Menjadilah sepenuhnya pada apa yang kamu pilih
Dari situ kamu akan memancarkan kharisma
Jangan setengah-setengah
Totalitas dengan apa yang yang sudah kita pilih
Galilah yang dalam
Selama ini orang terus mencari sumber energi
Energi listrik tenaga air
Energi listrik tenaga angin
Energi listrik tenaga matahari
Sebetulnya, dari setiap benda pun bisa menghasilkan energi
Setiap benda terdiri dari atom
Dan atom itu sumber energi
Saat orang berhasil memisahkan elektron dari atom, maka keluarlah energi listrik
Saat orang bisa membelah inti atom, maka dari situ keluar energi
Energi nuklir
Bagaimana itu bisa dicapai? Dengan totalitas
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Monday, September 5, 2016
Wednesday, January 27, 2016
MERAMALKAN KEGAGALAN
"Jangan meramalkan kegagalan Anda sendiri, kemudian berusaha membuktikan kehebatan Anda dalam meramal."
--Tom Hopkins--
Duduk di atas karpet, di sebuah madrasah berdinding bambu bolong-bolong, kenangan tak terlupakan dari masa kecil. Dikajilah kitab kuning di sana, berisi berbagai petuah tentang ibadah dan akhlaq mulia, antara lain, berbaik sangka kepada Allah.
Termasuk berbaik sangka kepada Allah antara lain berbaik sangka kepada masa depan. Berbaik sangka masa depan kita akan diberikan kebaikan oleh-Nya. Berbaik sangka saat kita melakukan untuk menggapai kebaikan, Dia akan memberikan kesuksesan.
Sangat beda tipis dengan sombong dan berbangga-bangga. Orang sombong dan bangga yakin bisa menggapai kesuksesan karena yakin dengan kemampuan dirinya. Sedangkan orang yakin kepada Allah, yakin akan mendapatkan kesuksesan karena yakin dengan kekuasaan Allah.
Dalam mengangankan masa depan, mengapa tidak kita angankan saja kebahagiaan-kebahagiaan, kesuksesan-kesuksesan, dari pada kegagalan-kegagalan dan keterpurukan? Padahal keduanya sama saja angan-angan, dan bedanya, yang satu menimbulkan bahagia dan semangat, sedangkan satu lagi menimbulkan cemas dan takut.
"No Excuse" buku karya Pak Isa bisa jadi teman membangun harapan menggapai sukses. Di dalamnya, berbagai kisah renyah tersaji "gak pake lama". Simpel tidak melelahkan mata. Bukan dongeng, bukan novel, bukan kisah khayalan. Kisah nyata orang-orang suksesan dari berbagai bidang, yang hebatnya, rata-rata punya latar belakang yang sepertinya tidak mungkin mendapatkan sukses yang sekarang dia dapat. Buku ini mendukung Anda berbaik sangka bahwa, mencapai kesuksesan itu siapa saja bisa.
Hari ketika menulis artikel ini saya sedang membaca buku "Menguasi Seni Menjual". Satu kata lucu dan mengesankan saya kutip pada awal tulisan. "Jangan meramalkan kegagalan Anda sendiri kemudian Anda berusaha membuktikan kehebatan Anda dalam meramal."
ILMU MENJUAL BUKU
Pagi ini, saya membaca kartun bagus.
"How To Master The Art Of Selling"
MENGUASAI SENI MENJUAL
Ditulis Tom Hopkins, ilustrasi oleh Bob Byrne. Disajikan dalam bentuk komik, menjadikan buku ini nyaman dibaca. Sekarang, saya sedang sangat membutuhkan ilmu menjual, terutama ilmu menjual buku.
Buku ini banyak memberikan pelajaran.
Satu hal penting yang harus selalu disadari seorang penjual adalah kata-kata. Kata bisa merusak, bisa juga menghasilkan penjualan. Jadi, anggaplah kata-kata itu alat bersisi tajam yang harus dipakai dengan bijaksana.
"PELAJARI KATA KATA YANG TEPAT UNTUK DIUCAPKAN DAN CARA MENGUCAPKANNYA, DAN ANDA AKAN MAMPU MENCIPTAKAN SITUASI PENJUALAN YANG MENGUNTUNGKAN KEDUA BELAH PIHAK."
* * *
Sembilan kepribadian yang harus dimiliki seorang penjual.
Pertama, dia sangat bersyukur dirinya menjadi seorang penjual. Rasa syukur itu akan terpancar dari penampilan dan air muka yang saat orang melihat akan langsung tertular keceriaan.
Dua, sangat peduli kepada pembeli. Dia selalu berusaha memastikan pembeli mendapatkan keuntungan nyata dari pembelian mereka.
Tiga, berusaha memaksimalkan kemampuan dirinya dalam menjual.
Empat, hasratnya ingin menjadi kaya dengan membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Lima, punya hasrat bergelora untuk sukses. Dia tak pernah menyerah dalam meraih tujuan, tidak peduli seberapa pun banyaknya tantangan yang dihadapi.
Enam, sadar sesadar-sadarnya dengan realita bahwa seorang penjual berpotensi gagal. Karena itu, dia selalu siap dengan kemungkinan.
Tujuh, sangat perhatian kepada pembeli secara personal, dan pandai memberikan penghargaan.
Delapan, seorang penjual tidak pernah baper dengan penolakan.
Sembilan, percaya pada pendidikan yang terus menerus. Mereka terus mempelajari teknik penjualan, mereka terus mempelajari keterampilan-keterampilan baru.
Untuk sementara, itu saja yang bisa saya sampaikan.
"How To Master The Art Of Selling"
MENGUASAI SENI MENJUAL
Ditulis Tom Hopkins, ilustrasi oleh Bob Byrne. Disajikan dalam bentuk komik, menjadikan buku ini nyaman dibaca. Sekarang, saya sedang sangat membutuhkan ilmu menjual, terutama ilmu menjual buku.
Buku ini banyak memberikan pelajaran.
Satu hal penting yang harus selalu disadari seorang penjual adalah kata-kata. Kata bisa merusak, bisa juga menghasilkan penjualan. Jadi, anggaplah kata-kata itu alat bersisi tajam yang harus dipakai dengan bijaksana.
"PELAJARI KATA KATA YANG TEPAT UNTUK DIUCAPKAN DAN CARA MENGUCAPKANNYA, DAN ANDA AKAN MAMPU MENCIPTAKAN SITUASI PENJUALAN YANG MENGUNTUNGKAN KEDUA BELAH PIHAK."
* * *
Sembilan kepribadian yang harus dimiliki seorang penjual.
Pertama, dia sangat bersyukur dirinya menjadi seorang penjual. Rasa syukur itu akan terpancar dari penampilan dan air muka yang saat orang melihat akan langsung tertular keceriaan.
Dua, sangat peduli kepada pembeli. Dia selalu berusaha memastikan pembeli mendapatkan keuntungan nyata dari pembelian mereka.
Tiga, berusaha memaksimalkan kemampuan dirinya dalam menjual.
Empat, hasratnya ingin menjadi kaya dengan membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Lima, punya hasrat bergelora untuk sukses. Dia tak pernah menyerah dalam meraih tujuan, tidak peduli seberapa pun banyaknya tantangan yang dihadapi.
Enam, sadar sesadar-sadarnya dengan realita bahwa seorang penjual berpotensi gagal. Karena itu, dia selalu siap dengan kemungkinan.
Tujuh, sangat perhatian kepada pembeli secara personal, dan pandai memberikan penghargaan.
Delapan, seorang penjual tidak pernah baper dengan penolakan.
Sembilan, percaya pada pendidikan yang terus menerus. Mereka terus mempelajari teknik penjualan, mereka terus mempelajari keterampilan-keterampilan baru.
Untuk sementara, itu saja yang bisa saya sampaikan.
KISAH NASKAH BUKU YANG TERJUNGKAL
Kepada sebuah penerbit, saya pernah mengirimkan naskah, kemudian tertolak.
Ditendang, terjungkal.
Segitu sadiskah?
Tidak juga, hehe, itu cuma hiperbolis.
Inti sederhananya, tertolak.
Segitu sadiskah?
Tidak juga, hehe, itu cuma hiperbolis.
Inti sederhananya, tertolak.
Wajar!
Naskah saya AsJad: Asal Jadi.
Naskah saya AsJad: Asal Jadi.
Menerbitkan buku butuh pertimbangan matang.
Bagi penerbit besar, publikasi buku bukan semata berbagi karya,
Tapi juga soal usaha.
Tapi juga soal usaha.
Karena yang dicetak dalam jumlah puluh ratusan, tapi ribuan
Mereka mengeluarkan modal besar.
Desain sampul itu mahal, layout itu mahal, cetak itu mahal.
Mereka mengeluarkan modal besar.
Desain sampul itu mahal, layout itu mahal, cetak itu mahal.
Satu kali cetak, buku harus ribuan.
Satu kali cetak, sedikitnya bisa habis uang puluhan bahkan ratus juta
Mencetak buku begitu saja tanpa pertimbangan matang sukses di pasar sama saja bunuh diri.
Sedikit saya tahu itu setelah sungai umur menghanyutkan saya masuk lubuk penerbitan. Menjadi orang "dalam", melihat langsung naskah yang benar-benar siap diterbitkan itu seperti apa.
Di sinilah saya benar-benar melihat, penerbitan sebuah buku itu butuh pertimbangan besar.
Sebuah naskah harus meyakinkan, harus bagus.
Selain bermanfaat dan pesannya kuat, harus benar-benar memikat.
Yang ketika orang memulai membaca, mereka harus tersedot ke dalam cerita.
Yang ketika orang memulai membaca, mereka harus tersedot ke dalam cerita.
Dalam mengedit pun tidak asal.
Mata dituntut melotot lebar. Lebar selebar-lebarnya.
Mata dituntut melotot lebar. Lebar selebar-lebarnya.
Jangan sampai satu kata pun salah.
Penyajian uraian kalimat sangat diperhatikan, hanya kalimat-kalimat bagus dan enak dibaca yang boleh bertahan. Sisanya, bagian kurang menarik yang hanya mengganggu uraian--tampa ampun, tiada maaf, bagian itu harus terjungkal, tersikat delet, terbuang.
Misal saat mau menerbitkan "Gara-Gara Indonesia". Sebelum masuk dapur editor, buku itu cukup tebal. Untuk mendapatkan hanya materi yang menarik pembaca, sekitar seratus halaman dibuang. Bagi yang sudah punya buku ini, buku Gara-Gara Indonesia yang ada di tangan Anda sekarang--itu hasil seleksi super ketat.
Itu bukan buku asal-asalan. Asal cetak, asal terbit, asal keluar, asal masuk pasar. Yang sekarang beredar, bukan sekedar catatan sejarah campur baur asal tulisannya panjang. Setelah Pak Agung--sebagai sarjana sejarah--sangat nikmat dalam menuliskannya, kemudian masuk dapur editor, setiap bab naskah itu diseleksi ketat. Kemudian, sekitar 100 halaman dipotong paksa. Dan yang tersisa, hanya sajian fakta sejarah yang, bukan hanya memotivasi, namun juga gurih dibaca.
Maka siapa saja membaca buku itu akan merasakan. Banyak sekali fakta, yang padahal mungkin tidak sengaja dimaksudkan humor, tapi orang akan tertawa-tawa.
Buku lainnya "Mengejar-Ngejar Mimpi". Naskah asal lebih dari 500 halaman,
Masuk dapur editor, kemudian 200 halaman divonis kurang menarik
Tanpa ampun, bagian itu harus terjungkal.
Sekarang yang tersisa, tinggal 312 halaman, hanya bagian yang saat dibaca, betul-betul menenggelamkan. Maka,
Naskah "Mengejar-Ngejar Mimpi" yang sekarang masuk pasar adalah buku berbahaya. Sekali orang mulai baca, dia bisa lupa. Lupa pekerjaan. Terjebak. Tak sanggup "meninggalkan" buku sebelum selesai membaca. Dan meski dia simpan karena bacaan tertunda, akan terus teringat, untuk ingin kembali dan kembali membaca kisah Dedi Padiku itu sampai selesai.
Seorang staf JNE pernah datang ke kantor. Saking menariknya buku itu, dia sampai curhat panjang menceritakan lagi banyak bagian isi buku itu yang terus membuatnya teringat-ingat.
Naskah novel "Love Spark In Korea" wah apalagi. Mata saya sendiri menyaksikan, editing dilakukan sampai bermalam-malam, sampai bergadang-gadang.
Sekali lagi, itu dilakukan itu karena penerbit tidak mau rugi dan merugikan.
Merugikan?
Ya, merugikan pembeli.
Jangan sampai, setelah orang korban uang, buka buku dan baca, baru satu dua halaman sudah jenuh, lalu kehilangan selera buat menyelesaikan. Akhirnya, buku yang dibelinya tidak manfaat.
Ya, merugikan pembeli.
Jangan sampai, setelah orang korban uang, buka buku dan baca, baru satu dua halaman sudah jenuh, lalu kehilangan selera buat menyelesaikan. Akhirnya, buku yang dibelinya tidak manfaat.
Sunday, January 17, 2016
KISAH BIRU PENUH DEBU
Telah dia tuturkan riwayat hidupnya kepadaku, kemudian pagi ini kukenang dalam perasaan, sebagai kisah berdarah-darah. Lupakan segera bahwa ini kisah nyata.Jangan percaya, jangan percaya, dan jangan pernah percaya. Katakanlah ini kisah khayalan, kisah biru penuh yang bahkan, gratis pun takkan pernah ada surat kabarmau memuat.
Jauh dari rumah, jauh dari orang tua, untuk kuliah di suatu tempat dan menjalani pergaulan bebas, berpacaran, kemudian bersama seorang pria tanpa didahului ikatan nikah, hasrat purba itu dia lakukan hingga berbuah benih tanpa diharap.
Dikarenakan pertengkaran itulah, maka keduanya menjaga jarak, tidak lagi saling bertemu, hingga kandungan kini berusia tujuh bulan. Sungguh tidak mau aib ini tercium keluarga, biar dia tanggung sendiri. Sudah terlalu besar rasa bersalahnya kepada orang tua, selama ini mengirimkan uang karena percaya anaknya sedang meniti tangga demi tangga menuju masa depan cerah. Jangan sampai beban mereka ditambah lagi dengan rasa malu karena anaknya berbuat dosa. Harus digugurkan, ya harus digugurkan, maka dia pergi kepada jasa aborsi tradisional, meminum ramuan, hingga janin itu keluar sebagai mayat.
Saat kutanyakan bisakah digambarkan seperti apa sakitnya menggugurkan kandungan, dia meratap dengan kata-kata, "Ya ampun, melahirkan normal saja sakitnya luar biasa, apalagi dengan cara-cara yang penuh dengan paksa."
Setelah selesai urusan aib kandungan, kerinduannya kepada sang pacar tak bisa ditahan, karena hasrat seks itu hanya bisa dia penuhi dengannya, dan si pria pun merasakan hal yang sama. Mereka kembali bertemu, tapi kembali lagi, seperti sebelumnya, remaja manis ini disalahkan karena dianggap telah menghancurkan kuliah.
"Baiklah." kata si wanita, "Jika itu kesalahanku, jika berantakan kuliahmu sepenuhnya kesalahanku, akan kutebus. Biarkan kucari uang untukmu, untuk kau teruskan kuliah." maka dia mencari yang, pergi entah ke mana, lalu pulang membawa uang banyak, namun pacarnya curiga dan tidak mau menerima, dan memang kecurigaan itu benar karena uang didapat dari para pria hidung belang. Demi kelanjutan kuliah pacarnya, dirinya kini rela dia jual. Wahai pepohonan yang meranggas disebabkan kemarau panjang, ranting yang kau biarkan lepas terhempar jatuh gemerapan akan bagaimanakah lagi nasib berikutnya?
Dari sang pacar dia kembali menjauh. Kata putus yang tertunda sejak lama resmilah sekarang. Dan berikutnya, dari pergaulan ke pergaulan dari pria ke pria, bersama waktu yang tersendat merayap, hati memarnya dia bawa, sang wanita penuh luka, hingga tak pernah kuterima lagi curhatnya. Lama, ingin kutanyakan lagi bagaimana kisah berikutnya, dan kembali kucari namanya, terbukalah akun bergambar wanita manis itu terbuka, dan kutemukan timeline telah bertabur ucapan bela sungkawa dari teman-temannya. "Kita senantiasa tertawa dan berdekatan, tapi kini kamu sudah tiada."
Akar kuat manakah bisa diraih saat dirinya tergelincir ke dalam jurang, ia tidak melihat, selain membiarkan saja dirinya melayang jatuh berharap sangkutan dahan ranting dedaunan sedikit mengurangi daya keras hempasnya. Kepada sang pacar benih tumbuh di perutnya itu diberitakan, dan sebagai sesama remaja pria ini pun hanya bisa kebingungan.
Sekuat batin sang pria mengeluarkan kasih sayang kok rasanya berat. Kerepotan memikirkan, mengurus, dan menemani si pacar selama masa kehamilan membuahkan kebingungan, kecemasan, dan masa depan yang dia lihat tampak semakin hitam. Kuliah terganggu, konsentrasi berantakan, tiada lagi ketenangan saat belajar. Kuliah pun berantakan, maka siapakah yang disalahkan? Hati berniat sayang berubah menjadi buas. Entah kenapa, si pria menjadi kasar. Bentakan dan pukulan begitu mudah dia layangkan. Si pria mengaku sesungguhnya sayang dan si wanita pun menyatakan dia mengerti mereka masih cinta.
"Oh adikku sayang" ucapku dalam perasaan, "maafkalah jika aku mengadili. Kalian berdua katakan itu cinta, begitu mulia, namun tahukah kalian berdua sesungguhnya itu hasrat seks yang terlanjur kalian cecap kemudian membuat ketagihan. Kalian menjadi terikat dan saling tidak mau menjauh, pengikat itu bukanlah cinta, melainkan kebutuhan badaniah, yang sayangnya karena kebutuhan badan itu kalian penuh dalam keharaman, maka itulah buahnya, kebersamaan sering membuat kalian berdua heran, bukannya membuahkan ketenteraman dan kasih sayang namun gelisah dan luka."
Dikarenakan pertengkaran itulah, maka keduanya menjaga jarak, tidak lagi saling bertemu, hingga kandungan kini berusia tujuh bulan. Sungguh tidak mau aib ini tercium keluarga, biar dia tanggung sendiri. Sudah terlalu besar rasa bersalahnya kepada orang tua, selama ini mengirimkan uang karena percaya anaknya sedang meniti tangga demi tangga menuju masa depan cerah. Jangan sampai beban mereka ditambah lagi dengan rasa malu karena anaknya berbuat dosa. Harus digugurkan, ya harus digugurkan, maka dia pergi kepada jasa aborsi tradisional, meminum ramuan, hingga janin itu keluar sebagai mayat.
Saat kutanyakan bisakah digambarkan seperti apa sakitnya menggugurkan kandungan, dia meratap dengan kata-kata, "Ya ampun, melahirkan normal saja sakitnya luar biasa, apalagi dengan cara-cara yang penuh dengan paksa."
Setelah selesai urusan aib kandungan, kerinduannya kepada sang pacar tak bisa ditahan, karena hasrat seks itu hanya bisa dia penuhi dengannya, dan si pria pun merasakan hal yang sama. Mereka kembali bertemu, tapi kembali lagi, seperti sebelumnya, remaja manis ini disalahkan karena dianggap telah menghancurkan kuliah.
"Baiklah." kata si wanita, "Jika itu kesalahanku, jika berantakan kuliahmu sepenuhnya kesalahanku, akan kutebus. Biarkan kucari uang untukmu, untuk kau teruskan kuliah." maka dia mencari yang, pergi entah ke mana, lalu pulang membawa uang banyak, namun pacarnya curiga dan tidak mau menerima, dan memang kecurigaan itu benar karena uang didapat dari para pria hidung belang. Demi kelanjutan kuliah pacarnya, dirinya kini rela dia jual. Wahai pepohonan yang meranggas disebabkan kemarau panjang, ranting yang kau biarkan lepas terhempar jatuh gemerapan akan bagaimanakah lagi nasib berikutnya?
Dari sang pacar dia kembali menjauh. Kata putus yang tertunda sejak lama resmilah sekarang. Dan berikutnya, dari pergaulan ke pergaulan dari pria ke pria, bersama waktu yang tersendat merayap, hati memarnya dia bawa, sang wanita penuh luka, hingga tak pernah kuterima lagi curhatnya. Lama, ingin kutanyakan lagi bagaimana kisah berikutnya, dan kembali kucari namanya, terbukalah akun bergambar wanita manis itu terbuka, dan kutemukan timeline telah bertabur ucapan bela sungkawa dari teman-temannya. "Kita senantiasa tertawa dan berdekatan, tapi kini kamu sudah tiada."
Saturday, January 16, 2016
BUKU SEBELUM TAMAT: DARI PESAN BUDI ANDUK
Dari Pak Budi Anduk, Pak Aziz Gagap punya kenangan, "Dia selalu ingetin saya untuk shalat dan jaga kesehatan." Sederhana, tidak besar, tidak panjang-panjang, bukan ceramah berjam-jam, hanya pesan supaya shalat dan menjaga kesehatan, tapi itulah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang pernah Nabi sebutkan sebagai sesuatu yang ganjarannya akan terus mengalirmeskipun si penyampai sudah meninggal. Amiin, mudah-mudahan saja. Kita tidak tahu bagaimana yang sebenanya, benarkah ilmu yang Pak Budi sampaikan itu mengalir terus pahalanya. Hanya bisa mengaminkan, mudah-mudahan saja, kita doakan, sambil berharap kepada Allah kita pun mendapatkan kebaikan yang sama, aliran ganjaran tak terhenti dari ilmu yang bermanfaat.
Dan untuk mendapatkan itu, tentu saja mesti berusaha. Tengok segera perbincangan keseharian dengan teman, baik berupa ucapan atau tulisan saat bersosial media. Betapa beruntungnya, jika setiap yang kita ucap dan tuliskan menjadi ilmu yang bermanfaat. Betapa beruntungnya jika postingan itu merupakan tulisan yang mengingatkan orang supaya shalat, betapa beruntungnya jika kalimat itu merupakan tulisan yang menyadarkan orang supaya mengingat Allah. Betapa beruntungnya saat puisi kita mengingatkan orang untuk cinta membaca Al-Qur'an. Betapa beruntungnya jika artikel kita mengajak orang untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya. Betapa beruntungnya jika tulisan itu berisi inspirasi yang mengilhami orang lain berbuat baik, bersabar, saling berkasih sayang dan mendamaikan di antara manusia. Betapa beruntungnya, betapa beruntungnya, dan betapa beruntungnya.
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan dari bisikan-bisikan mereka, selain bisikan-bisikan orang yang menyuruh untuk bersedekah, atau berbuat baik, atau untuk mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa yang melakukan itu untuk mencari ridha Allah, maka kelak Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar." (Surat Annisa)
Sampai kepada paragraf ini, kalau boleh menebak, mungkin benak benak berkata, tulisan ini seperti ceramah, sedang khotbah. Bisa jadi ucapan Anda benar. Mungkin ini ceramah, tapi semoga Anda tidak menguap. Kemudian tidur sampai beres pengajian. Malah saya harap Anda menambah dengan mutiara-mutiara kata, ayat-ayat yang Anda hafal, atau hadits supaya semakin lengkap. Perbincangan ini penting, mengingat sebuah kenyataan tak terelakkan bahwa kita akan meninggal.
Orang lain pergi duluan. Sebagian disebabkan sakit, sebagian kecelakaan, sebagian sengaja dibunuh, sebagian lagi, dan ini luar biasa, berani tiada dara, yaitu bunuh diri. Tak tahu kenapa dan bagaimana caranya, satu kesamaan mereka sama-sama sudah tamat. Kemarin tertawa-tawa, sekarang sudah tidak ada, kemarin orang ngobrol dengan kita, sekarang sudah berkalang tanah. Dan suatu saat, kita pun sama, akan mendapat giliran. Dan untuk hari mencemaskan itu, semestinya kita bersiap.
Dan untuk mendapatkan itu, tentu saja mesti berusaha. Tengok segera perbincangan keseharian dengan teman, baik berupa ucapan atau tulisan saat bersosial media. Betapa beruntungnya, jika setiap yang kita ucap dan tuliskan menjadi ilmu yang bermanfaat. Betapa beruntungnya jika postingan itu merupakan tulisan yang mengingatkan orang supaya shalat, betapa beruntungnya jika kalimat itu merupakan tulisan yang menyadarkan orang supaya mengingat Allah. Betapa beruntungnya saat puisi kita mengingatkan orang untuk cinta membaca Al-Qur'an. Betapa beruntungnya jika artikel kita mengajak orang untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya. Betapa beruntungnya jika tulisan itu berisi inspirasi yang mengilhami orang lain berbuat baik, bersabar, saling berkasih sayang dan mendamaikan di antara manusia. Betapa beruntungnya, betapa beruntungnya, dan betapa beruntungnya.
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan dari bisikan-bisikan mereka, selain bisikan-bisikan orang yang menyuruh untuk bersedekah, atau berbuat baik, atau untuk mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa yang melakukan itu untuk mencari ridha Allah, maka kelak Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar." (Surat Annisa)
Sampai kepada paragraf ini, kalau boleh menebak, mungkin benak benak berkata, tulisan ini seperti ceramah, sedang khotbah. Bisa jadi ucapan Anda benar. Mungkin ini ceramah, tapi semoga Anda tidak menguap. Kemudian tidur sampai beres pengajian. Malah saya harap Anda menambah dengan mutiara-mutiara kata, ayat-ayat yang Anda hafal, atau hadits supaya semakin lengkap. Perbincangan ini penting, mengingat sebuah kenyataan tak terelakkan bahwa kita akan meninggal.
Orang lain pergi duluan. Sebagian disebabkan sakit, sebagian kecelakaan, sebagian sengaja dibunuh, sebagian lagi, dan ini luar biasa, berani tiada dara, yaitu bunuh diri. Tak tahu kenapa dan bagaimana caranya, satu kesamaan mereka sama-sama sudah tamat. Kemarin tertawa-tawa, sekarang sudah tidak ada, kemarin orang ngobrol dengan kita, sekarang sudah berkalang tanah. Dan suatu saat, kita pun sama, akan mendapat giliran. Dan untuk hari mencemaskan itu, semestinya kita bersiap.
Thursday, January 14, 2016
KALIAN LUAR BIASSAAAA
Hebat sekali sebagian besar Anda pandai menyusun cerita, kenapa saya tidak ya. Kemarin saja waktu santai makan di kantin, sekalian istrirahat, tadinya saya mau sambil menyusun cerita pendek, tentang peristiwa bom bunuh diri itu, tapi susah. Saya coba menulis dan setiap kali mau meluncurkan kata, setiap kali itu pula lidah batin merasakan kata yang saya tuliskan tidak tepat.
Saya coba menggunakan kata "tergelar".
Kalau tidak percaya, silakan saja baca, itu pun kalau Anda mau dan sempat,
Sebentar, saya ambil dulu buku catatannya ke kolong meja.
Nah, ini dia.
"Sedang santai kerja, bom meledak. Saya lihat sendiri percikan apinya... "
Nah, saat menulis "percikan" rasanya kok kurang tepat. Api itu pesar, sedang percikan lebih tepat digunakan buat api kecil, percikan konsleting listrik, percikan korek api, misalnya. Ini bom, apinya besar, masa disebut percikan. Tapi waktu saya cari kata lainnya, susah juga.
Nah, saat menulis "percikan" rasanya kok kurang tepat. Api itu pesar, sedang percikan lebih tepat digunakan buat api kecil, percikan konsleting listrik, percikan korek api, misalnya. Ini bom, apinya besar, masa disebut percikan. Tapi waktu saya cari kata lainnya, susah juga.
Mau diganti dengan kata hembusan. Lho, ini kan bukan angin.
Ok kita teruskan. Saya pun menulis lagi...
"Tiga orang pria tergeletak di jalan. Celana robek, kaki hancur, darah terhampar... "
Lho, lho, lho, kok terhampar? Terhampar lebih cocok buat benda seperti beras, padi, atau tikar. Sepertinya darah kurang tepat menggunakan kata terhampar. Saya orang Sunda biasanya menggunakan kata "Ngabayabah". Tapi apa ya Bahasa Indonesianya "Ngabayabah."
Lho, lho, lho, kok terhampar? Terhampar lebih cocok buat benda seperti beras, padi, atau tikar. Sepertinya darah kurang tepat menggunakan kata terhampar. Saya orang Sunda biasanya menggunakan kata "Ngabayabah". Tapi apa ya Bahasa Indonesianya "Ngabayabah."
Hayati jadi pusing.
Saya coba menggunakan kata "tergelar".
"Darah tergelar... " ah makin ngaco saja.
Yang tergelar itu karpet, tikar,
Sudah. Kita lanjutkan. Kemudian saya pun menulis...
"Seorang polisi duduk lemah bersandar, badan gemuk besar, kondisi rusak berat."
Plak! Haduh, masa memakai kata "kondisi rusak berat" memangnya rongsokan mobil?
Begitulah karena seringnya merasakan keseleo kata, kecepatan menulis jadi terhambat. Waktu istrirahat yang setadinya mau saya manfaatkan buat menulis satu cerpen--satu cerpen saja--malah habis. Nasi di piring tamat, waktunya kembali ke kantor. Cerpen belum selesai, harus kembali ke meja kerja.
Susah sekali rasanya.
Tapi saya perhatikan, cerita pendek hasil karya Anda banyak bertebaran. Bagus-bagus, buat penasaran, enak dibaca, kosa katanya kaya, diksinya tepat, bahkan sebagian sudah dimuat media cetak, wah, saya mah, jangankan dimuat media, selesai saja tidak.
Tapi saya perhatikan, cerita pendek hasil karya Anda banyak bertebaran. Bagus-bagus, buat penasaran, enak dibaca, kosa katanya kaya, diksinya tepat, bahkan sebagian sudah dimuat media cetak, wah, saya mah, jangankan dimuat media, selesai saja tidak.
Jadi ingat teriakan Pak Aril sambil mensayukan mata....
"KALIAN LUAR BIASSSAAAA!!!!!"
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan ...
-
Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan Melukis gambar rembulan Rembulan merah muda, Dan dua ekor merpati terbang di kedua sis...
-
Baru kemarin beli buku ini, sakarang sudah tamat. Buku obral tapi bagus. Memberi hal baru. Tentang "Kekuatan Pikiran Spontan." ...
