Sunday, May 1, 2016

DUA PELAJARAN

MENGAPA ORANG HARUS TERTARIK MEMBACA CERPEN SAYA

Sebelum menjawab pertanyaan, mengapa orang harus tertarik membaca cerpen saya. Maka terlebih dahulu harus kita jawab, mengapa saya tertarik membaca cerpen orang?

Kalau saya, tiga alasan:

1. Nama penulisnya. Sebab sebelumnya penulis ini punya bagus, maka saya tertarik ingin kembali menikmati.
2. Judul menggoda, opening bagus. Penulis tak dikenal, entah siapa, tapi judul tulisannya bikin penasaran, dan ketika saya coba membaca, opening terasa nikmat, maka saya teruskan.
3. Rekomendasi orang. Kata orang cerpen itu bagus, maka saya tertarik.

Sekarang baru kita beranjak ke pertanyaan pokok, mengapa orang harus tertarik membaca cerpen saya?

Dari ketiga alasan di atas, sepertinya kita hanya bisa mengusahakan alasan kedua. Membuat judul menggoda, opening menggoda.

Jangan judul biasa, berikan judul luar biasa. Budi Darma, sastrawakan kawakan tanah air. Bermain di judul-judul luar biasa. Nyi Talis, Olenka, Derabat, itu kata-kata luar biasa.

Jadi, berikan hal luar biasa
Berikan judul luar biasa, berikan opening luar biasa
Opening luar biasa, opening yang menggebrak kesadaran pembaca
Opening yang membuat mereka heran dan bertanya-tanyak, kok bisa? Supaya, mereka berusaha mencari penjelasan dari tulisan Anda berikutnya. Berikan hal luar biasa. Berikan tema luar biasa. Berikan plot luar biasa. Berikan bahasa luar biasa.

PELAJARAN DARI SEGELAS SUSU

Sebelum menulis ini, saya menikmati segelas besar susu
Mengapa mau?
Salah satu alasan, karena manis
Pelajarannya: manis
Tulisan bisa lebih nikmat dibaca jika tulisan itu manis
Supaya manis?
Berikan pemanis: bahasa manis, antara lain: Rima dan majas
Masukkan rima, selipkan majas.
Rima adalah bunyi akhir yang sama.
Bunyi akhir setiap kata, bunyi akhir setiap anak kalimat, atau bunyi akhir kalimat
Bunyi akhir kata berrima misalnya: ladang-ladang kacang ayah meranggas.
Bunyi akhir anak kalimat sama: di setiap pemberhetian kereta, dia menyusun kata-kata.
Bunyi akhir kalimat sama: Meja kantorku rata-rata berserakan sampah. Anehnya, bagi bos semua itu bukan masalah. Tidak pernah pikirannya merasa susah.

Berikutnya: majas
Para ahli bahasa telah merumuskan majas, coba kita terapkan ke dalam tulisan
Dengan majas, tulisan kita bisa lebih manis dan indah
Majas banyak macamnya,
Antara lain majas perbandingan
3 Jenis majas perbandingan: simile, metafora, dan personifikasi
Majas simile adalah majas perumpamaan, gaya bahasa yang menggunakan kata bagaikan, laksana, seumpama, bak, laksana, seperti, bagai, serupa, dan sebagainya.
Coba terapkan itu dala tulisan Anda

Majas metafora mengumpamakan sesuatu secara langsung, tanpa menggunakan kata bagaikan, laksana, dan sebagainya. Misal: Wahai perawan kamu piring, satu kali pecah susah bagimu memperbaikinya.

Majas personifikasi: majas yang menjadika benda-benda mati seolah bisa berbuat seperti manusia. Misalnya, kursi termenung, tembok bengong, dua mobil ciuman, dan sebagainya.

Masih banyak jenis majas.

Silakan cari, pelajari dan terapkan. Coba terapkan itu dalam tulisan Anda, selipkan, insya Allah karyamu akan menjadi sesuatu yang unik.

Jangan malas, harus kerjas keras.

Penulis sekelas Asma Nadia saja, bisa sampai 20-30 kali pengeditan sebelum tulisannya diterbitkan.

Jika Anda, baru empat lima pengeditan sudah menyerah, maka, tekad Anda menulis harus dipertanyakan.


Monday, April 25, 2016

MEMPERTANYAKAN KONSEP PERCAYA DIRI

Dulu kurang berani membicarakan  ini lebih terbuka sebab saya pikir pemikiran ini keliru. Akan tetapi semakin ke sini semakin banyak menemukan fakta, dan menemukan banyak orang dengan pemikiran yang sama, akhirnya kegalauan ini saya tuliskan.

Tentang rasa percaya diri, benarkah itu sebuah kebenaran?

Dua kali saya bergaul akrab dengan sosok orang yang mengagung-agungkan rasa percaya diri, dua kali juga saya menemukan fenomena memilukan: keduanya mengalami keterpurukan. Kedua orang itu mengira rasa percaya diri bisa membuat mereka hebat. Iya memang saat itu mereka sedang jaya-jayanya, membangun sebuah lembaga pendidikan, dan banyak orang datang. Nyaris kepada setiap tamu kesuksesan itu terus mereka bangga-banggakan sambil berkata "saya" dan "saya" ... oleh saya dan oleh saya, karena saya dan karena saya.

Harusnya saya menegur tapi tidak berani. Pengecut diri mencegah dengan pikiran, misalpun saya mengingatkan dia, pasti mereka membantah karena merasa lebih pintar. Hanya bisa diam memendam penasaran, akan bernasib apakah lembaga yang mereka bangun ini berikutnya. Selama ini, yang saya tahu dari pelajaran agama, dari ayat suci yang saya pelajari dan sunnah yang saya baca, orang-orang yang suka membanggakan diri terancam kehancuran. Ini hukum yang Allah sudah berlaku pada orang-orang terdahulu, pasti berlaku pula buat orang-orang sekarang.

Dalam Al-Qur'an berkali-kali Allah mengingatkan, keberhasilan apa saja yang manusia dapatkan. Kedudukan mulia yang diraih Sulaiman, kekuatan Daud yang sanggup mengolah perkakas besi hanya dengan menggunakan tangan, kekayaan Ayyub dan kebahagiaan keluarganya, dan kesabaran Nabi Muhammad, itu bukan atas kemampuan dirinya melainkan atas kehendak Allah. Jadi tiada alasan buat manusia berbangga-bangga. Dan siapa saja membangga-banggakan diri berarti dia telah melawan. Siapa saja percaya diri dengan percaya semua itu terjadi atas kehebatan dirinya maka berarti dia melawan. Siapa saja melawan berarti menabrak tembok. Mobil yang menabrak tembok akan mengalami kehancuran. Lalu saya bertanya, apakah orang-orang ini akan mengalaminya juga?

Eh ternyata benar, cerita mereka berikutnya sangat memilukan. Yang satu sampai bangunan pendidikannya dijual jadi rumah orang. Satu lagi perguruan tinggi direbut lalu dikuasai orang lain.

Percaya Diri
Sebenarnya konsep ini ajaran siapa?

Saya menelaah Al-Qur'an, rasa percaya diri lebih banyak ditunjukkan oleh orang-orang durhaka
Fir'aun dengan kata-katanya, "Akulah Rabb kalian yang maha tinggi."

Qarun dengan kata-katanya, "Semua kekayaan ini disebabkan oleh pengetahuan yang ada padaku"
Saking percaya dirinya sampai Fir'aun mengaku dirinya Tuhan.

Saking percaya dirinya, Qarun sampai berani mengakui semua kekayaan itu dia dapatkan karena ilmu yang dia punya.

Begitulah, rasa percaya diri dalam Al-Qur'an lebih banyak ditunjukkan para sesepuh kafir.

Sebaliknya orang-orang shalih seperti para Nabi, Al-Qur'an menggambarkan mereka sebagai sosok-sosok yang tidak percaya diri.

Nabi Musa bersama ketakutannya, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku." (26:12) Dia pun pernah berkata, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku." (28:33) Tatkala dalam pengembaraan dia merasakan kelelahan, Nabi Musa tidak berkata, "Aku Bisaa!!!!!"seperti yang biasa diajarkan para motivator jaman sekarang. Tidak. Nabi Musa duduk bersandar ke pohon sambil berkata, "Rabbi sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan yang Engkau turunkan."

Nabi Zakariya merasaka ketidakpercayadirian. Ketika Allah sampaikan kepadanya bahwa istri Nabi Zakariya tengah mengandung seorang anak, maka Nabi Zakariya merasakan ketidakpercayadiriannya dengan mengatakan, bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal rambutku telah penuh uban dan tulang-belulangku sudah begitu lemah sedang istriku seorang mandul tidak bisa mempunyai anak. Kemudian Allah sampaikan, bahwa menjadikan seorang wanita mengandung itu amatlah mudah bagi Allah, karena untuk menciptakan sesuatu bagi Allah tinggal menyebut "Jadilah!" maka jadilah sesuatu itu.

Nabi Adam tatkala diturunkan ke bumi dan dipisahkan dengan istrinya, Hawa, beliau tidak teriak peun percaya diri "Aku Bisa! Aku pasti menemukannya!!!" I can!!!" ... tidak. Beliau malah mengadu kepada Allah mengakui dirinya seorang dzalim, telah mendzalimi diri sendiri, dan seandainya Allah tidak mengampuninya benar-benar dia akan menjadi orang-orang yang rugi.

Bahkan Nabi Yusuf yang berkata, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan."? (Yusuf: 55) itu bukan timbul dari rasa pecaya diri melainkan lebih sebagai penentuan pilihan atas kedudukan yang raja Mesir tawarkan kepadanya. (Yusuf: 54) Saat itu raja mengatakan akan menjadikan Yusuf  orang yang dekat kepadanya, maka Yusuf memilih jadi bendaharawan yang mengatur urusan pangan.

Itulah sebabnya, dalam ayat berikutnya Allah tegaskan, bahwa kedudukan yang Nabi Yusuf dapatkan itu bukan atas kemampuan Yusuf sendiri melainkan atas karunia-Nya. "Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir, ... " ( Yusuf: 56)

Sama sekali bukan timbul dari rasa percaya diri, sebab sebelum itu pun Nabi Yusuf berkata tentang dirinya yang tidak pernah bisa luput dari kesalahan, "Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan,.. " (Yusuf: 53)

Bukan percaya diri yang diajarkan Al-Qur'an, melainkan percaya Allah. Bukan mengagung-agungkan diri yang diajarkan Al-Qur'an, melainkan mengagungkan Allah.

Jadi jelas berdasarkan temuan saya, ercaya diri hanyalah konsep haram jadah yang sumbernya entah dari mana dan siapa pencetusnya. Siapa saja mengagungkan rasa percaya diri dia telah menabrak. Mobil menabrak tembok biasanya penyok, jadi siap-siaplah. Percaya diri menjadika pemimpin kapal Titanic Arogan menatang Tuhan dan tahu sendiri seperti apa nasib kapal itu akhirnya. Begitu percaya dirinya pembuat pesawat ke luar angkasa sampai menamakan karyanya Chalenger (menantang) lalu diterbangkan tahun 1986 dan hanya butuh beberapa detik untuk meledak, 7 orang meninggal.

Saturday, April 23, 2016

BUNCIS!!!!

"Judul seminarnya apa Mbak?"

"Menjadi Muslimah Tegar."

"Muslimah?"

"Iya, kenapa?"

"Seminar ibu-ibu dong?"

"Ada anak remajanya juga."

"Itu buat wanita."

"Masalahnya?"

"Saya seorang pria, kurang baik mengisi materi di forum wanita."

"Sekali ini saja Mas. Toh ustadz lain pun banyak yang melakukan."

"Itu ustadz lain Mbak, saya belum sampai ilmunya."

"Sekali ini saya Mas."

"Duh, gimana ya. Tapi apa Mbak tidak salah pilih orang?"

"Salah kenapa?"

"Pembicara lain kan banyak."

"Mas Dana penulis, bisa memilih diksi-diksi yang manis, lagi pula biasanya penulis biasa berpikir sistematis."

"Wah Si Mbak benar-benar salah pilih orang. Itu penulis buku Mbak, saya ini cuma penulis status facebook. Penulis buku biasa berpikir sistematis, terususun, tertib, rapi. Penulis status facebook, penulis seingatnya."

"Setidaknya punya keterampilan berbahasa."

"Berbahasa sih bisa, terampil tidak."

"Ayolah Mas."

Lagi pula, nih orang kok manggil saya Mas. Saya ini bukan Mas Mas. Mas itu buat suku Jawa. Saya suku Sunda, biasa disebut Kang Kang. Tapi biarlah, terserah dia mau manggil apa. Masih untung tidak dipanggil Mblo.

"Gimana ya Mbak, sanggup sih sanggup. Tapi Mbak dan panitia harus siap kecewa."

"Oh sudah jauh-jauh hari. Kami sudah siap kecewa. Wong baru liat tampangnya saja Mas Dana sudah mengecewakan!"

Buncis!!!

"Siap ya Mas!"

"Ok."

Apa yang harus saya persiapkan. Materinya apa. Mengingat judul seminar "Menjadi Muslimah Tegar" seketika teringat buku yang menceritakan para muslimah dengan segala cobaan rumah tangganya. Buku sampul biru tua dengan judul menggambarkan kemanusiaan.

Dari tumpukan koleksi, buku itu saya ambil dan baca. Karena sebagian besar isinya nyata, dengan sangat lancar saya bisa membaca. Sekali membaca, langsung membekas. Mudah sekali membekas sebab buku itu kumpulan curhat muslimah, disaripatikan dari kehidupan para muslimah bersama sebagian pahit getir hidupnya.

Rasa senang makin  berlipat manakala sadar telah menemukan buku yang tepat. Buku ini pilihan tepat dengan tiga alasan. Alasan pertama, ini buku tentang muslimah dan ini sangat cocok dengan peserta dari seminar yang akan saya isi nanti yaitu para muslimah. Alasan kedua, buku ini tentang cobaan hidup para muslimah dan ini sangat cocok dengan tema yang akan saya bicarakan nanti yaitu tentang ketegaran. Alasan ketiga, buku ini berbentuk kisah jadi sebagian besar materi nanti akan saya sajikan dalam kemasan kisah-kisah.

Berulangkali menjadi penceramah, saya rasakan berkisah ini sangat memudahkan. Memudahkan saya sebagai pembicara, juga memudahkan pemahaman pendengar. Terlebih lagi secara naluriah, wanita memng makhluk penyuka cerita. Di mana-mana, obrolan mereka rata-rata cerita. Ngerumpi di teras, di mobil angkutan, di perjalanan, di sawah-sawah, di pematang-pematang, apa yang mereka bicarakan rata-rata cerita. Cerita tentang dirinya, tentang suaminya, tetang anaknya, tentang tetangganya, tentang ayahnya, ibunya, temannya, atau, tentang film yang mereka tonton. Mereka makluk penyuka cerita, jadi pastinya, perhatian mereka dengan sangat mudah terpusat manakala materi saya sajikan via cerita.

Dan memang benar, tiba waktunya seminar dan cerita-cerita itu saya tuturkan, ruangan seketika senyap tanpa seorang pun bicara selain saya yang meski bersuara cempreng terkadang gagap, namun dengan penuh antusias hadirin mau mendengar. Tak jelas sebabnya apa, mungkin karena cerita saya sampaikan dengan penuh perasaan.

Tatkala menuturkan seorang istri yang di rumahnya sendiri menemukan seorang wanita telanjang sedang tidur di kamar dan terpaksa setelah itu harus mengalami perceraian dan kehilangan anak. Tatkala menuturkan kisah muslimah dengan awal rumah tangga indah penuh kemesraan namun dalam perjalanan batu sandungan saat menemukan SMS mesra di handphone suaminya, "Sayang, sedang apa, jangan terlambat makan ya!" itu adalah pesan di kotak keluar untuk penerima bernama Spongeboob. Dan kisah-kisah lainnya, seperti ombak pantai Pangandaran, perlahan, perlahan, perlahan, membesar, pecah, begitu antara lain teknik saya dalam bercerita.

Satu jam berlalu tak terasa, tiba saatnya ceramah harus saya pungkas "Dua hal kita butuhkan biar tabah menjalani musibah. Pertama, bersiap. Kedua, jika terjadi maka ucapkanlah "Innalillah.""

*   *   *

"Maaf Mbak, saya tidak bisa menerimanya."

"Terimalah Mas." dia terus menyodorkan amplop. Cukup tebal.

"Maaf Mbak, tidak usah. Saya tidak bisa menerimanya."

"Kalau Mas tidak mau terima ini sebagai honor, anggaplah ini hadiah, bentuk rasa terima kasih kami karena Mas sudah mau datang dan berbagi."

"Tidak Mbak, saya tidak bisa menerimanya."

"Kenapa tidak bisa Mas?"

"Jelas tidak bisa Mbak, ini kan cerita fiksi, ini cerita khayalan."

Buncis!!!

Friday, April 22, 2016

NOVEL HUJAN

Menutup halaman terakhir novel hujan, bersama setitik air di sudut mata. Bener kata orang, Tere Liye kalau nulis suka menyentuh. Betul kata orang, buku Tere Liye banyak kata-kata menariknya. Betul kata orang, cerita Tere Liye tidak biasa. Betul kata orang, Endingnya tidak terduga.

Betul-betul mempermainkan pembaca.

Berkali-kali membaca testimoni orang, novel Tere Liye nyaris semuanya bagus. Tapi dari yang sekian banyak itu, baru novel Hujan yang berhasil tamat. Ini pun karena tertarik, setelah seorang teman membeli.

Padahal si teman kurang begitu suka membaca, tapi dia sampai mau membelinya, ini luar biasa.

Memangnya sebagus apa sih?

Penasaran. Maka saya lancarkan strategi licik. Saat seorang pembeli berkata, ingin membeli novel Hujan, saya katakan padanya, bolehkah saya membacanya dahulu?

Mulanya dia menolak.

Saya mengalah, baiklah...

Tapi kemudian, dia katakan itu bercanda. Boleh, katanya

Wah, menyenangkan.

Segel novel dibuka, dibungkus rapi dengan plastik mika, yang licin keras, dan mulailah membaca..

Sampai saat beberapa halaman terakhir hendak dihabiskan, berluncuran kata-kata mutiara yang sangat mengesankan.

"Ibu juga akan kehilangan putra terakhir ibu. Tapi tak mengapa, toh semua akan kalah oleh waktu. Ibu belajar banyak, bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, marah-marah, tapi pada akhirnya dia merasa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri."

-------

"Bukankah saat dia mencintai Esok, maka yang paling berharga justru adalah perasaan cinta itu sendiri? Sesuatu yang mulia di dalam hatinya. Bukan soal memiliki, bukan tentang bersama esok."

-------

Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.

Ending yang cantik!

Wednesday, April 20, 2016

CARA MUDAH MENGHALUSKAN KETUMBAR

Hujan sejak fajar. Subuh reda, keluar,  sisa gerimis masih kasar. Kasar menimpa baju, ramput, pipi, menampar-nampar. Jalan kaki ini menuju ke pasar, hendak menbeli lada dan ketumbar. Sejak sebelum subuh punya rencana melakukan apa yang pernah ibu ajar.

Dan sepertinya akan sangat mengasyikkan. Pernah ibu saya menceritakan, sebuah cara menghaluskan ladan dan ketumbar termudah, dan sekarang saya ingin mempraktikkan.

Keinginan ini bermula dari masak tempe, toge dan kacang panjang. Memotong-motong kemudian membubuhkannya kepada tumisan bawang. Saya taburkan gula, garam tanpa dikur tanpa ditimbang. Dikira-kira saja, asal jangan terlalu lebih terlalu kurang. Beberapa saat di panci dibiarkan mengembang. Eh bukan roti, jadi bukan mengembang, maksud saya, dibiarkan sedikit matang. Bersama nasi saya coba cicip rasanya kok hambar. Sepertinya kurang bumbu, tapi harus tambah lagi apa.

Sepertinya kurang lada, pikir saya. Bumbu satu itu memang punya ciri khas dan sangat cocok buat masak sayuran. Selain seledri, pada sop pun lada menjadi pelengkap yang tak bisa ditinggalkan. Itulah sebabnya pagi ini saya berniat belanja lada sekalian ketumbar. Ada tempe di kulkas, mau coba saya masak sambal goreng dan itu membutuhkan ketumbar.

Seorang ibu menunggui jualan sayurannya sedang sibuk melayani pembeli. Hujan membuatnya harus menutupi sebagian permukaan jualan. Saya tanyakan kepadanya apakah ada lada? Karena ramai, sepertinya dia kurang mendengar. Saya ulang, ada lada? pedes? Dia katakan, ada tapi hanya yang bubuk tidak ada lada bulat-bulat. 

Hanya ada ketumbar.

Saya beli saja ketumbar. Kembali berjalan mencari kios lain dan masya Allah, pemandangan pasar saat ini sangat indah. Sudah jelas sebelumnya pun pasar ini kotor dan berantakan, sekarang ditambah lagi hujan. Masya Allah itu ucapan buat kekaguman, dan memang saya pun mengucapkan ini buat kekaguman dan kebahagiaan, karena memang pemandangan inilah yang sekarang sedang saya butuhkan. Sebuah website sedang mengadakan lomba foto pasar rakyat, dan saya sedang mencoba mengikutinya, dan ini adalah saat yang tepat. Hujan, air menetes-netes dari atap setiap kios berjatuhan ke bawah, sebagian menjadi tempias, dan yang luar biasa, lantai pasar yang sebelumnya becek, bau busuk, penuh kencing dan kotoran tikus sekarang penuh air tergenang. Kaki saya sampai tercebur ke parit dalam. Sejak tadi, sejak melangkah di lorong-lorong pasar dan kaki tenggelam rasa jijik terus ditahan-tahan, sekarang malah harus kecebur ke parit, maka sekaligus kaki ini ditarik, dan naas... tali sandal putus. Maka saya coba tarik perlahan. Dapat, lalu tampak tali sandal benar-benar putus. Oh bukan putus, hanya lepas, dan bisa dimasukkan, tapi mencoba kembali memasukkannya namun gagal.

Oh ya, lada berhasil didapat dari seorang ibu penjual bumbu-bumbuan.

Dibawa kembali ke penginapan, dan rencana siap dijalankan. Dari dalam rak, sebuah wadah berbentuk mangkuk saya ambil. Itu bagian atas blender lengkap dengan pisau penggilingnya. Mesin blenderya saya ambil dari bawah rak buku. Itu blender di bawa dari kampung pemberian ibu. Tidak digunakan lagi karena dianggap rusak, karet pemutar gelas buat gelas penggiling buahnya hancur tak bisa lagi dipakai. Jadi tinggal penggiling berbentuk mangkuk kecilnya. Mangkuk kecil itulah yang rencananya akan saya jadikan penggiling lada dan ketumbar.

Begitulah ibu saya mengajarkan cara menggiling dua benda bulat-bulan kecil itu supaya jangan sampai lelah menghaluskannya dengan ulekan. Dan memang menyenangkan. Saya sobek bagian bawa kantong plastik lada itu kemudian masukkan ke dalam mangkuk, menyambungkannya dengan mesin penggiling dan nggguuuiiiingggg, suara berisik memenuhi ruangan penginapan. Berisik sekali dan pasti ini sangat mengganggu Wiro yang sedang tidur. Nggak papa, sengaja supaya dia bangun, supaya shalat shubuh, supaya jangan sampai subuh siang seperti biasanya. Merasa sudah halus, mesin saya matikan dan buka. Masih belum halus juga, kembali dimasukkan, mesin dinyalakan. Nguiingg, berisik kembali mengganggu ruangan. Biar Wiro bangun, tapi malah menutupkan selimutnya. Mungkin dia memang mau tidur terus dengan rencana bangun nanti siang. Biasanya jam delapanan. Lada halus, kembali menggiling ketumbar. Nguingg bbbrrrrrrrrrr, suara berisik kembali memenuhi ruangan, kali ini cukup lama. MengangguWiro yang sedan tidur tak mengapa. Sengaja, biar dia bangun, Wudlu san subuh, tapi masih juga tidak. Sampai penggilingan selesai, Wiro masih saa di kasur berbaring nyenyak.

Dua kantung lada bubuk dan ketumbar bubuk, siap digunakan.

SUDUT PANDANG

Seringkali foto jadi sangat menarik bukan disebabkan menarik objeknya, melainkan sudut pandang. Seperti itu jugalah tulisan. Tema biasa bisa menjadi sangat menarik saat penulis lihai dalam urusan sudut pandang.

Sudut pandang seorang anak
Sudut pandang seorang remaja
Sudut pandang seorang yang sedang bahagia
Sudut pandang seorang yang sedang berduka cita
Sudut pandang seorang ceria, pencinta humor,

Seorang humoris akan memandang banyak hal dari sisi humornya.

Yang terjadi pada buku humortivasi: begitulah.

Pertama kali melihat buku itu saat hendak shalat. Di antara tumbukan buku dan barisan meja di kantor penerbitan. Sudut mata menangkap sebundel kertas yang disatukan dengan hekter. Bukan buku, melainkan bundelan kertas yang masih membutuhkan editan. Tapi ceritanya, telah cukup jelas terbaca. Sebuah cerita lucu tentang seorang anak yang berdialog dengan orang tuanya tentang bagaimana keadaan seorang yang mabuk. Dari dalam mobil bapaknya menjelaskan sambil menunjuk ke jalan, "Bagi seorang pemabuk, dua orang polisi yag sedang berdiri di jalan itu akan terlihat empat orang."

Si anak heran, kemudian berkata, "Lho kok, itu polisi kan cuma ada satu orang Pak!"

Shalat pun menjadi agak telat karena harus mendamaikan dulu pikiran, melupakan humor yang baru saja saya baca. Oh ini ternyata bahan buku yang dulu Pak Isa rencanakan.

Dan sepotong kebersamaan dalam sebuah perjalanan itu kembali terulang. Waktu itu sepulang workshop kepenulisan, dari mobil pribadi yang menuju rumah, Pak Isa dan saya turun, pindah ke taksi untuk menuju kantor penerbitan di Jalan Margonda Depok. Sedang santai di mobil, Pak Isa bercerita, jika dia punya rencana menyusun motivasi dengan kemasan berbeda. Humor, dengan kemasan itu maka motivasi bisa dicerna lebih renyah.

Sekarang, buku itu telah ada. Dan sangat menyenangkan ketika saya diminta membaca ulang dan mengoreksi kekeliruan. Sebenarnya saya sedang mendapatkan tugas, mendapatkan pekerjaan, mendapatkan tuntutan, tapi mendapatkan tugas membaca ulang buku itu, rasanya tidak sedang mendapatkan tugas. Serasa mendapatkan apa ya? Serasa diberi apa ya?

Ibaratnya diberi hiburan. Ibaratnya disuruh facebookan.

Dan ketika mulai membaca, dari lembar ke lembar, saya jadi seperti orang gila, ketawa-ketawa sendirian, Maka sengaja, membaca buku ini mencari tempat sunyi di belakang gudang di lantai empat.

Sambil mendapatkan pencerahan, membaca buku ini pun bisa sambil mendapatkan kegembiraan, sebab itulah tadi, buku ini menyajikan motivasi melalui sebuah keunikan sudut pandang. Sudut pandang  humor.

Monday, April 18, 2016

BUBUR KACANG RASA DENGKI

Betapa miskinnya saya sampai urusan uang lima ribu saja jadi masalah.

Ke kantor, sore hari rutin datang seorang ibu penjual gorengan. Harganya terbilang mahal, lima ribu empat, padahal penjual lain menjual lima ribu lima. Apalagi yang jualan pagi, tuh tukang gorengan roda pinggir jalan, ada yang menjual lima ribu enam. Bahkan ada yang sampai bisa lima ribu tujuh. Ini lima ribu empat. Saya jadi sungkan. Jika datang, saya suka cuek tak mau membeli.

Kecuali saat Pak Isa ada. Karena biasanya dia yang bayar, saya antusias mengambil. Bubur kacang, tahu isi, mendoan, comro, bawa dan makan dengan bahagia. Saat Pak Isa tidak ada, jajan pun malas. Meski terdengar teriakan dari lantai dua ada tukang gorengan, saya tetap diam. Lalu tertawa sendirian.

"Kenapa ketawa?" tanya seorang kecil, tapi sebenarnya dia karyawan juga, bagian desain.

"Tidak ada Pak Isa, turun pun sungkan." sebenarnya tak hanya membicarakan diri saya. Orang lain juga begitu, saat Pak Isa tak ada, semua pada diam.

Dan sore ini terdengar teriakan. "Bubur kacang, gorengan!!"

"Wah, jajan gratis nih." teriak otak. Cepat tangga. Kamu sudah tau alasannya kenapa. Pak Isa ada. Sampai di lantai dua, tampak si ibu bersama jualannya. Terhampar di teras. Orang-orang sudah mengambil dan makan, tinggal saya. Mengambil bubur kacang tapi pergi begitu saja rasanya malu, maka saya bertanya dulu pada si ibu tukang gorengan, "Ini dibayar oleh Bapak?" maksud saya, apakah ini akan dibayar Pak Isa?

"Tidak tahu." jawab si Ibu, membuat saya bingung. Akhirnya, kepada kerumunan karyawan yang sedang makan gorengan bersama saya bertanya, "Apakah itu dibayar oleh Bapak?"

"Ini sih dibayar sendiri." salah seorang menjawab,

"Oh"

Tidak mungkin saya batalkan beli bubur kacang. Memalukan. Gundah uang lima ribu saya keluarkan dari saku celana. Kusut sekali uang itu bercampur baur dengan uang lain, berbelit-belit, san tampak sangat rumit, serumit otak saya yang sering dirumitkan rasa pelit, seperti kini saat rasa pelit menggigit merasakan sayangnya jajan gorengan harus membayar sendiri.

Selembar lima ribu rupiah sampai di tangan si ibu. Bubur kacang di tangan, lalu dengan pura-pura gembira, saya ucapkan terima kasih dan segera naik ke atas. Menggigit ujung kantong bubur kacang, meminumnya sedikit, kemudian masukkan ke dalam gelas. Sesendok demi sesendok saya suapkan.

Sejenak kemudian, kepada teman kerta satu lantai bertanya, "Tadi kamu mengambil bubur kacang membayar?"

"Tidak. Kan biasanya dibayar Pak Isa."

"Waduh, saya mah bayar."

Perut jadi panas, bergolak, menjatuhkan badan ke kursi kerja, keluar umpatan, "Anjrit!!"

Orang-orang kaget mendengar saya bicara kasar.

"Waduh, saya kira orang lain bayar masing-masing. Si ibu sih, pas saya tanya, ini dibayar sama Bapak gak? Dia jawab, gak tahu. Ya saya bayar. Eh ternyata orang lain enggak."

Perut bergolak.

Manis legit bubur kacang jadi tak terasa. Sendok demi sendok angkat dan masukkan ke mulut, nafsu pendorong bukan lagi nafsu makan, tapi nafsu amarah. Gemas, kesal, kenapa harus bayar. Mengingat orang lain ngambil tak bayar, paru-paru mengkerut. Mendenguskan nafas panjang. Sebal.

Sedang begitu, Diyan, editor yang setiap hari pulang pergi kerja naik angkot muncul dari tangga. Mata segera menangkap tangannya. Dia bawa bubur kacang juga. Dan sebal semakin besar, saat tahu dia pun tidak bayar.

"Diyan... " curhat saya.

"Apa?"

"Bubur kacang saya rasanya beda."

"Beda kenapa?"

"Penuh rasa iri dan dengki. Orang lain tidak membayar, tapi saya bayar."

Orang-orang tertawa. Lebih tepatnya mentertawakan. Mentertawakan kemalangan saya. Itu yang terasa.

Haufff! Haufff!! Hauff!! bubur terus masuk mulut. Suap demi suap bukan nikmat yang terasa, tapi kesal.

Mengangkat gelas, terlihat bubur nyaris habis.

Memikirkan kelakukan sendiri barusan, terasa heran.

Kok bisa, hanya sebab uang lima ribu rupiah sampai harus hilang kebahagiaan. Hanya karena keluar uang lima ribu perak sampai uring-uringan.

Betapa miskinnya saya.

Teringat Pak Isa. Dia tak pernah takut melarat. Bayar jajan karyawan padahal omset sedang rendah tak masalah. Tidak takut kekurangan. Ada karyawan ulang tahun, dia suruh semua karyawan cari rumah makan porsi mahal, dan traktir makan. Hari berikutnya ulang tahun lagi karyawan lain, dia traktir lagi semua makan. Beberapa hari berikutnya ada anak selesai magang, dia rayakan juga dengan traktir makan. Dan satu kali traktir makan, uang yang keluar bukan lagi ratusan ribu, tapi lebih dari satu juta. Ngajak jalan-jalan ke mana, pasti akhirnya mentraktir makan. Dia kaya bukan sekedar harta, tapi juga perasaan. Pikiran dan hatinya tidak menjadi sempit karena mentraktir makan.

Lha saya sekarang, hanya keluar uang lima ribu rupiah, dan ini pun uang dari pemberian dari Pak Isa, dari gaji bulanan kerja, dan ini pun buat dimakan diri sendiri, sampai harus marah-marah.

Menyedihkan!

Mau Betulin Hape