Sebagian orang suka membebani pikiran sendiri dengan keinginan ingin kelihatan sempurna. Jika berkarya, ingin memperlihatkan yang terhebat bia rmendapat decak kagum, pujian. Jika tampil, inginnya sampai bukin mata orang yang meloncat keluar dengan lidah terjulur saking kagum kepadanya.
Gue tidak berusaha menjadi Tuhan, dan merasa telah cukup bahagia dengan diri gue sebagai manusia, dan bergaul dengan orang lain yang juga manusia. Berdekatan dengan mereka, nyaman dengan mereka.
Gue tidak, gua main playerground apa adanya, dalam keaadaan gak bisa langsung live, guer pertontonkan kepada orang-orang. Dan karena gue sering mati konyol, orang-orang yang melihat pada ngebuli gue, pada ngeledekin.
Gue mungkin bakal alergi kalau membebani pikiran ini dengan rasa ingin kelihata sempurna. Karena dengan begitu gua menjadi orang yangb hanya merindukan pujian dari orang-orang.
Apa arti teman-teman buat lo?
Buat gue, sangat berarti.
Mau dia ngomongnya baik, mau ngomongnya jahat! Buat gue tetap berharga. Tetap berharga, dan sangat berharga.
Teman-teman bikin hidup gue jadi lebih berharga.
Lo kadang alergi dengan orang-orang yang komentarnya kurang enak didengar. Trus lo anggap dia haters Lo, trus lu blokir dia.
Gua gak punya waktu buat itu. Gue lebih suka mereka tetap ada dan memberi warna. Gue lebih suka memanfaatkan mereka untuk menjadikan hidup gue ini hasil karya seni terbaik.
Buat gua, kehadiran mereka justru bisa menjadi cerita menarik.
Contohnya, pernah gue memaikan sebuah permainan secara live, dan karena gue kalah, orang pada komen ngebuli, justru buat gua jadi bahan materi motivasi di sebuah video gue.
Ini materi motivasinya gue bikin jadi tulisan:
Gue jelasin, game ini apa. Ini adalah game di mana gue diturunkan di sebuah pulau terpencil bersama 99 orang lain, dan kita harus saling bunuh hingga tersisa satu orang di pulau itu. Jadi di sana kita bunuh-bunuhan. Yang masih hidup itu yang menang. Terjun di sebuah pulau, ngelawan 99 orang lain yang mereka itu bukan komputer, tapi beneran melawan orang lain yang sedang main di rumah mereka, sama kayak gue. Berarti kita ngelawan orang asli yang susahnya berarti susah banget, karena mereka bukan komputer. Mereka mikirnya kadang lebih pinter dari kita. Ketika kita diturunkan bersama seratus orang lain itu kita tidak punya senjata apa-apa. Kita mencari dan mencaari senjata mana yang terbaik, pake helm, pake rompi, pake backpack, pake tas, cari senjata ini itu sampai akhirnya, terserah gimana caranya harus saling bunuh sampai akhirnya sisa satu orang.
Pada awalnya kalian melihat gue bermain permainan ini, dan dalam permainan itu pas awal-awal gue sering sekali mati konyol. Di dalam sebuah rumah, gue tiarap di belakang kursi, mau nembak yang ada di belakang kursi sana, siapa tahu tembus, ternyata enggak. Eh malah dia yang muncul, trus nembakin gue. "Dorrr!!!" nyawa gue melayang.
Kali berikutnya pernah juga dalam sebuah rumah, gue denger suara orang. Dari kamar mengendap-ngendap dengan pistol siap menembak, keluar kamar, mencari orang, tapi dari depan sana, "Dorrr!!" gue ditembak, dan mati.
Lalu gue mencoba main game sistem yang lain di mana kalau tadi sendirian, sekarang gue temenan dua-dua. Karena gak punya temen sesama Indonesia, gue sempet nyoba cari temen secara acak, kemudian temenan sama Jasmit, nicknamenya begitu. Kayaknya dia dari Tiongkok, China. Gue sempet ngobrol sama dia, gue sempet temanan sama dia, dan ternyata hanya beberapa menit saja, Jasmit mati.
Jadi gini adegannya. Waktu itu Jasmit sedang berada di dalam rumah, dia dikeroyok dua orang. Sebagai teman, gue samperin dia ke sana, biar gue belum punya senjata. Gue lari sambil teriak, "Jasmit, are you oke? Gue bantuin! Gue bantuin!"
Gue bantu dia, gue pukul orang yang mencoba membunuh Jasmit, sampai roboh, dan orang itu merangkak keluar kamar, tapi terus gue kejar, dan pukul terus sampai mati. Berhasil, gue berhasil bunuh dia tengan tangan kosong, tapi. "Aahhhhhh!!!!" teriakan gue mengagetkan sepulau Jawa. Ternyata temannya ada di depan, dan dia udah dapat pistol, "Dorrr!!!" dia tembak Jasmit, dan gue cepet sembunyi ke kamar. Itu pengalaman paling traumatik buat gue, karena sudah punya siapa-siapa lagi, gue coba tolong Jasmit, dengan mendekatinya, dan gue pun ditembak mati.
Berikutnya gue main besama teman 4 orang. Kali ini sesama orang Indonesia, teman yang sudah biasa main Overwatch, sekarang coba bareng main Playunknown juga, dan sama juga beresama mereka, mati konyol demi mati konyol gue lalui. Gue lagi baca komen, datang orang nembak ... "Aaah, apa an tuh!! Apaan tuh!! Aaahhh." dan nyawa gue melayang.
Trus kali berikutnya, temen gue udah mati. Gue bilang ke dia, "Tenang, gue balaskan dendam Lo!" Gue pun lari ke rumah lain, cari senjata, tengok sana, tengok sini, ke ruang tengah, ke kamar nah itu ada senjata, tapi... "Ahh!! ADA ORANG!! ADA ORANG!! AH AHHHHHH!!!! DOOORRR!!! DORRR!!!" Kembali gue mati konyol.
Kali lain temen gue udah mati, tinggal gue sendirian di atas, mau bunuh orang di bawah, tapi melihat ke sana ngeri, takut dia duluan nembak. Untungnya ada geratan. Gue cabut, dibuka pinnya, siap-siap melempar, cari posisi bagus, cari posisi bagus, dan "DUAAARRRRR!!!!" Geranat meledak di tangan gue! Gue mati Cuy!! Gue mati lagi!!
Permaian berikutnya, macem-macem cara mati gue. Udah kesetrum listri, udah kebakar, dan karena life orang-orang yang nonton mencaci-maki gue. Ada yang bilang,
"Bego Lo Bang!!"
"Cupu Lo Dit, mending maen kelereng aja Dah!!"
"Mainnya gak usah panikan kayak gitu lah Bang. Mainan kayak gini mah butuh tenang."
"CUPUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!"
"Gregetan sendiri lihatnya!!"
"Lo matinya konyol Bang, ngebakar sendiri. Wkwkwkwkwk."
"Frustasi gak bisa nge-kill, malah bunuh diri!"
"Abang cucok mainnya."
Tapi gue tetep berusaha. Gue gak mau menyerah. Dan setelah satu kematian demi kematian lain, setelah satu mati konyol ke mati konyol lain, akhirnya gue berhasil ngekill 3 orang dengan tangan kosong. Satu persatu gue bunuh dengan tenang, tanpa perlawanan, sampai gue ke orang yang nonton, "Malam ini lo bisa tidur tenang, karena gue bisa bunuh orang."
Berikutnya, gue mulai bisa menembak orang sampai mati. Gue tembak, dia naik tangga, mau masuk rumah, di pintunya gue kembali tembak, dan kena. Gue susul dia ke sana, sudah merangkak-rangkak, dan gue tembak mampus. Terus juga di rumah, gue tembak orang dan kena, tapi dia mencoba kabur, turun tangga, gue susul juga turun tangga, dan kelihatan di ujung sedang merangkak memegang perutnya yang luka. Gue tembak sekali lagi, dan mati.
Sampai suatu ketika, saat itu pun datang. Gue berempat. bersama tiga orang teman, dan inilah yang terjadi. Di sebuah pelataran tinggi yang banyak pohonnya, tersisa musuh satu orang lagi. Gue cari gak ketemu-ketemu! Sambil takut-takut deg-degan gitu, gue jalan, cari dia, dan "Nah itu!"
Kelihatan dia lari mau sembunyi ke balik pohon, cepet gue tembak. Tapi gak kena. Dia sembunyi ke balik pohon, dan mungkin karena kena listrik, dia mati, Akhirna kami menang!! Kami menang!! Di dalam kamar gue sorak sendirian sambil merentangkan tangan ke atas dan menjatuhkan punggung ke sandaran kuri.
Tadinya kami mau merayakan kemenangan ini, tapi harga tumpeng mahal, jadi gue rayain aja dengan membuat video cuplikan-cuplikannya, yang di dalamnya gue bisa bercerita bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kalian, di mana hidup ini seperti Playerunknown Battleground di mana kalian bisa terus berusaha, kalian mencoba terus untuk jadi yang terbaik, sekalipun banyak orangb memberi komentar payah, bodoh, cupu, tapi kalian harus tetap berusaha, kalian harus tetap menjalani hidup kalian sampai akhirnya kalian bisa menjadi pemenang.
Thursday, May 4, 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment