Apa yang dibutuhkan saat menggarap buku?
Totalitas.
Apa yang dibutuhkan saat memasarkannya?
Totalitas juga.
Itu saya perhatikan dari dari Pak Isa. Baik saat penggarapan, persiapan cetak hingga pemasaran, dia lakukan dengan totalitas.
Sebelum dicetak, buku ini adalah bahan materinya saat mengkritik tulisan di social media, pada sebuah grup yang dibangunnya: Komunitas Bisa Menulis. Tulisan-tulisan yang datang, dia kritisi cermat. Menyebutkan bagian kurang, menyebutkan dosa-dosa.
Tanpa ragu, apa yang dirasanya kurang menarik dia bantai. Secara gamblang, secara terus terang. Dengan satu tujuan, orang punya karya terbaik. Pak Isa punya prinsip, jangan sampai orang tidak tahu kekeliruan dirinya. Sekecil apapun itu. Jangan sampai orang cape menulis banyak, tapi tulisannya tidak berguna, hanya karena dia tidak tahu kekeliruan tulisannya. Itu sia-sia.
Bagaimanapun, menyusun tulisan buat memikat pembaca. Bagaimana orang tahu apa yang kita sampaikan, sementara membaca saja tidak minat. Dan salah satu cara menarik minat adalah, dengan semaksimal mungkin memperbaiki tulisan.
Memperbaiki, berarti mengurangi kesalahan. Bahasa lain dari kesalahan adalah dosa, dan dosa-dosa itulah yang Pak Isa data secara total, kemudian dia kumpulkan pada bukunya, 101 Dosa Penulis Pemula.
Itu saat penggarapan.
Bagaimana pemasaran?
Sama, Pak Isa lakukan dengan totalitas. Mengambil keuntungan memang mutlak. Perusahaan butuh uang buat bertahan. Surfive. Supaya terjadi berkesinambungan berkarya, dan tetap hidup dan menghidupi banyak orang. Tapi motivasi Pak Isa lebih dari keuntungan material. Beliau, ingin memberi lebih banyak manfaat. Itulah motivasi pentingnya pemasaran. Semakin banyak orang membaca, semakin tersebar manfaat.
Itulah sebabnya, beliau tidak mau main rahasia. Tidak pernah pelit berbagi ilmu, di mana saja, kapan saja. Di mana ada kesempatan, di sana dia berbagi. Saya masih ingat dalam perjalanan menuju Kemping Kepenulisan. Nyaris sebagian besar obrolan berkisar tentang tulisan. Beberapa lembar karya peserta dia cetak, kemudian baca. Dia kritisi bagian salah, dia beri komentar. Saya dan Wiro, tentu saja suka. Mendengar penuh perhatian. Itu adalah pengetahuan penting dari buku yang ditulisnya: 101 Dosa Penulis Pemula.
Begitu juga saat sampai. Diperhatikan peserta kemping, sejak sore hingga jam dua belas malam, hingga menjelang pulang, Pak Isa tak lelah berbagi. Dingin pegunungan tak menggigilkan badannya. Saat kami semua gemetaran padahal pakai jaket, dia hanya pake kaos, sangat menikmati dingin, terus menyampaikan ilmu kepenulisan.

No comments:
Post a Comment