Sepanjang menulis cerpen, saya copy paste dan bagikan kepada teman-teman watsapp untuk mendapatkan timbal balik. Misalnya saat menulis cerpen "Tukang Gorengan" saya tulis cerpen itu sambil copy paste dan bagian ke teman watsapp.
Cerpen itu menceritakan seorang penjual gorengan yang setiap sore datang ke kantor tapi saya tidak mau beli karena mahal, padahal di tempat lain, gorengan harganya lebih murah. Saya tulis cerpen itu sambil terus bagikan kepada teman, dan memang benar, mereka mau meluangkan waktu memberikan komentar.
"Tapi gorengan ibu ini lebih enak dan besar-besar" sanggah seorang teman membela si tukang gorengan.
"Gorengan pinggir jalan punya si mamang roda juga besar-besar tahunya."
"Siapa tahu tukang gorengan ini punya tanggung jawab anak yang harus dia sekolahkan." jawabnya lagi.
"I don't care." jawab saya ketus.
Teman watsaap lain cukup empati kepada yang saya sampaikan.
Dia nyatakan dirinya pun seringkali merasa sayang mengeluarkan uang ketika yang jualan mematok harga ya lebih mahal dari harga biasa, "Saya juga jika si Rafi jualan peyek suka diam, harganya mahal."
"Iya padahal biasanya harganya cuma dua ribuan." saya membenarkan.
Saya tidak tahu apakah ini bisa menjadi sebuah kerjasama dalam menulis cerita. Jika cara ini efektif, mungkin nanti bisa saya sampaikan kepada orang. Dengan menulis sedikit demi sedikit cerita, membagikannya via japri (jalus pribadi) ke teman-teman, Saya juga tidak tahu apakah mereka benar-benar mau membaca tulisan saya, atau hanya membukanya. Soanya saya sendiri saat orang lain membaca ceritanya, kecuali jika cerita itu benar-benar bagus, saya sungkan. Sebenarnya saya ini malas membaca. Maka saya kira, orang lain pun akan merasakan hal yang sama saat saya minta membaca tulisan saya.
Entahlah, tapi saat saya sampaikan kepada salah seorang teman watsapp, bahwa tulisan yang saya kirimkan padanya terserah mau dia baca atau tidak, dia menjawab, "Aku baca kok."
Dan ketika cerita selesai dia memberikan komentar, "Kereen."
Apakah "Keren" yang dia ucapkan benar-benar karena sudah membaca semuanya, atau sekedar komentar supaa saya merasa senang?
Tidak tahu
Ah, saya sering menulis itu kepada cerita orang yang saya temukan. Tidak saya baca semua, cukup sekilas, dan langsung memberikan komentar, kereen. Jangan-jangan teman ini pun melakukan hal yang sama kepada saya.
Saya hanya merasa tulisan saya benar-benar dibaca, jika yang membaca tulisan itu adalah istri saya. Dia katakan tulisan saya bahasanya nyaman tidak membosankankan, dan saya sangat percaya dia sangat menyukai tulisan saya, bahkan saat membaca dia bukan sekedar membaca sekilas, tapi benar-benar membaca, dengan penuh penghayatakan dengan penuh ketelitian.
Terutama kamu yang tidak menyukali tulisan saya pasti langsung mencibir, "Huh, tidak membosankan apanya? Bahasanya begitu-begitu saja, rendahan, tidak mengandung nilai sastra, dan hanya sampah. Jelas-jelas membosankan dan malas membacanya. Gak usah bangga ya!!"
Bukan, saya bukan sedang berbangga, karena sebenarnya istri mengatakan itu supaya saya lebih bersemangat lagi menulis lebih banyak supaya cepat dibukukan, terjual banyak lalu nanti dia kebagian uangnya. Dan memang benar istri saya jika membaca tulisan saya, dia membacanya dengan penuh penghayatan, pendalaman, dan ketelitian, tidak pernah dilewat-lewat. Nyaris semua tulisan saya di rumah, di buku-buku catatan, di sobekan-sobekan kertas, bahkan SMS di handphone dengan sangat tekun suka dia baca.
Dan sampai sini, kamu pasti sudah bisa menebak, sebenarnya itu dia lakukan bukan karena saking sukanya pada tulisan saya, bukan karena tulisan saya bagus, bukan karena dia membaca dengan penuh cinta dan sayanga, aka tetapi karena dia membaca tulisan saya sambil melakukan penyelidikan, jangan-jangan dalam tulisan itu terkandung sebuah kalimat buat seseorang yang saya sembunyikan darinya."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment