Kalau tidak percaya, silakan saja baca, itu pun kalau Anda mau dan sempat,
Sebentar, saya ambil dulu buku catatannya ke kolong meja.
Nah, ini dia.
"Sedang santai kerja, bom meledak. Saya lihat sendiri percikan apinya... "
Nah, saat menulis "percikan" rasanya kok kurang tepat. Api itu pesar, sedang percikan lebih tepat digunakan buat api kecil, percikan konsleting listrik, percikan korek api, misalnya. Ini bom, apinya besar, masa disebut percikan. Tapi waktu saya cari kata lainnya, susah juga.
Nah, saat menulis "percikan" rasanya kok kurang tepat. Api itu pesar, sedang percikan lebih tepat digunakan buat api kecil, percikan konsleting listrik, percikan korek api, misalnya. Ini bom, apinya besar, masa disebut percikan. Tapi waktu saya cari kata lainnya, susah juga.
Mau diganti dengan kata hembusan. Lho, ini kan bukan angin.
Ok kita teruskan. Saya pun menulis lagi...
"Tiga orang pria tergeletak di jalan. Celana robek, kaki hancur, darah terhampar... "
Lho, lho, lho, kok terhampar? Terhampar lebih cocok buat benda seperti beras, padi, atau tikar. Sepertinya darah kurang tepat menggunakan kata terhampar. Saya orang Sunda biasanya menggunakan kata "Ngabayabah". Tapi apa ya Bahasa Indonesianya "Ngabayabah."
Lho, lho, lho, kok terhampar? Terhampar lebih cocok buat benda seperti beras, padi, atau tikar. Sepertinya darah kurang tepat menggunakan kata terhampar. Saya orang Sunda biasanya menggunakan kata "Ngabayabah". Tapi apa ya Bahasa Indonesianya "Ngabayabah."
Hayati jadi pusing.
Saya coba menggunakan kata "tergelar".
"Darah tergelar... " ah makin ngaco saja.
Yang tergelar itu karpet, tikar,
Sudah. Kita lanjutkan. Kemudian saya pun menulis...
"Seorang polisi duduk lemah bersandar, badan gemuk besar, kondisi rusak berat."
Plak! Haduh, masa memakai kata "kondisi rusak berat" memangnya rongsokan mobil?
Begitulah karena seringnya merasakan keseleo kata, kecepatan menulis jadi terhambat. Waktu istrirahat yang setadinya mau saya manfaatkan buat menulis satu cerpen--satu cerpen saja--malah habis. Nasi di piring tamat, waktunya kembali ke kantor. Cerpen belum selesai, harus kembali ke meja kerja.
Susah sekali rasanya.
Tapi saya perhatikan, cerita pendek hasil karya Anda banyak bertebaran. Bagus-bagus, buat penasaran, enak dibaca, kosa katanya kaya, diksinya tepat, bahkan sebagian sudah dimuat media cetak, wah, saya mah, jangankan dimuat media, selesai saja tidak.
Tapi saya perhatikan, cerita pendek hasil karya Anda banyak bertebaran. Bagus-bagus, buat penasaran, enak dibaca, kosa katanya kaya, diksinya tepat, bahkan sebagian sudah dimuat media cetak, wah, saya mah, jangankan dimuat media, selesai saja tidak.
Jadi ingat teriakan Pak Aril sambil mensayukan mata....
"KALIAN LUAR BIASSSAAAA!!!!!"
No comments:
Post a Comment