Thursday, April 7, 2016

Ditemani Wangi Bunga Sedap Malam

Pulang kampung tanpa singgah ke rumahnya terasa kurang. Jika bertemu, ada saja ilmu baru saya dapat. Sekalipun sepele, sekalipun sederhana, entah kenapa, mungkin sebab dia ungkapkan penuh ketulusan, di hati ini sangat membekas. 

Sebangun rumah kayu di tepian sawah, profil rumahnya. Bertiang kayu, berdindig bilik bambu beratap genting bakaran tanah. Beranda depan cukup untuk satu set kursi rotan, tempatnya menjamu bila tamu datang antara lain saya. Memilih rumah semacam ini atas cintanya pada kesederhanaan.

Katakanlah kekayaan kampung, orang tua ini sangat berharga. Bagi masyarakat dia seorang ustadz, bagi saya motivator hebat, pencinta sastra dan seniman kata-kata. Pikirannya terbuka, dan tak sekadar buku agama, bacaannya luas. Senang memotivasi orang, dan khusus untuk impian saya menjadi penulis, dia punya banyak nasihat berharga. Cara dia bicara, menunjukkan seorang sangat ahli tata bahasa. Dulu di pesantren, dia memang mempelajari tata bahasa, nahwu sharaf dan berbagai cabang ilmu Bahasa Arab seperti mantiq, istiarah, bilaghah, dan ilmul bayan. Tapi seni bahasa yang dia pelajari lebih dia amalkan ke dalam seni bicara: ceramah dalam pengajian-pengajian. Sudah sangat terbiasa dia menggunakan ibarat-ibarat, metafora, kisah-kisah, dengan sajian-sajian bahasa ringan namun mendalam. Untuk menjelaskan masalah rumit, dia sangat senang mengambil amsal dari hal-hal sederhana keseharian, supaya lebih mudah dipahami pendengar awam. Andai saja bisa, ingin saya catata semua detail kata-katanya. Namun susah. Jadi maafkan saya bila catatan ini tak sanggup merekam keluarbiasaan itu. 

"Sudah lama ingin jadi penulis, sampai sekarang belum juga menghasilkan karya. Itu kenapa?" tanya saya saat sepulang berjamaan Shalat Isya mampir. Betul, beranda ini sangat nyaman. Angin meniup  lembut keringat di leher, membawa wangi bunga sedap malam.

"Siapa?"

"Saya."

"Yang kamu rasakan, kenapa?"

"Apa ya?"

"Tanya diri kamu sendiri!"
"Kurang fokus, mungkin."

"Kalau begitu, fokuslah!"

"Bapak punya nasihat?" pertanyaan saya berjawab kesunyian. Dia terdiam. Menarik nafas, menghirup wangi angin dari bunga sedap malam. Tadi saya lihat di sudut halaman, bunga putih jelita itu memang sedang mekar.

"Kerahkan segala sumberdaya untuk mencapai pilihan yang sudah kamu tetapkan. Terserah kamu pilih mau jadi apa, untuk itu harusnya sumber daya kamu kerahkan. Kamu putuskan diri jadi pelukis, maka sumber daya, pikiran, tenaga, hanya buat menghasilkan lukisan. Kamu putuskan mau jadi penulis, buat menulis pula segala hal kamu fokuskan. Kamu ngobrol, kamu membaca, kamu berjalan, semuanya untuk menghasilkan tulisan. Masih belum spesifik, menjadi penulis itu luas, terserah kamu mau jadi penulis jenis apa. Penyair, cerpenis, novelis. Jika kau putuskan diri menjadi penyair, maka kepada syair itulah segala hal harus kamu fokuskan, jika keputusanmu menjadi cerpenis, kepada cerpen pula segala hal kamu fokuskan. Begitulah memutuskan jadi novelis, maka novel pula yang setiap saat harus kamu garap. Kamu tetapkan sebuah judul, dan mulailah garap sampai selesai. Berjalan ke mana saja, membaca apa saja, menulis di mana saja, kapan saja, untuk novel itu pikiran kamu fokuskan."

"Saya jadi teringat Arswendo."

"Bagaimana dia?"

"Menulis dalam bukunya "Mengarang Novel Itu Gampang."

"Bagaimana katanya?"

"Gunakan semua waktu yang ada untuk mengingatkan bahwa kamu ingin menjadi novelis. Kamu akan menjadi pengarang, siapkan itu dalam hatimu. Jadikanlah itu sebagai kesadaranmu."

"Ya, dia betul."

"Boleh intermezzo?"

"Intermezo apa?"

"Kalau saya memutuskan diri menjadi pendengki?"

"Ya buat kedengakian itu juga segala sumber daya kamu kerahkan. Pikiran kamu, tulisan kamu, cerpen, postingan-postingan social media kamu gunakan semuanya buat mendukung kedengkian yang kamu rasakan. Kamu pikirkan pilihan kata-kata yang menunjang kedengkian itu, pilihlah sebisa mungkin kata-kata paling menyakitkan."

"Apakah itu saran ustadz?"

"Jika keputusan hidupmu begitu, ya lakukanlah. Jangan tanggung-tanggung, jadilah pendengki sepenuhnya."

"Itu trik mencapai kesuksesan juga?"

"Boleh jadi, paling tidak, kamu akan sukses mencapai apa yang Rasulullah Saw. janjikan."

"Apa?"

"Musnahnya kebaikan sebagaimana musnahnya kayu bakar dimakan api. Kamu lakukan banyak kebaikan, tapi kebaikan itu tidak menjadikanmu lebih mulia. Kamu hafal banyak sekali pengetahuan, tapi pengetahuan itu tidak menjadikan keimananmu bertambah."

"Itu sih bukan janji, itu ancaman."

"Kamu mau?"

"Tentu saja tidak."

"Tapi di atas segala keputusan, keputusan terbaik adalah menjadi hamba Allah. Sehingga hanya untuk menghamba kepada Allah saja semuanya difokuskan. Tulisanmu, bicaramu, membacamu, berjalanmu, memegangmu, bangunmu, tidurmu, semuanya hanya untuk satu hal."

Saya mengangguk-ngangguk.

"Oh ya,"dia meneruskan "untuk fokus menulis, sekarang sudah banyak kemudahan. Kamu punya smartphone bukan?"

"Ya, ada."

"Sudah instal program pengolah kata?"

"Ya sudah."

"Nah, itu fasilitas luar biasa. Ke mana saja, di mana saja, di kendaraan, di bus, di kereta, di tepi jalan, di pinggir sungai, di mana saja inspirasi datang ke dalam kepala, bisa langsung kamu tuliskan. Jadi saat kamu ingin menghasilkan sebuah novel, misalnya, kamu bisa menghasilkannya lebih cepat."

Ya memang perbincangan ini tidak mengarah. Tapi bagi saya, luar biasa berharga.

======


(Fiksi)

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape