Oh tadi saya membuka blog sebenarnya mau menulis ini, masalah Raditya Dika.
Kenapa Raditya Dika?
Sebenarnya ini hanya pendalaman saja sih. Ketika saya suka dengan karya seseorang, maka saya suka penasaran dengan karya lainnya bahkan sampai kepada pribadi orang itu.
Sebenarnya ini hanya pendalaman saja sih. Ketika saya suka dengan karya seseorang, maka saya suka penasaran dengan karya lainnya bahkan sampai kepada pribadi orang itu.
Dulu saya suka dengan La Tahzan, karya Aidh Al Qarni, maka apa pun tentang dia ingin saya baca. Karya apa pun keluar daari dia saya suka penasaran, selalu berusaha membeli dan membacanya. Ketika suka dengan Aa Gym, kaset dia, buku dia, saya beli dan baca. Ada acaranya di TV berusaha saya tonton. Dan sekarang, sedang tertarik dengan Raditya Dika, apa pun dari dia, buku, video, film, bahkan video keseharian dia yang menurutnya sendiri gak penting, saya senang sekali menontonnnya, sambil bertanya-tanya, kenapa saya nyaman ya nonton dia, dan kenapa orang lain pun banyak yang suka kepadanya.
Itulah latar belakang saya menulis tentang dia.
======
Aduh kalimat awalnya jadi lupa, padahal tadi sudah menemukan kalimat bagus. Apa ya? Benar-benar lupa.
Pelajaran: kalau menemukan hal luar biasa ingin ditulis, langsung saja tulis. Menundanya dan malah menulis hal lain, ide penting utama malah bisa hilang.
Begini, saya awali saja:
Saya temukan orang lain tidak seperti dia. Saat mendapatkan komentator menyerang, yang lain berusaha membela diri. Berusaha membuat dirinyah kelihatan benar dan menyalahkan komentator. Seperti kemarin, saya melihat yang posting video dia baru saja mempunyai rumah, kemudian banyak komentator bilang dia itu pamer, norak, sombong, dia membela diri dengan mengatakan komentator itu HANYA BISA MELIHAT NEGATIFNYA TIDAK BISA MELIHAT SISI POSITIFNYA.
Kemudia saya bayangkan Raditya Dika jika mendapatkan komentar seperti itu, apa yang dia lakukan?
Karena sibuk dengan berkarya, dia tidak sempat menjawab. Dia biarkan saja komentar itu datang, tidak memblokirnya tidak punya menyerangnya, dia biarkan dia ada, dia memberi ruang, dan itu membuat orang, siapa pun itu, tetap betah mengunjungi videonya dengan tetap merasa nyaman menjadi pelanggan.
Beda dengan saya yang dulu pernah membuat grup facebook, Fiksimini Bahasa Indonesia. Pertama kali dibuka grup itu ramai. Orang banyak tertarik datang buat belajar dan membangun sillaturrahmi. Tapi kemudian, ketika datang orang menyerang saya dengan kata-katanya yang tidak menyenangkan melalui sindiran, saya menyerang balik dia dengan kata-kata menyakitkan, dan ini membuat suasana jadi panas yang akibatnya, bukan hanya orang itu yang pergi meninggalkan grup, tapi member lainnya pun ikut merasa tidak nyaman.
Bagaimana akhirnya grup itu sekarang?
Sepi
Dan itu saya lakukan di grup lainnya yang saya buat. Saya berusaha menjadi orang yang tidak bisa dibantah, anti kritik, dan setiap kali orang mendebat, saya menyerang dia balik. Akibatnya bagaimana? Di grup yang saya buat, saya sendiri tidak punya harga diri, hanya sedikit orang yang respek, hanya beberapa orang saja yang akrab. Mereka hanya akrab dengan member lain dan sepertinya sungkan ketika harus berinteraksi dengan saya.
Sungguh ini pelajaran berharga tentang menyedihkannya nasib orang yang MENJADI ORANG YANG MAU TERUS DIBENARKAN DAN TIDAK MAU DISALAHKAN.
Itulah yang semakin meyakinkan saya bahwa bergaul dengan orang lain lebih baik menjadi orang bodoh, yang tidak merasa diri memegang kebenaran yang paling benar, yang tidak mudah menyalahkan orang, menjadi orang yang bisa menerima nasihat, bisa menerima kritik, dan menerima siapa saja untuk berdekatan dengan kita.
No comments:
Post a Comment