya gubris untuk pertama kalinya. Mungkin itu salah dengar, mungkin suara teriakan tukang parkir dari depan. Kantor ini menghadap area samping mall, dan nyaris setiap hari tukang parkir teriak-teriak di sana, mengatur posisi kendaraan.
Tapi suara itu berulang, parau memanggil nama saya. Ya, jelas memanggil nama saya. Saya buka lebar telinga, ternyata suara Wiro dari kamar.
Parau, untuk ketiga kalinya terdengar.
"Ya"
Tak ada sahutan.
"Kang Dana... "
"Ya Wir, kenapa?" tanya saya datar, karena jarak ruang kerja dengan kamar hanya dibatasi dinding asbes.
Wiro tidak menjawab.
"Wir, ada apa?" lebih keras.
Tidak ada jawaban.
Penasaran, beranjak dari meja sampai di pintu kamar, berdiri di sana, melongokkan kepala, tampak Wiro berbaring di atas kursi panjang. Mata terbelalak ke atas, badan kejang-kejang, bibir gemetaran, seperti orang sekarat. Wiro sedang bercanda, begitu lintasan pikiran awal, tapi muka itu pucat seperti kehabisan darah meyakinkan saya Wiro tidak sedang bercanda. Sampai beberapa detik saya terpaku di pintu kamar saya hanya terpana, terus memastikan Wiro tidak bercanda.
Dan sepertinya tidak bercanda, dia terus dengan mulut gemetaran dan matanya yang terbelalak ke atas. Badannya kejang-kejang.
Waduh, Wiro kamu kenapa. Punya penyakit apa?
Selama ini dia kelihatan baik-baik saja. Bahkan dibanding saya, dari segi kesuburan badan bisa dikatakan dia lebih sehat, malah karena makanannya bergizi sekarang lemak perutnya bertambah. Ini Wiro sebenarnya kenapa? Kalau keracunan, keracunan dari makanan apa? Tadi siang di kantin dia makan sama saya. Jika racun itu dari makanan, harusnya berreaksi sejak tadi sore, tapi mengapa baru sekarang?
Masih terpaku di pintu, saya bingung harus berbuat apa. Tentu harus mencari pertolongan, terus kepada siapa, jarang orang lingkungan sini saya kenal. Cemas datang, berbagai pikiran sudah macam-macam. Jika ini malam terakhirnya, pasti akan menjadi malam yang sangat menghebohkan. Semua karyawan akan kaget, karena Wiro di sini cukup dikenal, dengan tingkah polahnya yang sering mengundang tawa.
Kebiasaan orang membullinya dengan sebutan macam-macam, pasti akan membuat mereka menyesal, begitu cepat ditinggalkan Wiro sebelum sempat minta maaf.
Pemilik perusaan ini juga sedang pergi luar negeri, kasihan mungkin nanti tak sempat melihat Wiro untuk terkakhir kalinya.
Terus akan dikuburkan di mana? Kalau bapak ibunya tidak merelakan dikubur di Pulau Jawa, dan minta jenazahnya dipulangkan ke kampung mereka, tentu sangat merepotkan. Mungkinkah menggunakan pesawat terbang? Jika menggunakan kapal laut, berapa hari baru sampai? Jalan satu-satunya dikuburkan di sini.
Kalau pun maksa harus dipulangkan ke Sulawesi, cara terbaik menurut saya mungkin dengan melemparkan mayatnya ke laut, dibiarkan mengambang. Semoga selamat tidak dimakan ikan dan terdampar di Pantai Losari Makassar. Biar orang-orang menemukan dan memungutnya di sana, membuka kantong plastik yang diikatkan kuat pada lehernya. Biarkan KTP dalam kantong itu mereka temukan, untuk mendapatkan identitas Wiro lalu mengembalikannya ke Toraja.
Ah, terlalu jauh ini pikiran, dan sembarangan pula. Maafkan saya Wiro, kebiasaanmu bercanda membuat saya bahkan dalam kondisi segawat ini pun ingin mencandaimu juga.
Setelah beberapa detik terpaku di pintu, saya berjalan perlahan, masuk kamar, mendekat. Badan Wiro masih kejang-kejang, lurus telentang, tangan terkepal, bibir gemetaran, masih seperti tadi, mata terbeliak ke atas.
"Wir!! Wiro!!" panggil saya perlahan.
Saya terdiam, dan...
"Hahahaha.... " dia terbahak!
Sialan!
Ah Wiro bikin saya cemas saja. Sementara dia tertawa, saya masih dengan air muka datar, masih merasakan sisa-sisa kaget akibat ulahnya. Campur baur perasaan antara gembira dan heran. Gembira karena Wiro tidak jadi meninggal, dan heran kok wajahnya sangat meyakinkan.
"Itu wajahmu pake apa Wir?"
Wiro masih tertawa, merayakan kepuasannya, sukses membuat saya kaget dan cemas.
"Wir! Pake apa?"
"Pake bedak."
"Bedak?"
"Iya. Wardah."
Begitulah, sebelum tulisan ini saya pungkas, mohon maaf kepada pembaca yang mungkin tadi sempat merasa gembira, akhirnya jadi harus kecewa ternyata Wiro hanya bercanda, tidak benar-benar sekarat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan ...
-
Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan Melukis gambar rembulan Rembulan merah muda, Dan dua ekor merpati terbang di kedua sis...
-
Baru kemarin beli buku ini, sakarang sudah tamat. Buku obral tapi bagus. Memberi hal baru. Tentang "Kekuatan Pikiran Spontan." ...




