Friday, April 22, 2016

NOVEL HUJAN

Menutup halaman terakhir novel hujan, bersama setitik air di sudut mata. Bener kata orang, Tere Liye kalau nulis suka menyentuh. Betul kata orang, buku Tere Liye banyak kata-kata menariknya. Betul kata orang, cerita Tere Liye tidak biasa. Betul kata orang, Endingnya tidak terduga.

Betul-betul mempermainkan pembaca.

Berkali-kali membaca testimoni orang, novel Tere Liye nyaris semuanya bagus. Tapi dari yang sekian banyak itu, baru novel Hujan yang berhasil tamat. Ini pun karena tertarik, setelah seorang teman membeli.

Padahal si teman kurang begitu suka membaca, tapi dia sampai mau membelinya, ini luar biasa.

Memangnya sebagus apa sih?

Penasaran. Maka saya lancarkan strategi licik. Saat seorang pembeli berkata, ingin membeli novel Hujan, saya katakan padanya, bolehkah saya membacanya dahulu?

Mulanya dia menolak.

Saya mengalah, baiklah...

Tapi kemudian, dia katakan itu bercanda. Boleh, katanya

Wah, menyenangkan.

Segel novel dibuka, dibungkus rapi dengan plastik mika, yang licin keras, dan mulailah membaca..

Sampai saat beberapa halaman terakhir hendak dihabiskan, berluncuran kata-kata mutiara yang sangat mengesankan.

"Ibu juga akan kehilangan putra terakhir ibu. Tapi tak mengapa, toh semua akan kalah oleh waktu. Ibu belajar banyak, bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, marah-marah, tapi pada akhirnya dia merasa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri."

-------

"Bukankah saat dia mencintai Esok, maka yang paling berharga justru adalah perasaan cinta itu sendiri? Sesuatu yang mulia di dalam hatinya. Bukan soal memiliki, bukan tentang bersama esok."

-------

Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.

Ending yang cantik!

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape