Thursday, April 14, 2016

BUKU CATATAN HATI SEORANG GADIS

Food Truck di depan Depok Mall. Beberapa mobil terparkir membuka gerai makanan. Makanan khas dari berbagai negara. Makanan-makanan dengan nama yang bagi saya asing baru kali itu mendengar. Sore itu Pak Isa mengajak ramai-ramai makan di sana, bebas memilih. Dia yang bayar.

Mengelilingi meja segi empat, saat santai itu dia manfaatkan membahas lembaran-lembaran kisah nyata untuk bahan penyusunan sebuah buku remaja. Satu persatu lembaran itu dia baca dan periksa, kemudian kritik bagain-bagian pengganggunya dan menyarankan supaya dipangkas. Cerita kurang menarik Pak Isa sarankan supaya jangan sampai dimuat. Jika pun dimuat, cerita itu harus dipermak habis, sebisa mungkin supaya menarik hati bagi pembaca.

Tak menyangka, buku itu terlahir cepat. Hanya beberapa bulan kemudian, terbitlah. Catatan Hati Seorang Gadis. Setelah selesai cetak, dari ribuan buku yang datang saya ambil satu, bungkus rapi dengan plastik dan baca. Memang hanya kisah nyata pilihan yang dimuat. Kisah sejati gadis-gadis dengan berbagai warna dan latar belakang. Satu di antaranya kisah dari seorang gadis yang sudah meninggal dunia akibat jalan hitam yang dilaluinya.

Diawali kisah dari penulis bernama Embun Sabana. Bukan kisah dia, melainkan menceritakan kisah orang. Tentu saja dengan nama samaran. Kisah seorang gadis yang demi kosmetik, pakaian dan penampilan rela dia jalani pergaulan bebas, sampai harus kehilangan kegadisan. Tragis, tapi bagi gadis lain yang membaca kisah ini bisa menjadi pelajaran besar. Jangan main-main dengan pergaulan. Dalam pergaulan salah, menjaga diri sangatlah susah.

Bagi seorang gadis ini berarti pelajaran supaya berhati-hati memilih teman dan lingkungan, bagi orang tua, berarti harus ekstra ketat mengawasi pergaulan anaknya. Tak mengapa si anak gadis sedikit merasa terkekang, karena keselamatan dia berarti keselamatan semuanya. Juga sebaliknya, jika sudah terjerumus, bukan hanya si gadis yang menanggung malu, melainkan orang tua. Tak sedikit orang tua sampai sakit akibat memikirkan kebandelan anak.

Kisah berikutnya tak kalah seru. "Bunga Yang Layu" judul cerita itu, karya Diana W, mengisahkan seorang gadis yang dalam usia baru menginjak 18 sudah 3 kali menjalani pernikahan. Namun uniknya, setelah tiga pernikahan itu dia mengaku dirinya masih perawan. Pernikahan pertama atas perjodohan ibunya dengan seorang kakek usia 60-an, dan si gadis meski saat akad bisa menjalani dengan hati tenang, malam hari dia ketakutan. Sebulan begitu terus sampai akhirnya si kakek menceraikannya. Pernikahan kedua...

Ah sudah ah. Haha, bukan begitu sih ceritanya. "Bunga Yang Layu" bukan menceritakan gadis usia 18 sudah 3 kali menikah. Bukan, itu hanya rekaan saya saja. Jika penasaran, baca sendiri saja bukunya. Semoga siapa pun membaca buku ini, mendapatkan banyak pelajaran berharga. Sehingga kehidupan yang dilaluinya, terus berusaha dekat dengan Allah. Sehingga setiap hari adalah perayaan, setiap hari adalah kesenangan, setiap hari adalah kebahagiaan, setiap hal adalah kejutan menyenangkan, sebagaimana yang dijanjikan-Nya dalam surat Al-Jumu'ah, "Ingatlah Alla banyak-banyak agar kamu mendapatkan keberuntungan."


No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape