Showing posts with label Buku Novelku. Show all posts
Showing posts with label Buku Novelku. Show all posts

Wednesday, September 7, 2016

ICIH

Icih, sebuah lambang dari wanita desa sederhana. Kehidupannya di rumah kayu bersama suaminya, senantiasa tenteram sekalipun sehari-hari jauh dari kemewahan seperti gaya hidup para istri jaman sekarang.

Handphone, tablet, android, belanja, online tidak ada dalam kamus kesehariannya. Makan mencukupkan dari hasil kebun, kalau tidak ada lauk, dia mencukupkan diri makan dengan garam. Begitu pulalah gaya hidup yang dia ajarkan kepada anaknya.

"Icih, saya mendengar siapa yang bisa bertapa di makam yang ada di Karang Kamulian, Ciamis, maka dia akan mendapatkana kekayaan secara ajaib, sepertinya harus Akang coba bertapa di sana."

"Karang Kamulian di mana Kang, masih daerah Garut inikah?"

"Bukan, itu termasuk Ciamis, orang menyebutnya Objek Wisata Ciung Wanara."

"Ah jangan Kang, itu kan perbuatan yang merusak agama kita."

"Ada Cih orang yang nekad bertapa di sana, tantangannya sangat berat."

"Apa?"

"Penjaga di sana bercerita, pernah ada  peziarah datang ke sana hendak melakukan ritual pesugihan. Dia berusaha mencegahnya, tapi peziarah itu maksa. Ya dibiarkan. Tapi belum tiga jam, peziarah itu menjerit-jerit minta tolong. Katanya ada yang mencekik."

"Ih, apalagi kalau sampai begitu. Jangan Ah Kang. Jangankan melakukannya, niatnya aja jangan sampai Kang, aku lebih rela hidup penuh kekurangan dalam keadaan iman terjaga, daripada kaya raya tapi menyekutukan Yang Maha Kuasa."

"Tapi aku ingin membahagiakanmu Icih."

"Tidak Kang! Dengan kehidupan begini pun Icih sudah sangat bahagia. Hidup ini singkat Kang,

"Kebahagiaan tidak terletak pada harta Kang, tapi di hati. Itu yang dulu sering diajarkan ayah saya kepada murid-muridnya di sela-sela melatih silat. Aku suka mendengarnya dari dalam kamar, melalui celah-celah dinding bambu. Kebahagiaan itu adanya di hati, dan di hatiku sekarang hanya ada kebahagiaan."

'Resiko kesusahan duniawi paling maksimal adalah meninggal dunia. Aku rela kok Kang sampai meninggal dunia gara-gara kekurangan tidak bisa menemukan makanan yang halal."

"Begitukah Cih?"

"Iya Kang."

"Kok Akang rasanya seperti pria-pria beruntung di dalam dongeng, mempunya istri tulus yang hatinya tulus dipenuhi cinta yang tulus."

"Kita bertakwa saja kepada Allah Kang, kita jaga saja aturan-aturannya, insya Allah Dia pun akan menjaga kita. Itulah prinsip yang kupegang."

"Seluarbiasa itukah Cih?"

"Iya Kang, karena, karena, karena, aku ingin SAKINAH BERSAMAMU... "

"Kamu memang istriku yang tercantik."

"Ah tidak pantas Kang, orang kampung macam kita saling merayu,"

"Kata siapa Cih, kebahagiaan adalah gak segala bangsa."

Wednesday, November 25, 2015

BERSEMEDI

Gedung tempat para pemuja api melakukan ritual, retak. Nyaris roboh diguncang malu atas kesesatan di bawah naungannya. Nyala api sembahan dalam ruang, padam. Bumi menanggalkan compang-campingnya, pepohonan ruku, gurun pasir mempercantik diri, dan wajah unta yang tambatannya baru saja dilepas, memerah semangat cerah. Jika ingin digambarkan secara berlebihan, begitulah gembira mayapada menyambut Nabi. Kehadirannya, sangat berarti.

Seperti juga kamu bagi ibumu, adalah kecipak ikan di kolam bagi seorang petani. Setelah lelah seharian menggarap sawah, di sanalah bintang matanya tertambat. Menuai butir-butir kebahagiaan dari mujair dan gurami gemuk, sambil di pematang mengeringkan keringat. Sedangkan bagi Bapak, bayangan renyah tawamu selalu membuat getar kerinduan di hati ini berresonansi.

Adapun bapak bagi Kota Depok, dengan ungkapan hiperbolis sekalipun, arti diri ini tak pernah ada. Air sungai tepian pasar tidak menjadi bening, gedung hotel tidak menjadi lebih megah, terminal tidak menjadi lebih tertib, keramik yang melekat pada dinding kamar mandi masih dengan lumut-lumutnya. Kehadiran ini tidak memberi nilai apapun. Begitu pula bagi perusahaan tempat Bapak kerja, kehadiran ini hanya menambah beban.

Rasa diri berarti itu bagian dari kebahagiaan. Dan ketika itu tidak ada, kebahagiaan pun akan sirna. Tapi sekuat daya, Bapak akan berusaha. Berjalan ke dalam, tempat kesadaran tertinggi bersemayam, duduk sila bersemedi, mencari titik-titik cahaya yang bisa dijadikan pedoman. Takkan mengambil hal besar, cukup hal sesederhana plastik kemasan bekas minuman yang tergeletak di atas meja. Andai saja plastik itu bernyawa, rasa tidak berarti mungkin menumbuatnya berduka cita. Akan tetapi saat dia membandingkan diri dengan kulit pisang dan kebusukannya di tempat sambah, keberuntungan gelas ini lebih besar, dan kerenanya dia layak untuk bahagia.

Hanyalah sebuah perbandingan, sesederhana itu saja kebahagiaan jika ingin didefinisikan secara asal. Karenanya, mengukir bahagia dalam dada ini akan Bapak lakukan dengan perbandingan. Dengan membandingkan kehidupan sekarang dengan kehidupan sebelumnya. Sebagaimana pernah dipertanyakan kepada Muhammad, bukankah Dia menemukanmu melarat kemudian menjadikanmu kaya? Pertanyaan itu akan Bapak tujukan pula kepada diri sendiri, bukankah Dia menemukanmu melarat kemudian menjadikanmu kaya?

Ya benar, sejujurnya, hidup ini telah diliputi kekayaan. Fasilitas kerja megah, dalam gedung bertingkat, meja kerja nyaman, kursi putar bergoyang, dalam dekap hawa segar yang ditiupkan penyejuk ruangan. Meski sarung bolong yang dipakai saat menulis ini akan tertawa habis-habisan, Bapak akan tetap berkata, kehidupan sekarang ini bergelimang kekayaan dan kebahagiaan.

Ini karena kehidupan Bapak sebelumnya melarat. Sangat melarat. Rela melakukan apa saja usaha asalkan bisa menghidupi keluarga. Masih ingat waktu itu ribuah pipit menyerang, hinggap ke tangkai-tangkai padi, mencuri sekaligus mengugurkan butirannya. Jika dibiarkan panen bisa gagal. 

Maka sepanjang siang harus menahan diri panas-panasan, lari timur barat, utara selatan, dari tangga sawah tertinggi ke tangga terrendah, sambil "has hus" mengusir burung, menarik-narik tali yang menjuntai ke tengah sawah, mengguncang orang-orangan, memukul-mukul kaleng, gombrang-gombreng, saling sahut dengan suara pukulan kaleng dari sawah lain. 

Sesekali jongkok merayapi pematang menyabit rumput dan memasukkannya ke dalam karung, sampai penuh sepenuh-penuhnya, kemudian sore hari, menjelang maghrib, karung itu Bapak peluk di depan, menerobos guyuran hujan, membawa motor menyusuri jalan provinsi, membelah tiga kecamatan, menuju sebuah sekolah asrama, karena di sana Bapak punya domba dan bekerja mengajar anak-anak.

Nai, sebanarnya Bapak punya cerita tentang domba, tapi tulisan ini sudah terlalu panjang. Kita cukupkan dulu sekian. Mau tidur dulu, sudah larut malam, sudah jam satu lebih. Bapak mau istirahat.

Tuesday, November 17, 2015

Bahan Buku Yang Ingin Saya Tulis

DALAM NUANSA MERAH MUDA

Dalam ruang serba merah muda, di tengah nuansa romantis itulah bapak ibumu sekarang. Dua manusia jenis berlainan, duduk dalam kesunyian ruang, setelah anaknya pulas, apa kira-kira yang mereka lakukan? 

Jangan sembarang bertanya, karena sebagian besar jawaban tabu. Kecuali jawaban bapak, mungkin sedikit layak kau baca.

Di seberang meja, ibumu mengangkat kaki, ke kursi, melipat dan memeluknya, menepis cubitan dingin. Sementara bapak di sini, pada kursi panjang duduk tak nyaman. Jemari meremas gemas, mengapa harus terpisah.

Padahal cukup dengan satu langkah, secuil hasrat purba makhluk melata akan terlepas. Namun tidak. Jarak tertahan. Kesungkanan wudlu batal, mencegah kami saling mendekat.

Dengan jarak beberapa jengkal cukuplah. Terlibat obrolan panjang, tapi satu hal paling mengesankan hanyalah, saat sekeping lafal terlontar, "Kamu cantik sekali?"

Tapi ibumu radio. Tidak peduli. Terus saja berkicau. Meneruskan bicara.

Dikiranya Bapak dusta. Padahal hujan dari awan, ucapan itu, tercurah dari hati sesungguhnya.

Mata melirik jam. Isya belum juga datang. Heran, kenapa begitu telat?

Kehabisan obrolan, kami terjebak diam.

Setelah tarikan nafas, mengalir satu renungan. Angan terbang ke belakang, ke tempat kami berawal. Sebagaimana Hawa bagi Adam, ibumu bukan dicari, melainkan diberikan. Lalu kehidupan mengikat kami, sebagaimana tali mengikat bayam. Nasib seterusnya berkutub ke mana kami berserah.

Bulan-bulan pergi, tahun-tahun minggat. Sejak akad, tak terasa delapan masa. Masuk tahun ke enam Nai, kamu datang. Dua hal berbeda melahirkan hal berbeda lain, sungguh ini keajaiban.

Kamu hadiah. Jika Bapak ibaratnya malam dan ibumu pegunungan, maka kamu adalah apa yang lahir disebabkan malam mendekap pegunungan: tidur nyenyak dan selimut hangat.

Kisah ini terlalu berlambat-lambat Nai, memang sengaja dibuat demikian. Ingin menuliskan semua, andai saja bisa. Sebab bagi Bapak, setiap inci takdir, bukan semata angin lalu, melainkan batu safir. 

Sunday, November 15, 2015

Bahan Buku Yang Akan Saya Susun

TAWA MATAHARIMU TERTUNDA

Bus merayap meninggalkan terminal, meninggalkan Depok dengan segala ramai. Dari dekap kehidupan kota, dibawanya badan ini cerai. Menuju kabut pegunungan, merdu kokok ayam, tetes bening air jatuh dari ujung dedaunan, rumah kedamaian, dan tawa mataharimu di muka pintu.

Panas kembali ke api, bening pulang ke air, hijau pulang ke daun. Akhirnya tiba juga saat pulang. Lepas dari benar salah Bapak akan bermadah, pulang ini matematika. Sebuah kepastian. Siapa berangkat, dia harus pulang. Lagu indah kita dengar, itu karena sang nada pulang. Dengan nada apa sebaris lirik berangkat, kepadanya pula dia harus pulang.

Masihkah rindumu api, seperti diriwayatkan ibumu?

Bapak sendiri, duduk ini berlumur kangen. Lihatlah tas motif loreng tentara ini, kembung besar, bahkan tak sanggup menampung wujud-wujud kangen itu? Sepasang sandal untukmu, buku cerita bergambar, benda yang kemarin kita dongengkan panjang: jas hujan, dan oleh-oleh Pak Isa dari Belanda: karet penepuk lalat dan gantungan kunci miniatur sepatu mungil, sampai berdesakan, sehingga, sekeresek apel merah pesananmu tak sanggup masuk. Terasing di luar, duduk pada jok kendaraan, tak henti-hentinya si apel mengeluh,

"Celaka! Celaka! Celaka!" rutuk sebutir.

"Kenapa?" tanya Bapak.

"Dipisahkan begini pasti ketinggalan. Pasti ketinggalan!"

"Pasti?"

"Ya, Kamu kan pelupa."

Jengkel susah ditahan, jadi maafkan Bapak Nai, satu apel paling cerewet terpaksa dimakan.


Betapa jauhnya jarak, hingga safar butuh seharian. Dicecap hati tak sabar, panjangnya makin berlipat. Beribu kilo meter bagaikan. Pada kaca mobil tanganmu membayang, merentang dengan wajah tengadah minta dipangku. Wajahmu nanar penuh harap. Kuraih. Rasanya badan ini telah erat merengkuhmu.

Ciamis sampai, pejalanan belum usai. Ke arah utara, aspal masih mengular. Turun naik, lika-liku, menjamah empat kecamatan. Hujan mengguyur lebat, atap bus bocor, air bercucuran ke dalam. Tangah meraih tas, naik dalam pelukan, menyelamatkan isinya. Tandas baju basah, badan kedinginan, tak mengapa asalkan tas aman. Buku bacaan bergambar, nasib buku bacaan bergambar, tentangnya cemas ini bertema.

Pada sebuah tikungan tajam bus menepi. Mulut pintunya memuntahkah Bapak. Kaki menjejak rumput, gerimis masih riuh. Berlari mencari mesjid untuk menjama' shalat. Dzuhur Ashar belum tunai.

Ini kaki gunung dan sisa jalan masih jauh. Ojek sedia buat mendaki, tapi memilih jalan kaki. Olah raga dan menikmati alam mungkin alasan, tapi alibi terpenting sesungguhnya hemat uang. Lumayan buatmu jajan Nai.

Sebenarnya ini melawan perasaan. Sebab senyatanya hasrat ini tak sabar ingin cepat sampai. Ingin lekas melihat kepala mungilmu muncul di tirai. Dahaga tatap jingkrak-jingkrakmu menyambut. Lapar memangku, haus memeluk, lalu melihat tanganmu mengorek-ngorek tas, membongkar oleh-oleh, sambil terus cerewet bertanya. Ditemani lelehan keringat, begitulah drama batin sepanjang langkah.

Tiba ke halaman suasana sepi. Sandal manismu termenung di tepi teras. Tirai cerah merona, diterangi lampu menyala. Petang tergelar di bumi, kumandang adzan maghrib senyap sejak tadi. Mengucap salam, wajah ibumu menyambut. Bergelora hasrat mendekapnya, sayangnya pikiran membatas. Maghrib begini pasti punya wudlu, tak tega membuatnya berhadats.

Masuk ruang tengah, menengok pintu kamar, kamu terbaring menyamping. Cipta bayang sepanjang jalan mendadak sirna. Hanya mampu sadrah, tawa matahari harus tertunda. Oleh-oleh dalam tas, teronggok ke sudut rumah. Tiada tangan mungil menjamah.


"Sejak sore dia menunggu hingga ngantuk. 'Nai mau tidur dulu, nanti kalau Bapak datang, bangunkan ya Mah!' ucapnya. 'Ya', jawabku." Ibumu berkisah.

Haru.

"Sebentar-sebentar suaranya terdengar, 'Mah, sudah datang?' 'Belum', sebentar kemudian 'Bapak datang?' 'Belum', keludian, 'Mah, datang?'... hingga akhirnya lelap."

Sambil tersenyum iba, tak lepas mata menatap. Piamamu putih motif bunga biru toska, mata terpejam pulas. Berjalan mendekat, menghampiri ke peraduan merapatkan wajah. Terdengar hembusan nafas. Teratur meniupkan wangi anak. Mengecupmu pelan dengan bibir menua, halus pipimu sutra.

----------------------
Catatan:

Kata "Panas kembali ke air, hijau kembali ke daun" saya serap dari cerpen Kunowijoyo berjudul, "ADA API DI ATAS ATAP"

Mau Betulin Hape