Dulu saya pernah berniat menjadi penulis kisah nyata. Jika bercerita maka cerita yang kutuliskan benar-benar dari kisah nyata. Bukan kisah rekaan, mengingat berbohong itu gak dibolehkan.
Dan beberapa cerpen saya pun dengan begitu mudahnya terbit di koran karena saya tulis dari kisah nyata. Kisah-kisah yang saya alami dari keseharian.
Eh kemudian saya terpengaruh pendapat yang membolehkan membuat cerpen, novel, sekalipun ceritanya khayalan. Kemudian saya ikuti pendapat itu dan sampai sekarang senang berbohong dengan membuat cerita khayalan.
Dan ternyata sekarang menemukan lagi, yang lebih baik justru kisah nyata, kisah jujur, apa adanya, tidak berusaha menutupi diri dari apa yang dirasakan
Dari Raditya Dika saya belajar. Waktu dia membagikan 5 Quote yang Mengubah Hidupnya, salah satunya dia berkata mengutip kata-kata Neil Geiman, "Komedi adalah segala hal tentang kejujuran."
"Jadi yang penting Lo jujur aja! Jadi kalau kita jujur biasanya jadinya lucu." kata Raditya Dika.
Dan pagi ini saya membaca lagi artikel tentang komedi yang ditulis Radar Panca Dahana, dia apun menulis, orang normal menghafalkan komedi untuk melucu, sedang komedian sejati mentransformasikan pengalaman hidupnya menjadi lelucon.
Saya sering mengulang stand up komedi Fico, dia itu lucu sekali. Selain didukung penampilannya yang gendut, dia pun cerdas. Komedianya dibuat dari fakta. Membicarakn kecap. Dia bisa sulap. Nasi dimasak pake kecap, jadi nasi goreng. Kecap itu hitam, tapi enak. Tidak semua yang hitam itu enak, contohnya oli bekas.
Yang sederhana-sederhana aja. Dari fakta-fakta yang ada. Dari kebenaran-kebenaran yang ada, yang orang lain pun melihatnya, dan dia sebutkan lagi. Dan lucu banget jadinya.
Seringkali saya pergi meninggalkan jalan yang Allah sediakan, Meninggalkan ayat-Nya meninggalkan ajaran-Nya, kemudian pergi jauh mencari jalan lain, dan terus pindah dari satu jalan ke jalan lainnya, sampai akhirnya saya menemukan petunjuk yang mengarahkan saya kembali ke jalan yang Allah berikan, dan meyakinkan justru dari semua jalan, jalan itulah yang lebih benar dan menguntungkan.
Dulu Allah menunjuki saya, untuk mempunyai tekad hanya menulis dari kisah nyata, menulis secara jujur tanpa bumbu kebohongan. Menulis dari kehidupan apa adanya tanpa harus main fiksi-fiksian. Eh tapi kemudian saya tergoda untuk membuat, dan tertulislah banyak kisah khayalan saya, cerpen, novel, dan semuanya belum ada yang benar-benar menghasilkan uang buat mencukupi hidup saya. Dan sekarang menemukan lagi, ternyata, menulis dengan penuh kejujuran, menulis apa adanya dari hidup kita, sejujurnya dari apa yang kita rasakan, jutsur tulisan semacam itu akan menjadi karya luar biasa, original, karena itu berarti melahirkan keunikan yang telah diberikan Allah kepada kita.
Ah tapi sekarang saya sedang menyusun novel komedi yang fiksi, gimana ya. Membaca hadits ini, jadi khawatir juga:
Nabi pernah bersabda, celakalah orang yang berdusta untuk mengundang orang lain tertawa.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment