Thursday, February 11, 2016

BUKU YANG SANGAT BERAT SAYA SEBUTKAN JUDULNYA

Amat disayangkan buku ini diberi judul vulgar. Saking vulgarnya sampai-sampai saya berat mengatakannya kepada Anda. Berat menyebutkan pada tulisan ini di paragraf awal. Entahlah di paragraf berikutnya. Mungkin di paragraf dua, atau kalau tidak, mungkin di paragraf tiga, atau empat, atau mungkin di paragraf terakhir. Berat, benar-benar berat. Khawatir jika saya tuliskan, nanti muncul komentar "Hai, di sini ada anak di bawah umur."

Saya rasakan sendiri kemarin membaca buku itu di angkot, dilihat orang jadi malu. Saya berusaha menutupi jilid, khawatir orang mengira saya membaca buku kurang pantas. Di kampung, sambil mengasuh anak, saya bawa buku itu kemudian seorang tetangga melihat, "Itu novel?" tanyanya. Langsung saya tutup.

Waktu istri berrencana membawa buku ini ke PAUD, buat dia baca sambil menunggui anaknya belajar, dia berkata, "Mungkin harus dibungkus dulu."


"Kenapa?"

"Biar judulnya tertutup."

Judul buku ini memang cukup syur.

Padahal isinya sangat bagus. Bukan, sama sekali bukan buku yang membicarakan syahwat. Tapi menyajikan motivasi dan renungan.

Jujur, karena judulnya cukup menggoda syahwat, semula saya mengira hanya menguraikan pembicaraan orang dewasa. Pas saya buka ternyata tidak. Buku ini sebuah kumpulan tulisan. 

Dengan bahasa lancar dan tidak membosankan, penulis mengajak pembaca mengambil renungan dari berbagai hal. Fenomena sejarah, penggalan kisah hidup orang-orang terkenal, pengalaman pribadi dirinya, apa saja tema yang ditulisnya sangat gurih buat dibaca.

Oh teman, maaf jika tulisan saya membosankan. Setiap kali menceritakan buku pasti isinya itu-itu saja: Bahasanya lancar dan enak dibaca. Tidak membosankan, penuh wawasan, dan sebagainya. Tapi saya mengatakan itu serius. Saya katakan itu karena sudah membaca, dan bisa membacanya dengan nikmat. Saya bukan pembaca cerdas yang bisa mencerna setiap bacaan dengan mudah. Hanya buku tertentu yang benar-benar membuat saya, saat membacanya benar-benar merasa nikmat. Dan buku ini antara lain.

Duh, saya masih berat menuliskan judulnya.

Hoeda Manis, begitu penulis buku ini menamai dirinya. Sepertinya nama samaran, karena menurut pengakuannya, dia telah menarik diri dari publisitas secara terbuka sejak tahun 2006. Sekararang lebih suka mengkonsentrasikan dirinya ke tulisan. Siapa pun mengundang dirinya buat tampil jadi pembicara untuk materi apa saja, dia hanya bisa minta maaf: tidak bisa. Saya tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dari bagusnya tulisan, seperti bukan pemula. Bahasa tulis sangat lancar. Materi yang dia sajikan berisi, tidak murahan.

Misalnya saat Hoeda dengan sangat unik penulis menceritakan Mozart. Siapa pun pencinta musik klasik tahu siapa Mozart, tapi hanya sedikit orang tahu kisah pribadinya bahwa dia pernah mempunyai pacar. Mereka saling jatuh cinta, sampai kemudian seorang pria lain menaksir pacar mozart, "Dan tololnya, si wanita memilih meninggalkan mozart untuk menikah dengan laki-laki itu." tulis Hoeda. "Karena diputus secara sepihak, Mozart pun patah hati, dan ia butuh waktu bertahun-tahun menyembuhkan lukanya. Selama bertahun-tahun pula, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. "Sampai bertahun-tahun kemudian, ketika Mozart telah menjadi sosok terkenal dan dunia mengakuinya sebagai musisi genius, para wartawan melacak keberadaan wanita yang menjadi mantan pacar Mozart, dan menanyakan, "Mengapa Anda dulu meninggalkan Mozart untuk menikah dengan laki-laki lain?" Dengan jujur, wanita mantan pacar Mozart itu menjawab, "Dahulu, saya tidak pernah tahu kalau ia sejenius itu. Saya hanya tahu bahwa ia pendek." Jadi rupanya, wanita itu memutuskan Mozart secara sepihak dan meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain hanya karena melihat bahwa Mozart memiliki postur tubuh yang pendek."

Dari kisah itu kemudian Hoeda Manis membawa pembaca tenggelam menyelami sebuah renungan, bagaimana seharusnya menjalin hubungan. Menjalin hubungan dengan seseorang, jika itu ingin melakukan itu dengan tulus sudah seharusnya bersiap sedia menerima kekurangan. "Manusia dikaruniai kelebihan, tetapi juga dilengkapi kekurangan, karena itulah ciri manusia." 

Renungan-renungannya sederhana, tapi sangat meresap. Tulisan lain misalnya saat membicarakan Bung Hatta. Wakil presiden pertama Republik Indonesia ini sebenarnya bisa saja minta bantuan pengusaha buat membeli sepatu yang diingingkannya, tapi sampai beliau meninggal dunia, sepatu yang sangat diinginkan itu tidak kesampaian. Dari kamar beliau, "Setelah wafat, keluarganya membereskan barang-barang Bung Hatta, dan mereka menemukan guntingan iklan sepatu itu di antara tumpukan bukunya."

Tulisan lain juga sangat menggugah. Saat menceritakan Isack Newton yang kurang pergaulan, tidak bisa berteman baik dengan orang, temperamental dan mudah tersinggung. Pada bagian ini penulis membaca pembaca pada renungan betapa tidak mungkinnnya menuntut orang lain sempurna, sebab tidak seorang pun manusia sempurna. Dan masih banyak tulisan lainnya sampai 65 bab menjadi sebuah buku setebal 389 halaman.

Kalau saja bisa ngobrol dengan penulisnya, ingin saya sampaikan, untuk cetakan berikutnya, sebaiknya judul diganti dengan yang lebih ramah. "Tak perlu khawatir buku Anda takkan sukses di pasar. Kepandaian menulis Anda yang mempuni tak perlu disangsikan. Telah banyak pembaca jatuh cinta termasuk saya. Jangan pake yang itu lagi ya! Sebagai penjual buku, saya jadi risih mempromosikan buku Anda sambil menyebut judulnya. Padahal, betapa ini berbagi ke teman pembaca lain jika bukumu ini bagus."

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape