Dulu kurang berani membicarakan ini lebih terbuka sebab saya pikir pemikiran ini keliru. Akan tetapi semakin ke sini semakin banyak menemukan fakta, dan menemukan banyak orang dengan pemikiran yang sama, akhirnya kegalauan ini saya tuliskan.
Tentang rasa percaya diri, benarkah itu sebuah kebenaran?
Dua kali saya bergaul akrab dengan sosok orang yang mengagung-agungkan rasa percaya diri, dua kali juga saya menemukan fenomena memilukan: keduanya mengalami keterpurukan. Kedua orang itu mengira rasa percaya diri bisa membuat mereka hebat. Iya memang saat itu mereka sedang jaya-jayanya, membangun sebuah lembaga pendidikan, dan banyak orang datang. Nyaris kepada setiap tamu kesuksesan itu terus mereka bangga-banggakan sambil berkata "saya" dan "saya" ... oleh saya dan oleh saya, karena saya dan karena saya.
Harusnya saya menegur tapi tidak berani. Pengecut diri mencegah dengan pikiran, misalpun saya mengingatkan dia, pasti mereka membantah karena merasa lebih pintar. Hanya bisa diam memendam penasaran, akan bernasib apakah lembaga yang mereka bangun ini berikutnya. Selama ini, yang saya tahu dari pelajaran agama, dari ayat suci yang saya pelajari dan sunnah yang saya baca, orang-orang yang suka membanggakan diri terancam kehancuran. Ini hukum yang Allah sudah berlaku pada orang-orang terdahulu, pasti berlaku pula buat orang-orang sekarang.
Dalam Al-Qur'an berkali-kali Allah mengingatkan, keberhasilan apa saja yang manusia dapatkan. Kedudukan mulia yang diraih Sulaiman, kekuatan Daud yang sanggup mengolah perkakas besi hanya dengan menggunakan tangan, kekayaan Ayyub dan kebahagiaan keluarganya, dan kesabaran Nabi Muhammad, itu bukan atas kemampuan dirinya melainkan atas kehendak Allah. Jadi tiada alasan buat manusia berbangga-bangga. Dan siapa saja membangga-banggakan diri berarti dia telah melawan. Siapa saja percaya diri dengan percaya semua itu terjadi atas kehebatan dirinya maka berarti dia melawan. Siapa saja melawan berarti menabrak tembok. Mobil yang menabrak tembok akan mengalami kehancuran. Lalu saya bertanya, apakah orang-orang ini akan mengalaminya juga?
Eh ternyata benar, cerita mereka berikutnya sangat memilukan. Yang satu sampai bangunan pendidikannya dijual jadi rumah orang. Satu lagi perguruan tinggi direbut lalu dikuasai orang lain.
Percaya Diri
Sebenarnya konsep ini ajaran siapa?
Saya menelaah Al-Qur'an, rasa percaya diri lebih banyak ditunjukkan oleh orang-orang durhaka
Fir'aun dengan kata-katanya, "Akulah Rabb kalian yang maha tinggi."
Qarun dengan kata-katanya, "Semua kekayaan ini disebabkan oleh pengetahuan yang ada padaku"
Saking percaya dirinya sampai Fir'aun mengaku dirinya Tuhan.
Saking percaya dirinya, Qarun sampai berani mengakui semua kekayaan itu dia dapatkan karena ilmu yang dia punya.
Begitulah, rasa percaya diri dalam Al-Qur'an lebih banyak ditunjukkan para sesepuh kafir.
Sebaliknya orang-orang shalih seperti para Nabi, Al-Qur'an menggambarkan mereka sebagai sosok-sosok yang tidak percaya diri.
Nabi Musa bersama ketakutannya, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku." (26:12) Dia pun pernah berkata, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku." (28:33) Tatkala dalam pengembaraan dia merasakan kelelahan, Nabi Musa tidak berkata, "Aku Bisaa!!!!!"seperti yang biasa diajarkan para motivator jaman sekarang. Tidak. Nabi Musa duduk bersandar ke pohon sambil berkata, "Rabbi sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan yang Engkau turunkan."
Nabi Zakariya merasaka ketidakpercayadirian. Ketika Allah sampaikan kepadanya bahwa istri Nabi Zakariya tengah mengandung seorang anak, maka Nabi Zakariya merasakan ketidakpercayadiriannya dengan mengatakan, bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal rambutku telah penuh uban dan tulang-belulangku sudah begitu lemah sedang istriku seorang mandul tidak bisa mempunyai anak. Kemudian Allah sampaikan, bahwa menjadikan seorang wanita mengandung itu amatlah mudah bagi Allah, karena untuk menciptakan sesuatu bagi Allah tinggal menyebut "Jadilah!" maka jadilah sesuatu itu.
Nabi Adam tatkala diturunkan ke bumi dan dipisahkan dengan istrinya, Hawa, beliau tidak teriak peun percaya diri "Aku Bisa! Aku pasti menemukannya!!!" I can!!!" ... tidak. Beliau malah mengadu kepada Allah mengakui dirinya seorang dzalim, telah mendzalimi diri sendiri, dan seandainya Allah tidak mengampuninya benar-benar dia akan menjadi orang-orang yang rugi.
Bahkan Nabi Yusuf yang berkata, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan."? (Yusuf: 55) itu bukan timbul dari rasa pecaya diri melainkan lebih sebagai penentuan pilihan atas kedudukan yang raja Mesir tawarkan kepadanya. (Yusuf: 54) Saat itu raja mengatakan akan menjadikan Yusuf orang yang dekat kepadanya, maka Yusuf memilih jadi bendaharawan yang mengatur urusan pangan.
Itulah sebabnya, dalam ayat berikutnya Allah tegaskan, bahwa kedudukan yang Nabi Yusuf dapatkan itu bukan atas kemampuan Yusuf sendiri melainkan atas karunia-Nya. "Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir, ... " ( Yusuf: 56)
Sama sekali bukan timbul dari rasa percaya diri, sebab sebelum itu pun Nabi Yusuf berkata tentang dirinya yang tidak pernah bisa luput dari kesalahan, "Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan,.. " (Yusuf: 53)
Bukan percaya diri yang diajarkan Al-Qur'an, melainkan percaya Allah. Bukan mengagung-agungkan diri yang diajarkan Al-Qur'an, melainkan mengagungkan Allah.
Jadi jelas berdasarkan temuan saya, ercaya diri hanyalah konsep haram jadah yang sumbernya entah dari mana dan siapa pencetusnya. Siapa saja mengagungkan rasa percaya diri dia telah menabrak. Mobil menabrak tembok biasanya penyok, jadi siap-siaplah. Percaya diri menjadika pemimpin kapal Titanic Arogan menatang Tuhan dan tahu sendiri seperti apa nasib kapal itu akhirnya. Begitu percaya dirinya pembuat pesawat ke luar angkasa sampai menamakan karyanya Chalenger (menantang) lalu diterbangkan tahun 1986 dan hanya butuh beberapa detik untuk meledak, 7 orang meninggal.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment