Showing posts with label Bincang-Bincang Buku. Show all posts
Showing posts with label Bincang-Bincang Buku. Show all posts

Friday, February 12, 2016

BUKU LEBIH NIKMAT DARI GORENGAN

Makanan ternikmat adalah pengetahuan. Mengkonsumsinya membuat saya puas dan setelahnya tidak kekenyangan. Tidak menimbulkan penyakit sebagaimana jika saya makan banyak. Mungkin saja di antara Anda ada yang berkata, mengkonsumsi terlalu banyak ilmu juga tidak baik buat kesehatan jiwa. Saya bertanya, memangnya Anda pernah mengkonsumsi ilmu itu terlalu banyak? Bukankah selama ini ilmu yang Anda konsumsi terlalu sedikit?

Pagi hari biasanya sarapan gorengan. Turun ke pinggir jalan, dan karena kepagian, gorengan itu belum matang, tempe masih mentah, ubi masih mentah, dan singkong, baru satu kali menggoreng, belum digoreng keduakalinya. Begitulah cara menggoreng singkong yang nikmat, digoreng dulu sekali, angkat, rendam dengan air campur garam dan bumbu masak sampai singkong itu mekar, kemudian, goreng lagi buat yang kedua kalinya. Singkong empuk pun kini berkulit renyah. Sangat nikmat.

Karena belum matang, saya menunggu dan itu cukup lama. Tapi tidak menjenuhkan karena, seperti biasa, buku selalu di tangan. Waktu saya tabrak dengan membaca, dan tidak tahu kenapa, membaca sebelum makan itu lebih lancar daripada setelah makan. Dalam kondisi perut kosong, otak lebih mudah mencerna apa yang dibaca dan meresapkannya. Kali ini saya membaca buku karya Abdullah Bin Alawil Hadad, ulama tashawuf kenamaan abad ke-12 Hijrah. Membaca bukunya sangat nikmat.

Betul kata Mufti Mesir, Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, "Sayyid Abdullah al-Haddad dikenal sebagai Syaikh Al-Islam... tulisannya mengharukan dan menyentuh hati. Ceramahnya menarik untuk didengarkan, dan hujjahnya sering mematikan."

Membaca buku ini adalah meresapi nasihat beliau kepada berbagain kalangan, antara lain kepada pencari, pencinta, dan penyandang ilmu pengetahuan. Beliau mengutip sabda Nabi Saw yang bunyinya, "Manusia yang terdekat dengan kenabian adalah orang-orang yang berilmu dan berjihad. Orang-orang yang berilmu memberi petunjuk kepada manusia atas hal-hal yang dibawa oleh para rasul. Sedangkan orang-orang yang berjihad, mereka berjihad dengan pedang mereka atas hal-hal yang dibawa oleh para rasul."

Mengutip juga perkatan Ali Karamallahu Wajhah, " Wahai Kumail, ilmu lebih baik daripada harta. Sebab ilmu menjagamu, sedangkan harta harus kamu jaga. Ilmu mengurusmu, sedangkan harta harus kamu urus. Harta menjadi kurang saat dinafkahkan, sedangkan ilmu bertambah." Dan seterusnya dalam uraian panjang beliau menuturkan nasihat-nasihat, hikmah-hikmah, perkataan Rasulullah yang mulia, perkataan para ulama dan kutipan-kutipan potongan hidup mereka. 

Sambil menulis ini, saya berbicara kepada teman, Wasikendedes yang juga pencinta buku-buku agama karya para ulama, "Kenapa ya, karya para ulama terdahulu itu membacanya selalu betah. Kata-katanya meresap?"

"Ya memang. Seperti Ibnu Athaillah."

"Atau Imam Ghazali." tambah saya. 

Mungkin karena mereka menuliskan pengetahuannya dengan ikhlash, murni hanya menghadap ridha Allah. Efeknya, ilmu mereka, berkah memanjang terus dinikmati orang berabad-abad setelah mereka meninggal. Seperti Abdullah bin Alawil Hadad yang pagi ini karyanya menasihati saya, "Peringatan bagi 8 Kelompok Manusia." Membacanya lebih nikmat dari makan gorengan, memberi saya kesadaran, jika pagi bisa dihabiskan dengan menikmati bacaan yang membuat saya tercerahkan, kenapa harus turun ke luar jajan gorengan?

Thursday, February 11, 2016

BUKU YANG SANGAT BERAT SAYA SEBUTKAN JUDULNYA

Amat disayangkan buku ini diberi judul vulgar. Saking vulgarnya sampai-sampai saya berat mengatakannya kepada Anda. Berat menyebutkan pada tulisan ini di paragraf awal. Entahlah di paragraf berikutnya. Mungkin di paragraf dua, atau kalau tidak, mungkin di paragraf tiga, atau empat, atau mungkin di paragraf terakhir. Berat, benar-benar berat. Khawatir jika saya tuliskan, nanti muncul komentar "Hai, di sini ada anak di bawah umur."

Saya rasakan sendiri kemarin membaca buku itu di angkot, dilihat orang jadi malu. Saya berusaha menutupi jilid, khawatir orang mengira saya membaca buku kurang pantas. Di kampung, sambil mengasuh anak, saya bawa buku itu kemudian seorang tetangga melihat, "Itu novel?" tanyanya. Langsung saya tutup.

Waktu istri berrencana membawa buku ini ke PAUD, buat dia baca sambil menunggui anaknya belajar, dia berkata, "Mungkin harus dibungkus dulu."


"Kenapa?"

"Biar judulnya tertutup."

Judul buku ini memang cukup syur.

Padahal isinya sangat bagus. Bukan, sama sekali bukan buku yang membicarakan syahwat. Tapi menyajikan motivasi dan renungan.

Jujur, karena judulnya cukup menggoda syahwat, semula saya mengira hanya menguraikan pembicaraan orang dewasa. Pas saya buka ternyata tidak. Buku ini sebuah kumpulan tulisan. 

Dengan bahasa lancar dan tidak membosankan, penulis mengajak pembaca mengambil renungan dari berbagai hal. Fenomena sejarah, penggalan kisah hidup orang-orang terkenal, pengalaman pribadi dirinya, apa saja tema yang ditulisnya sangat gurih buat dibaca.

Oh teman, maaf jika tulisan saya membosankan. Setiap kali menceritakan buku pasti isinya itu-itu saja: Bahasanya lancar dan enak dibaca. Tidak membosankan, penuh wawasan, dan sebagainya. Tapi saya mengatakan itu serius. Saya katakan itu karena sudah membaca, dan bisa membacanya dengan nikmat. Saya bukan pembaca cerdas yang bisa mencerna setiap bacaan dengan mudah. Hanya buku tertentu yang benar-benar membuat saya, saat membacanya benar-benar merasa nikmat. Dan buku ini antara lain.

Duh, saya masih berat menuliskan judulnya.

Hoeda Manis, begitu penulis buku ini menamai dirinya. Sepertinya nama samaran, karena menurut pengakuannya, dia telah menarik diri dari publisitas secara terbuka sejak tahun 2006. Sekararang lebih suka mengkonsentrasikan dirinya ke tulisan. Siapa pun mengundang dirinya buat tampil jadi pembicara untuk materi apa saja, dia hanya bisa minta maaf: tidak bisa. Saya tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dari bagusnya tulisan, seperti bukan pemula. Bahasa tulis sangat lancar. Materi yang dia sajikan berisi, tidak murahan.

Misalnya saat Hoeda dengan sangat unik penulis menceritakan Mozart. Siapa pun pencinta musik klasik tahu siapa Mozart, tapi hanya sedikit orang tahu kisah pribadinya bahwa dia pernah mempunyai pacar. Mereka saling jatuh cinta, sampai kemudian seorang pria lain menaksir pacar mozart, "Dan tololnya, si wanita memilih meninggalkan mozart untuk menikah dengan laki-laki itu." tulis Hoeda. "Karena diputus secara sepihak, Mozart pun patah hati, dan ia butuh waktu bertahun-tahun menyembuhkan lukanya. Selama bertahun-tahun pula, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. "Sampai bertahun-tahun kemudian, ketika Mozart telah menjadi sosok terkenal dan dunia mengakuinya sebagai musisi genius, para wartawan melacak keberadaan wanita yang menjadi mantan pacar Mozart, dan menanyakan, "Mengapa Anda dulu meninggalkan Mozart untuk menikah dengan laki-laki lain?" Dengan jujur, wanita mantan pacar Mozart itu menjawab, "Dahulu, saya tidak pernah tahu kalau ia sejenius itu. Saya hanya tahu bahwa ia pendek." Jadi rupanya, wanita itu memutuskan Mozart secara sepihak dan meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain hanya karena melihat bahwa Mozart memiliki postur tubuh yang pendek."

Dari kisah itu kemudian Hoeda Manis membawa pembaca tenggelam menyelami sebuah renungan, bagaimana seharusnya menjalin hubungan. Menjalin hubungan dengan seseorang, jika itu ingin melakukan itu dengan tulus sudah seharusnya bersiap sedia menerima kekurangan. "Manusia dikaruniai kelebihan, tetapi juga dilengkapi kekurangan, karena itulah ciri manusia." 

Renungan-renungannya sederhana, tapi sangat meresap. Tulisan lain misalnya saat membicarakan Bung Hatta. Wakil presiden pertama Republik Indonesia ini sebenarnya bisa saja minta bantuan pengusaha buat membeli sepatu yang diingingkannya, tapi sampai beliau meninggal dunia, sepatu yang sangat diinginkan itu tidak kesampaian. Dari kamar beliau, "Setelah wafat, keluarganya membereskan barang-barang Bung Hatta, dan mereka menemukan guntingan iklan sepatu itu di antara tumpukan bukunya."

Tulisan lain juga sangat menggugah. Saat menceritakan Isack Newton yang kurang pergaulan, tidak bisa berteman baik dengan orang, temperamental dan mudah tersinggung. Pada bagian ini penulis membaca pembaca pada renungan betapa tidak mungkinnnya menuntut orang lain sempurna, sebab tidak seorang pun manusia sempurna. Dan masih banyak tulisan lainnya sampai 65 bab menjadi sebuah buku setebal 389 halaman.

Kalau saja bisa ngobrol dengan penulisnya, ingin saya sampaikan, untuk cetakan berikutnya, sebaiknya judul diganti dengan yang lebih ramah. "Tak perlu khawatir buku Anda takkan sukses di pasar. Kepandaian menulis Anda yang mempuni tak perlu disangsikan. Telah banyak pembaca jatuh cinta termasuk saya. Jangan pake yang itu lagi ya! Sebagai penjual buku, saya jadi risih mempromosikan buku Anda sambil menyebut judulnya. Padahal, betapa ini berbagi ke teman pembaca lain jika bukumu ini bagus."

Monday, February 1, 2016

HARRY POTTER BUKAN KARYA JK. ROWLING

Apaan sih, hanya cerita anak khayalan. Membacanya membuat saya serasa dibohongi. 

Begitulah anggapan saya sebelumnya kepada buku Harry Potter, sekalipun banyak orang yang suka dan membaca. Sekalipun seorang teman berkata, saat dia membaca buku itu, dia bisa menamatkannya dengan sangat cepat saking menariknya.

Tapi tetap, saya tidak tertarik juga.

Saya heran kenapa orang-orang suka. Kenapa begitu semangatnya mereka membeli dan membaca dari jilid ke jilid, padahal itu cuma buku khayalan. Dan jilid itu tebal-tebal. Dan yang lebih aneh, yang membaca itu banyak juga dari orang dewasa. 

Hernowo bahkan memujinya habis-habisan. Secara khusus dia menulis buku berjudul "Andaikan Buku Itu Sepoting Pizza. Mengupas Kelezatan 4 Buku Harry Potter." Akan tetapi saya, lebih tertarik baca buku Hernowo daripada membaca buku Harry Potternya. 

Akan tetapi sebagus apapun sanjungan Hernowo pada buku itu, rasa tertarik saya belum begitu besar menyala. Melihat tebalnya buku Harry Potter ditambah pikiran bahwa itu cuma karangan, rasa penasaran saya masih biasa.

Sampai suatu ketika, saya menembukan blog milik Hoeda Manis. Pada blognya itu dia curhat 10 buku terbaik yang dia baca sepanjang tahun 2105. Salah satunya buku berjudul "Comitte 300" yang ditulis oleh seorang Doktor bernama Joh Coleman. Satu bagian paling menarik dalam buku itu adalah saat menyebutkan, bahwa JK ROWLING SEBENARNYA BUKAN PENULIS HARRY POTTER.


Hoeda Manis menulis:

"Apakah ini mengejutkan? Jelas. Jika kalian bertanya apakah saya percaya apa yang dikatakan buku ini? terus terang, ya saya percaya."


Kemudian tulisnya,

"Sebelum JK. Rowling menulis novel lain di luar Harry Potter, saya tentu percaya dialah yang memang menulis novel tersebut. Tetapi ketika JK. Rowling menulis di luar Harry Potter-dan saya juga membaca novel-novel tersebut--kepercayaan saya mulai goyah. Ada banyak kejanggalan yang saya temukan selama membaca novel Rowling di luar Harry Potter. (Penjelasan mengenai ini bisa sangat panjang, jadi mungkin akan saya uraikan di catatan lain...)"


"Yang jelas kecurigaan saya terhadap JK. Rowling seperti mendapatkan konfirmasi dalam buku Committe 300."

"Dalam buku itu Dr. John Coleman mengatakan bahwa Harry Potter sebenarnya bukan karya JK. Rowling, melainkan kreasi sekelompok orang di Travistock Institute--salah satu think thank Komite 300--yang di dalamnya terdapat orang-orang jenius. Sementara Harry Potter sebenarnya personifikasi Richard Potter, seorang milliuner tak terkenal yang menggeluti sihir dan okultisme. Rihcard Potter benar-benar ada, tapi menutup diri dari publik, sehingga sosoknya kurang dikenal."


Setelah membaca itu, penasaran saya menjadi besar. Setelah membaca tulisan Hoeda Manis, saya pun coba membandingkan. Jika Harry Potter betul karya JK. Rowling, kenapa buku dia setelah itu tidak begitu dahsyat? Terjemahan Casual Vancanci misalnya, terjual biasa-biasa saja. Bahkan salah satu kios pada Islamic Bookfire tahun 2015 menempatkan buku itu pada tumpukan buku murah.

Ajaibnya, kenyataan adanya kabar Harry Potter bukan karya JK. Rowling, bukan menjadikan saya memandang rendah. Justru jadi sangat penasaran. Jika memang benar buku itu ditulis kelompok yang di dalamnya banyak orang jenius, berarti hasilnya bukan karya biasa. 

Pantas saja selama ini buku itu memesona orang dari berbagai usia. Pantas saja teman saya berkata, membaca tebal itu sanggup dalam waktu singkat. Seorang editor buku, teman kerja saya menyebutkan, mantra-mantra yang tertulis dalam b buku itu bukan mantra asal mengarang. Tapi memang ada dan dipakai di dunia persihiran.

Itulah sebabnya, saat buku ini kembali saya temukan di Bazar murah, segera saya beli. Hard Cover. Meskipun hanya satu jilid, yaitu Harry Potter and Order Of Phoenix, tetap saya ambil karena penasaran. Sebagus apa sih teksnya? Dan ketika di kantor buku itu saya buka dan baca, teknik berceritanya memang sangat menenggelamkan. Tanpa butuh sebutan sastra, kenyataan bagusnya susunan kata dan cerita buku itu sendiri yang berkata.

Thursday, January 21, 2016

DARI BUKU KETIKA MAS GAGAH PERGI

Dari buku novel Ketika Mas Gagah Pergi, kemudian diangkat ke layar lebar. Ini adalah hari perdana. Saya langsung menontonnya.

*   *   *

Sekalipun duduk paling pinggir itu enak, bisa dengan mudah ke luar jika ada keperluan, saya pilih duduk paling pojok. Pak Agung saya minta menempati kursi saya, dan saya menempati tempat duduknya. Semula saya memilih duduk pada kursi paling sudut tiada maksud apa-apa, selain supaya Pak Agung mudah jika nanti mau keluar. Tapi lama-lama, ternyata saya rasakan di sana tempat duduk ternyaman. Dengan duduk di sana, saya merasa bebas, tidak perlu menahan-nahan perasaan, tidak perlu malu, di harus berkali-kali mengusap air keharuan.

Sangat mengharukan, sangat mengharukan, sangat mengharukan. Cerita orang yang mendapatkan hidayah ke jalan yang benar memang sangat mengharukan. Cerita perubahan seseorang kepada jalan keshalihan memang sangat mengharukan. Saya tidak punya kata bagus selain mengharukan, sebab kalau saya ganti menjadi kata sedih sangatlah tidak tepat. Kalau tidak percaya, mari kita coba: Cerita tentang orang yang mendapatkan hidayah ke jalan yang benar sangat menyedihkan. Tuh kan, kurang enak kedengarannya. Lebih enak memilih kata, mengharukan, karena yang saya maksud adalah menyentuh perasaan, mengundang hati buat jatuh cinta.


Apa yang mengharukan adalah proses seseorang mengenal kebenaran. Sebenarnya sentral paling mengharukan adalah perubahan seorang Gita, yang begitu mencintai kakaknya, Mas Gagah. Akan tetapi pada awal kisah, bagian paling menyentuh dari perubahan terjadi pada Ibu Mas Gagah. Akting profesional Wulan Guritno, tanpa banyak bicara dia berhasil mengundang keharuan. Setelah sebelumnya dia heran kenapa anak pria satu-satunya itu berubah dari seorang hedonis gaya remaja pada umumnya menjadi sosok yang mencintai agama, ternyata perubahan itu pun berdampak pada jiwa kemanusiaannya. Gagah anaknya ini menjadi peduli pada orang pinggiran, dan saat sang ibu ikut ke sana, melihat apa saja yang selama ini anaknya lakukan, sambil berjalan perlahan, bibirnya gemetaran, mata berkaca-kaca, mendekati seorang nenek yang sedang merajut kerudung, yang diberdayakan "Sang Mas Gagah."

Ini film yang sangat indah, setelah orang menunggu begitu lama, kini mereka dapatkan sajian memuaskan. Sebuah film dengan pesan moral yang kaya, berisi keteladanan, keberanian, keshalihan, kehanifan, kecintaan kepada agama.

Film ini banyak memberikan keteladanan tentang istiqomah menjalankan sunnah. Tentang keberanian menyampaikan kebenaran walau satu ayat, seperti dicontohkan pemeran Yudi yang dengan berani dakwah di angkutan, sekalipun berkali-kali, orang-orang manampilkan wajah malas, membantah, tidak suka, Yudi tetap tersenyum dan tenang menyampaikan ceramah.

Masih banyak yang ingin saya sampaikan, tapi rasanya cape kalau harus nulis terlalun panjang. Yang jelas, film ini menjadi hebat karena diangkat dari karya hebat. Ketika Mas Gagah pergi, sampai sekarang telah menembus cetakan keenambelas. Setelah nonton filmnya, saya jadi kangen ingin membaca bukunya. Jika di film tadi hanya bisa menikmati kisahnya satu jam lebih sedikit. Bersama buku, saya bisa meresapi kata-katanya sampai kapan saja, di mana saja, mungkin di atas dak gedung, sambil tengkurap, disinari langit pagi yang mulai terang.

Itulah kesan yang saya dapatkan setelah nonton film "Ketika Mas Gagah Pergi".

Menontonnnya Anda takkan menyesal. Saya sendiri tidak menyesal. Satu-satunya penyesalan saya adalah duduk paling sudut. Padahal Pak Ardian, rekan kerja bagian manajemen berkata, kalau saja tadi duduk di dekatnya, dia punya Pop Corn yang mau dia bagi dengan saya. Aduh.

Wednesday, January 20, 2016

BUKU CATATAN HATI SEORANG ISTRI

Tidak perlu gengsi sekalipun Anda seorang laki-laki, atau seorang suami, untuk membaca buku CATATAN HATI SEORANG ISTRI, terutama bagi Anda yang ingin belajar bagaimana menyusun kisah romantis berdasarkan kisah nyata, buku ini penting dibaca. Dari buku ini, Anda bisa belajar meramu plot, mengolah kata, bagaimana mencubit rasa penasaran pembaca,

Menjadi selektor lomba menulis kisah romantis menuntut saya terus membaca cerita yang dikirimkan, Saya perhatikan, sebagian besar karya ditulis para newbie, penulis pemula seperti saya, yang masih dalam tahap belajar. Tulisan yang benar-benar menukik ke dalam perasaan hanya beberapa, padahal begitu ingin, supaya asyik membacanya, tulisan-tulisan terkirim itu benar-benar karya hasil pengeditan ketat, hasil perenungan mendalam, hasil kerja-keras penulisnya untuk memberikan karya sebaik-baiknya, namun ternyata, tulisan yang benar-benar mengayun-ayun perasaan tidak banyak, padahal saya begitu haus ingin membaca kisah demikian.

Dan dalam kehausan itu, tadi tengah malam, iseng saya mengambil sebuah buku yang jilidnya sudah terkelupas. Saya buka sembarangan, entah langsung ke halaman berapa, dan mulai membaca, kalimatnya langsung "merenggut" nyawa. Nyawa saya "ditarik" paksa ke dalam cerita, meragasukma dengan perasaan tokohnya.

CATATAN CINTA SEORANG MUALAF

"Di manakah hati seorang lelaki saat menyaksikan hancurnya kebahagiaan seorang perempuan? Saat istrinya berlari ke dalam kamar, mencoba mengunci dan melukai diri sendiri... memutuskan urat nadi agar kehidupan berhenti?"

Begitulah bunyi kalimat pembukanya. Penasaran, saya baca terus ke bawah,

"Saya berharap mengenalnya.

Seorang perempuan yang membawa kesedihannya dalam ruang maya. Sebut saja namanya Lisa. Kami bertemu, berbicara... tapi kesempatan untuk mengenal lebih dekat, tidak pernah terealisasi. Bukan karena kesibukan. Anggapan bahwa masih ada hari esok, bahwa kami masih akan bertemu dan berbagi cerita, membuat saya merasa tidak khawatir kehilangannya. Lupa bahwa fana adalah keniscayaan dalam kehidupan. Tak ada yang abadi. Tidak juga dalam persahabatan online yang terjalin."

Terus dan terus membaca dari halaman ke halaman, nah ini dia, kisah yang saya harapkan. Bahasanya tidak membosankan, ceritanya tidak pasaran, unik, beda, bikin penasaran. Romantis, unik, dan menegangkan, menjadikan kisah kisah buku ini tidak murahan.

Thursday, January 14, 2016

BUKU KOMIK DUCOBU

Waktu beli buku ini saya sempat ragu. Buat apa, tidak ada gunanya, cuma komik anak nakal. Tapi setelah saya buka, ternyata isinya bagus. Banyak mengandung kritik pendidikan. Dalam sajian halaman-halaman kertas lux, komik ini menjadi semakin asyik dibaca. Kisahnya singkat, simpel. Satu halaman selesai, satu halaman selesai.

Sudah lama saya baca komik ini, dan sekarang menemukannya lagi.

Pas awal rumah tangga, saya dan istri asyik membaca. Di sana ada tokoh kerangka t, teman Ducobu setiap kali mendapatkan hukuman berdiri di sudut kelas. Ducobu biasa memanggilnya Nenes.

Sebenarnya Nenes adalah alat peraga biologi, tapi dalam kisah ini Ducobu biasa berbicara dengannya, saling mendukung dalam kenakalan. Dan karena saya kurus, istri sering menyebut saya Nenes.

Sepertinya penulis komik ini bukan orang sembarangan. Godi dan Zidrou mengerti banyak cara menulis cerita bagus. Setiap halaman ceritanya kocak. Kadang puitis, kadang menyindir, kadang nakal, kadang menyedihkan. Asyik sekali membacanya.

Misalnya Ducobu edisi LEBIH BAIK MALAS DARIPADA CAPEK. Halaman pertama langsung memberikan adegan guru sedang mengabsen muridnya di kelas.

"Cristian?"

"Hadir!"

"Alexander?"

"Hadir."
"Hugo?"

"Hadir"

"Ducobu?"

Hening..,


"Ducobu?"

Semakin hening,

"DUCOBU???"

Eh tak tahunya si Ducobu sedang santai di pantai, berbaring di atas pasir hanya mengenakan kolor belang. Bersama si Nenes.

"Sepertinya aku melupakan sesuatu... tapi apa ya?"

Si Nenes bukannya menjawab, sambil selonjoran dia malah menyodorkan krim, "Apa kau bisa mengoleskan krim tabir surya ini ke punggungku?"

*   *   *

Buat Anda yang senang mengambil pelajaran dari cerita, buku ini cocok buat teman santai. Sambil bersenang-senang, sambil menikmati gambarnya yang lucu-lucu dan berwarna pada kerta lux yang berkilauan, Anda pun mendapatkan ilmu.

Friday, January 1, 2016

Setelah Membaca Buku Novel "Dilan"

Malam ini susah tidur. Sehabis jam kerja, jam dua dini hari, lanjut baca buku sambil baringan di atas barisan kursi kerja dengan niat supaya ngantuk, gagal. Lelap yang ditunggu tak datang. Pikiran terus sadar, ngos-ngosan terseret aliran cerita. Novel "Dilan". Karya Pidi Baiq, aneh sekali, hormon pemicu kantuk saya kalah tak berdaya. Sampai lewat jam tiga, tak terasa novel tamat.

Yahhh habbbis!

Penasaran kepada novel ini, dimulai dari panggilan Mas Lili supaya turun. Dari lantai tiga ke lantai satu, menggantikannya jaga toko. Dia pamit mau beli novel. Saya tanya novel apa, dia jawab, "Dilan 2". Buat siapa, tanya saya. Buat ponakan, jawabnya.

Dilan 2?

Beberapa hari sebelumnya, saya dengar Pak Isa menceritakan hebohnya novel Dilan 2. Pasar kehabisan stock. Memang semenarik apa sih?

Tak lama Mas Lili pulang, tangannya kosong. Katanya, novel itu tidak ada.

Kehabisan! Luar biasa, padahal baru kemarin-kemarin terbit.

Sampai banyak orang mencari, sebagus apa sih?

Penasaran saya buka google, mengetik, dan ketemu blog Pidi Baiq. Nah, ini dia, novel Dilan ada postingannya. Bukan sekedar resensi, bukan sekedar ulasan, tapi langsung cerita. Yes.

Saya mulai membaca.

Postingannya sangat panjang, dari bab ke bab, terus ke bawah, terus ke bawah. Mulanya biasa, kalaulah bukan karena penasaran banyak orang mencari, opening itu mungkin takkan sukses menggoda saya untuk terus membaca. Tapi semakin ke bawah, cerita semakin berkesan, semakin saya direnggut masuk ke dalam cerita. 

Dengan sudut pandang orang pertama, penuturan dibuat terasa dekat dengan, seakan si tokoh utama sedang benar-benar bicara langsung kepada pembaca, suatu malam, dari sebuah kamar di sebuah rumah di Jakarta, mundur ke masa silam, menceritakan kembali masa SMA dirinya tahun 1990-an, dengan Bandung sebagai latar.

Postingan sekian panjang, tak terasa sampai bawah. Tulisan habis, cerita menggantung, dan rasanya tuh, seperti sedang nikmat-nikmatnya makan bakso, baru makan sepertiganya, sedang nikmat-nikmatnya, pas bagian garpu mau nusuk bakso besar berisi cincang daging, tiba-tiba mangkok ditarik. Uhh!!!

Betul-betul, potongan cerita itu buat saya penasaran, yang tentu saja kalau mau tahu lanjutanya harus membeli buku itu. Brengsek Pidi Baiq!! Sepertinya sengaja dia bagikan cerita itu sepotong supaya orang membaca, lalu masuk ke dalam cerita, terjebak arus, lalu menggantung, dan penasaran ingin membeli bukunya. Pidi Baig sengaja membuat jerat dan kali ini jeratnyasukses memakan korban. Korban itu adalah saya.

Ok, Pidi Baiq kamu menang, tapi karena teman kerja saya--Diyan--punya novelnya, saya bisa pinjam bukumu ke dia, jadi mohon maaf, saya pun sukses baca bukumu tanpa harus membeli.

Satu sama.

Baca sampai tamat, kemudian merasa tak lengkap rasanya, jika pengalaman ini berlalu tanpa ditulis. Maka dini hari ini, tak mau menunda, langsung saya tulis ke blog, yang jadinya dengan cara ini tanpa sengaja saya mempromosikan, yang jika nanti ada orang lain membaca kemudian penasaran, orang itu akan tertarik membeli bukumu, dan itu aduh, berarti sukses lagi buat kamu. 

Dua kosong dah.

*    *    *

Sewaktu Diyan meminjamkan novel ini ke, beberapa kali dia berpesan, jangan sampai jatuh cinta kepada Dilan. Dan jangan sampai karena jatuh cinta kepada Dilan, kemudian saya memutuskan diri jadi bencong.

Plak!!!

Enak aja! 

Tak mungkinlah.

Jika setelah membaca novel ini dia merasa jatuh cinta sama Dilan, itu karena dia membaca sebagai perempuan! Ketika membaca sebagai laki-laki, akan sangat lain ceritanya. Sudut pandang laki-laki sangat berbeda. Maka membaca novel ini sebagai laki-laki menghasilkan efek berbeda. Bukan jatuh cinta sama Dilan, tapi...

"Jatuh cinta sama Milea?"

"Bukan."

"Lantas?"

Ah sudahlah! Sudah dekat Subuh!

Makasih Diyan! Tanpa darimu saya pinjam buku ini, entah dari mana bisa baca sampai tamat. Tidak bisa memberi imbalan apapun selain kata "semoga". Semoga kamu diberi kemampuan untuk membeli novel keduanya, biar kembali saya pinjam. Ngok!

Thursday, December 17, 2015

Buku GEMBEL SETENGAH BADUT

Bukan perkara mudah bertemu dengan orang yang tepat, tapi saya dipertemukan. Beruntung sekali rasanya. Menjadi teman kerja, dan jika saja bukan dengan orang berkarakter seperti dia, dari dulu pertemanan ini sudah banyak masalah.

Adalah Wiro dengan karakter humoris, tenang, dan sangat berjiwa sosial. Keseharian banyak dibulli orang, tidak jauh beda dengan social media, dia sangat pandai menghadapinya dengan santai-santai saja. Sangat jauh berbeda dengan saya yang mudah bapperan, goyang, dia lebih mengutamakan kerja dan berkarya daripada mengambil hati kata-kata orang. Di antara semua karyawan, Wiro yang paling banyak melakukan penjualan.

Sangat social, begitulah karakter orangnya. Hasil pergaulan dengan berbagai jenis orang memberinya banyak pelajaran bagaimana cara bergaul seharusnya. Barangkali, itulah yang membuat siapapun kerja sama dengannnya merasa nyaman. Misalnya dalam kerja sama membuat buku dengan beberapa temannya di social media, sudah beberapa kali dia sukses melakukan. Sudah empat bukunya selesai cetak.

Kali ini,  Wiro dan kawan-kawan kembali menelurkan karya. 

Dibanding buku Wiro sebelumnya, Gembel Setengah Badut, bisa dikatakan jempolan, tampilan jilid lumayan enak dipandang, hitam putih. Menurut penulisnya sendiri itu terinspirasi dari sebuah buku fokus yang dibacanya. Memang jika direnungkan, kenapa harus terlalu banyak warna jika dengan sedikit warna saja sebuah cover itu bisa memikat?

Bukan hanya tampilan luar, layout isinya pun lumayan. Pemilihan jenis huruf terutama, jadi enak dipandang nikmat dibaca. Wiro berkata, bentuk huruf itu meniru bentuk huruf di novel Love Spark In Korea. Mendengar itu, serta-merta saya teriak, "Wah Plagiat!". Sebuah teriakan bodoh... tapi saya sedang bercanda, mentertawakan orang yang murah menuduh orang lain melakukan plagiat, jangan-jangan hanya karena kesamaan huruf pun bisa dia anggap plagiat.

Bagaimana dengan isinya?

Dalam buku setebal 292 halaman ini bertaburan cerita yang digarap bersama-sama, dengan fokus menceritakan sebuah perkampungan di mana penduduknya jomblo semua. Wiro sebagai ketua RT dengan keluguannya yang mudah ditipu dan diperas sampai bangkrut, Noey Holis sebagai Dukun dengan sifat bermacam seperti egois misalnya sakit tidak mau ke dokter, Azizul dengan perannya sebagai pedagang yang selalu menawarkan pisang goreng dengan modusnya, Liktasiya Nadhir sebagai dokter yang baik hati, dan Julian Toni sebagai konsultan jomblo dengan segalan fatwa dan analisa gembelnya, bercampuraduk dalam cerita ini beraksi, kadang lucu, kadang absurd, menjadi es campur kisah yang cukup menarik diikuti.

Oh ya, ada seorang ketinggalan, yaitu Fitri Rahayu, berperan sebagai tukang jamu, dengan kelihaian menjualnya ia bahkan sempat nyaris menjual Pak RT.

Selesai cetak dan sampai ke tangan Wiro tanggal 16 Desember 2015, buku ini langsung dibuka, dan langsung terjual. Hari berikutnya kembali terjual. Sebuah kejadian yang sangat jarang terjadi di dunia perbukuan, maksud saya di dunia perbukuan yang sudah Wiro buat.

Selamat menikmati!

Tuesday, November 17, 2015

Seandainya Janitra Menulis Buku


Sekarang, teman facebook saya sukai gubahannya adalah Janitra. Janitra Lituhayu, Perempuan Januari, begitu dia menamakan dirinya. Karangan-karangannya indah, banyak mengungkapkan kerinduan, dengan metafora-metafora alam nan kaya. Tidak membosankan, dia bisa menciptakan kalimat-kalimat dengan melibatkan apa saja, dari pepohonan hingga nama jalan, dari hujan hingga makanan. Bukti penting tulisannya indah sampai ada orang berani mencuri dan mencopas ke blog tanpa mencantumkan siapa nama penulisnya.


Menurut pengakuannya, dia tinggal di Borneo, bagian dari Pulau Kalimantan, tidak tahu tepatnya di provinsi mana. Saat saat cek di data JNE, nama Borneo tidak terdapat di sana. Kalau itu nama kecamatan dan kabupaten pasti ada. Tapi ini tidak. Dari situ saya terus terkesan dengan apapun cerita orang-orang seberang.

Saya pernah bertanya, apakah sudah menyusun buku? Dia jawab, belum. Pekerjaan asli dia sendiri sangat bertolak belakang dengan kepenulisan. Entah apa, dia tidak menjelaskan. Saya sarankan kepadanya, tulisannya itu dibuat buku saja. Dia jawab, belum ada rencana. Untuk sekarang, menurutnya lebih suka dibagikan lewat facebook. Lagi pula, bukankah orang lebih suka gratisan? 

Sendainya saja Janitra Menulis buku, pastilah banyak orang terpikat. Akan sangat banyak orang membeli bukunya. Dan saya berharap suatu saat dia mau. Ingin sekali membaca. Untuk sementara dahaga membaca ini saya penuhi dengan membaca catatan-catatannya di facebook, dan blog-blognya, dan status-status terbarunya.

Beneran, saya sangat terpikat dengan gaya menulis dia. Anda mungkin berkata, saya sudah jatuh cinta pada orangnya. Tidak, saya tegaskan, pada tulisannya. Sebagai penulis, saya selalu belajar jujur adan apa adanya. Baca saja sendiri, tulisanya sangat indah. Dia lihai merangkai. Saking tertariknya pada tulisan dia, sampai-sampai setiap kali pergi ke toko buku saya berharap menemukan novel dengan gaya seindah tulisannya. Tapi susah, dari pengarang luar atau lokal, tidak ada. Sampai akhirnya saya temukan buku berjudul "Bangkitlah Tamban Salai", berkisah tentang orang-orang seberang, Pulau Sumatera, dan menyebut kata Salai mengingatkan saya pada makanan yang pernah Janitra hiaskan pada tulisannya yaitu Wadai... Salai... Wadai, sama sama berakhiran Ai.

Ragu antara membelinya atau tidak. Membeli khawatir akhirnya menyesal karena ternyata isinya mengecewakan tidak seindah tulisan Janitra. Tidak membeli pun khawatir ternyata sebenarnya novel itu indah, karena pernah sebelumnya saya melihat novel Pesan Dari Sambo, tapi saya tidak membelinya karena menganggap buku itu tidak menarik, masalahnya sang penulis bukan penulis terkenal, dan kalau tidak salah, buku itu pun tidak termasuk buku laris. Eh ternyata kemudian salah seorang teman facebook membelinya dan ternyata isinya sangat indah. Saya mencoba cari, ternyata sudah tidak ada. Menyesal sekali, maka mengingat kejadian itu, khawatir buku Bangkitlah Tamban Salai ini pun bagus, dan suatu saat orang menceritakannya, saya menyesal tidak sempat membeli padahal sekarang sedang bazar murah.

Karena itu, secepatkan saya naik ke lantai tiga mall, ke bazar buku, dan langsung, buku itu saya embat! Dan tidak mengecewakan, meski tidak seindah tulisan Janitra, buku ini pun memesona, menceritakan sebuah sekolah di perkampungan di negeri seberang.

Wednesday, November 11, 2015

Buku-Buku S. Mara Gd.


Saya mah jatuh cinta sama tulisannya S. Mara Gd. Cara pengungkapannya itulah, tertib, runut, dan enak. Tulisan-tulisannya membuat penasaran. Apa yang orang jaman sekarang sebut "Show Not Tell" dia sudah lakukan. Tidak banyak bercerita, sebagian besar menunjukkan. Membuat pembaca mudah membayangkan. Penulis bisa melakukan penokohan yang membuat pembaca dengan sangat mudah merasakan seperti apa yang tokoh utamanya rasakan.


Dalam melakukan opening juga. Saya membaca, Misteri Dua Wajah Anastasia, sejak awal sudah dibuat terpikat. Dan saat buku itu dibawa ke rumah, sekilas istri membaca, dia langsung suka, "Jangan dibawa. Biarkan di rumah. Saya mau membaca. Kata-katanya runut. Saya suka."

Ternyata, sampai seterlatih itu membuat novel misteri, karena sering nya dia mengalihbahasakan novel Agatha Christie. Dia banyak baca, tahu susunan cerita, jeli alur novel menarik itu bagaimana, tahu bagaimana cara mengecoh pembaca, mengundang rasa penasaran mereka, dan lihai menggoda orang supaya mau membaca kisah sampai tuntas.

Tak ada catatan sastra menyebutkan S. Mara Gd. ini bagian dari sastrawan Indonesia, tapi saya temukan, novelnya banyak menafaskan kebaikan. Dalam uraian kisahnya, sana-sini banyak berbagi nasihat, dengan kata kata indah tentu saja. Tapi apalah artinya sebutan sastrawan. Terpenting adalah kenyataan tulisan. 

Beberapa kali saya mendatangi bazar buku, tapi masih ragu antara membeli atau tidak. Buku-buku S. Mara Gd ada di sana. Misteri Sebutir Safir, Misteri Dilema Seorang Menantu, dan Misteri Asmara di Pondok Songka. Semakin lama semakin kehabisan, dan entahlah, sekarang, masih ada atau tidak. Saya penasaran, ingin membeli.

Hanya saja, yang menjadi pertimbangan saya--menurut catatan beberapa blog--novel ini masuk novel dewasa. Beberapa adegan kurang layak dibaca sembarang usia. Khawatirnya, jika nanti saya beli dan simpan, anak dibawah umur ikut membaca. Wah, dia bisa dewasa sebelum waktunya.

Tuesday, November 10, 2015

Totalitas Pak Isa Menulis Buku

Apa yang dibutuhkan saat menggarap buku?

Totalitas.

Apa yang dibutuhkan saat memasarkannya?

Totalitas juga.

Itu saya perhatikan dari dari Pak Isa. Baik saat penggarapan, persiapan cetak hingga pemasaran, dia lakukan dengan totalitas.

Sebelum dicetak, buku ini adalah bahan materinya saat mengkritik tulisan di social media, pada sebuah grup yang dibangunnya: Komunitas Bisa Menulis. Tulisan-tulisan yang datang, dia kritisi cermat. Menyebutkan bagian kurang,  menyebutkan dosa-dosa.

Tanpa ragu, apa yang dirasanya kurang menarik dia bantai. Secara gamblang, secara terus terang. Dengan satu tujuan, orang punya karya terbaik. Pak Isa punya prinsip, jangan sampai orang tidak tahu kekeliruan dirinya. Sekecil apapun itu. Jangan sampai orang cape menulis banyak, tapi tulisannya tidak berguna, hanya karena dia tidak tahu kekeliruan tulisannya. Itu sia-sia.

Bagaimanapun, menyusun tulisan buat memikat pembaca. Bagaimana orang tahu apa yang kita sampaikan, sementara membaca saja tidak minat. Dan salah satu cara menarik minat adalah, dengan semaksimal mungkin memperbaiki tulisan.

Memperbaiki, berarti mengurangi kesalahan. Bahasa lain dari kesalahan adalah dosa, dan dosa-dosa itulah yang Pak Isa data secara total, kemudian dia kumpulkan pada bukunya, 101 Dosa Penulis Pemula.

Itu saat penggarapan.

Bagaimana pemasaran?

Sama, Pak Isa lakukan dengan totalitas. Mengambil keuntungan memang mutlak. Perusahaan butuh uang buat bertahan. Surfive. Supaya terjadi berkesinambungan berkarya, dan tetap hidup dan menghidupi banyak orang. Tapi motivasi Pak Isa lebih dari keuntungan material. Beliau, ingin memberi lebih banyak manfaat. Itulah motivasi pentingnya pemasaran. Semakin banyak orang membaca, semakin tersebar manfaat.

Itulah sebabnya, beliau tidak mau main rahasia. Tidak pernah pelit berbagi ilmu, di mana saja, kapan saja. Di mana ada kesempatan, di sana dia berbagi. Saya masih ingat dalam perjalanan menuju Kemping Kepenulisan. Nyaris sebagian besar obrolan berkisar tentang tulisan. Beberapa lembar karya peserta dia cetak, kemudian baca. Dia kritisi bagian salah, dia beri komentar. Saya dan Wiro, tentu saja suka. Mendengar penuh perhatian. Itu adalah pengetahuan penting dari buku yang ditulisnya: 101 Dosa Penulis Pemula.

Begitu juga saat sampai. Diperhatikan peserta kemping, sejak sore hingga jam dua belas malam, hingga menjelang pulang, Pak Isa tak lelah berbagi. Dingin pegunungan tak menggigilkan badannya. Saat kami semua gemetaran padahal pakai jaket, dia hanya pake kaos, sangat menikmati dingin, terus menyampaikan ilmu kepenulisan.

Cinta Buku: RBA Karangampel

Segala puji bagi Allah, Banner RBA sudah terpasang. Berkibar-kibar tertiup angin Karangampel. Sebuah desa di pinggiran Kabupan Ciamis Jawa Barat. 

Menurut cerita Emak, seorang anak kecil gemuk terus bolak-balik meminjam buku. Yang diambilnya komik Upin Ipin. 

Alhamdulillah, antiasme anak-anak datang ke Rumah Baca Asma Nadia Karangampel cukup besar. Dari mulai siswa sekolah sampai anak-anak tetangga.

Diawali dari anak lingkungan terdekat. Semula saya menerapkan aturan kepada mereka supaya baca di tempat, jangan bawa pulang, mengingat pengalaman sebelumnya, buku dibawa pulang sering hilang. 

Akan tetapi anak-anak, tetap ingin meminjam ke rumah. Ya sudah, diterapkanlah aturan, buku dibawa ke rumah harus bayar dua ribu untuk maksimal lima hari pinjaman. Beberapa anak sudah mengembalikan. Di bawah rak, sebuah kaleng tersimpan. Saya buka, terdapat lembar-lembar dua ribu rupiah. Baiklah, itu uang buat nanti beli buku tambahan, biar rumah baca ini berkembang. 

IDE AWAL

Ide awal pengadaan rumah baca di rumah saya ini, bermula setelah memperhatikan adik saya senang membuat kue dan kerajinan tangan. Dia biasa menjual hasil karyanya dengan menumpang di warung orang, dan makanan biasa dia titipkan kepada pedagang asong keliling kampung. Dari situ saya bertanya, bagaimana kalau diramaikan saja rumah dengan mengadakan perpustakaan. Kebetulan Mbak Asma Nadia punya rencana membangun seribu rumah baca, dan di sini kita adakan. Nanti tempat ini ramai, tentunya bisa lebih mudah berjualan di tempat. Maukah kamu menjaganya? Dia menjawab "Ya". 

Saat cek sekalian pulang, saya melihat keseriusan. Adik membuat pembukuan sederhana, mencatat nama-nama peminjam beserta tanggal peminjamannya. Asalnya rumah tidak ada lemari es, sekarang sudah ada. Adik menjual emas ditambah sedikit tabungan. Biar pengunjung bisa langsung jajan minuman segar.
Bukan hanya anak kecil, tapi juga ibu-ibu. Meminjam buku "Salon Kepribadian" karya mbak Asma Nadia. Berdasarkan data pinjaman, dalam beberapa hari ini, buku yang terbanyak dipinjam adalah terbitan ANPH. Alhamdulillah, semoga ini jalan dari Allah untuk semakin meluasnya manfaat ilmu yang dibagikan oleh penerbit ANPH. Terima kasih Mas Kamal, Pak Isa, mbak Asma, dan semua kru yang terlibat langsung atau tidak langsung dengan pengadaan rumah baca ini.

Tuesday, November 3, 2015

Tips Super Gampang Menulis Buku

MENULIS ITU PEKERJAAN TANGAN

Sementara ini banyak orang berpendapat
Menulis itu pekerjaan pikiran
Rumit
Memangnya dia bisa melihat pikiran?
Mata saya sendiri, ampun, tidak bisa melihatnya
Lebih memusingkan lagi, ada yang berkata menulis itu dengan perasaan
Gimana caranya heh?
Saya pusing, beneran pusing, pusing berguling-guling!!
Gimana caranya sih menulis dengan perasaan, memangnya ada anggota badan yang bernama perasaan. Saya lihat dari atas ke bawah, tidak ada organ yang bernama perasaan.
Makanya, kalau ada orang yang bisa menulis dengan mulut, itu mungkin. Kalau ada orang menulis dengan kaki, itu juga mungkin. Kalau ada orang menulis dengan ketiak, itu juga mungkin, kalau ada orang menulis dengan dagu dijepitkan ke dada, itu juga mungkin. Semua anggota badan itu ada dan terlihat.

Tapi ada orang mengatakan menulis itu harus dengan perasaan, harus dengan hati, harus dengan pikiran.

Saya pusing! Bagaimana caranya.

MENULIS ITU PEKERJAAN TANGAN
Makanya jika mau punya banyak tulisan, itu tangan harus rajin menulis. Pasti Anda produktif dan tulisan Anda banyak.

Kenapa tulisan Anda sedikit dan tersendat-sendat.
Antara lain sebabnya karena ajaran tadi, yaitu menulis dengan pikiran, menulis dengan perasaan, padahal selama ini, dia sendiri menulis dengan tangan.

Akhirnya, dikarenakan fakta dirinya sendiri yang bertentangan--yaitu sementara dia berpendapat menulis dengan perasaan dan pikiran, padahal nyatanya dia menulis dengan tangan--akibatnya, dia menulis tidak lancar, tersendat-sendat, seperti tersendatnya perkembangan dan ekonomi negara yang di dalamnya banyak konflik dan peperangan.

Tulisannya tersendat-sendat, karena alih-alih ditulis dengan tangan, ini malah terus dipikirkan. Tulisannya tersendat-sendat, karena alih-alih dituliskan dengan tangan, ini malah terus saja dirasa-rasa.

Menulis itu pekerjaan tangan.  Karena itu, menulislah dengan tangan!

(Maaf, sekali lagi ini hanya menasihati diri sendiri. Judul diambil dari ungkapan Andrias Harefa, di bukunya HAPPY WRITING)

Mau Betulin Hape