"Ya Allah, saya tahu sedikitnya amal ibadah saya, tapi Engkau lebih tahu sedikit dan segala kekurangannya. Tapi dari yang sedikit ini saya merasakan nikmat yang luar biasa, saya rasakan keindahan luar biasa. Nikmatnya ibadah kepada-Mu, kepada jiwa rasanya sangat menenangkan. Mohon jangan cabut ya Allah, jangan Engkau menguranginya, saya mohon, malah kalaulah boleh, tambah saja, tambahlah kenikmatan ibadah kepada-Mu ini ya Allah. Ringankanlah saya bangun malam, ringankanlah saya berangkat bersuci ya Allah, mudahkanlah, dan mudahkanlah pula untuk mendirikan shalat, mudahkanlah saat mendirikan shalat, dan mohon selamatkan dari keragu-raguan yang sangat menghambat itu ya Allah. Jadikan hidup ini hanya untuk beribadah kepada-Mu, karena kehidupan terindah hanyalah kehidupan semacam itu."
Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang megah,
Apa istimewanya kedatangan seorang bapak ke rumah disambut anaknya. Apa uniknya saat bapak itu memeluk dan menggendong anaknya karena sangat kangen dan sayang. Apa hebatnya saat seorang suami, setelah sebulan tidak bertemu kemudian menatap menikmati wajah istrinya. Apa ajaibnya seorang yang sudah sekian lama di kota kemudian menikmati suasana sejuk rumah sebab berada di tengah alam pegunungan.
Semuanya biasa saja. Pertemuan biasa, percakaan biasa, tiada kejadian menegangkan, tiada masalah mendebarkan.
"Di kampungmu A, shalawat badar biasa dilantunkan dengan nada bagaimana?" suara dari tengah rumah. Istri bertanya.
"Bagaimana ya? Oh ya ada, yang menggunakan nada lagu Ibu Tiri." sahut saya dari kamar, sambil mengasuh Si Nai.
"Coba..."
"Suara saya tidak bagus."
"Tak masalah. Bagus kok."
"Sumbang."
"Gak papa. Rekam ya, nanti saya pelajari."
"Waduh!"
Dia sodorkan handphone. Handphone murah, sederhana, tapi bisa merekam,
"Bagaimana caranya?"
"Begini." dia siapkan menu media perekam.
Dan mulailah, suara serak nan sumbang ini melengking di tengah rumah, menampar-nampar dinding, menerobos ventilasi menembus kabut petang pegunungan. Entah bagaimana terdengar para tetangga. Sambil disandari Si Nai yang manja ingin terus bersama, saya usakan suara sebagus yang saya bisa.
Shalawat Badar. Melantunkan ini sangat menyedihkan perasaan. Menyedihkan bukan hanya karena sedih nadanya akan tetapi, juga menyedihkan karena lagu ini mengingatkan pada seorang guru saya yang hilang. Hilang dari kampung pergi ke kota karena kebutuhan. Saya sangat menyayanginya, dan dialah guru yang mengajarkan saya ini nada lagu shalawat badar.
Saturday, March 19, 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment