Monday, April 18, 2016

BUBUR KACANG RASA DENGKI

Betapa miskinnya saya sampai urusan uang lima ribu saja jadi masalah.

Ke kantor, sore hari rutin datang seorang ibu penjual gorengan. Harganya terbilang mahal, lima ribu empat, padahal penjual lain menjual lima ribu lima. Apalagi yang jualan pagi, tuh tukang gorengan roda pinggir jalan, ada yang menjual lima ribu enam. Bahkan ada yang sampai bisa lima ribu tujuh. Ini lima ribu empat. Saya jadi sungkan. Jika datang, saya suka cuek tak mau membeli.

Kecuali saat Pak Isa ada. Karena biasanya dia yang bayar, saya antusias mengambil. Bubur kacang, tahu isi, mendoan, comro, bawa dan makan dengan bahagia. Saat Pak Isa tidak ada, jajan pun malas. Meski terdengar teriakan dari lantai dua ada tukang gorengan, saya tetap diam. Lalu tertawa sendirian.

"Kenapa ketawa?" tanya seorang kecil, tapi sebenarnya dia karyawan juga, bagian desain.

"Tidak ada Pak Isa, turun pun sungkan." sebenarnya tak hanya membicarakan diri saya. Orang lain juga begitu, saat Pak Isa tak ada, semua pada diam.

Dan sore ini terdengar teriakan. "Bubur kacang, gorengan!!"

"Wah, jajan gratis nih." teriak otak. Cepat tangga. Kamu sudah tau alasannya kenapa. Pak Isa ada. Sampai di lantai dua, tampak si ibu bersama jualannya. Terhampar di teras. Orang-orang sudah mengambil dan makan, tinggal saya. Mengambil bubur kacang tapi pergi begitu saja rasanya malu, maka saya bertanya dulu pada si ibu tukang gorengan, "Ini dibayar oleh Bapak?" maksud saya, apakah ini akan dibayar Pak Isa?

"Tidak tahu." jawab si Ibu, membuat saya bingung. Akhirnya, kepada kerumunan karyawan yang sedang makan gorengan bersama saya bertanya, "Apakah itu dibayar oleh Bapak?"

"Ini sih dibayar sendiri." salah seorang menjawab,

"Oh"

Tidak mungkin saya batalkan beli bubur kacang. Memalukan. Gundah uang lima ribu saya keluarkan dari saku celana. Kusut sekali uang itu bercampur baur dengan uang lain, berbelit-belit, san tampak sangat rumit, serumit otak saya yang sering dirumitkan rasa pelit, seperti kini saat rasa pelit menggigit merasakan sayangnya jajan gorengan harus membayar sendiri.

Selembar lima ribu rupiah sampai di tangan si ibu. Bubur kacang di tangan, lalu dengan pura-pura gembira, saya ucapkan terima kasih dan segera naik ke atas. Menggigit ujung kantong bubur kacang, meminumnya sedikit, kemudian masukkan ke dalam gelas. Sesendok demi sesendok saya suapkan.

Sejenak kemudian, kepada teman kerta satu lantai bertanya, "Tadi kamu mengambil bubur kacang membayar?"

"Tidak. Kan biasanya dibayar Pak Isa."

"Waduh, saya mah bayar."

Perut jadi panas, bergolak, menjatuhkan badan ke kursi kerja, keluar umpatan, "Anjrit!!"

Orang-orang kaget mendengar saya bicara kasar.

"Waduh, saya kira orang lain bayar masing-masing. Si ibu sih, pas saya tanya, ini dibayar sama Bapak gak? Dia jawab, gak tahu. Ya saya bayar. Eh ternyata orang lain enggak."

Perut bergolak.

Manis legit bubur kacang jadi tak terasa. Sendok demi sendok angkat dan masukkan ke mulut, nafsu pendorong bukan lagi nafsu makan, tapi nafsu amarah. Gemas, kesal, kenapa harus bayar. Mengingat orang lain ngambil tak bayar, paru-paru mengkerut. Mendenguskan nafas panjang. Sebal.

Sedang begitu, Diyan, editor yang setiap hari pulang pergi kerja naik angkot muncul dari tangga. Mata segera menangkap tangannya. Dia bawa bubur kacang juga. Dan sebal semakin besar, saat tahu dia pun tidak bayar.

"Diyan... " curhat saya.

"Apa?"

"Bubur kacang saya rasanya beda."

"Beda kenapa?"

"Penuh rasa iri dan dengki. Orang lain tidak membayar, tapi saya bayar."

Orang-orang tertawa. Lebih tepatnya mentertawakan. Mentertawakan kemalangan saya. Itu yang terasa.

Haufff! Haufff!! Hauff!! bubur terus masuk mulut. Suap demi suap bukan nikmat yang terasa, tapi kesal.

Mengangkat gelas, terlihat bubur nyaris habis.

Memikirkan kelakukan sendiri barusan, terasa heran.

Kok bisa, hanya sebab uang lima ribu rupiah sampai harus hilang kebahagiaan. Hanya karena keluar uang lima ribu perak sampai uring-uringan.

Betapa miskinnya saya.

Teringat Pak Isa. Dia tak pernah takut melarat. Bayar jajan karyawan padahal omset sedang rendah tak masalah. Tidak takut kekurangan. Ada karyawan ulang tahun, dia suruh semua karyawan cari rumah makan porsi mahal, dan traktir makan. Hari berikutnya ulang tahun lagi karyawan lain, dia traktir lagi semua makan. Beberapa hari berikutnya ada anak selesai magang, dia rayakan juga dengan traktir makan. Dan satu kali traktir makan, uang yang keluar bukan lagi ratusan ribu, tapi lebih dari satu juta. Ngajak jalan-jalan ke mana, pasti akhirnya mentraktir makan. Dia kaya bukan sekedar harta, tapi juga perasaan. Pikiran dan hatinya tidak menjadi sempit karena mentraktir makan.

Lha saya sekarang, hanya keluar uang lima ribu rupiah, dan ini pun uang dari pemberian dari Pak Isa, dari gaji bulanan kerja, dan ini pun buat dimakan diri sendiri, sampai harus marah-marah.

Menyedihkan!

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape