Bukan baru-baru ini saya disebut penjilat, cari muka. Sudah lama, sudah sejak setahun yang lalu, dan itu tak mengapa. Hehe, beneran. Karena kesenangan saya bukan cuma cari muka, tapi juga cari maki-maki. Soalnya suka lucu, suka datang orang maki-maki postingan saya, mengatakan sampahlah, asal bunyi lah, menyesatkan lah, eh tapi dia terus komentar di postingan saya. Kan aneh. Menyebut postingan sampah, tapi terus memberikan komentar. Ya jadinya terangkat. Itu sih sama saja mendukung. Itulah sebabnya saya gembira. Jadi sekali lagi, jangankan disebut cari muka, dapat maki-maki saja tak mengapa.
Menurut saya, menjadi penjilat masih lebih terhormat daripada menjadi penjilat ludah sendiri yang sudah meleleh di lantai. Misalnya orang yang mencela-cela sebuah grup kepenulisan, tapi masih saja dia gentayangan di sana karena penasaran.
Eh jangan kira saya sedang marah ya.
Enggak!
Sungguh. Bahkan sebutan penjilat di kantor saya sempat dijadikan candaan. Pas sedang kerja, guru saya masuk kantor, dia langsung berseru, "Hai Penjilat!" dan orang-orang kantor tertawa. Saya juga. Kenapa harus susah dengan sebutan seburuk apapun dari orang jika saya bisa menjadikannya sebagai bahan tertawaan. Salah satu halaman buku Humortivasi menyebut, tertawa membawa pengaruh positif bagi pikiran.
Sebenarnya tidak bermaksud menjilat, saya hanya suka memberikan penghargaan kepada kebaikan seseorang, sekalipun itu hanya ucapan. Saya hanya ingin orang lebih fokus kepada kebaikan yang didapat daripada kebaikan yang belum didapat. Itu karena saya sendiri merasakan, betapa jengkelnya setelah berusaha memberi banyak, tapi yang diberi malah meminta sesuatu yang bagi saya cukup berat.
Kepada orang yang saya hormat, lebih suka menyebutkan kebaikan-kebaikannya, bahkan keburukannya seringkali saya maknai sebagai kebaikan yang dia kemas dengan cara berbeda.
Saya sangat hormat kepada orang yang berbuat baik kepada saya, tapi saya lebih hormat lagi kepada orang yang berusaha berbuat baik kepada banyak orang.
Saat menulis ini, Wiro memutar lagu dangdut. Harus jujur nadanya sangat enak. Semangat seperti terbangunkan, kursi saya geser cepat, tapi mendengar itu Wiro bertanya, "Mengganggu ya?"
"Oh tidak. Ini lagu enak, saya baru dengar. Judulnya apa?"
Tidak perlu Anda tahu judulnya apa, yang penting tahu bahwa saya, saat memulai tulisan ini, menggarap tengah, dan mengakhirinya, hati ini dalam keadaan senang.
Jadi dengan bahagia, saya ingin mengenalkan diri kepada Anda, "Halo, kenalkan. Saya seorang penjilat!"
Jadi dengan bahagia, saya ingin mengenalkan diri kepada Anda, "Halo, kenalkan. Saya seorang penjilat!"
No comments:
Post a Comment