Thursday, January 21, 2016

DARI BUKU KETIKA MAS GAGAH PERGI

Dari buku novel Ketika Mas Gagah Pergi, kemudian diangkat ke layar lebar. Ini adalah hari perdana. Saya langsung menontonnya.

*   *   *

Sekalipun duduk paling pinggir itu enak, bisa dengan mudah ke luar jika ada keperluan, saya pilih duduk paling pojok. Pak Agung saya minta menempati kursi saya, dan saya menempati tempat duduknya. Semula saya memilih duduk pada kursi paling sudut tiada maksud apa-apa, selain supaya Pak Agung mudah jika nanti mau keluar. Tapi lama-lama, ternyata saya rasakan di sana tempat duduk ternyaman. Dengan duduk di sana, saya merasa bebas, tidak perlu menahan-nahan perasaan, tidak perlu malu, di harus berkali-kali mengusap air keharuan.

Sangat mengharukan, sangat mengharukan, sangat mengharukan. Cerita orang yang mendapatkan hidayah ke jalan yang benar memang sangat mengharukan. Cerita perubahan seseorang kepada jalan keshalihan memang sangat mengharukan. Saya tidak punya kata bagus selain mengharukan, sebab kalau saya ganti menjadi kata sedih sangatlah tidak tepat. Kalau tidak percaya, mari kita coba: Cerita tentang orang yang mendapatkan hidayah ke jalan yang benar sangat menyedihkan. Tuh kan, kurang enak kedengarannya. Lebih enak memilih kata, mengharukan, karena yang saya maksud adalah menyentuh perasaan, mengundang hati buat jatuh cinta.


Apa yang mengharukan adalah proses seseorang mengenal kebenaran. Sebenarnya sentral paling mengharukan adalah perubahan seorang Gita, yang begitu mencintai kakaknya, Mas Gagah. Akan tetapi pada awal kisah, bagian paling menyentuh dari perubahan terjadi pada Ibu Mas Gagah. Akting profesional Wulan Guritno, tanpa banyak bicara dia berhasil mengundang keharuan. Setelah sebelumnya dia heran kenapa anak pria satu-satunya itu berubah dari seorang hedonis gaya remaja pada umumnya menjadi sosok yang mencintai agama, ternyata perubahan itu pun berdampak pada jiwa kemanusiaannya. Gagah anaknya ini menjadi peduli pada orang pinggiran, dan saat sang ibu ikut ke sana, melihat apa saja yang selama ini anaknya lakukan, sambil berjalan perlahan, bibirnya gemetaran, mata berkaca-kaca, mendekati seorang nenek yang sedang merajut kerudung, yang diberdayakan "Sang Mas Gagah."

Ini film yang sangat indah, setelah orang menunggu begitu lama, kini mereka dapatkan sajian memuaskan. Sebuah film dengan pesan moral yang kaya, berisi keteladanan, keberanian, keshalihan, kehanifan, kecintaan kepada agama.

Film ini banyak memberikan keteladanan tentang istiqomah menjalankan sunnah. Tentang keberanian menyampaikan kebenaran walau satu ayat, seperti dicontohkan pemeran Yudi yang dengan berani dakwah di angkutan, sekalipun berkali-kali, orang-orang manampilkan wajah malas, membantah, tidak suka, Yudi tetap tersenyum dan tenang menyampaikan ceramah.

Masih banyak yang ingin saya sampaikan, tapi rasanya cape kalau harus nulis terlalun panjang. Yang jelas, film ini menjadi hebat karena diangkat dari karya hebat. Ketika Mas Gagah pergi, sampai sekarang telah menembus cetakan keenambelas. Setelah nonton filmnya, saya jadi kangen ingin membaca bukunya. Jika di film tadi hanya bisa menikmati kisahnya satu jam lebih sedikit. Bersama buku, saya bisa meresapi kata-katanya sampai kapan saja, di mana saja, mungkin di atas dak gedung, sambil tengkurap, disinari langit pagi yang mulai terang.

Itulah kesan yang saya dapatkan setelah nonton film "Ketika Mas Gagah Pergi".

Menontonnnya Anda takkan menyesal. Saya sendiri tidak menyesal. Satu-satunya penyesalan saya adalah duduk paling sudut. Padahal Pak Ardian, rekan kerja bagian manajemen berkata, kalau saja tadi duduk di dekatnya, dia punya Pop Corn yang mau dia bagi dengan saya. Aduh.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape