Belum juga berangkat meningalkan rumah, kangen ini sudah melimpah. Malam ini masih bersama, malam besok, kembali sendirian, melawan sepi di tengah keramaian kota.
Teringat kembali tiga hari lalu. Senja...
Belok naik ke halaman, motor dimatikan. Telinga berusaha menangkap suara dari dalam, terdengar suaramu ribut, gembira. Hanya beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
"Bapak!!"
Sambutmu ceria. Kukira, kamu akan menanyakan oleh-oleh apa yang kubawa. Ternyata tidak, kamu hanya memandangaku gembira, berkali-kali sorak, "Asyik bapa datang asyik bapa datang." memeluk kakiku, mengajak ke dalam rumah. Sama sekali tidak bertanya, "Pa bawa apa? Itu apa di tas?"
Tidak!
Itu artinya kamu tulus hanya menginginkanku datang, dan hanya menungguku datang. Bukan ingin yang lain. Bukan ingin uang, bukan ingin oleh-oleh, tapi ingin aku, bapakmu.
Duduk di kursi ruang tengah.
"Rambut panjang, potong Pak! Potong ya!"
"Kenapa harus dipotong?"
"Laki-laki."
"Haha, kok pinter. Kok bisa tahu alasannya. Siapa sih yang mengajarinya begitu?" tanyaku pada ibumu.
Sebelum dia sempat menjawab, kamu sambar, "Ya jelas Allah dong."
Haha, kok bisa manusia sekecil kamu sudah mengerti bahwa segala kelebihan manusia itu terjadi atas pemberian Allah?
Nai, Bapak bahagia kamu sudah mulai bisa membaca Al-Qur'an. Usai shalat, ibumu membuka kitab suci itu dan kamu pun ikutan. Masih memakai mukena, kucoba minta kamu baca, dan kamu mencoba. Ya ampun kamu sudah tahu huruf-hurufnya dan bisa membaca beberapa. Terbata-bata tak mengapa. Sekecil kamu Bapak belum bisa apa-apa. Rahmat Allah semoga melimpahi ibumu yang sudah mengajarkan. Rahmat Allah semoga melimpahimu dengan memberkahi apa yang sudah menjadi pengetahuan.
Bapak bahagia Nai, saat mengajakmu shalat, kamu segera turun dari ranjang. Cepat memakai mukena, sekalipun ya, belum berwudlu, namanya juga belajar. Dan sangat bahagia saat kamu menangis keras karena ditinggalkan berjamaah. Kamu menangis keras meminta kami mengulang shalat.
Tidak bisa Nai, shalat yang sudah dimulai jangan dibatalkan. Takbiratul Ihram itu takbir yang mengharamkan, yaitu mengharamkan segala hal yang bisa membatalkan shalat jangan sampai dilakukan.
Setelah salam baru kamu bisa shalat lagi bareng kami. Pake mukenanya ya, kamu mengikuti di belakang. Kita shalat sunnat.
Itu adalah hal-hal indah di rumah.
Saat wudlu, saat shalat berjamaah, saat membaca Al-Qur'an. Oh ya saat membaca Al-Qur'an lalu ibumu mendengarkan. Bapak ingin ngetest bacaan surat Al-Waqi'ah, ternyata masih ada yang salah, padahal di kota, suka membaca tanpa melihat. Wah, pasti sudah sering salah...
Bapak ke kamar, tergantung di sana kemeja hitam punya Bapak, licin rata, dan tangan ibumu pasti telah menyetrikanya.
Kemeja itu bapak beli dari kota, yang saat di kota memakai kemudian mencucinya, tidak pernah disetrika atau dilipat, cukup disampirkan ke tali jemuran, setelah butuh kemudian dipakai, dicuci, dijemur, disimpan, dipakai, dicuci, dijemur, disimpan, dipakai, begitu seterusnya. Tapi setelah dibawa ke rumah, ibumu melicinnya sampai rata, menggantung, dan memelihara kebaikannya.
Sekarang, bapak telah di kota, telah duduk lagi di kursi putar, kursi kerja.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment