Sunday, January 17, 2016

KISAH BIRU PENUH DEBU

Telah dia tuturkan riwayat hidupnya kepadaku, kemudian pagi ini kukenang dalam perasaan, sebagai kisah berdarah-darah. Lupakan segera bahwa ini kisah nyata.Jangan percaya, jangan percaya, dan jangan pernah percaya. Katakanlah ini kisah khayalan, kisah biru penuh yang bahkan, gratis pun takkan pernah ada surat kabarmau memuat.

Jauh dari rumah, jauh dari orang tua, untuk kuliah di suatu tempat dan menjalani pergaulan bebas, berpacaran, kemudian bersama seorang pria tanpa didahului ikatan nikah, hasrat purba itu dia lakukan hingga berbuah benih tanpa diharap.

Akar kuat manakah bisa diraih saat dirinya tergelincir ke dalam jurang, ia tidak melihat, selain membiarkan saja dirinya melayang jatuh berharap sangkutan dahan ranting dedaunan sedikit mengurangi daya keras hempasnya. Kepada sang pacar benih tumbuh di perutnya itu diberitakan, dan sebagai sesama remaja pria ini pun hanya bisa kebingungan. 

Sekuat batin sang pria mengeluarkan kasih sayang kok rasanya berat. Kerepotan memikirkan, mengurus, dan menemani si pacar selama masa kehamilan membuahkan kebingungan, kecemasan, dan masa depan yang dia lihat tampak semakin hitam. Kuliah terganggu, konsentrasi berantakan, tiada lagi ketenangan saat belajar. Kuliah pun berantakan, maka siapakah yang disalahkan? Hati berniat sayang berubah menjadi buas. Entah kenapa, si pria menjadi kasar. Bentakan dan pukulan begitu mudah dia layangkan. Si pria mengaku sesungguhnya sayang dan si wanita pun menyatakan dia mengerti mereka masih cinta. 

"Oh adikku sayang" ucapku dalam perasaan, "maafkalah jika aku mengadili. Kalian berdua katakan itu cinta, begitu mulia, namun tahukah kalian berdua sesungguhnya itu hasrat seks yang terlanjur kalian cecap kemudian membuat ketagihan. Kalian menjadi terikat dan saling tidak mau menjauh, pengikat itu bukanlah cinta, melainkan kebutuhan badaniah, yang sayangnya karena kebutuhan badan itu kalian penuh dalam keharaman, maka itulah buahnya, kebersamaan sering membuat kalian berdua heran, bukannya membuahkan ketenteraman dan kasih sayang namun gelisah dan luka." 

Dikarenakan pertengkaran itulah, maka keduanya menjaga jarak, tidak lagi saling bertemu, hingga kandungan kini berusia tujuh bulan. Sungguh tidak mau aib ini tercium keluarga, biar dia tanggung sendiri. Sudah terlalu besar rasa bersalahnya kepada orang tua, selama ini mengirimkan uang karena percaya anaknya sedang meniti tangga demi tangga menuju masa depan cerah. Jangan sampai beban mereka ditambah lagi dengan rasa malu karena anaknya berbuat dosa. Harus digugurkan, ya harus digugurkan, maka dia pergi kepada jasa aborsi tradisional, meminum ramuan, hingga janin itu keluar sebagai mayat.

Saat kutanyakan bisakah digambarkan seperti apa sakitnya menggugurkan kandungan, dia meratap dengan kata-kata, "Ya ampun, melahirkan normal saja sakitnya luar biasa, apalagi dengan cara-cara yang penuh dengan paksa."

Setelah selesai urusan aib kandungan, kerinduannya kepada sang pacar tak bisa ditahan, karena hasrat seks itu hanya bisa dia penuhi dengannya, dan si pria pun merasakan hal yang sama. Mereka kembali bertemu, tapi kembali lagi, seperti sebelumnya, remaja manis ini disalahkan karena dianggap telah menghancurkan kuliah.

"Baiklah." kata si wanita, "Jika itu kesalahanku, jika berantakan kuliahmu sepenuhnya kesalahanku, akan kutebus. Biarkan kucari uang untukmu, untuk kau teruskan kuliah." maka dia mencari yang, pergi entah ke mana, lalu pulang membawa uang banyak, namun pacarnya curiga dan tidak mau menerima, dan memang kecurigaan itu benar karena uang didapat dari para pria hidung belang. Demi kelanjutan kuliah pacarnya, dirinya kini rela dia jual. Wahai pepohonan yang meranggas disebabkan kemarau panjang, ranting yang kau biarkan lepas terhempar jatuh gemerapan akan bagaimanakah lagi nasib berikutnya?

Dari sang pacar dia kembali menjauh. Kata putus yang tertunda sejak lama resmilah sekarang. Dan berikutnya, dari pergaulan ke pergaulan dari pria ke pria, bersama waktu yang tersendat merayap, hati memarnya dia bawa, sang wanita penuh luka, hingga tak pernah kuterima lagi curhatnya. Lama, ingin kutanyakan lagi bagaimana kisah berikutnya, dan kembali kucari namanya, terbukalah akun bergambar wanita manis itu terbuka, dan kutemukan timeline telah bertabur ucapan bela sungkawa dari teman-temannya. "Kita senantiasa tertawa dan berdekatan, tapi kini kamu sudah tiada."

Saturday, January 16, 2016

BUKU SEBELUM TAMAT: DARI PESAN BUDI ANDUK

Dari Pak Budi Anduk, Pak Aziz Gagap punya kenangan, "Dia selalu ingetin saya untuk shalat dan jaga kesehatan." Sederhana, tidak besar, tidak panjang-panjang, bukan ceramah berjam-jam, hanya pesan supaya shalat dan menjaga kesehatan, tapi itulah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang pernah Nabi sebutkan sebagai sesuatu yang ganjarannya akan terus mengalirmeskipun si penyampai sudah meninggal. Amiin, mudah-mudahan saja. Kita tidak tahu bagaimana yang sebenanya, benarkah ilmu yang Pak Budi sampaikan itu mengalir terus pahalanya. Hanya bisa mengaminkan, mudah-mudahan saja, kita doakan, sambil berharap kepada Allah kita pun mendapatkan kebaikan yang sama, aliran ganjaran tak terhenti dari ilmu yang bermanfaat.

Dan untuk mendapatkan itu, tentu saja mesti berusaha. Tengok segera perbincangan keseharian dengan teman, baik berupa ucapan atau tulisan saat bersosial media. Betapa beruntungnya, jika setiap yang kita ucap dan tuliskan menjadi ilmu yang bermanfaat. Betapa beruntungnya jika postingan itu merupakan tulisan yang mengingatkan orang supaya shalat, betapa beruntungnya jika kalimat itu merupakan tulisan yang menyadarkan orang supaya mengingat Allah. Betapa beruntungnya saat puisi kita mengingatkan orang untuk cinta membaca Al-Qur'an. Betapa beruntungnya jika artikel kita mengajak orang untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya. Betapa beruntungnya jika tulisan itu berisi inspirasi yang mengilhami orang lain berbuat baik, bersabar, saling berkasih sayang dan mendamaikan di antara manusia. Betapa beruntungnya, betapa beruntungnya, dan betapa beruntungnya.

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan dari  bisikan-bisikan mereka, selain bisikan-bisikan orang yang menyuruh untuk bersedekah, atau berbuat baik, atau untuk mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa yang melakukan itu untuk mencari ridha Allah, maka kelak Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar." (Surat Annisa)

Sampai kepada paragraf ini, kalau boleh menebak, mungkin benak benak berkata, tulisan ini seperti ceramah, sedang khotbah. Bisa jadi ucapan Anda benar. Mungkin ini ceramah, tapi semoga Anda tidak menguap. Kemudian tidur sampai beres pengajian. Malah saya harap Anda menambah dengan mutiara-mutiara kata, ayat-ayat yang Anda hafal, atau hadits supaya semakin lengkap. Perbincangan ini penting, mengingat sebuah kenyataan tak terelakkan bahwa kita akan meninggal.

Orang lain pergi duluan. Sebagian disebabkan sakit, sebagian kecelakaan, sebagian sengaja dibunuh, sebagian lagi, dan ini luar biasa, berani tiada dara, yaitu bunuh diri. Tak tahu kenapa dan bagaimana caranya, satu kesamaan mereka sama-sama sudah tamat. Kemarin tertawa-tawa, sekarang sudah tidak ada, kemarin orang ngobrol dengan kita, sekarang sudah berkalang tanah. Dan suatu saat, kita pun sama, akan mendapat giliran. Dan untuk hari mencemaskan itu, semestinya kita bersiap.

Friday, January 15, 2016

TINGGALKAN TULISAN INI, SEGERA!!

Tidak mengandung pengetahuan yang memicu cerdas pikiran, tidak mengandung hikmah yang bisa membuat Anda menjadi bijak, tidak mengandung solusi yang bisa membuat hidup Anda lebih mudah, sepi mutiara-mutiara kata, sepi kekayaan bahasa, sepi ungkapan indah, sepi kisah menggugah, pepatah petitih, peribahasa, begitulah tulisan saya sekarang, yang kini sedang Anda baca.

Jangankan isi, bahkan bahasanya sangat membosankan. Seperti Komplek Sarinah Jakarta Pusat kemarin, paragraf pertama saja menerima banyak sekarangan. Beberapa kali di sana meledak kata "yang", terus berulang-ulang. Lihat dan perhatikanlah dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, maka akan segera Anda sadari tulisan saya ini sangat tidak memberikan teladan. Padahal bagi seorang penulis pemula seperti saya, sudah seharusnya berusaha sebisa otak dan tangan menghindarkan serangan kata dan berupaya menyajikan susunan kata berbeda demi membangun variasi, kreativitas dan bahasa beraneka.

Karenanya setelah memerhatikan dan menimbang, maka dengan ini memutuskan, bahwa menurut saya, lebih baik tulisan ini segera Anda tinggalkan, untuk mencari bacaan lain lebih bagus, lebih kaya, lebih berharga, lebih berguna, dan lebih berguna bagi nusa dan bangsa. Sungguh saya tidak ingin tulisan ini membuat Anda mendapatkan beban, merasakan keberatan, karena harus menguras pikiran, harus mengunyah kata demi kata, mencerna kalimat demi kalimat, tapi setelah paragraf terakhir sama sekali tidak mendapatkan hal berguna.

Sekali lagi, segera tinggalkan, berhenti sampai kalimat ini, jangan bandel, jangan suka melanggar, jangan suka melawan, sekali lagi, segera berhentilah! Jangan teruskan! Sekali lagi, sekali lagi, harus berapa kali saya teriak sekali lagi. Sekali lagi, berhentilah! Jangan memaksa terus membaca, karena saya hanya ingin Anda mendapatkan kebaikan. Tapi ah, mungkin karena Anda memang suka membantah, sampai baris ini, Anda masih saja terus membaca. Tolong, hentikan sekarang juga!

Apalagi jika Anda membaca tulisan saya dengan tujuan supaya saya nanti balas membaca tulisan Anda, sunguh jika itu tujuannya, saya hanya bisa membungkukan badan mengucapkan terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf atas segala kekurangan, dikarenakan untuk melakukan itu saya mempunyai banyak keterbatasan. Sungguh ini bukanlah disebabkan saya memandang rendah tulisan Anda, karena seperti sering saya sampaikan di berbagai waktu dan kesempatan, bahwa semua tulisan itu menarik dan mempunyai kelebihan. Sekali lagi saya sampaikan, ini semua terjadi karena saya mempunyai banyak keterbatasan, yaitu keterbatasan waktu dan semangat.

Sekali dua kali saya mungkin membaca tulisan orang lain, terutama tulisan menarik yang mencubit rasa penasaran, misal yang judulnya genit mengerlingkan mata seperti wanita penghibur di bar, maka oleh tulisan semacam itu biasanya saya tergoda, kemudian mendekat, membaca sejak atas sampai bawah, kemudian setelahnya mendapatkan perasaan senang karena mendapatkan sesuatu yang beda dan berharga. Akan tetapi jika harus membaca semua tulisan, waduh, ampun seribu ampun, karena boleh dikata membaca tulisan menarik tadi pun tidak sengaja, melainkan sekedar hiburan di sela kesibukan kerja, pengusir kejenuhan, sekedar ingin jalan-jalan, siapa tahu menemukan tulisan beraroma asam manis seperti nanas Afrika.

Bukan sebab tidak bagus, jika tulisan Anda tidak saya baca. Telah saya sampaikan pada berbagai tempat, waktu dan kesempatan, tiada satu pun tulisan buruk, tidak bagus, tidak menarik, saya yakin semua tulisan menarik, hanya saja ada yang daya tariknya langsung kelihatan, dan ada yang daya tariknya memerlukan pembongkaran. Yang membuat saya tidak membaca tulisan Anda hanyalah karena saya mempunyai banyak keterbatasan, antara lain karena keterbatasan waktu dan semangat, tidak seperti Anda yang mempunyai banyak waktu luang membaca, dan semangat memberikan komentar, sudut pandang, dan bercakap akrab, untuk mencapai kehebatan seperti Anda, sepertinya saya harus berlatih dan belajar.

Thursday, January 14, 2016

KALIAN LUAR BIASSAAAA

Hebat sekali sebagian besar Anda pandai menyusun cerita, kenapa saya tidak ya. Kemarin saja waktu santai makan di kantin, sekalian istrirahat, tadinya saya mau sambil menyusun cerita pendek, tentang peristiwa bom bunuh diri itu, tapi susah. Saya coba menulis dan setiap kali mau meluncurkan kata, setiap kali itu pula lidah batin merasakan kata yang saya tuliskan tidak tepat. 

Kalau tidak percaya, silakan saja baca, itu pun kalau Anda mau dan sempat,

Sebentar, saya ambil dulu buku catatannya ke kolong meja.

Nah, ini dia.

"Sedang santai kerja, bom meledak. Saya lihat sendiri percikan apinya... "

Nah, saat menulis "percikan" rasanya kok kurang tepat. Api itu pesar, sedang percikan lebih tepat digunakan buat api kecil, percikan konsleting listrik, percikan korek api, misalnya. Ini bom, apinya besar, masa disebut percikan. Tapi waktu saya cari kata lainnya, susah juga.

Mau diganti dengan kata hembusan. Lho, ini kan bukan angin.

Ok kita teruskan. Saya pun menulis lagi...

"Tiga orang pria tergeletak di jalan. Celana robek, kaki hancur, darah terhampar... "

Lho, lho, lho, kok terhampar? Terhampar lebih cocok buat benda seperti beras, padi, atau tikar. Sepertinya darah kurang tepat menggunakan kata terhampar. Saya orang Sunda biasanya menggunakan kata "Ngabayabah". Tapi apa ya Bahasa Indonesianya "Ngabayabah."

Hayati jadi pusing.

Saya coba menggunakan kata "tergelar".

"Darah tergelar... " ah makin ngaco saja.

Yang tergelar itu karpet, tikar, 

Sudah. Kita lanjutkan. Kemudian saya pun menulis...

"Seorang polisi duduk lemah bersandar, badan gemuk besar, kondisi rusak berat."

Plak! Haduh, masa memakai kata "kondisi rusak berat" memangnya rongsokan mobil?

Begitulah karena seringnya merasakan keseleo kata, kecepatan menulis jadi terhambat. Waktu istrirahat yang setadinya mau saya manfaatkan buat menulis satu cerpen--satu cerpen saja--malah habis. Nasi di piring tamat, waktunya kembali ke kantor. Cerpen belum selesai, harus kembali ke meja kerja.

Susah sekali rasanya.

Tapi saya perhatikan, cerita pendek hasil karya Anda banyak bertebaran. Bagus-bagus, buat penasaran, enak dibaca, kosa katanya kaya, diksinya tepat, bahkan sebagian sudah dimuat media cetak, wah, saya mah, jangankan dimuat media, selesai saja tidak.

Jadi ingat teriakan Pak Aril sambil mensayukan mata....

"KALIAN LUAR BIASSSAAAA!!!!!"

BUKU KOMIK DUCOBU

Waktu beli buku ini saya sempat ragu. Buat apa, tidak ada gunanya, cuma komik anak nakal. Tapi setelah saya buka, ternyata isinya bagus. Banyak mengandung kritik pendidikan. Dalam sajian halaman-halaman kertas lux, komik ini menjadi semakin asyik dibaca. Kisahnya singkat, simpel. Satu halaman selesai, satu halaman selesai.

Sudah lama saya baca komik ini, dan sekarang menemukannya lagi.

Pas awal rumah tangga, saya dan istri asyik membaca. Di sana ada tokoh kerangka t, teman Ducobu setiap kali mendapatkan hukuman berdiri di sudut kelas. Ducobu biasa memanggilnya Nenes.

Sebenarnya Nenes adalah alat peraga biologi, tapi dalam kisah ini Ducobu biasa berbicara dengannya, saling mendukung dalam kenakalan. Dan karena saya kurus, istri sering menyebut saya Nenes.

Sepertinya penulis komik ini bukan orang sembarangan. Godi dan Zidrou mengerti banyak cara menulis cerita bagus. Setiap halaman ceritanya kocak. Kadang puitis, kadang menyindir, kadang nakal, kadang menyedihkan. Asyik sekali membacanya.

Misalnya Ducobu edisi LEBIH BAIK MALAS DARIPADA CAPEK. Halaman pertama langsung memberikan adegan guru sedang mengabsen muridnya di kelas.

"Cristian?"

"Hadir!"

"Alexander?"

"Hadir."
"Hugo?"

"Hadir"

"Ducobu?"

Hening..,


"Ducobu?"

Semakin hening,

"DUCOBU???"

Eh tak tahunya si Ducobu sedang santai di pantai, berbaring di atas pasir hanya mengenakan kolor belang. Bersama si Nenes.

"Sepertinya aku melupakan sesuatu... tapi apa ya?"

Si Nenes bukannya menjawab, sambil selonjoran dia malah menyodorkan krim, "Apa kau bisa mengoleskan krim tabir surya ini ke punggungku?"

*   *   *

Buat Anda yang senang mengambil pelajaran dari cerita, buku ini cocok buat teman santai. Sambil bersenang-senang, sambil menikmati gambarnya yang lucu-lucu dan berwarna pada kerta lux yang berkilauan, Anda pun mendapatkan ilmu.

Wednesday, January 13, 2016

KEKUATAN PIKIRAN SPONTAN

Baru kemarin beli buku ini, sakarang sudah tamat. Buku obral tapi bagus. Memberi hal baru. Tentang "Kekuatan Pikiran Spontan." 

Sebuah buku tipis. Jonathan Creaghan, penulis buku ini konsisten, setiap buku apa pun yang ditulisnya, tidak pernah lebih dari 80 halaman. Bahkan buku ini, sampai daftar pustaka, hanya tercatat 56 halaman. Itu dilakukan buat meringankan pembaca. Dan memang terasa, saya bisa menamatkan buku ini dengan cepat.

Memang, jika sebuah buku memerlukan uraian panjang, bagus-bagus saja ditulis panjang. Tapi jika dengan uraian pendek pesan lebih kena, apa gunanya berpanjang-panjang?

Persis isi buku ini sudah lupa, tapi beberapa hal masih ingat. Menurut Creaghan, pikiran manusia bisa diibararatkan sebulat bola yang mempunyai tiga lapisan. Lapisan terluar disebut pikiran berpikir, lapisan kedua disebut pikiran bekerja, dan lapisan inti atau lapisan terdalam disebut pikiran sadar. 

Saya tidak bisa menerangkan satu per satunya kepada Anda. Jika tertarik dengan buku ini, silakan saja cari sendiri. Di sini saya hanya ingin menyampaikan, ada pikiran yang sering mengganggu kita, yaitu pikiran lapisan terluar, yaitu "Pikiran Berpikir."

Saat hendak melakukan sesuatu, Pikiran Berpikir bisanya memasang cemas, stress, dan pertimbangan. Karenanya, pikiran ini sudah selayaknya diabaikan. Jika dibiarkan mengusai, pikiran jenis ini  bisa menghalang-halangi kita bertindak.

Selama sebuah tindakan baik, kerjakan saja! Langsung kerjakan jangan banyak menunda. Karena penundaan hanya buang-buang waktu. Jangan biarkan cemas datang. Cepat tendang, sebab kecemasan yang dibiarkan akan menjadikan kecemasan itu semakin besar. Buang ketakutan, sebab ketakutan hanya akan menambah ketakutan. Buang keraguan, sebab keraguan hanya akan menambah keraguan. 

Pikiran berpikir ini sangat menghambat. Saat melakukan satu hal, pikiran ini biasanya mengajak memikirkan hal lain. 

Murni saja hanya memasang pikiran bekerja.


Just Do It!

Kerjakan saja. Jika sedang menulis, menulislah. Jika sedang berkisah, berkisahlah. Jika sedang membaca membacalah. Hadirkan pikiran dengan nyaman dan bahagia pada apa yang sedang dikerjakan, jangan dibiarkan lari ke mana-mana.


Penulis menyarankan, supaya kita senantiasa memasang pikiran bekerja. 

"Pikiran Bekerja tidak memiliki pikiran lain kecuiali kebutuhan untuk menampilkan tugas pada saat ini." 

Ciri-ciri pikiran bekerja antara lain, saat menggunakan ini, kita benar-benar murni melakukan tindakan, kita bertindak tanpa banyak pikiran, waktu tidak kita pedulikan, kita bekerja lebih cepat, lebih yakin, dan tidak dirumitkan berbagai kecemasan dan pikiran macam-macam.

Buku ini mengingatkan saya pada sebuah pesan dalam Al-Qur'an. Disebutkan, semua manusia berada dalam kerugian. Melainkan beriman dan beramal shalih. Secara sederhana, beriman berarti percaya, sedang beramal shalih berarti berbuat. Saat sebuah keyakinan datang, maka berikutnya adalah, tidak mengijinkan lagi berbagai pikiran, kecemasan, dan keraguan menguasai, melainkan, langsung melakukan tindakan. Dengan cara itu, maka dengan mudah seseorang akan mendapatkan keberuntungan.

Pada ayat lain disebutkan, "Alangkah baiknya pahala orang-orang yang beramal."

Jadi apa yang disebut pikiran spontan?

Pikiran spontan adalah pikiran yang bekerja tanpa harus mengerutkan jidat. Pikiran yang bekerja dengan sendirinya dalam kepala kita selama kita melakukan tindakan, kemudian melahirkan inspirasi tanpa kita harus memikirkannya dengan keras. 

Seorang pemimpin perusahaan raksasa dari Korea menegaskan, adalah konyol saat seseorang hanya berdiam diri menunggu inspirasi datang. Inspirasi lahir dari tindakan, maka bertindaklah maka dari sanalah ilham akan datang. Inspirasi mengalir dari ujung pena, maka Anda harus menulis dan menulis untuk mendapatkan ide cemerlang.

Friday, January 1, 2016

Setelah Membaca Buku Novel "Dilan"

Malam ini susah tidur. Sehabis jam kerja, jam dua dini hari, lanjut baca buku sambil baringan di atas barisan kursi kerja dengan niat supaya ngantuk, gagal. Lelap yang ditunggu tak datang. Pikiran terus sadar, ngos-ngosan terseret aliran cerita. Novel "Dilan". Karya Pidi Baiq, aneh sekali, hormon pemicu kantuk saya kalah tak berdaya. Sampai lewat jam tiga, tak terasa novel tamat.

Yahhh habbbis!

Penasaran kepada novel ini, dimulai dari panggilan Mas Lili supaya turun. Dari lantai tiga ke lantai satu, menggantikannya jaga toko. Dia pamit mau beli novel. Saya tanya novel apa, dia jawab, "Dilan 2". Buat siapa, tanya saya. Buat ponakan, jawabnya.

Dilan 2?

Beberapa hari sebelumnya, saya dengar Pak Isa menceritakan hebohnya novel Dilan 2. Pasar kehabisan stock. Memang semenarik apa sih?

Tak lama Mas Lili pulang, tangannya kosong. Katanya, novel itu tidak ada.

Kehabisan! Luar biasa, padahal baru kemarin-kemarin terbit.

Sampai banyak orang mencari, sebagus apa sih?

Penasaran saya buka google, mengetik, dan ketemu blog Pidi Baiq. Nah, ini dia, novel Dilan ada postingannya. Bukan sekedar resensi, bukan sekedar ulasan, tapi langsung cerita. Yes.

Saya mulai membaca.

Postingannya sangat panjang, dari bab ke bab, terus ke bawah, terus ke bawah. Mulanya biasa, kalaulah bukan karena penasaran banyak orang mencari, opening itu mungkin takkan sukses menggoda saya untuk terus membaca. Tapi semakin ke bawah, cerita semakin berkesan, semakin saya direnggut masuk ke dalam cerita. 

Dengan sudut pandang orang pertama, penuturan dibuat terasa dekat dengan, seakan si tokoh utama sedang benar-benar bicara langsung kepada pembaca, suatu malam, dari sebuah kamar di sebuah rumah di Jakarta, mundur ke masa silam, menceritakan kembali masa SMA dirinya tahun 1990-an, dengan Bandung sebagai latar.

Postingan sekian panjang, tak terasa sampai bawah. Tulisan habis, cerita menggantung, dan rasanya tuh, seperti sedang nikmat-nikmatnya makan bakso, baru makan sepertiganya, sedang nikmat-nikmatnya, pas bagian garpu mau nusuk bakso besar berisi cincang daging, tiba-tiba mangkok ditarik. Uhh!!!

Betul-betul, potongan cerita itu buat saya penasaran, yang tentu saja kalau mau tahu lanjutanya harus membeli buku itu. Brengsek Pidi Baiq!! Sepertinya sengaja dia bagikan cerita itu sepotong supaya orang membaca, lalu masuk ke dalam cerita, terjebak arus, lalu menggantung, dan penasaran ingin membeli bukunya. Pidi Baig sengaja membuat jerat dan kali ini jeratnyasukses memakan korban. Korban itu adalah saya.

Ok, Pidi Baiq kamu menang, tapi karena teman kerja saya--Diyan--punya novelnya, saya bisa pinjam bukumu ke dia, jadi mohon maaf, saya pun sukses baca bukumu tanpa harus membeli.

Satu sama.

Baca sampai tamat, kemudian merasa tak lengkap rasanya, jika pengalaman ini berlalu tanpa ditulis. Maka dini hari ini, tak mau menunda, langsung saya tulis ke blog, yang jadinya dengan cara ini tanpa sengaja saya mempromosikan, yang jika nanti ada orang lain membaca kemudian penasaran, orang itu akan tertarik membeli bukumu, dan itu aduh, berarti sukses lagi buat kamu. 

Dua kosong dah.

*    *    *

Sewaktu Diyan meminjamkan novel ini ke, beberapa kali dia berpesan, jangan sampai jatuh cinta kepada Dilan. Dan jangan sampai karena jatuh cinta kepada Dilan, kemudian saya memutuskan diri jadi bencong.

Plak!!!

Enak aja! 

Tak mungkinlah.

Jika setelah membaca novel ini dia merasa jatuh cinta sama Dilan, itu karena dia membaca sebagai perempuan! Ketika membaca sebagai laki-laki, akan sangat lain ceritanya. Sudut pandang laki-laki sangat berbeda. Maka membaca novel ini sebagai laki-laki menghasilkan efek berbeda. Bukan jatuh cinta sama Dilan, tapi...

"Jatuh cinta sama Milea?"

"Bukan."

"Lantas?"

Ah sudahlah! Sudah dekat Subuh!

Makasih Diyan! Tanpa darimu saya pinjam buku ini, entah dari mana bisa baca sampai tamat. Tidak bisa memberi imbalan apapun selain kata "semoga". Semoga kamu diberi kemampuan untuk membeli novel keduanya, biar kembali saya pinjam. Ngok!

Mau Betulin Hape