Friday, February 12, 2016

NASKAH CERAMAH UNTUK SEORANG TEMAN

Seorang teman minta tolong dibuatkan pidato. Dia pengurus ODOZ, One Day One Juz, sebuah komunitas yang membangun komitmen sehari membaca satu juz Al-Qur'an. Akan dia adakan pertemuan dan di sana, sebagai pengurus dia akan diminta menjadi pembicara. Buat persiapan, dia minta bantuan saya.

Waduh keberatan. Saya katakan padanya, sekarang kepala dipenuhi banyak hal, disibukkan banyak hal, sepertinya tak bisa lagi menulis semenyentuh dulu. Dia jawab, tak mengapa kata katanya biasa saja, tidak usah menyentuh segala. Biasa saja.

Oh baik temanku.

Tapi maaf, jika ini saya buat seenaknya:

Perkenalkan saya .......(nama teman saya), berasal dari Ciamis, sebuah kota di benua Asia, tepatnya di Asia Tenggara, tepatnya di negara Indonesia, tepatnya di Jawa Barat, antara Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar. Ciamis kebingungan mencari apa ikon yang tepat buat dijadikan lambang kota. Mau bunga mawar, kota kami belum seindah bunga mawar, mau bunga angrek belum secantik bunga anggrek, akhirnya dibuatlah taman raflesia untuk menggambarkan, sebuah bunga yang sebenarnya berbau kurang sedap tapi kami mengangkatnya menjadi pusat taman berhias air mancur, kerlap-kerlip lampu, dan berbagai tanaman hias di sekelilingnya untuk menggambarkan kami orang-orang bersemangat membangun kebaikan, bahkan bunga berbau kurang sedap pun, kami berusaha jadikan sesuatu yang sangat indah. Anda belum ke Ciamis kalau belum santai di Taman Raflesia.

Benarkah seperti itu tujuan pembangunan taman itu digagas? Ah ini hanya perkiraan saya, tapi darinya saya ingin mengambil renungan, begitulah kiranya kita membangun pertemanan, fokus kepada kebaikan teman daripada kekurangannya. Seperti dari bunga raflesia mengambil keindahannya buat penghias taman dan melupakan baunya, begitu pula kepada teman, lebih memusatkan kepada kebaikan mereka daripada kekurangannya. 

Seorang ulama pernah berkata, untuk menyambung sillaturrahmi dengan mudah, semestinya kita melakukan 4 hal: Melupakan keburukan orang dan memaafkannya, mengingat kebaikan orang dan berterima kasih padanya, melupakan kebaikan diri sendiri jangan terus mengingatnya, mengingat kesalahan diri sendiri dan berusaha meminta maaf.

Allah berfirman dalam surta Alfatihah ayat 3, "Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang." Jika Allah begitu murah, kenapa kita tidak menjadi pemurah dengan murah memaafkan. Jika Allah begitu penyayang, mengapa kita makhluk yang tak berdaya tidak menjadi penyayang dengan mudah memaafkan. Saling memaafkan, saling memberi semangat, saling memotivasi, saling mengingatkan dalam kebaikan, begitulah antara lain yang menjadi landasan sillaturrahmi kita.

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape