Saturday, January 16, 2016

BUKU SEBELUM TAMAT: DARI PESAN BUDI ANDUK

Dari Pak Budi Anduk, Pak Aziz Gagap punya kenangan, "Dia selalu ingetin saya untuk shalat dan jaga kesehatan." Sederhana, tidak besar, tidak panjang-panjang, bukan ceramah berjam-jam, hanya pesan supaya shalat dan menjaga kesehatan, tapi itulah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang pernah Nabi sebutkan sebagai sesuatu yang ganjarannya akan terus mengalirmeskipun si penyampai sudah meninggal. Amiin, mudah-mudahan saja. Kita tidak tahu bagaimana yang sebenanya, benarkah ilmu yang Pak Budi sampaikan itu mengalir terus pahalanya. Hanya bisa mengaminkan, mudah-mudahan saja, kita doakan, sambil berharap kepada Allah kita pun mendapatkan kebaikan yang sama, aliran ganjaran tak terhenti dari ilmu yang bermanfaat.

Dan untuk mendapatkan itu, tentu saja mesti berusaha. Tengok segera perbincangan keseharian dengan teman, baik berupa ucapan atau tulisan saat bersosial media. Betapa beruntungnya, jika setiap yang kita ucap dan tuliskan menjadi ilmu yang bermanfaat. Betapa beruntungnya jika postingan itu merupakan tulisan yang mengingatkan orang supaya shalat, betapa beruntungnya jika kalimat itu merupakan tulisan yang menyadarkan orang supaya mengingat Allah. Betapa beruntungnya saat puisi kita mengingatkan orang untuk cinta membaca Al-Qur'an. Betapa beruntungnya jika artikel kita mengajak orang untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya. Betapa beruntungnya jika tulisan itu berisi inspirasi yang mengilhami orang lain berbuat baik, bersabar, saling berkasih sayang dan mendamaikan di antara manusia. Betapa beruntungnya, betapa beruntungnya, dan betapa beruntungnya.

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan dari  bisikan-bisikan mereka, selain bisikan-bisikan orang yang menyuruh untuk bersedekah, atau berbuat baik, atau untuk mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa yang melakukan itu untuk mencari ridha Allah, maka kelak Kami akan memberikan kepadanya pahala yang besar." (Surat Annisa)

Sampai kepada paragraf ini, kalau boleh menebak, mungkin benak benak berkata, tulisan ini seperti ceramah, sedang khotbah. Bisa jadi ucapan Anda benar. Mungkin ini ceramah, tapi semoga Anda tidak menguap. Kemudian tidur sampai beres pengajian. Malah saya harap Anda menambah dengan mutiara-mutiara kata, ayat-ayat yang Anda hafal, atau hadits supaya semakin lengkap. Perbincangan ini penting, mengingat sebuah kenyataan tak terelakkan bahwa kita akan meninggal.

Orang lain pergi duluan. Sebagian disebabkan sakit, sebagian kecelakaan, sebagian sengaja dibunuh, sebagian lagi, dan ini luar biasa, berani tiada dara, yaitu bunuh diri. Tak tahu kenapa dan bagaimana caranya, satu kesamaan mereka sama-sama sudah tamat. Kemarin tertawa-tawa, sekarang sudah tidak ada, kemarin orang ngobrol dengan kita, sekarang sudah berkalang tanah. Dan suatu saat, kita pun sama, akan mendapat giliran. Dan untuk hari mencemaskan itu, semestinya kita bersiap.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape