Tinggallah saya mematung sendirian, menghadapi gunungan tanah merah seraya bergumam, "Kamu bukan siapa-siapa tapi lihatlah jauh-jauh saya datang, kamu bukan siapa-siapa tapi lihatlah saya menghadiri pemakaman, kamu bukan siapa-siapa tapi saya menaburkan kembang, bukan siapa-siapa, saya datang sekedar ingin memperlihatkan padamu benda ini, guntingan kertas koran... "
* * *
"Ayolah Dan, coba kirimkan cerpenmu ke media. Pelajari cerpen media yang sudah dimuat, hitung berapa kata, berapa karakternya, buat lo ."
"Terima kasih motivasinya Bu Editor!"
"Gue bosan denger lo ngomong terima kasih. Dari dulu, tiap kali gue ngomong, terima kasih lagi, terima kasih lagi."
"Enggak, saya seris berterima kasih. Sampai-sampai saya berpikir begini, kalaulah benar misalnya cerpen saya sampai dimuat dimedia, maka... "
"Lo mau traktir makan?"
"Bukan, maka orang pertama yang paling saya ingat buat beri hadiah adalah kamu."
"Cie, gue dikamu-kamuin. Ayolah Dan!"
Saya minderan mengirim tulisan ke media. Beberapa minggu lalu pernah mengirim ke sebuah harian nasional. Sebatas mengirim, tanpa semangat dimuat. Sebatas ingin bangga pernah mengirim ke media. Supaya saat ngobrol dengan orang tentang mengirim tulisan ke koran, bisa berkata, "Saya juga pernah."
Rasa percaya diri yang parah.
Seakan Bu Editor mengerti keminderan saya, dia berkata,
"Lo harusnya percaya diri. Baru satu kali ngirim cerpen ke Mbak Asma, dia langsung suka, sampai dia menangis dibuatnya."
"Ah, saya kira itu mah Mbak Asma saja pandai menghargai orang. Itu mah dia aja ingin memberi semangat."
"Enggak! Mbak Asma itu jujur. Kalau dia gak suka ya nggak suka."
Hanya bisa menyandarkan badan ke kursi kemudian merentangkan tangan supaya dada lebih lapang. Sempit sekali rasanya, disempitkan keminderan akut.
"Daya tulis saya sebenarnya lemah. Orang lain sangat bisa. Mereka menulis merespon isu-isu sosial, kejadian hangat sekarang mereka susun jadi tulisan. Hangat masalah anggota DPR ingin membangun perpustakaan, mereka susun jadi tulisan. Ramai penyanyi dangdut dipatuk ular jadi opini di koran. Heboh isu gay lesbian jadi artikel. jadi cerpen, jadi novel, jadi puisi. Maka tulisan mereka berkualitas, memasyarakat dan hangat. Lha tulisan saya? Tidak berbobot, hampa, hanya menceritakan masalah ecek-ecek personal yang kurang bernilai. Sementara media menerbitkan informasi hangat seputar kejadian terbaru sekarang, saya malah banyak menulis masalah pribadi, jadi mana bisa dimuat." sebatas dalam hati, gumaman panjang ini tidak saya sampaikan. Bu Editor sudah sangat bosan mendengar alasan.
Bu Editor memang luar biasa. Dalam mendukung semangat dia paling bisa. Perkara memotivasi beliau sangat pandai. Dan sebenarnya, saya ingin berterima kasih, sungguh sangat ingin berterima kasih atas support yang diberikannya. Bukan lagi dengan ucapan, sebab terbukti tadi, terima kasih sebatas ucapan sangat tidak berguna. Ingin dalam bentuk perbuatan, tindakan dan kesuksesan. Dengan cerpen yang benar-benar dimuat media, terpampang di koran nasional, pada sebuah halaman besar dengan judul besar dilengkapi ilustrasi gambar, saya beli dari loper koran lalu perlihatkan ke depan batang hidungnya. Tapi entah kapan.
Menit melangkah, hari berjalan, tanggal-tanggal bertanggalan bertumpuk menjadi bulan. Bulan sabit, bulan sepasi, bulan setengah, bulan purnama, berlewatan, bersliweran, hinga tahun bertindihan, namun apa yang dicipta-cipta belum juga tercipta, apa yang diangan-angan belum juga di tangan. Seharusnya tangan ini telah memegang selembar koran berisi sebuah cerpen yang dimuat, akan tetapi tidak, dan sebagaimana kulit saya semakin menua, kulit Bu Editor pun sama. Malam dan siang terus datang sambil dengan kejam merusak usia dan kemudaan. Uban terus bertambah, tulang dan sendi makin melemah. Tapi seperti Bu Editor masih tetap dengan keeditorannya, saya sendiri masih sebagai penyapu ruangan tukang facebookan. Seharusnya sudah ratusan cerpen dimuat koran, tapi keminderan terus menahan, membuat saya statis, diam, beku keras seperti batu hasil kutukan ibu Malin Kundang. Saya masih dengan adat lama, kebiasaan lama, hanya mengirimkan tulisan kepada social media, ada like satu orang, sudah puas, setelah itu nulis lagi hal-hal sepele, ringan, benar-benar tidak ada kemajuan.
Kapan? Lalu kapan saya benar-benar bisa berterima kasih atas motivasinya? Motivasi yang bukan sekedar ucapan, tapi terima kasih yang nyata, karya nyata, kesuksesan nyata. Kapan?
Sampai kapan saya akan terus menunda, apa sampai nanti waktu kehabisan? Oh jangan-jangan sampai ketika berdiri di suatu tempat kemudian setelah semua orang pulang, tinggalah saya mematung sendirian, menghadapi gunungan tanah merah seraya bergumam, "kamu bukan siapa-siapa, tapi lihatlah jauh-jauh saya datang, kamu bukan siapa-siapa tapi lihatlah saya menghadiri pemakaman, kamu bukan siapa-siapa tapi lihatlah saya menaburkan bunga, bukan siapa-siapa, karena saya datang hanya ingin memperlihatkan padamu guntingan kertas koran ini, lihatlah dari saku jaket saya ambil, masih terlipat, baik lipatannya saya buka, lihatlah, cerpen saya... bagaimana menurutmu?"
Tapi oh tidak! Tidak mungkin! Tidak boleh! Jangan! Itu dilarang!
Saturday, April 9, 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Seseorang menulis jujur menyatakan kurang nyaman sama yang posting rumah tangga hanya menceritakan keindahannya saja, kemudian dia mengingin...
-
Baru kemarin beli buku ini, sakarang sudah tamat. Buku obral tapi bagus. Memberi hal baru. Tentang "Kekuatan Pikiran Spontan." ...
No comments:
Post a Comment