Saturday, April 16, 2016

PEMBACA TERBAIK TULISAN SAYA ADALAH ISTRI SAYA

Sepanjang menulis cerpen, saya copy paste dan bagikan kepada teman-teman watsapp untuk mendapatkan timbal balik. Misalnya saat menulis cerpen "Tukang Gorengan" saya tulis cerpen itu sambil copy paste dan bagian ke teman watsapp.

Cerpen itu menceritakan seorang penjual gorengan yang setiap sore datang ke kantor tapi saya tidak mau beli karena mahal, padahal di tempat lain, gorengan harganya lebih murah. Saya tulis cerpen itu sambil terus bagikan kepada teman, dan memang benar, mereka mau meluangkan waktu memberikan komentar.

"Tapi gorengan ibu ini lebih enak dan besar-besar" sanggah seorang teman membela si tukang gorengan.

"Gorengan pinggir jalan punya si mamang roda juga besar-besar tahunya."

"Siapa tahu tukang gorengan ini punya tanggung jawab anak yang harus dia sekolahkan." jawabnya lagi.

"I don't care." jawab saya ketus.

Teman watsaap lain cukup empati kepada yang saya sampaikan.

Dia nyatakan dirinya pun seringkali merasa sayang mengeluarkan uang ketika yang jualan mematok harga ya lebih mahal dari harga biasa, "Saya juga jika si Rafi jualan peyek suka diam, harganya mahal."

"Iya padahal biasanya harganya cuma dua ribuan." saya membenarkan.

Saya tidak tahu apakah ini bisa menjadi sebuah kerjasama dalam menulis cerita. Jika cara ini efektif, mungkin nanti bisa saya sampaikan kepada orang. Dengan menulis sedikit demi sedikit cerita, membagikannya via japri (jalus pribadi) ke teman-teman, Saya juga tidak tahu apakah mereka benar-benar mau membaca tulisan saya, atau hanya membukanya. Soanya saya sendiri saat orang lain membaca ceritanya, kecuali jika cerita itu benar-benar bagus, saya sungkan. Sebenarnya saya ini malas membaca. Maka saya kira, orang lain pun akan merasakan hal yang sama saat saya minta membaca tulisan saya.

Entahlah, tapi saat saya sampaikan kepada salah seorang teman watsapp, bahwa tulisan yang saya kirimkan padanya terserah mau dia baca atau tidak, dia menjawab, "Aku baca kok."

Dan ketika cerita selesai dia memberikan komentar, "Kereen."

Apakah "Keren" yang dia ucapkan benar-benar karena sudah membaca semuanya, atau sekedar komentar supaa saya merasa senang?

Tidak tahu

Ah, saya sering menulis itu kepada cerita orang yang saya temukan. Tidak saya baca semua, cukup sekilas, dan langsung memberikan komentar, kereen. Jangan-jangan teman ini pun melakukan hal yang sama kepada saya.

Saya hanya merasa tulisan saya benar-benar dibaca, jika yang membaca tulisan itu adalah istri saya. Dia katakan tulisan saya bahasanya nyaman tidak membosankankan, dan saya sangat percaya dia sangat menyukai tulisan saya, bahkan saat membaca dia bukan sekedar membaca sekilas, tapi benar-benar membaca, dengan penuh penghayatakan dengan penuh ketelitian.

Terutama kamu yang tidak menyukali tulisan saya pasti langsung mencibir, "Huh, tidak membosankan apanya? Bahasanya begitu-begitu saja, rendahan, tidak mengandung nilai sastra, dan hanya sampah. Jelas-jelas membosankan dan malas membacanya. Gak usah bangga ya!!"

Bukan, saya bukan sedang berbangga, karena sebenarnya istri mengatakan itu supaya saya lebih bersemangat lagi menulis lebih banyak supaya cepat dibukukan, terjual banyak lalu nanti dia kebagian uangnya. Dan memang benar istri saya jika membaca tulisan saya, dia membacanya dengan penuh penghayatan, pendalaman, dan ketelitian, tidak pernah dilewat-lewat. Nyaris semua tulisan saya di rumah, di buku-buku catatan, di sobekan-sobekan kertas, bahkan SMS di handphone dengan sangat tekun suka dia baca.

Dan sampai sini, kamu pasti sudah bisa menebak, sebenarnya itu dia lakukan bukan karena saking sukanya pada tulisan saya, bukan karena tulisan saya bagus, bukan karena dia membaca dengan penuh cinta dan sayanga, aka tetapi karena dia membaca tulisan saya sambil melakukan penyelidikan, jangan-jangan dalam tulisan itu terkandung sebuah kalimat buat seseorang yang saya sembunyikan darinya."

Thursday, April 14, 2016

BUKU CATATAN HATI SEORANG GADIS

Food Truck di depan Depok Mall. Beberapa mobil terparkir membuka gerai makanan. Makanan khas dari berbagai negara. Makanan-makanan dengan nama yang bagi saya asing baru kali itu mendengar. Sore itu Pak Isa mengajak ramai-ramai makan di sana, bebas memilih. Dia yang bayar.

Mengelilingi meja segi empat, saat santai itu dia manfaatkan membahas lembaran-lembaran kisah nyata untuk bahan penyusunan sebuah buku remaja. Satu persatu lembaran itu dia baca dan periksa, kemudian kritik bagain-bagian pengganggunya dan menyarankan supaya dipangkas. Cerita kurang menarik Pak Isa sarankan supaya jangan sampai dimuat. Jika pun dimuat, cerita itu harus dipermak habis, sebisa mungkin supaya menarik hati bagi pembaca.

Tak menyangka, buku itu terlahir cepat. Hanya beberapa bulan kemudian, terbitlah. Catatan Hati Seorang Gadis. Setelah selesai cetak, dari ribuan buku yang datang saya ambil satu, bungkus rapi dengan plastik dan baca. Memang hanya kisah nyata pilihan yang dimuat. Kisah sejati gadis-gadis dengan berbagai warna dan latar belakang. Satu di antaranya kisah dari seorang gadis yang sudah meninggal dunia akibat jalan hitam yang dilaluinya.

Diawali kisah dari penulis bernama Embun Sabana. Bukan kisah dia, melainkan menceritakan kisah orang. Tentu saja dengan nama samaran. Kisah seorang gadis yang demi kosmetik, pakaian dan penampilan rela dia jalani pergaulan bebas, sampai harus kehilangan kegadisan. Tragis, tapi bagi gadis lain yang membaca kisah ini bisa menjadi pelajaran besar. Jangan main-main dengan pergaulan. Dalam pergaulan salah, menjaga diri sangatlah susah.

Bagi seorang gadis ini berarti pelajaran supaya berhati-hati memilih teman dan lingkungan, bagi orang tua, berarti harus ekstra ketat mengawasi pergaulan anaknya. Tak mengapa si anak gadis sedikit merasa terkekang, karena keselamatan dia berarti keselamatan semuanya. Juga sebaliknya, jika sudah terjerumus, bukan hanya si gadis yang menanggung malu, melainkan orang tua. Tak sedikit orang tua sampai sakit akibat memikirkan kebandelan anak.

Kisah berikutnya tak kalah seru. "Bunga Yang Layu" judul cerita itu, karya Diana W, mengisahkan seorang gadis yang dalam usia baru menginjak 18 sudah 3 kali menjalani pernikahan. Namun uniknya, setelah tiga pernikahan itu dia mengaku dirinya masih perawan. Pernikahan pertama atas perjodohan ibunya dengan seorang kakek usia 60-an, dan si gadis meski saat akad bisa menjalani dengan hati tenang, malam hari dia ketakutan. Sebulan begitu terus sampai akhirnya si kakek menceraikannya. Pernikahan kedua...

Ah sudah ah. Haha, bukan begitu sih ceritanya. "Bunga Yang Layu" bukan menceritakan gadis usia 18 sudah 3 kali menikah. Bukan, itu hanya rekaan saya saja. Jika penasaran, baca sendiri saja bukunya. Semoga siapa pun membaca buku ini, mendapatkan banyak pelajaran berharga. Sehingga kehidupan yang dilaluinya, terus berusaha dekat dengan Allah. Sehingga setiap hari adalah perayaan, setiap hari adalah kesenangan, setiap hari adalah kebahagiaan, setiap hal adalah kejutan menyenangkan, sebagaimana yang dijanjikan-Nya dalam surat Al-Jumu'ah, "Ingatlah Alla banyak-banyak agar kamu mendapatkan keberuntungan."


Saturday, April 9, 2016

KAPAN

Tinggallah saya mematung sendirian, menghadapi gunungan tanah merah seraya bergumam, "Kamu bukan siapa-siapa tapi lihatlah jauh-jauh saya datang, kamu bukan siapa-siapa tapi lihatlah saya menghadiri pemakaman, kamu bukan siapa-siapa tapi saya menaburkan kembang, bukan siapa-siapa, saya datang sekedar ingin memperlihatkan padamu benda ini, guntingan kertas koran... "

*   *   *

"Ayolah Dan, coba kirimkan cerpenmu ke media. Pelajari cerpen media yang sudah dimuat, hitung berapa kata, berapa karakternya, buat lo ."

"Terima kasih motivasinya Bu Editor!"

"Gue bosan denger lo ngomong terima kasih. Dari dulu, tiap kali gue ngomong, terima kasih lagi, terima kasih lagi."

"Enggak, saya seris berterima kasih. Sampai-sampai saya berpikir begini, kalaulah benar misalnya cerpen saya sampai dimuat dimedia, maka... "

"Lo mau traktir makan?"

"Bukan, maka orang pertama yang paling saya ingat buat beri hadiah adalah kamu."

"Cie, gue dikamu-kamuin. Ayolah Dan!"

Saya minderan mengirim tulisan ke media. Beberapa minggu lalu pernah mengirim ke sebuah harian nasional. Sebatas mengirim, tanpa semangat dimuat. Sebatas ingin bangga pernah mengirim ke media. Supaya saat ngobrol dengan orang tentang mengirim tulisan ke koran, bisa berkata, "Saya juga pernah."

Rasa percaya diri yang parah.

Seakan Bu Editor mengerti keminderan saya, dia berkata,

"Lo harusnya percaya diri. Baru satu kali ngirim cerpen ke Mbak Asma, dia langsung suka, sampai dia menangis dibuatnya."

"Ah, saya kira itu mah Mbak Asma saja pandai menghargai orang. Itu mah dia aja ingin memberi semangat."

"Enggak! Mbak Asma itu jujur. Kalau dia gak suka ya nggak suka."

Hanya bisa menyandarkan badan ke kursi kemudian merentangkan tangan supaya dada lebih lapang. Sempit sekali rasanya, disempitkan keminderan akut.

"Daya tulis saya sebenarnya lemah. Orang lain sangat bisa. Mereka menulis merespon isu-isu sosial, kejadian hangat sekarang mereka susun jadi tulisan. Hangat masalah anggota DPR ingin membangun perpustakaan, mereka susun jadi tulisan. Ramai penyanyi dangdut dipatuk ular jadi opini di koran. Heboh isu gay lesbian jadi artikel. jadi cerpen, jadi novel, jadi puisi. Maka tulisan mereka berkualitas, memasyarakat dan hangat. Lha tulisan saya? Tidak berbobot, hampa, hanya menceritakan masalah ecek-ecek personal yang kurang bernilai. Sementara media menerbitkan informasi hangat seputar kejadian terbaru sekarang, saya malah banyak menulis masalah pribadi, jadi mana bisa dimuat." sebatas dalam hati, gumaman panjang ini tidak saya sampaikan. Bu Editor sudah sangat bosan mendengar alasan.

Bu Editor memang luar biasa. Dalam mendukung semangat dia paling bisa. Perkara memotivasi beliau sangat pandai. Dan sebenarnya, saya ingin berterima kasih, sungguh sangat ingin berterima kasih atas support yang diberikannya. Bukan lagi dengan ucapan, sebab terbukti tadi, terima kasih sebatas ucapan sangat tidak berguna. Ingin dalam bentuk perbuatan, tindakan dan kesuksesan. Dengan cerpen yang benar-benar dimuat media, terpampang di koran nasional, pada sebuah halaman besar dengan judul besar dilengkapi ilustrasi gambar, saya beli dari loper koran lalu perlihatkan ke depan batang hidungnya. Tapi entah kapan.

Menit melangkah, hari berjalan, tanggal-tanggal bertanggalan bertumpuk menjadi bulan. Bulan sabit, bulan sepasi, bulan setengah, bulan purnama, berlewatan, bersliweran, hinga tahun bertindihan, namun apa yang dicipta-cipta belum juga tercipta, apa yang diangan-angan belum juga di tangan. Seharusnya tangan ini telah memegang selembar koran berisi sebuah cerpen yang dimuat, akan tetapi tidak, dan sebagaimana kulit saya semakin menua, kulit Bu Editor pun sama. Malam dan siang terus datang sambil dengan kejam merusak usia dan kemudaan. Uban terus bertambah, tulang dan sendi makin melemah. Tapi seperti Bu Editor masih tetap dengan keeditorannya, saya sendiri masih sebagai penyapu ruangan tukang facebookan. Seharusnya sudah ratusan cerpen dimuat koran, tapi keminderan terus menahan, membuat saya statis, diam, beku keras seperti batu hasil kutukan ibu Malin Kundang. Saya masih dengan adat lama, kebiasaan lama, hanya mengirimkan tulisan kepada social media, ada like satu orang, sudah puas, setelah itu nulis lagi hal-hal sepele, ringan, benar-benar tidak ada kemajuan.

Kapan? Lalu kapan saya benar-benar bisa berterima kasih atas motivasinya? Motivasi yang bukan sekedar ucapan, tapi terima kasih yang nyata, karya nyata, kesuksesan nyata. Kapan?

Sampai kapan saya akan terus menunda, apa sampai nanti waktu kehabisan? Oh jangan-jangan sampai ketika berdiri di suatu tempat kemudian setelah semua orang pulang, tinggalah saya mematung sendirian, menghadapi gunungan tanah merah seraya bergumam, "kamu bukan siapa-siapa, tapi lihatlah jauh-jauh saya datang, kamu bukan siapa-siapa tapi lihatlah saya menghadiri pemakaman, kamu bukan siapa-siapa tapi lihatlah saya menaburkan bunga, bukan siapa-siapa, karena saya datang hanya ingin memperlihatkan padamu guntingan kertas koran ini, lihatlah dari saku jaket saya ambil, masih terlipat, baik lipatannya saya buka, lihatlah, cerpen saya... bagaimana menurutmu?"

Tapi oh tidak! Tidak mungkin! Tidak boleh! Jangan! Itu dilarang!

Thursday, April 7, 2016

Ditemani Wangi Bunga Sedap Malam

Pulang kampung tanpa singgah ke rumahnya terasa kurang. Jika bertemu, ada saja ilmu baru saya dapat. Sekalipun sepele, sekalipun sederhana, entah kenapa, mungkin sebab dia ungkapkan penuh ketulusan, di hati ini sangat membekas. 

Sebangun rumah kayu di tepian sawah, profil rumahnya. Bertiang kayu, berdindig bilik bambu beratap genting bakaran tanah. Beranda depan cukup untuk satu set kursi rotan, tempatnya menjamu bila tamu datang antara lain saya. Memilih rumah semacam ini atas cintanya pada kesederhanaan.

Katakanlah kekayaan kampung, orang tua ini sangat berharga. Bagi masyarakat dia seorang ustadz, bagi saya motivator hebat, pencinta sastra dan seniman kata-kata. Pikirannya terbuka, dan tak sekadar buku agama, bacaannya luas. Senang memotivasi orang, dan khusus untuk impian saya menjadi penulis, dia punya banyak nasihat berharga. Cara dia bicara, menunjukkan seorang sangat ahli tata bahasa. Dulu di pesantren, dia memang mempelajari tata bahasa, nahwu sharaf dan berbagai cabang ilmu Bahasa Arab seperti mantiq, istiarah, bilaghah, dan ilmul bayan. Tapi seni bahasa yang dia pelajari lebih dia amalkan ke dalam seni bicara: ceramah dalam pengajian-pengajian. Sudah sangat terbiasa dia menggunakan ibarat-ibarat, metafora, kisah-kisah, dengan sajian-sajian bahasa ringan namun mendalam. Untuk menjelaskan masalah rumit, dia sangat senang mengambil amsal dari hal-hal sederhana keseharian, supaya lebih mudah dipahami pendengar awam. Andai saja bisa, ingin saya catata semua detail kata-katanya. Namun susah. Jadi maafkan saya bila catatan ini tak sanggup merekam keluarbiasaan itu. 

"Sudah lama ingin jadi penulis, sampai sekarang belum juga menghasilkan karya. Itu kenapa?" tanya saya saat sepulang berjamaan Shalat Isya mampir. Betul, beranda ini sangat nyaman. Angin meniup  lembut keringat di leher, membawa wangi bunga sedap malam.

"Siapa?"

"Saya."

"Yang kamu rasakan, kenapa?"

"Apa ya?"

"Tanya diri kamu sendiri!"
"Kurang fokus, mungkin."

"Kalau begitu, fokuslah!"

"Bapak punya nasihat?" pertanyaan saya berjawab kesunyian. Dia terdiam. Menarik nafas, menghirup wangi angin dari bunga sedap malam. Tadi saya lihat di sudut halaman, bunga putih jelita itu memang sedang mekar.

"Kerahkan segala sumberdaya untuk mencapai pilihan yang sudah kamu tetapkan. Terserah kamu pilih mau jadi apa, untuk itu harusnya sumber daya kamu kerahkan. Kamu putuskan diri jadi pelukis, maka sumber daya, pikiran, tenaga, hanya buat menghasilkan lukisan. Kamu putuskan mau jadi penulis, buat menulis pula segala hal kamu fokuskan. Kamu ngobrol, kamu membaca, kamu berjalan, semuanya untuk menghasilkan tulisan. Masih belum spesifik, menjadi penulis itu luas, terserah kamu mau jadi penulis jenis apa. Penyair, cerpenis, novelis. Jika kau putuskan diri menjadi penyair, maka kepada syair itulah segala hal harus kamu fokuskan, jika keputusanmu menjadi cerpenis, kepada cerpen pula segala hal kamu fokuskan. Begitulah memutuskan jadi novelis, maka novel pula yang setiap saat harus kamu garap. Kamu tetapkan sebuah judul, dan mulailah garap sampai selesai. Berjalan ke mana saja, membaca apa saja, menulis di mana saja, kapan saja, untuk novel itu pikiran kamu fokuskan."

"Saya jadi teringat Arswendo."

"Bagaimana dia?"

"Menulis dalam bukunya "Mengarang Novel Itu Gampang."

"Bagaimana katanya?"

"Gunakan semua waktu yang ada untuk mengingatkan bahwa kamu ingin menjadi novelis. Kamu akan menjadi pengarang, siapkan itu dalam hatimu. Jadikanlah itu sebagai kesadaranmu."

"Ya, dia betul."

"Boleh intermezzo?"

"Intermezo apa?"

"Kalau saya memutuskan diri menjadi pendengki?"

"Ya buat kedengakian itu juga segala sumber daya kamu kerahkan. Pikiran kamu, tulisan kamu, cerpen, postingan-postingan social media kamu gunakan semuanya buat mendukung kedengkian yang kamu rasakan. Kamu pikirkan pilihan kata-kata yang menunjang kedengkian itu, pilihlah sebisa mungkin kata-kata paling menyakitkan."

"Apakah itu saran ustadz?"

"Jika keputusan hidupmu begitu, ya lakukanlah. Jangan tanggung-tanggung, jadilah pendengki sepenuhnya."

"Itu trik mencapai kesuksesan juga?"

"Boleh jadi, paling tidak, kamu akan sukses mencapai apa yang Rasulullah Saw. janjikan."

"Apa?"

"Musnahnya kebaikan sebagaimana musnahnya kayu bakar dimakan api. Kamu lakukan banyak kebaikan, tapi kebaikan itu tidak menjadikanmu lebih mulia. Kamu hafal banyak sekali pengetahuan, tapi pengetahuan itu tidak menjadikan keimananmu bertambah."

"Itu sih bukan janji, itu ancaman."

"Kamu mau?"

"Tentu saja tidak."

"Tapi di atas segala keputusan, keputusan terbaik adalah menjadi hamba Allah. Sehingga hanya untuk menghamba kepada Allah saja semuanya difokuskan. Tulisanmu, bicaramu, membacamu, berjalanmu, memegangmu, bangunmu, tidurmu, semuanya hanya untuk satu hal."

Saya mengangguk-ngangguk.

"Oh ya,"dia meneruskan "untuk fokus menulis, sekarang sudah banyak kemudahan. Kamu punya smartphone bukan?"

"Ya, ada."

"Sudah instal program pengolah kata?"

"Ya sudah."

"Nah, itu fasilitas luar biasa. Ke mana saja, di mana saja, di kendaraan, di bus, di kereta, di tepi jalan, di pinggir sungai, di mana saja inspirasi datang ke dalam kepala, bisa langsung kamu tuliskan. Jadi saat kamu ingin menghasilkan sebuah novel, misalnya, kamu bisa menghasilkannya lebih cepat."

Ya memang perbincangan ini tidak mengarah. Tapi bagi saya, luar biasa berharga.

======


(Fiksi)

Wednesday, March 30, 2016

Jomblo dan Tiang Listrik

Aku merindukanmu tiang listrik. Tak pernah pergi tak pernah ingkar janji, kau kekasihku yang paling satia.

Kulihat jam tangan, masih jam 13 lebih 10 menit, rasanya begitu lama menunggu jam pulang. Bermesraan, bercinta dan berkasih sayang hanya bisa bersama moush hitam mengkilat, dan keyboard komputer yang tuts-tutsnya kusentuh sepuasnya, kuusap, kucium, kuapakan saja bebas. Tiada salah, tiada dosa. Apa lagi?

Juga meja, sahabatku lainnya pelerai gundah. Baik lur biasa, si mejaku ini, meski ngantuk tertidur di atasnya sampai banjir ludah, meleleh tumpah ruah bau segala macam, tak pernah jadi masalah karena meja tak pernah marah, tak pernah protes, tak pernah mempermasalahkan masalah. Mejaku paling baik, paling pendiam, paling bisa menerima, dan tak pernah protes meski di atasnya kusimpan apa saja. Aku mencintainya meski yang paling kurindukan tetap kamu, oh tiang listrik.

Baru jam 13.15. Masih lama ke jam lima sore. Kalau saja bisa menjadi superman, akan terbang ke matahari atas sana, mendorongnya lebih cepat, biar lebih cepat turun ke barat. Itu lamunan gila di atas kegilaan yang sudah ada. Aku cuma bisa menahan rasa, dalam rentang waktu detik ke detiknya terasa seperti ribuan abad.

Hasrat menemuimu begitu berat, karena aku tak tahan ingin segera curhat. Mencari kelegaan dengan menumpahkan beban apa saja yang menyempitkan dada dengan bisikan-bisikan, sambil memelukmu mesra bersama serak dan debar. Sungguh aku tak tahan, ingin segera bertemu dengan aku tak tahan. Terasa begitu lama, jadi, kerinduan baiklah kucurahkan saja pada tulisan. Biar nanti setelah sampai saatnya bertemu denganmu, print out tulisan ini sambil merangkulmu kubaca.

Tiang listrik, untuk percintaan sekarang, inilah yang ingin kusampaikan. Mengapa cintaku padamu begitu menggebu-gebu, mengapa rinduku mengharu biru? Alasannya, karena setelah kubanding-bandingkan dengan kisah-kisah cintaku sebelumnya, kisah cintaku denganmu ini kisah cinta terindah.

Kau setia, sedangkan pacar pertamaku waktu kelas tiga SMP tidak. Dia anak SMA, baru empat bulan setelah dia jujur menyukaiku, ternyata berkhianat. Tidak penting kuceritakan bentuk pengkhianatannya seperti apa. Waktu itu memang menyakitkan, hanya kini setelah usiaku tiga puluh tujuhan baru bisa berpikir proporsional, namanya juga anak SMA, dan ini cuma pacaran. Terlalu serius dan menganggap cinta masa-masa SMA segala-galanya biasanya suka terjerumus frustasi bahkan kehilangan masa depan.

Masuk SMA, pacarku anak kuliahan. Semester dua, seorang pria tampan. Bukan tampan, sebenarnya yang terpenting bagiku, mobilnya keren. Dia anak bos sebuah perusahaan rokok, dan dia luar kuliah, si tampan kerja di perusahaan ayahnya.

Telah berpenghasilan sejak masih muda bagiku keren luar biasa.

Anak SMA pake motor metik? Lewat!

Aku mencintai si tampan dan menjalin hubungan pacaran dengannya terbilang lama, hingga aku masuk kuliah.

Percayalah, pacaran ini sebatas komunikasi doang. Tidak lebih, karena biarpun kau lihat aku matre, keluar rumah jilbab tak pernah lepas. Intim sebatas inboks facebook, telfon dan SMS-an. Urusan sentuh-sentuhan, maaf, aku gak bisa nerima. Dan si tampan mengerti. Sejak pertama kali dia mengulurkan tangan dan tidak kusambut, tak pernah sekalipun dia kurang ajar.

"Belum  halal." tanpa butuh penjelasan panjang lebar, alasanku itu bisa dia terima. Aku ingin segala keindahan sentuh menyentuh itu kami nikmati setelah halal, karena si tampan, benar-benar dia yang dalam impianku nanti akan menjadi kekasih halal.

Itulah sebabnya saat Si Odin tetangga satu desa mencoba meminang, kutolak. Dalihku masih kuliah. Padahal alasan sebenarnya karena usaha dia cuma tukang rujak. Susah kuterima jika nanti teman-teman memanggilku nyonya rujak. Gak kebayang nanti setiap pagi nanti harus mengupas nanas, pepaya, dan mangga. Kalau jari ini teriris nanti bagaimana. Lagi pula belum tentu Si Odin bakal mampu membiayai perawatan kuku yang selama ini kudapatkan dari Purnama.

Oh ya maaf tiang listrik, baru ngasih tahu, pacarku yang kaya tampan keren plus sudah punya penghasilan ini namanya Purnama, yang terpaksa harus kulepas saat aku kuliah semester enam karena ternyata dia tanpa perasaan memutuskanku karena mau menikah dengan Ardila, seorang sarjana kesehatan. Luluh lantak Hirosima dan Nagasaki masih terlalu ringan dibanding hancurnya perasaanku waktu itu. Dan tiada lagi cerita cinta setelahnya karena setiap kali pria datang ke rumah hendak meminang, selalu jawabanku kepada mereka itu sama: "Tidak!"

Tidak bukan disebabkan kehilangan selera menikah, melainkan menunggu pria yang datang itu setara, atau ya minimal kurang sedikitlah dari Purnama. Yang selama ini datang kebanyakan pria-pria kelas pasar tradisional. Pria-pria nggak banget yang aduh, sangat tidak berkelas. Tugimin, tukang goreng ayam. Sartono, pedagang VCD bajakan. Toto, pedagang telur asin. Warman, tukang tahu bulat. Surhadma, peternak bebek. Aku heran, kenapa yang datang semuanya pria yang gak kuharapkan.

Memang ada pria tampan, anak orang berada, suka menggoda dan memanggil-manggil namaku setiap lewat depan rumahnya. Satria, dari namanya pun kau tahu dia gagah. Tapi rela mati, meski datang ke rumah mengajukan pinangan dengan membawa sedan mewah, aku tak mau nerima. Dia mantan pasien rumah sakit jiwa. Dan sisa-sisa ketidakwarasannya masih belum hilang.

Hingga tamat kuliah, hingga bekerja, hingga sekarang, tak seorang pun pria yang kusuka berani datang ke rumah mengajukan pinangan. Jangankan pria berkelas, yang biasa-biasa pun tidak ada. Mungkin setelah beberapa kali penolakanku dulu, mereka saling berbisik satu sama lain untuk jangan coba-coba berani datang.

Padahal mempunyai kekasih halal, sungguh itu sesuatu yang sangat aku rindukan. Ingin kunikmati cinta halal, ingin kupunya seseorang halal, tempat menyentuh, tempat memeluk, tempat bicara, tempat curhat, pria belahan jiwa namun belum ada. Hanya meja kerja, moush, layar, sepatu, sandal saja yang kini bisa menjadi tempatku menumpahkan beban-beban. Sedangkan yang selalu dan selalu kurindu dan kangen ingin kembali dan kembali memeluk hingga kini hanya kamu, oh tiang listrik.

Tiang listrik, tak terasa waktu sudah pukul 16.00. Di luar hujan, tempiasnya membasahi kaca jendela. Dan kamu tiang listrik di sana, pasti kehujanan juga. Oh indahnya, pertemuan denganmu nanti pasti bakal jadi moment tak terlupakan. Sekali memelukmu, aku pasti langsung basah.

Saturday, March 19, 2016

Ada Buku Bagus Nih

Apakah malam ini kamu tahajjud, kalau iya, mudah-mudahan Allah mengangkatmu kepada keududukan terpuji. Mudah-mudahan Allah menyayangimu dan menganugerahkan jannatunnaim. Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepadamu hikmah dan menyertakanmu kepada golongan orang-orang shaleh,

Biasanya kamu mengingat seseorang, lalu apa gunanya mengingat orang itu, sebagaimana sekarang saya mengingatmu dan tidak tahu apa manfaatnya mengingat-ingatmu dari jauh. Di luar sana banyak orang lain melakukan, mengingat manusia lainya, dengan puisi-puisi mereka, dengan lagu-lagu mereka, dengan kisah-kisahnya, dan sama sekali tidak tahu, apakah manfaat besar yang bisa mereka dapatkan darinya. Mengingat Allah... adalah sumber ketenangan. Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Karena itu mari kita pilih setiap pembicaraan dan bacaan, hanya pembicaraan dan bacaan yang mengingatkan kita kepada Allah. Hanya pembicaraan dan bacaan yang menyadarkan kita, tiada yang berhak disembah dan ditaati perintahnya selain Allah.

Malam ini saya membaca buku bagus. Teringat, setiap kali pulang dan saya membawa buku bacaan, kamu suka membukanya dan baca. Jika menyenangkan, biasanya kamu berkata, "Jangan dibawa lagi ya, biarkan di rumah saja. Saya mau baca. Bagus, runut, tertib, kata-katanya rapi tertata, memudahkan pembayangan, memudahkan pemahaman."

Begitu kurang lebih kamu meminta.

Dan ini, sekarang ada lagi buku bagus yang saya yakin, kamu akan sangat suka. Bersampul indah warna kesukaanmu, merah muda, bergambar penulisnya--penulis yang karya lainnya, beberapa minggu lalu telah kamu baca habis sampai berurai-urai air mata.

Ini buku yang sangat indah, huruf-huruf judulnya timbul dengan desain yang, kamu pasti sangat suka. Dibawa mengantar anak ke PAUD, ibu-ibu lain yang juga mengantar anaknya pasti ikut penasaran dan mau meminjam.

Takkan saya beritahukan dulu judulnya. Nanti juga di rumah kamu bakal tahu, semoga jadi kejutan.

Buku ini baru selesai cetak, dan telah lama ditunggu orang. Sejak sebelum selesai cetak sudah banyak orang pesan.

Beberapa bab telah saya baca dan isinya, waduh sangat menghanyutkan. Berkisah nasib tragis beberapa gadis yang kemudian berusaha mentafakkuri pengalaman hidupnya. Mengerikan, beberapa mengalami kehidupan berat, beberapa sampai meninggal. Dan yang teristimewa, buku ini menyajikan kisah-kisahnya dengan bahasa ringan mudah kamu kunyah. Bahasa cerita, bahasa biasa, dengan kata-kata yang sengaja dipilih supaya menyentuh perasaan.

Kamu mau membaca tidak?

Kalau mau, insya Allah nanti bila saatnya tiba waktu pulang, di awal bulan, akan saya masukkan buku ini ke dalam tas, insya Allah, supaya nanti sampai ke rumah, bisa kamu buka dan baca.

SHALAWAT BADAR

"Ya Allah, saya tahu sedikitnya amal ibadah saya, tapi Engkau lebih tahu sedikit dan segala kekurangannya. Tapi dari yang sedikit ini saya merasakan nikmat yang luar biasa, saya rasakan keindahan luar biasa. Nikmatnya ibadah kepada-Mu, kepada jiwa rasanya sangat menenangkan. Mohon jangan cabut ya Allah, jangan Engkau menguranginya, saya mohon, malah kalaulah boleh, tambah saja, tambahlah kenikmatan ibadah kepada-Mu ini ya Allah. Ringankanlah saya bangun malam, ringankanlah saya berangkat bersuci ya Allah, mudahkanlah, dan mudahkanlah pula untuk mendirikan shalat, mudahkanlah saat mendirikan shalat, dan mohon selamatkan dari keragu-raguan yang sangat menghambat itu ya Allah. Jadikan hidup ini hanya untuk beribadah kepada-Mu, karena kehidupan terindah hanyalah kehidupan semacam itu."

Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang megah,

Apa istimewanya kedatangan seorang bapak ke rumah disambut anaknya. Apa uniknya saat bapak itu memeluk dan menggendong anaknya karena sangat kangen dan sayang. Apa hebatnya saat seorang suami, setelah sebulan tidak bertemu kemudian menatap menikmati wajah istrinya. Apa ajaibnya seorang yang sudah sekian lama di kota kemudian menikmati suasana sejuk rumah sebab berada di tengah alam pegunungan.

Semuanya biasa saja. Pertemuan biasa, percakaan biasa, tiada kejadian menegangkan, tiada masalah mendebarkan.

"Di kampungmu A, shalawat badar biasa dilantunkan dengan nada bagaimana?" suara dari tengah rumah. Istri bertanya.

"Bagaimana ya? Oh ya ada, yang menggunakan nada lagu Ibu Tiri." sahut saya dari kamar, sambil mengasuh Si Nai.

"Coba..."

"Suara saya tidak bagus."

"Tak masalah. Bagus kok."

"Sumbang."

"Gak papa. Rekam ya, nanti saya pelajari."

"Waduh!"

Dia sodorkan handphone. Handphone murah, sederhana, tapi bisa merekam,

"Bagaimana caranya?"

"Begini." dia siapkan menu media perekam.

Dan mulailah, suara serak nan sumbang ini melengking di tengah rumah, menampar-nampar dinding, menerobos ventilasi menembus kabut petang pegunungan. Entah bagaimana terdengar para tetangga. Sambil disandari Si Nai yang manja ingin terus bersama, saya usakan suara sebagus yang saya bisa.

Shalawat Badar. Melantunkan ini sangat menyedihkan perasaan. Menyedihkan bukan hanya karena sedih nadanya akan tetapi, juga menyedihkan karena lagu ini mengingatkan pada seorang guru saya yang hilang. Hilang dari kampung pergi ke kota karena kebutuhan. Saya sangat menyayanginya, dan dialah guru yang mengajarkan saya ini nada lagu shalawat badar.


Mau Betulin Hape