Jauh dari rumah, jauh dari orang tua, untuk kuliah di suatu tempat dan menjalani pergaulan bebas, berpacaran, kemudian bersama seorang pria tanpa didahului ikatan nikah, hasrat purba itu dia lakukan hingga berbuah benih tanpa diharap.
Dikarenakan pertengkaran itulah, maka keduanya menjaga jarak, tidak lagi saling bertemu, hingga kandungan kini berusia tujuh bulan. Sungguh tidak mau aib ini tercium keluarga, biar dia tanggung sendiri. Sudah terlalu besar rasa bersalahnya kepada orang tua, selama ini mengirimkan uang karena percaya anaknya sedang meniti tangga demi tangga menuju masa depan cerah. Jangan sampai beban mereka ditambah lagi dengan rasa malu karena anaknya berbuat dosa. Harus digugurkan, ya harus digugurkan, maka dia pergi kepada jasa aborsi tradisional, meminum ramuan, hingga janin itu keluar sebagai mayat.
Saat kutanyakan bisakah digambarkan seperti apa sakitnya menggugurkan kandungan, dia meratap dengan kata-kata, "Ya ampun, melahirkan normal saja sakitnya luar biasa, apalagi dengan cara-cara yang penuh dengan paksa."
Setelah selesai urusan aib kandungan, kerinduannya kepada sang pacar tak bisa ditahan, karena hasrat seks itu hanya bisa dia penuhi dengannya, dan si pria pun merasakan hal yang sama. Mereka kembali bertemu, tapi kembali lagi, seperti sebelumnya, remaja manis ini disalahkan karena dianggap telah menghancurkan kuliah.
"Baiklah." kata si wanita, "Jika itu kesalahanku, jika berantakan kuliahmu sepenuhnya kesalahanku, akan kutebus. Biarkan kucari uang untukmu, untuk kau teruskan kuliah." maka dia mencari yang, pergi entah ke mana, lalu pulang membawa uang banyak, namun pacarnya curiga dan tidak mau menerima, dan memang kecurigaan itu benar karena uang didapat dari para pria hidung belang. Demi kelanjutan kuliah pacarnya, dirinya kini rela dia jual. Wahai pepohonan yang meranggas disebabkan kemarau panjang, ranting yang kau biarkan lepas terhempar jatuh gemerapan akan bagaimanakah lagi nasib berikutnya?
Dari sang pacar dia kembali menjauh. Kata putus yang tertunda sejak lama resmilah sekarang. Dan berikutnya, dari pergaulan ke pergaulan dari pria ke pria, bersama waktu yang tersendat merayap, hati memarnya dia bawa, sang wanita penuh luka, hingga tak pernah kuterima lagi curhatnya. Lama, ingin kutanyakan lagi bagaimana kisah berikutnya, dan kembali kucari namanya, terbukalah akun bergambar wanita manis itu terbuka, dan kutemukan timeline telah bertabur ucapan bela sungkawa dari teman-temannya. "Kita senantiasa tertawa dan berdekatan, tapi kini kamu sudah tiada."
Akar kuat manakah bisa diraih saat dirinya tergelincir ke dalam jurang, ia tidak melihat, selain membiarkan saja dirinya melayang jatuh berharap sangkutan dahan ranting dedaunan sedikit mengurangi daya keras hempasnya. Kepada sang pacar benih tumbuh di perutnya itu diberitakan, dan sebagai sesama remaja pria ini pun hanya bisa kebingungan.
Sekuat batin sang pria mengeluarkan kasih sayang kok rasanya berat. Kerepotan memikirkan, mengurus, dan menemani si pacar selama masa kehamilan membuahkan kebingungan, kecemasan, dan masa depan yang dia lihat tampak semakin hitam. Kuliah terganggu, konsentrasi berantakan, tiada lagi ketenangan saat belajar. Kuliah pun berantakan, maka siapakah yang disalahkan? Hati berniat sayang berubah menjadi buas. Entah kenapa, si pria menjadi kasar. Bentakan dan pukulan begitu mudah dia layangkan. Si pria mengaku sesungguhnya sayang dan si wanita pun menyatakan dia mengerti mereka masih cinta.
"Oh adikku sayang" ucapku dalam perasaan, "maafkalah jika aku mengadili. Kalian berdua katakan itu cinta, begitu mulia, namun tahukah kalian berdua sesungguhnya itu hasrat seks yang terlanjur kalian cecap kemudian membuat ketagihan. Kalian menjadi terikat dan saling tidak mau menjauh, pengikat itu bukanlah cinta, melainkan kebutuhan badaniah, yang sayangnya karena kebutuhan badan itu kalian penuh dalam keharaman, maka itulah buahnya, kebersamaan sering membuat kalian berdua heran, bukannya membuahkan ketenteraman dan kasih sayang namun gelisah dan luka."
Dikarenakan pertengkaran itulah, maka keduanya menjaga jarak, tidak lagi saling bertemu, hingga kandungan kini berusia tujuh bulan. Sungguh tidak mau aib ini tercium keluarga, biar dia tanggung sendiri. Sudah terlalu besar rasa bersalahnya kepada orang tua, selama ini mengirimkan uang karena percaya anaknya sedang meniti tangga demi tangga menuju masa depan cerah. Jangan sampai beban mereka ditambah lagi dengan rasa malu karena anaknya berbuat dosa. Harus digugurkan, ya harus digugurkan, maka dia pergi kepada jasa aborsi tradisional, meminum ramuan, hingga janin itu keluar sebagai mayat.
Saat kutanyakan bisakah digambarkan seperti apa sakitnya menggugurkan kandungan, dia meratap dengan kata-kata, "Ya ampun, melahirkan normal saja sakitnya luar biasa, apalagi dengan cara-cara yang penuh dengan paksa."
Setelah selesai urusan aib kandungan, kerinduannya kepada sang pacar tak bisa ditahan, karena hasrat seks itu hanya bisa dia penuhi dengannya, dan si pria pun merasakan hal yang sama. Mereka kembali bertemu, tapi kembali lagi, seperti sebelumnya, remaja manis ini disalahkan karena dianggap telah menghancurkan kuliah.
"Baiklah." kata si wanita, "Jika itu kesalahanku, jika berantakan kuliahmu sepenuhnya kesalahanku, akan kutebus. Biarkan kucari uang untukmu, untuk kau teruskan kuliah." maka dia mencari yang, pergi entah ke mana, lalu pulang membawa uang banyak, namun pacarnya curiga dan tidak mau menerima, dan memang kecurigaan itu benar karena uang didapat dari para pria hidung belang. Demi kelanjutan kuliah pacarnya, dirinya kini rela dia jual. Wahai pepohonan yang meranggas disebabkan kemarau panjang, ranting yang kau biarkan lepas terhempar jatuh gemerapan akan bagaimanakah lagi nasib berikutnya?
Dari sang pacar dia kembali menjauh. Kata putus yang tertunda sejak lama resmilah sekarang. Dan berikutnya, dari pergaulan ke pergaulan dari pria ke pria, bersama waktu yang tersendat merayap, hati memarnya dia bawa, sang wanita penuh luka, hingga tak pernah kuterima lagi curhatnya. Lama, ingin kutanyakan lagi bagaimana kisah berikutnya, dan kembali kucari namanya, terbukalah akun bergambar wanita manis itu terbuka, dan kutemukan timeline telah bertabur ucapan bela sungkawa dari teman-temannya. "Kita senantiasa tertawa dan berdekatan, tapi kini kamu sudah tiada."
No comments:
Post a Comment