Friday, February 12, 2016

BUKU LEBIH NIKMAT DARI GORENGAN

Makanan ternikmat adalah pengetahuan. Mengkonsumsinya membuat saya puas dan setelahnya tidak kekenyangan. Tidak menimbulkan penyakit sebagaimana jika saya makan banyak. Mungkin saja di antara Anda ada yang berkata, mengkonsumsi terlalu banyak ilmu juga tidak baik buat kesehatan jiwa. Saya bertanya, memangnya Anda pernah mengkonsumsi ilmu itu terlalu banyak? Bukankah selama ini ilmu yang Anda konsumsi terlalu sedikit?

Pagi hari biasanya sarapan gorengan. Turun ke pinggir jalan, dan karena kepagian, gorengan itu belum matang, tempe masih mentah, ubi masih mentah, dan singkong, baru satu kali menggoreng, belum digoreng keduakalinya. Begitulah cara menggoreng singkong yang nikmat, digoreng dulu sekali, angkat, rendam dengan air campur garam dan bumbu masak sampai singkong itu mekar, kemudian, goreng lagi buat yang kedua kalinya. Singkong empuk pun kini berkulit renyah. Sangat nikmat.

Karena belum matang, saya menunggu dan itu cukup lama. Tapi tidak menjenuhkan karena, seperti biasa, buku selalu di tangan. Waktu saya tabrak dengan membaca, dan tidak tahu kenapa, membaca sebelum makan itu lebih lancar daripada setelah makan. Dalam kondisi perut kosong, otak lebih mudah mencerna apa yang dibaca dan meresapkannya. Kali ini saya membaca buku karya Abdullah Bin Alawil Hadad, ulama tashawuf kenamaan abad ke-12 Hijrah. Membaca bukunya sangat nikmat.

Betul kata Mufti Mesir, Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, "Sayyid Abdullah al-Haddad dikenal sebagai Syaikh Al-Islam... tulisannya mengharukan dan menyentuh hati. Ceramahnya menarik untuk didengarkan, dan hujjahnya sering mematikan."

Membaca buku ini adalah meresapi nasihat beliau kepada berbagain kalangan, antara lain kepada pencari, pencinta, dan penyandang ilmu pengetahuan. Beliau mengutip sabda Nabi Saw yang bunyinya, "Manusia yang terdekat dengan kenabian adalah orang-orang yang berilmu dan berjihad. Orang-orang yang berilmu memberi petunjuk kepada manusia atas hal-hal yang dibawa oleh para rasul. Sedangkan orang-orang yang berjihad, mereka berjihad dengan pedang mereka atas hal-hal yang dibawa oleh para rasul."

Mengutip juga perkatan Ali Karamallahu Wajhah, " Wahai Kumail, ilmu lebih baik daripada harta. Sebab ilmu menjagamu, sedangkan harta harus kamu jaga. Ilmu mengurusmu, sedangkan harta harus kamu urus. Harta menjadi kurang saat dinafkahkan, sedangkan ilmu bertambah." Dan seterusnya dalam uraian panjang beliau menuturkan nasihat-nasihat, hikmah-hikmah, perkataan Rasulullah yang mulia, perkataan para ulama dan kutipan-kutipan potongan hidup mereka. 

Sambil menulis ini, saya berbicara kepada teman, Wasikendedes yang juga pencinta buku-buku agama karya para ulama, "Kenapa ya, karya para ulama terdahulu itu membacanya selalu betah. Kata-katanya meresap?"

"Ya memang. Seperti Ibnu Athaillah."

"Atau Imam Ghazali." tambah saya. 

Mungkin karena mereka menuliskan pengetahuannya dengan ikhlash, murni hanya menghadap ridha Allah. Efeknya, ilmu mereka, berkah memanjang terus dinikmati orang berabad-abad setelah mereka meninggal. Seperti Abdullah bin Alawil Hadad yang pagi ini karyanya menasihati saya, "Peringatan bagi 8 Kelompok Manusia." Membacanya lebih nikmat dari makan gorengan, memberi saya kesadaran, jika pagi bisa dihabiskan dengan menikmati bacaan yang membuat saya tercerahkan, kenapa harus turun ke luar jajan gorengan?

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape