Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Saturday, February 6, 2016

BUKU NOVEL REMBULAN UNGU

Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan
Melukis gambar rembulan
Rembulan merah muda,
Dan dua ekor merpati terbang di kedua sisinya.
Untuk dia persembahkan suatu saat kepada pemuda yang pertama menggetarkan hatinya.

Panjalu, nama pemuda itu
Adalah prajurit kerajaan Mataram, datang ke rumah sang gadis, membawa surat untuk ayahnya
Tinggal beberapa hari
Dan merasakan getar yang sama.
Tentu saja karena gadis ini perawan kencur yang sangat cantik jelita
Bawaan rupa dari ayahnya yang keturunan China.
Tanpa Panjalu ketahui, sesungguhnya isi surat yang dia antarkan itu meminta, supaya si ayah merelakan gadis ini diambil Mataram untuk dijadikan selir kerajaan.

Setelah beberapa hari Panjalu tinggal
Datanglah prajurit lain sebagai utusan kerajaan, untuk membawa sang gadis

Maka dibawalah
Dan panjalu ikut serta, karena dia memang prajurit Kerajaan Mataram juga
Itulah yang membuat sang gadis mau, sebab merasa aman
Disertai pria yang dicintainya

Akan tetapi sampai di Mataram, dan tahu ternyata dirinya akan dijadikan selir raja
Dengan linangan air mata memohon Panjalu membela
Sebenarnya tak terelakkan
Hati pemuda ini pun hancur berantakan
Tapi demi keselamatan semuanya, keselamatan dirinya, keselamatan gadis yang dicintainya, dia memilih diam.

Dibawalah gadis ini menghadap raja
Sunan Amangkurat, dan langsung terpikat, kemudian memerintahkan supaya menempatkan sang gadis pada sebuah rumah bernama wirarejan, untuk dilatih menari, melantunkan tembang, berdandan, memakai pakaian pantas, dan mempelajari sopan santun istana.

Saat dalam pemingitan itulah Putra Mahkota Raja bernama Adipati Anom datang, melihatnya dan tertarik juga, lalu dengan bantuan kakeknya, Pangeran Pekik, Adipati Anom berhasil mengambil si gadis dan dia jadikan istrinya.

Saat Amangkurat tahu, betapa marahnya dia
Marah kepada orang-orang yang membiarkan calon selirnya dinikahi putranya sendiri
Marah kepada pangeran pekik dan istrinya, lalu menghukum mati keduanya dengan sadis di alun-alun. Marah kepada Wirareja dan membakar rumah beserta isi dan orang-orang di dalamnya sampai binasa.

Marah kepada sang putra mahkota yang memeluk kakinya minta maaf
Amangkurat mengacungkan keris, dan sang putra merasakan itulah detik-detik terakhir hidupnya.

"Tenanglah anakku, keris ini kucabut bukan untuk membunuhmu. Kamu hanyalah orang yang diperalat. Pangeran Pekik adalah kakekmu, mertuaku yang ingin menggulingkanku, dan caranya adalah membuatmu jatuh cinta kepada selirku supaya nanti namaku menjadi hancur karena berebutan wanita dengan anaknya sendiri. Karena itu, nanti akan kuadakan pesta besar dengan keramaian besar, untuk membuktikan kesetiaanmu, kau pegang keris ini, dan tusuklah wanita itu sampai binasa di hadapanku, hanya dengan cara itulah aku bisa memberikanmu maaf."

Pesta besar itu pun diadakan.
Dari kerangkeng gadis itu dikeluarkan, namun sang pangeran ragu
Gemetaran dia pegang keris itu,
Diam
Ragu, bingung memilih mana
"Ayo lakukan, jika kamu seorang yang setia kepada ayahmu."
Masih juga diam, bingung, ragu, takut,
Si gadis lari mendekat, menusukkan diri pada keris itu hingga terkapar, bersimbah darah

Panjalu terbelalak melihat gadis yang dicintainya dengan tulus kini rubuh tergeletak, disanggahnya dengan satu kaki dan tangan. Menjerit lirih meminta maaf tak bisa melindungi, menjerit hatinya kenapa jadi begini.

Mata si gadis masih terbuka, tangan masih sanggup bergerak. Dari pinggang dicabutnya sapu tangan, dia berikan kepada Panjalu, sapu tangan bersulam gambar rembulan merah muda yang sangat indah itu kini tertetesi darah, dan warnanya berubah menjadi ungu.

(Diringkas dari novel Rembulan Ungu karya Bondan Nusantara)

Friday, February 5, 2016

BUKU HUMORTIVASI

Sebuah panggilan dari Padang, bukan panggilan kerja, ini panggilan telfon, menanyakan, apa benar dalam buku humortivasi ada bagian yang menerangkan manfaat humor untuk meredakan stres? Ditanya begitu, tentu saja saya bisa dengan sangat mudah menjawab, ada, karena saya termasuk orang yang berulang kali membaca buku karya Pak Isa itu sejak sebelum terbit.

Dia butuh itu buat keperluan skripsi. Kemudian minta bukti berupa foto halaman yang mencantumkan bagian yang menerangkan manfaat humor itu, tapi saya keberatan. Khawatir ini sebuah kekeliruan, harus minta izin dulu kepada Pak Isa. Buku itu saya bawa, namun saat hendak masuk ruangan kerja, tampak Pak Isa sedang sibuk mengedit tulisan. Saya jadi bingung antara masuk dan tidak. Masuk khawatir mengganggu, tapi kalau memfoto begitu saja tanpa minta ijin khawatir juga ini sebuah kesalahan, karena memfoto halaman di toko buku pun dilarang.

Akhirnya Pak Isa keluar.

"Pak, ini ada orang mau nyusun skripsi tentang humor, dan dia ingin mengambil datanya dari buku Humortivasi. Dia minta foto bagian halaman yang mencantumkannya."

"Oh ya, gak papa. Iya memang di bahas di sana."

"Baik Pak!"

Bukan cuma cerita lucu, Humortivasi mengupas manfaat humor bagi kesehatan. 

"Memicu otak mengeluarkan hormon endorphin dan melatonin yang membantu sistem saraf menjadi ruleks dan tenang. Tertawa bisa meminimalisir pikiran negatif penyebab depresi, mengurangi rasa kesepian, membuat seseorang berpikir lebih positif terhadap diri sendiri, mengubah mood yang buruk, dan menyehatkan batin." tulis Pak Isa

Itu sebagian manfaat yang disampaikan, dan masih ada enam bagian lain manfaat humor bagi kesehatan.

Karena harus mengirimkan foto, komunikasi dilanjutkan lewat whatsapp.

"Bang apakah jenis buku ini bisa dijadikan bahan skripsi atau sekedar buku biasa?"

"Bisa Mbak, ini buku resmi, ada ISBN nya."

"Coba fotoin cover, pengarang dan penerbitnya Mbak. Temanku meminta."

Saya kirimkan fotonya.

"Bagaimana cara ordernya Bang? Berapa ongkir ke Padang? Apakah buku itu tersedia di Gramedia?"

"Ongkir Rp. 28.000, supaya tidak tanggung, mbak bisa pesan bersama 2 buku Pak Isa lainnya, harga paket Rp.99.000 ditambah ongkir jadi Rp. 127.000."

Saya tawarkan karena itu paket sangat murah, potongannya sangat besar jika dibandingkan membeli satuan. Kasihan, orangnya jauh di Padang, membeli satu atau  3 buku, ongkos kirim sama saja. Sebagai penjual, saya mau pembeli juga mendapatkan keuntungan.

Wednesday, February 3, 2016

BUKU JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA

Tidak tanggung-tanggung, setelah melihat bukunya murah, saya langsung beli banyak. Sampai-sampai, tumpukan buku bazar itu berlubang di tengah.

Sudah lama saya mau buku ini. Tertarik setelah membaca blog dan berbagai testimoni, juga setelah setiap kali ke Gramedia saya buka dan baca sekilas-sekilas. Lucu-lucu mengenaskan, tidak membosankan, kreatif. Ndeso, katro, tapi berkualitas.

Ide tulisan didapat dari segala hal.

Kepada seorang teman kerja minta dibelikan, dia malah sebal.

"Apa sih Dan!" dengusnya.

"Emang gue orang tuamu?" mungkin begitu kalau dia teruskan.

Untung saja teman lain beli, jadi saya bisa pinjam. Dibaca di jalan, di kendaraan, di warung sudut pasar saat jajan. Buku ini tak kalah nikmat dari bakwan.

JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA, judulnya.

Beberapa kali datang ke toko melihat buku ini, tapi ya karena banyak buku lain obralan, saya lebih suka buku murah, yang harganya obralan. Depok surganya buku mudah deh kayaknya. Harga buku dibanting bukan sebab tidak bagus. Buku itu asli, bukan bajakan, masih bersegel, tapi karena... entahlah, saya tidak tahu.

Semula saya kira, JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA akan tetap di rak buku mahal. Rupanya tidak. Mungkin karena, jarang orang tahu bagusnya, jadi yang beli jarang.

Padahal, Agus Mulyadi sudah dipromosikan di TV. Beberapa kali diundang berbagai acara. INI TALKSHOW dan BUKAN 4 MATA, setahu saya.

Kenapa saya tertarik kepada buku ini?

Judulnya.

Haha.

JOMBLO TAPI HAFAL PANCASILA.

So what? Gitu loh!

JOMBLO tapi HAFAL PANCASILA. Trus apa hubungannya coba...


Tapi itulah kreativitas. Agus Mulyadi emang bisa. Dia tahu nilai humor dari hal-hal sederhana. Susunan kata judul itu menunjukkan karakter tulisannya. Humor tapi berisi.


Dia membawa warna lokal. Banyak menyelipkan kata Bahasa Jawa. Tapi tetap, pembaca yang mengerti Bahasa Indonesia mudah menangkap. Dia bercanda, tapi intelek.

Kelebihan lain, bahasa tulisanya itu lancar. Mungkin dipengaruhi kebiasaannya menulis blog ditambah keranjingannya baca buku. Sekarang tulisannya banyak bersebaran di media online terkenal.


Dia menulis keseharian, dengan gaya humor, tapi mendalam.

Kadang mengawali tulisannya dengan bahasa sangat ilmiah, dengan gaya kaum intelektual, tapi ke sananya, yang dia bicarakan hal sederhana. Lalu pembaca berhaha-hehe sendiri karena geli.

"Si penulis mampu keluar dari mainstream tulisan humor model anak muda metropolis yang menurut saya hanya mampu membuat tawa tapi gagal memberi makna. Lucu tapi tidak norak, spontal tapi tidka dangkal, cari tapi tidak asal." (Puthut EA, Penulis)

"Guyonan ringan, gurih, dan cerdas tersaji dalam buku ini. Gaya penulisan khas ala Gus Mul membuat tiap cerita selalu menarik untuk dibaca." kata Didi Syafirfi, wartawan merdeka.com."

Memang benar.


Dia bercerita apa saja, dan selalu menarik. Memang beda ya tulisan seorang yang rajin menulis dengan yang jarang. Alirannya lebih deras dan entah kenapa dibacanya enak. Beberapa kali saya baca tulisan karya blogger, tidak tahu kenapa tulisannya rata-rata renyah dikunyah.

Kesehariannya di rumah, pengalaman lucu dengan bapaknya saat kesetrum baju menjadi cerita haru tetapi lucu.

Singkatnya cerita, baju Si Bapak digelar pada gantungan kawat, trus dicantelkan pada lampu yang dipasang di dinding dengan posisi tegak lurus. Ya jelas, kawat itu induktor, baju basah berair juga induktor. Kena kulit Si Bapak teriak.

==========

"Ono opo to Pak?" tanya saya kepada Bapak.

"Ini Gus, Bapak kesetrum, kaget tenan!" jawab Bapak singkat.

===========

Sudah ah, itu cuplikannya saja. Saya gak bisa naha. Tiap kali baca itu mau ketawa, entah kenapa.

Agus juga bercerita tentang temannya. Punya geng, namanya Geng Koplo, seperti preman, mereka bertato kecuali Agus. Uniknya, saat ngobrol cita-cita, unik dan lucu. Kebo misalnya, punya cita-cita ingin menjadi sales bumbu dapur. Kenapa? Ternyata punya alasan luar biasa, yang filosofis dan sangat menyentuh.

Kucing-kucingnya di rumah, mainan-mainan jaman dulu, buku RPUL, bubur sayur, dan yang paling sering dia sebut-sebut, adalah nasibnya yang masih menjomblo.

Gak apa-apa Jomblo, yang penting hafal pancasila.

Masih banyak dari buku ini yang ingin saya bicarakan, tapi kali ini, saya cukupkan dulu sekian! Mau baca dulu!


JANGAN BERCERAI BUNDA: BUKU YANG MENOHOK LANGSUNG KE JANTUNG

Langsung menohok ke jantung permasalah, tidak lari dulu sana-sini membuat perut mual, apalagi pake bersajak-sajak pemicu sakit kepala, begitulah buku yang ingin saya ceritakan. Tidak seperti tulisan saya yang kalau bercerita, lebay, sana-sini dibahas di awal, tengahnya amburadul dengan ujung tak jelas.

Buku ini tidak!

Buku ini tahu selera sebagian besar pembaca!

Sebagian besar pembaca tidak mau diajak pembukaan berlama-lama. Sebagian besar pembaca adalah manusia-manusia yang tidak sabaran, yang jika mereka nonton ke bioskop, mereka tak suka dengan narasi film berlama-lama, yang kalau mereka mengikuti acara, tidak suka dengan sambutan terlalu panjang.

Sebagain besar pembaca adalah orang-orang yang lebih suka to the point.

Dan buku ini mengeti bagaimana bersikap.

"Kini, setelah dua puluh tahun lebih tidak bertemu dan enam belas tahun pernikahanku dengan Bang Firman, Darma datang lagi menghiasi hari-hariku. Cinta monyet masa remaja kembali tumbuh. Pertemuan demi pertemuan kami jalani bersama, tentu saja tanpa sepengetahuan Bang Firman dan anak-anak."

Separagraf awal yang langsung menyeret pembaca ke dalam inti cerita. Itu bagian awal dari kisah "Cinta dan Penyesalan"

Sambil menunggu nasi goreng matang, buku ini saya buka dan baca. Sekeliling ramai tak menjadi halangan. Jenuh menunggu nasi goreng matang, tahu-tahu Si Mas Tukang Nasgor sudah menyodorkan keresek buat saya bawa pulang.

Sebenarnya satu bagian paling seru dalam kisah rumah tangga adalah tentang perceraian. Maaf, saya tidak bermaksud menyebut baiknya perceraian. Karena menceritakan serunya masalah perceraian bukan berarti menceritakan perceraian itunya saja. Bukan berarti menceritakan perpisahan suami istri. Menceritakan serunya perceraian berarti juga menceritakan rumah tangga yang dibayang-bayangi perceraian. Rumah tangga di ambang kehancuran, ketika suami istri samas-sama berusaha berjuang menyelamatkan rumah tangganya yang sedang berguncang karena berbagai hal.

Kisah seorang istri yang suaminya entah kenapa begitu asyik dengan gadget. Semula kecurigaan berusaha dia padamkan, namun tak tahan, suatu malam, setelah pura-pura tidur, dia ikuti suaminya yang naik tangga ke lantai atas. Ngobrol dengan seseorang lewat telfon, entah dengan siapa... ah kalau cerita ini saya teruskan, nanti Anda malah tidak tertarik membaca bukunya.

Jangan Bercerai Bunda, terbitan PT. Asma Nadia sudah sangat khas dengan bahasanya yang memikat karena selalu mengedapankan pengeditan ketat. Pengeditan yang sengaja dilakukan, buat memenui dahaga pembaca akan bacaan indah mencekam, namun mengandung kebenaran dan manfaat.

Wednesday, January 27, 2016

BUKU NOVEL REMBULAN UNGU


Jika seorang penjual mengatakan sebuah buku jualannya bagus, wajar saja karena dia sedang menjual. Mana mau dia menyebut jelek. Dia hanya ingin bukunya laku.

Tapi saya mengatakan buku ini bagus dengan sebenarnya. "Rembulan Ungu". Saya membacanya, kemudian tenggelam ke dalam aliran cerita, pulang ke masa silam, ke masa-masa Kerajaan Mataram. Bersama Panjalu, melesat kencang menerobos hutan-hutan, naik rakit menyeberangi Sungai Opak, dan merasakan tegangnya pertarungan antara pendekar dan golongan hitam. 

Saya terpesona dengan orang tua bernama Panembahan Kajoran. Saat Suragedug, pendekar bangkotan dari dunia hitam hendak membinasakan Panjalu dan temannya, Panembahan Kajoran datang. Hanya dengan menembangkan kidung "Rumeksa Ing Wengi" dari balik semak belukar, sihir Suragedug balik melukai dirinya.

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah pagawe ala

Gunane wong luput 
Geni atemahan tirta

Maling adoh tan wani perak ing wami
Tuju duduk pan sirna

Ada nyanyian di tengah malam
Keteguhan menghilangkan penyakit

terhindar dari kematian
Jin dan setan tak ada yang mau
teluh tak berani mendekat

Juga pekerjaan kotor
Guna-guna akan meleset
Api berubah jadi air
Pencuri menjauh tak berani mendekat
Santet jahat akan sirna...

Telah lama saya mendengar buku ini dari seorang teman. Seperti saya, dia pencinta buku juga. Mulanya dari bazar dia membeli berbagai buku karya penulis lokal dan terjemahan, tapi buku yang benar-benar menariknya hanyalah buku-buku karya penulis lokal--buku-buku tentang kisah dari nusantara; Buku-buku yang menguraikan sejarah dalam bentuk cerita; Novel-novel yang diangkat dari sejarah.

Antara lain dia menceritakan buku bagus berjudul "Harisbaya, Bersuami Dua Raja". Dia menceritakan buku itu panjang lebar, kalau tak salah bahkan sampai tamat, termasuk peperangannnya. Itu pertanda buku yang dibacanya betul-betul membekas. Dia juga menceritakan buku lainnya, yaitu novel "Gadis Paris van Java". 

Namun satu buku yang belum diceritakannya adalah buku "Rembulan Ungu". Mulanya saya temukan buku ini di perpustakaan, sempat pegang, tapi belum baca. Sampai kemudian kerja ke kota, kembali menemukan buku ini di bazar, saya beli, dan beberapa lama di lemari terbiarkan. Sampai akhirnya suatu ketika saya pulang, membawa buku itu buat mengisi waktu selama perjalanan. Buka dan membaca, dan ternyata menarik. Dari halaman ke halaman, terus tenggelam dan semakin tenggelam. Masuk ke dalam cerita bertulangn bersama para tokohnya. Penasaran bagaimana nasib cinta Panjalu selanjutnya, akankah Oyi, putri cantik berkebangsaan China menjadi miliknya, atau malah diperistri putra mahkota Amangkurat, atau bahkan menjadi selir Amangkurat, sang raja lalim yang suka seenaknya menyalurkan syahwat?

Anda yang penasaran, bisa segera memesan buku itu dan membacanya.

Monday, January 18, 2016

Buku 55 Kisah Rahasia Bahagia

Rahasia kebahagiaan sering tak terduga. Semula mengira pada banyak mendapatkan, nyatanya pada banyak memberikan. Semula mengira pada santai dan diam, nyatanya pada kerja dan berkeringat.

Betul bahagia itu saat dimuliakan orang, tapi kebahagiaan lebih mendalam terasa saat memuliakan orang. Rahasia kebahagiaan itu banyak. Lewat ucap dan keteladanan, Rasulullah banyak mengajarkan.

Siapa meragukan kemuliaan Muhammad Saw, bahkan orang non muslim sekalipun banyak mengakuinya. Beliau diakui pemimpin berpengaruh terbesar. Buku 100 Tokoh Berpengaruh Dunia menempatkannya di urutan pertama.

Akan tetapi dalam kemuliaannya, beliau tak pernah segan memuliakan orang. 

Yang belum pernah mendengar, mungkin susah percaya Nabi Saw. pernah mencium tangan seorang yang, mungkin dalam pandangan awam, berprofesi rendah. Tangan tukang batu,  bukan cuma kias tapi nyata, beliau benar-benar menciumnya. 

Yaitu sepulang dari Perang Tabuk, saat mendekati Kota Madinah, pada salah satu sudut jalan, Rasulullah Saw. berjumpa seorang tukang batu, dan melihat tangannya melepuh kehitam-hitaman karena seringnya terpanggang matahari. Penuh kasih ditatapkan itu tangan dan bertanya , "Mengapa tanganmu kasar sekali?"

"Ya Rasulallah pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, kemudian belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan buat memberi nafkah keluarga, itulah sebabnya tangan ini menjadi kasar."

Tangan kasar karena mencari nafkah yang halal, betapa rasa kagum rasul berlelehan. Diambilnya tangan itu, digenggam, kemudian diciumnya seraya bersabda, "Hadza yadun la tamassaha naarun abada. Inilah tangannya yang takkan tersentuh api neraka selamanya."

Ini sebuah rahasia. Apa yang Rasulullah lakukan itu mengandung rahasia. Sepertinya membanting martabat, tapi ini sudah jadi fakta, tindakan Rasulullah tak menjadikan hina. Sebaliknya, menjadikan beliau mulia. Tindakan mengagumkannya ini, tercatat ketat dalam sejarah.

Dari tindakan Rasulullah ini pula kita belajar rahasia kebahagiaan. Saat sebagian besar kita mengira bahagia didapat dengan dihormat, diharga, dan dimulia, nyatanya rahasia bahagia terdapat pada berusaha menghormat, mengharga, dan memulia.

Buku berjudul "Tangan Yang Dicium Nabi" akan membawa Anda membongkar rahasia demi rahasia kebahagiaan, dari satu kisah ke kisah lainnya. Inilah buku dengan 55 Kisah Rahasia Bahagia.

Wednesday, January 13, 2016

KEKUATAN PIKIRAN SPONTAN

Baru kemarin beli buku ini, sakarang sudah tamat. Buku obral tapi bagus. Memberi hal baru. Tentang "Kekuatan Pikiran Spontan." 

Sebuah buku tipis. Jonathan Creaghan, penulis buku ini konsisten, setiap buku apa pun yang ditulisnya, tidak pernah lebih dari 80 halaman. Bahkan buku ini, sampai daftar pustaka, hanya tercatat 56 halaman. Itu dilakukan buat meringankan pembaca. Dan memang terasa, saya bisa menamatkan buku ini dengan cepat.

Memang, jika sebuah buku memerlukan uraian panjang, bagus-bagus saja ditulis panjang. Tapi jika dengan uraian pendek pesan lebih kena, apa gunanya berpanjang-panjang?

Persis isi buku ini sudah lupa, tapi beberapa hal masih ingat. Menurut Creaghan, pikiran manusia bisa diibararatkan sebulat bola yang mempunyai tiga lapisan. Lapisan terluar disebut pikiran berpikir, lapisan kedua disebut pikiran bekerja, dan lapisan inti atau lapisan terdalam disebut pikiran sadar. 

Saya tidak bisa menerangkan satu per satunya kepada Anda. Jika tertarik dengan buku ini, silakan saja cari sendiri. Di sini saya hanya ingin menyampaikan, ada pikiran yang sering mengganggu kita, yaitu pikiran lapisan terluar, yaitu "Pikiran Berpikir."

Saat hendak melakukan sesuatu, Pikiran Berpikir bisanya memasang cemas, stress, dan pertimbangan. Karenanya, pikiran ini sudah selayaknya diabaikan. Jika dibiarkan mengusai, pikiran jenis ini  bisa menghalang-halangi kita bertindak.

Selama sebuah tindakan baik, kerjakan saja! Langsung kerjakan jangan banyak menunda. Karena penundaan hanya buang-buang waktu. Jangan biarkan cemas datang. Cepat tendang, sebab kecemasan yang dibiarkan akan menjadikan kecemasan itu semakin besar. Buang ketakutan, sebab ketakutan hanya akan menambah ketakutan. Buang keraguan, sebab keraguan hanya akan menambah keraguan. 

Pikiran berpikir ini sangat menghambat. Saat melakukan satu hal, pikiran ini biasanya mengajak memikirkan hal lain. 

Murni saja hanya memasang pikiran bekerja.


Just Do It!

Kerjakan saja. Jika sedang menulis, menulislah. Jika sedang berkisah, berkisahlah. Jika sedang membaca membacalah. Hadirkan pikiran dengan nyaman dan bahagia pada apa yang sedang dikerjakan, jangan dibiarkan lari ke mana-mana.


Penulis menyarankan, supaya kita senantiasa memasang pikiran bekerja. 

"Pikiran Bekerja tidak memiliki pikiran lain kecuiali kebutuhan untuk menampilkan tugas pada saat ini." 

Ciri-ciri pikiran bekerja antara lain, saat menggunakan ini, kita benar-benar murni melakukan tindakan, kita bertindak tanpa banyak pikiran, waktu tidak kita pedulikan, kita bekerja lebih cepat, lebih yakin, dan tidak dirumitkan berbagai kecemasan dan pikiran macam-macam.

Buku ini mengingatkan saya pada sebuah pesan dalam Al-Qur'an. Disebutkan, semua manusia berada dalam kerugian. Melainkan beriman dan beramal shalih. Secara sederhana, beriman berarti percaya, sedang beramal shalih berarti berbuat. Saat sebuah keyakinan datang, maka berikutnya adalah, tidak mengijinkan lagi berbagai pikiran, kecemasan, dan keraguan menguasai, melainkan, langsung melakukan tindakan. Dengan cara itu, maka dengan mudah seseorang akan mendapatkan keberuntungan.

Pada ayat lain disebutkan, "Alangkah baiknya pahala orang-orang yang beramal."

Jadi apa yang disebut pikiran spontan?

Pikiran spontan adalah pikiran yang bekerja tanpa harus mengerutkan jidat. Pikiran yang bekerja dengan sendirinya dalam kepala kita selama kita melakukan tindakan, kemudian melahirkan inspirasi tanpa kita harus memikirkannya dengan keras. 

Seorang pemimpin perusahaan raksasa dari Korea menegaskan, adalah konyol saat seseorang hanya berdiam diri menunggu inspirasi datang. Inspirasi lahir dari tindakan, maka bertindaklah maka dari sanalah ilham akan datang. Inspirasi mengalir dari ujung pena, maka Anda harus menulis dan menulis untuk mendapatkan ide cemerlang.

Wednesday, October 28, 2015

Bincang Sambil Lalu tentang Buku "Love Spark In Korea"

Saya termasuk orang beruntung bisa membaca buku ini sejak sebelum terbit. Waktu itu penulis mengirimkan email, kemudian saya download, dan membacanya, siang malam, karena ingin cepat selesai. 
Beberapa halaman menampilkan adegan lucu dan mengingatkan saya pada kisah sejati penulis, dan memang benar itu sengaja diambil dari kisah hidupnya, untuk mencontohkan dan mengajarkan bahwa untuk membuat novel itu sangat mudah, seseorang bisa mengambil dari pengalaman hidupnya, kemudian menghubung-hubungkannnya dengan pengalaman lain yang berbeda. 

Pengelaman masa kecilnya tinggal di samping rel kereta, dengan pengalamannya setelah dewasa, mendapat kesempatan traveling gratis ke berbagai negara. Cara itu membuat cerita lebih kreatif dan menarik.

Teknik menyusun cerita semacam ini pernah disampikan Mang Wendo di bukunya Mengarang Itu Gampang, dengan mencontohkan pengalaman singgah di warung tegal dengan pengalaman mendatangi tempat bencana alam. Dua pengalaman itu Wendo hubungkan, misalnya ternyata si pemilik warung tegal sederhana itu diam-diam seorang yang peduli pada bencana alam, dan menggalang sumbangan. Sangat mudah... membicarakannya. Entahlah mempraktikkannya. 

Dan kurang lebih begitulah yang Asma Nadia lakukan untuk membangun novel terbarunya ini: Love Spark In Korea.

Selain sajian bahasanya yang, sudah khas memikat, mengalir lancar tidak membosankan, novel ini pun menampilkan keganjilan. Seorang pria Korea mencintai wanita yang sudah menikah yang membuat penasaran. Dari halaman ke halaman, orang terus dibuat bertanya, bagaimana kisah dia berikutnya dengan si wanita. Kenapa begitu mencintainya. Tidak ada wanita lain apa. Padahal disebutkan dia tampan, sampai anak bosnya pun tergila-gila padanya, dan mengancam bunuh diri jika cintanya tidak dipedulikan, namun dengan sangat aneh, si pemuda cintanya terus terpaut pada wanita bersuami.

Ketika saya terus membaca hingga akhir, terjawab sudah rasa penasaran. Oh ternyata, oh begitu rupanya. Dan sebagaimana saya membaca kemudian penasaran dan mendapatkan jawaban, saya tanya pembaca lain pun mengalami hal yang sama. Tidang mengira jika....ah baca saja sendiri ceritanya!!

Sebuah novel yang cukup saya untuk dilewatkan. Setelah mengalami pengeditan keras dan ketat, akhirnya terbit dengan tampilan memuskan. Maka apa yang tersaji kepada khalayak pembaca, merupakan hidangan terbaik dari apa yang bisa penerbit berikan. Selamat menikmati!

Tuesday, October 27, 2015

Buku Novel "Bumi Manusia"

"Bumi Manusia", orang mengenal buku ini sebagai karya Pramoedya Ananta Toer. Tapi buku di tangan saya ini bukan, ini karya sastrawan Prancis: Antoine de Saint-Exupery. 

Judul asli Terre Des Hommes. Versi bahasa Inggris nya berjudul Wind, Sand, and Star. Berarti Angin, Pasir dan Bintang. Sesuai isinya, tentang pengalaman berbagai penerbangan dia sebagai pengantar surat-surat pos ke berbagai gurun pasir.

Exupery terkenal karena karyanya Le Petit Prince, atau pangeran kecil, karena saya sendiri, mulai tertarik dengannya setelah membaca Pangeran Kecil. Seperti buku anak-anak, karena itu awalnya saya kurang minat. Tapi setelah Bambang Q Anees mengupas di buku dia, bahwa buku ini sesungguhnya mengajarkan cinta, kesetiaan dan hubungan, baru saya tertarik. Tak dinyana, buku tipis ini sastra. Membaca bolak-balik tidak bosan. Kian sering membaca, kian terkuak makna. Kalimat-kalimatnya mengandung renungan. Indah. Tentang kepergian pangeran kecil meninggalkan mawar dan planetnya, ke sebuah dunia ramai, namun justru di sana, dia merasakan keterasingan, sendiri, dingin, dan sepi.

Dari situlah, saat saya kembali menemukan buku dengan penulis yang sama, langsung tertarik. Dari bazar murah gramedia di Carrefour dengan harga Rp. 10.000 saja. Sangat murah. 

Lahir di Lyon, Prancis, tanggal 29 Juni tahun 1900. Seperti bisa kita baca pada bagian paling belakang buku ini, kisah hidup si penulis sendiri cukup menarik. Ia menjalani masa kecil penuh idealisme bersama saudara-saudaranya. Ia belajar di sekolah Jesuit yang ketat di Le Mans, kemudian melanjutkan ke College Saint-Jean di Fribourg. Meski ditentang keluarganya, ia memilih menjadi pilot pada mawa wajib militer dan melakukan penerbangan di Prancis dan Afrika Utara sampai tugasnya usai pada tahun 1923.

Dari pengalaman selama penerbangan itu, dia banyak mendapatkan renungan. Tak dia buang begitu saja, melainkan dia tuangkan, tulis menjadi novel. 

Selama membaca, saya mendapat banyak ungkapan menarik. Misal, dalam masalah materi.

"Dengan bekerja hanya untuk keperluan materi, kami membangun sendiri penjara kami. Kami mengurung diri sendiri, dengan uang dari debu yang tidak memberi apa-apa yang bermakna hidup."

"Jika aku mencari hal-hal yang berdampak lama dalam kenangan, jika aku membuat neraca dari jam-jam yang bermakna, dapat dipastikan bahwa aku menemukan hal-hal yang tidak dapat diberikan oleh kekayaan materi mana pun juga."

Dalam buku ini pun, dia mengungkap misteri memilukan dari manusia.

"Dalam dunia di mana kehidupan bergabung dengan kehidupan dengan begitu baik, di mana bunga-bungaan bercampur dengan bunga-bungaan bahkan dalam lapisan angin, di mana angsa mengenal semua angsa, hanya manusia yang membangun kesendirian mereka."

Meski saat menulis ini saya belum tuntas membaca, tapi sudah berani berkata, Terre Des Hommes ini sebuah buku kecil yang indah.

Mau Betulin Hape