Saturday, May 7, 2016

MANCING PAKE BOTOL, BENERAN DAPET. SERIUS!!

Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman.

Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pagi, penasaran ingin mencobanya. Beneran mudah nggak?

Keesokan harinya saya coba sambil mengasuh anak.

Tidak ada tali, beli dulu ke warung sebelah. Di dapur ada tepung kedaluarsa, saya bawa juga. Di rumah mertua banyak botol bekas minuman.

Saya siapkan.

Botol dipotong, diberi tali, masukkan tepung ke dalamnya


Itu kolamnya, air hijau kotor


Lempar botol ke kolam. Dibiarkan tenggelam,


Sederhana, tidak ada kail tajam yang akan melukai mulut ikan.


Nah, tuh ikannya masuk. Straig! Tarik langsung!


Noh ikannya di dalam botol...


Masih kurang jelas? ok, saya keluarkan....


Lumayan, dapat banyak. Anda bisa mencobanya di kolam masing-masing.


Digoreng, emh aromanya mengundang selera...


Anak saya suka ikan. Beda dengan jika makan sama tahu tempe yang susah sekali masuknya. Makan sama ikan dia sangat lahap.


Selamat mencoba...


Oh ya, durinya jangan dibuang. Berikan ke kucing tetangga.



BELUM JUGA BERANGKAT

Belum juga berangkat meningalkan rumah, kangen ini sudah melimpah. Malam ini masih bersama, malam besok, kembali sendirian, melawan sepi di tengah keramaian kota.

Teringat kembali tiga hari lalu. Senja...

Belok naik ke halaman, motor dimatikan. Telinga berusaha menangkap suara dari dalam, terdengar suaramu ribut, gembira. Hanya beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

"Bapak!!"

Sambutmu ceria. Kukira, kamu akan menanyakan oleh-oleh apa yang kubawa. Ternyata tidak, kamu hanya memandangaku gembira, berkali-kali sorak, "Asyik bapa datang asyik bapa datang."  memeluk kakiku, mengajak ke dalam rumah. Sama sekali tidak bertanya, "Pa bawa apa? Itu apa di tas?"

Tidak!

Itu artinya kamu tulus hanya menginginkanku datang, dan hanya menungguku datang. Bukan ingin yang lain. Bukan ingin uang, bukan ingin oleh-oleh, tapi ingin aku, bapakmu.

Duduk di kursi ruang tengah.

"Rambut panjang, potong Pak! Potong ya!"

"Kenapa harus dipotong?"

"Laki-laki."

"Haha, kok pinter. Kok bisa tahu alasannya. Siapa sih yang mengajarinya begitu?" tanyaku pada ibumu.

Sebelum dia sempat menjawab, kamu sambar, "Ya jelas Allah dong."

Haha, kok bisa manusia sekecil kamu sudah mengerti bahwa segala kelebihan manusia itu terjadi atas pemberian Allah?

Nai, Bapak bahagia kamu sudah mulai bisa membaca Al-Qur'an. Usai shalat, ibumu membuka kitab suci itu dan kamu pun ikutan. Masih memakai mukena, kucoba minta kamu baca, dan kamu mencoba. Ya ampun kamu sudah tahu huruf-hurufnya dan bisa membaca beberapa. Terbata-bata tak mengapa. Sekecil kamu Bapak belum bisa apa-apa. Rahmat Allah semoga melimpahi ibumu yang sudah mengajarkan. Rahmat Allah semoga melimpahimu dengan memberkahi apa yang sudah menjadi pengetahuan.

Bapak bahagia Nai, saat mengajakmu shalat, kamu segera turun dari ranjang. Cepat memakai mukena, sekalipun ya, belum berwudlu, namanya juga belajar. Dan sangat bahagia saat kamu menangis keras karena ditinggalkan berjamaah. Kamu menangis keras meminta kami mengulang shalat.

Tidak bisa Nai, shalat yang sudah dimulai jangan dibatalkan. Takbiratul Ihram itu takbir yang mengharamkan, yaitu mengharamkan segala hal yang bisa membatalkan shalat jangan sampai dilakukan.

Setelah salam baru kamu bisa shalat lagi bareng kami. Pake mukenanya ya, kamu mengikuti di belakang. Kita shalat sunnat.

Itu adalah hal-hal indah di rumah.

Saat wudlu, saat shalat berjamaah, saat membaca Al-Qur'an. Oh ya saat membaca Al-Qur'an lalu ibumu mendengarkan. Bapak ingin ngetest bacaan surat Al-Waqi'ah, ternyata masih ada yang salah, padahal di kota, suka membaca tanpa melihat. Wah, pasti sudah sering salah...

Bapak ke kamar, tergantung di sana kemeja hitam punya Bapak, licin rata, dan tangan ibumu pasti telah menyetrikanya.

Kemeja itu bapak beli dari kota, yang saat di kota memakai kemudian mencucinya, tidak pernah disetrika atau dilipat, cukup disampirkan ke tali jemuran, setelah butuh kemudian dipakai, dicuci, dijemur, disimpan, dipakai, dicuci, dijemur, disimpan, dipakai, begitu seterusnya. Tapi setelah dibawa ke rumah, ibumu melicinnya sampai rata, menggantung, dan memelihara kebaikannya.

Sekarang, bapak telah di kota, telah duduk lagi di kursi putar, kursi kerja.

ANTARA MASAK SENDIRI DAN BELI

Apa susahnya masak sendiri. Tinggal pergi ke pasar, dengan membawa uang tentu saja. Dekat, hanya beberapa langkah. Lagi pula jauh pun tak mengapa. Jadi olah raga. Di sana belanja, sayuran, toge, tahu, bawang, tomat. Bawa kembali ke penginapan. Siapkan nasi, cuci beras, masukkan mejikom, colokkan, biaran matang. Jangan lupa klik dulu ke posisi cook, kalau lupa nanti sudah menunggu lama, nasi ternyata belum matang, karena lampu mejikom ada di posisi warm. Awas, jangan lupa.

Bagaimana memasak?

Sangat gampang. Kupas bawang, iris. Kupas tomat, eh tidak usah. Tomat tinggal belah, iris. Cuci toge, cuci tahu. Iris. Siapkan wajan, masukkan minyak, masukkan irisan bawang, masukkan tomat, masukkan air, gula, garam, lada, setelah kira kira bumbu dan tahu tercampurkan, masukkan toge, dan rasaka aromanya. Wangi toge saat dipanaskan itu rasanya enak. Tunggu sebentar, jangan terlalu matang, angkat. Selesai. Hidangkan.

Nasi matang, sayur matang.

Tinggal makan.

Ini jauh lebih hemat daripada beli ke kantin.

Masak sekali pagi hari bisa mencukupi makan sampai malam hari. Dan karena tidak dimasak semua, sayuran masih tersisa, minyak masih tersisa, lada masih tersisa, bawang masih tersisa, beras masih tersisa, artinya saya masih bisa masak pada keesokan harinya.

Beda dengan beli. Secomot sayuran bisa mencapai lima ribuan. Sangat mahal. Dua kerat tempe dua ribu. Tahu dua ribu. Huh! Sekali makan paling tidak habis sepuluh ribu. Jika mau enam ribu, harus rela mencukupkan diri makan hanya dengan tempe goreng seperti tadi malam.

Bener juga kata Si Nicky Tirta, beli makan itu mahal. Lebih murah beli bahan lalu berkreasi sendiri memasak. Makanya waktu kuliah di Australia, dia lebih banyak masak sendiri daripada beli. Dari situlah keterampilan memasaknya terasah.

Sunday, May 1, 2016

DUA PELAJARAN

MENGAPA ORANG HARUS TERTARIK MEMBACA CERPEN SAYA

Sebelum menjawab pertanyaan, mengapa orang harus tertarik membaca cerpen saya. Maka terlebih dahulu harus kita jawab, mengapa saya tertarik membaca cerpen orang?

Kalau saya, tiga alasan:

1. Nama penulisnya. Sebab sebelumnya penulis ini punya bagus, maka saya tertarik ingin kembali menikmati.
2. Judul menggoda, opening bagus. Penulis tak dikenal, entah siapa, tapi judul tulisannya bikin penasaran, dan ketika saya coba membaca, opening terasa nikmat, maka saya teruskan.
3. Rekomendasi orang. Kata orang cerpen itu bagus, maka saya tertarik.

Sekarang baru kita beranjak ke pertanyaan pokok, mengapa orang harus tertarik membaca cerpen saya?

Dari ketiga alasan di atas, sepertinya kita hanya bisa mengusahakan alasan kedua. Membuat judul menggoda, opening menggoda.

Jangan judul biasa, berikan judul luar biasa. Budi Darma, sastrawakan kawakan tanah air. Bermain di judul-judul luar biasa. Nyi Talis, Olenka, Derabat, itu kata-kata luar biasa.

Jadi, berikan hal luar biasa
Berikan judul luar biasa, berikan opening luar biasa
Opening luar biasa, opening yang menggebrak kesadaran pembaca
Opening yang membuat mereka heran dan bertanya-tanyak, kok bisa? Supaya, mereka berusaha mencari penjelasan dari tulisan Anda berikutnya. Berikan hal luar biasa. Berikan tema luar biasa. Berikan plot luar biasa. Berikan bahasa luar biasa.

PELAJARAN DARI SEGELAS SUSU

Sebelum menulis ini, saya menikmati segelas besar susu
Mengapa mau?
Salah satu alasan, karena manis
Pelajarannya: manis
Tulisan bisa lebih nikmat dibaca jika tulisan itu manis
Supaya manis?
Berikan pemanis: bahasa manis, antara lain: Rima dan majas
Masukkan rima, selipkan majas.
Rima adalah bunyi akhir yang sama.
Bunyi akhir setiap kata, bunyi akhir setiap anak kalimat, atau bunyi akhir kalimat
Bunyi akhir kata berrima misalnya: ladang-ladang kacang ayah meranggas.
Bunyi akhir anak kalimat sama: di setiap pemberhetian kereta, dia menyusun kata-kata.
Bunyi akhir kalimat sama: Meja kantorku rata-rata berserakan sampah. Anehnya, bagi bos semua itu bukan masalah. Tidak pernah pikirannya merasa susah.

Berikutnya: majas
Para ahli bahasa telah merumuskan majas, coba kita terapkan ke dalam tulisan
Dengan majas, tulisan kita bisa lebih manis dan indah
Majas banyak macamnya,
Antara lain majas perbandingan
3 Jenis majas perbandingan: simile, metafora, dan personifikasi
Majas simile adalah majas perumpamaan, gaya bahasa yang menggunakan kata bagaikan, laksana, seumpama, bak, laksana, seperti, bagai, serupa, dan sebagainya.
Coba terapkan itu dala tulisan Anda

Majas metafora mengumpamakan sesuatu secara langsung, tanpa menggunakan kata bagaikan, laksana, dan sebagainya. Misal: Wahai perawan kamu piring, satu kali pecah susah bagimu memperbaikinya.

Majas personifikasi: majas yang menjadika benda-benda mati seolah bisa berbuat seperti manusia. Misalnya, kursi termenung, tembok bengong, dua mobil ciuman, dan sebagainya.

Masih banyak jenis majas.

Silakan cari, pelajari dan terapkan. Coba terapkan itu dalam tulisan Anda, selipkan, insya Allah karyamu akan menjadi sesuatu yang unik.

Jangan malas, harus kerjas keras.

Penulis sekelas Asma Nadia saja, bisa sampai 20-30 kali pengeditan sebelum tulisannya diterbitkan.

Jika Anda, baru empat lima pengeditan sudah menyerah, maka, tekad Anda menulis harus dipertanyakan.


Monday, April 25, 2016

MEMPERTANYAKAN KONSEP PERCAYA DIRI

Dulu kurang berani membicarakan  ini lebih terbuka sebab saya pikir pemikiran ini keliru. Akan tetapi semakin ke sini semakin banyak menemukan fakta, dan menemukan banyak orang dengan pemikiran yang sama, akhirnya kegalauan ini saya tuliskan.

Tentang rasa percaya diri, benarkah itu sebuah kebenaran?

Dua kali saya bergaul akrab dengan sosok orang yang mengagung-agungkan rasa percaya diri, dua kali juga saya menemukan fenomena memilukan: keduanya mengalami keterpurukan. Kedua orang itu mengira rasa percaya diri bisa membuat mereka hebat. Iya memang saat itu mereka sedang jaya-jayanya, membangun sebuah lembaga pendidikan, dan banyak orang datang. Nyaris kepada setiap tamu kesuksesan itu terus mereka bangga-banggakan sambil berkata "saya" dan "saya" ... oleh saya dan oleh saya, karena saya dan karena saya.

Harusnya saya menegur tapi tidak berani. Pengecut diri mencegah dengan pikiran, misalpun saya mengingatkan dia, pasti mereka membantah karena merasa lebih pintar. Hanya bisa diam memendam penasaran, akan bernasib apakah lembaga yang mereka bangun ini berikutnya. Selama ini, yang saya tahu dari pelajaran agama, dari ayat suci yang saya pelajari dan sunnah yang saya baca, orang-orang yang suka membanggakan diri terancam kehancuran. Ini hukum yang Allah sudah berlaku pada orang-orang terdahulu, pasti berlaku pula buat orang-orang sekarang.

Dalam Al-Qur'an berkali-kali Allah mengingatkan, keberhasilan apa saja yang manusia dapatkan. Kedudukan mulia yang diraih Sulaiman, kekuatan Daud yang sanggup mengolah perkakas besi hanya dengan menggunakan tangan, kekayaan Ayyub dan kebahagiaan keluarganya, dan kesabaran Nabi Muhammad, itu bukan atas kemampuan dirinya melainkan atas kehendak Allah. Jadi tiada alasan buat manusia berbangga-bangga. Dan siapa saja membangga-banggakan diri berarti dia telah melawan. Siapa saja percaya diri dengan percaya semua itu terjadi atas kehebatan dirinya maka berarti dia melawan. Siapa saja melawan berarti menabrak tembok. Mobil yang menabrak tembok akan mengalami kehancuran. Lalu saya bertanya, apakah orang-orang ini akan mengalaminya juga?

Eh ternyata benar, cerita mereka berikutnya sangat memilukan. Yang satu sampai bangunan pendidikannya dijual jadi rumah orang. Satu lagi perguruan tinggi direbut lalu dikuasai orang lain.

Percaya Diri
Sebenarnya konsep ini ajaran siapa?

Saya menelaah Al-Qur'an, rasa percaya diri lebih banyak ditunjukkan oleh orang-orang durhaka
Fir'aun dengan kata-katanya, "Akulah Rabb kalian yang maha tinggi."

Qarun dengan kata-katanya, "Semua kekayaan ini disebabkan oleh pengetahuan yang ada padaku"
Saking percaya dirinya sampai Fir'aun mengaku dirinya Tuhan.

Saking percaya dirinya, Qarun sampai berani mengakui semua kekayaan itu dia dapatkan karena ilmu yang dia punya.

Begitulah, rasa percaya diri dalam Al-Qur'an lebih banyak ditunjukkan para sesepuh kafir.

Sebaliknya orang-orang shalih seperti para Nabi, Al-Qur'an menggambarkan mereka sebagai sosok-sosok yang tidak percaya diri.

Nabi Musa bersama ketakutannya, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku." (26:12) Dia pun pernah berkata, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku." (28:33) Tatkala dalam pengembaraan dia merasakan kelelahan, Nabi Musa tidak berkata, "Aku Bisaa!!!!!"seperti yang biasa diajarkan para motivator jaman sekarang. Tidak. Nabi Musa duduk bersandar ke pohon sambil berkata, "Rabbi sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan yang Engkau turunkan."

Nabi Zakariya merasaka ketidakpercayadirian. Ketika Allah sampaikan kepadanya bahwa istri Nabi Zakariya tengah mengandung seorang anak, maka Nabi Zakariya merasakan ketidakpercayadiriannya dengan mengatakan, bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal rambutku telah penuh uban dan tulang-belulangku sudah begitu lemah sedang istriku seorang mandul tidak bisa mempunyai anak. Kemudian Allah sampaikan, bahwa menjadikan seorang wanita mengandung itu amatlah mudah bagi Allah, karena untuk menciptakan sesuatu bagi Allah tinggal menyebut "Jadilah!" maka jadilah sesuatu itu.

Nabi Adam tatkala diturunkan ke bumi dan dipisahkan dengan istrinya, Hawa, beliau tidak teriak peun percaya diri "Aku Bisa! Aku pasti menemukannya!!!" I can!!!" ... tidak. Beliau malah mengadu kepada Allah mengakui dirinya seorang dzalim, telah mendzalimi diri sendiri, dan seandainya Allah tidak mengampuninya benar-benar dia akan menjadi orang-orang yang rugi.

Bahkan Nabi Yusuf yang berkata, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan."? (Yusuf: 55) itu bukan timbul dari rasa pecaya diri melainkan lebih sebagai penentuan pilihan atas kedudukan yang raja Mesir tawarkan kepadanya. (Yusuf: 54) Saat itu raja mengatakan akan menjadikan Yusuf  orang yang dekat kepadanya, maka Yusuf memilih jadi bendaharawan yang mengatur urusan pangan.

Itulah sebabnya, dalam ayat berikutnya Allah tegaskan, bahwa kedudukan yang Nabi Yusuf dapatkan itu bukan atas kemampuan Yusuf sendiri melainkan atas karunia-Nya. "Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir, ... " ( Yusuf: 56)

Sama sekali bukan timbul dari rasa percaya diri, sebab sebelum itu pun Nabi Yusuf berkata tentang dirinya yang tidak pernah bisa luput dari kesalahan, "Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan,.. " (Yusuf: 53)

Bukan percaya diri yang diajarkan Al-Qur'an, melainkan percaya Allah. Bukan mengagung-agungkan diri yang diajarkan Al-Qur'an, melainkan mengagungkan Allah.

Jadi jelas berdasarkan temuan saya, ercaya diri hanyalah konsep haram jadah yang sumbernya entah dari mana dan siapa pencetusnya. Siapa saja mengagungkan rasa percaya diri dia telah menabrak. Mobil menabrak tembok biasanya penyok, jadi siap-siaplah. Percaya diri menjadika pemimpin kapal Titanic Arogan menatang Tuhan dan tahu sendiri seperti apa nasib kapal itu akhirnya. Begitu percaya dirinya pembuat pesawat ke luar angkasa sampai menamakan karyanya Chalenger (menantang) lalu diterbangkan tahun 1986 dan hanya butuh beberapa detik untuk meledak, 7 orang meninggal.

Saturday, April 23, 2016

BUNCIS!!!!

"Judul seminarnya apa Mbak?"

"Menjadi Muslimah Tegar."

"Muslimah?"

"Iya, kenapa?"

"Seminar ibu-ibu dong?"

"Ada anak remajanya juga."

"Itu buat wanita."

"Masalahnya?"

"Saya seorang pria, kurang baik mengisi materi di forum wanita."

"Sekali ini saja Mas. Toh ustadz lain pun banyak yang melakukan."

"Itu ustadz lain Mbak, saya belum sampai ilmunya."

"Sekali ini saya Mas."

"Duh, gimana ya. Tapi apa Mbak tidak salah pilih orang?"

"Salah kenapa?"

"Pembicara lain kan banyak."

"Mas Dana penulis, bisa memilih diksi-diksi yang manis, lagi pula biasanya penulis biasa berpikir sistematis."

"Wah Si Mbak benar-benar salah pilih orang. Itu penulis buku Mbak, saya ini cuma penulis status facebook. Penulis buku biasa berpikir sistematis, terususun, tertib, rapi. Penulis status facebook, penulis seingatnya."

"Setidaknya punya keterampilan berbahasa."

"Berbahasa sih bisa, terampil tidak."

"Ayolah Mas."

Lagi pula, nih orang kok manggil saya Mas. Saya ini bukan Mas Mas. Mas itu buat suku Jawa. Saya suku Sunda, biasa disebut Kang Kang. Tapi biarlah, terserah dia mau manggil apa. Masih untung tidak dipanggil Mblo.

"Gimana ya Mbak, sanggup sih sanggup. Tapi Mbak dan panitia harus siap kecewa."

"Oh sudah jauh-jauh hari. Kami sudah siap kecewa. Wong baru liat tampangnya saja Mas Dana sudah mengecewakan!"

Buncis!!!

"Siap ya Mas!"

"Ok."

Apa yang harus saya persiapkan. Materinya apa. Mengingat judul seminar "Menjadi Muslimah Tegar" seketika teringat buku yang menceritakan para muslimah dengan segala cobaan rumah tangganya. Buku sampul biru tua dengan judul menggambarkan kemanusiaan.

Dari tumpukan koleksi, buku itu saya ambil dan baca. Karena sebagian besar isinya nyata, dengan sangat lancar saya bisa membaca. Sekali membaca, langsung membekas. Mudah sekali membekas sebab buku itu kumpulan curhat muslimah, disaripatikan dari kehidupan para muslimah bersama sebagian pahit getir hidupnya.

Rasa senang makin  berlipat manakala sadar telah menemukan buku yang tepat. Buku ini pilihan tepat dengan tiga alasan. Alasan pertama, ini buku tentang muslimah dan ini sangat cocok dengan peserta dari seminar yang akan saya isi nanti yaitu para muslimah. Alasan kedua, buku ini tentang cobaan hidup para muslimah dan ini sangat cocok dengan tema yang akan saya bicarakan nanti yaitu tentang ketegaran. Alasan ketiga, buku ini berbentuk kisah jadi sebagian besar materi nanti akan saya sajikan dalam kemasan kisah-kisah.

Berulangkali menjadi penceramah, saya rasakan berkisah ini sangat memudahkan. Memudahkan saya sebagai pembicara, juga memudahkan pemahaman pendengar. Terlebih lagi secara naluriah, wanita memng makhluk penyuka cerita. Di mana-mana, obrolan mereka rata-rata cerita. Ngerumpi di teras, di mobil angkutan, di perjalanan, di sawah-sawah, di pematang-pematang, apa yang mereka bicarakan rata-rata cerita. Cerita tentang dirinya, tentang suaminya, tetang anaknya, tentang tetangganya, tentang ayahnya, ibunya, temannya, atau, tentang film yang mereka tonton. Mereka makluk penyuka cerita, jadi pastinya, perhatian mereka dengan sangat mudah terpusat manakala materi saya sajikan via cerita.

Dan memang benar, tiba waktunya seminar dan cerita-cerita itu saya tuturkan, ruangan seketika senyap tanpa seorang pun bicara selain saya yang meski bersuara cempreng terkadang gagap, namun dengan penuh antusias hadirin mau mendengar. Tak jelas sebabnya apa, mungkin karena cerita saya sampaikan dengan penuh perasaan.

Tatkala menuturkan seorang istri yang di rumahnya sendiri menemukan seorang wanita telanjang sedang tidur di kamar dan terpaksa setelah itu harus mengalami perceraian dan kehilangan anak. Tatkala menuturkan kisah muslimah dengan awal rumah tangga indah penuh kemesraan namun dalam perjalanan batu sandungan saat menemukan SMS mesra di handphone suaminya, "Sayang, sedang apa, jangan terlambat makan ya!" itu adalah pesan di kotak keluar untuk penerima bernama Spongeboob. Dan kisah-kisah lainnya, seperti ombak pantai Pangandaran, perlahan, perlahan, perlahan, membesar, pecah, begitu antara lain teknik saya dalam bercerita.

Satu jam berlalu tak terasa, tiba saatnya ceramah harus saya pungkas "Dua hal kita butuhkan biar tabah menjalani musibah. Pertama, bersiap. Kedua, jika terjadi maka ucapkanlah "Innalillah.""

*   *   *

"Maaf Mbak, saya tidak bisa menerimanya."

"Terimalah Mas." dia terus menyodorkan amplop. Cukup tebal.

"Maaf Mbak, tidak usah. Saya tidak bisa menerimanya."

"Kalau Mas tidak mau terima ini sebagai honor, anggaplah ini hadiah, bentuk rasa terima kasih kami karena Mas sudah mau datang dan berbagi."

"Tidak Mbak, saya tidak bisa menerimanya."

"Kenapa tidak bisa Mas?"

"Jelas tidak bisa Mbak, ini kan cerita fiksi, ini cerita khayalan."

Buncis!!!

Friday, April 22, 2016

NOVEL HUJAN

Menutup halaman terakhir novel hujan, bersama setitik air di sudut mata. Bener kata orang, Tere Liye kalau nulis suka menyentuh. Betul kata orang, buku Tere Liye banyak kata-kata menariknya. Betul kata orang, cerita Tere Liye tidak biasa. Betul kata orang, Endingnya tidak terduga.

Betul-betul mempermainkan pembaca.

Berkali-kali membaca testimoni orang, novel Tere Liye nyaris semuanya bagus. Tapi dari yang sekian banyak itu, baru novel Hujan yang berhasil tamat. Ini pun karena tertarik, setelah seorang teman membeli.

Padahal si teman kurang begitu suka membaca, tapi dia sampai mau membelinya, ini luar biasa.

Memangnya sebagus apa sih?

Penasaran. Maka saya lancarkan strategi licik. Saat seorang pembeli berkata, ingin membeli novel Hujan, saya katakan padanya, bolehkah saya membacanya dahulu?

Mulanya dia menolak.

Saya mengalah, baiklah...

Tapi kemudian, dia katakan itu bercanda. Boleh, katanya

Wah, menyenangkan.

Segel novel dibuka, dibungkus rapi dengan plastik mika, yang licin keras, dan mulailah membaca..

Sampai saat beberapa halaman terakhir hendak dihabiskan, berluncuran kata-kata mutiara yang sangat mengesankan.

"Ibu juga akan kehilangan putra terakhir ibu. Tapi tak mengapa, toh semua akan kalah oleh waktu. Ibu belajar banyak, bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, marah-marah, tapi pada akhirnya dia merasa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri."

-------

"Bukankah saat dia mencintai Esok, maka yang paling berharga justru adalah perasaan cinta itu sendiri? Sesuatu yang mulia di dalam hatinya. Bukan soal memiliki, bukan tentang bersama esok."

-------

Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.

Ending yang cantik!

Mau Betulin Hape