Siangnya, sepotong coklat di tangga yang menuju ke lantai empat. Tidak mau saya sebutkan mereknya, supaya tidak jadi iklan, tapi supaya lebih jelas, baiklah, saya sebutkan, Beng-Beng. Sudah kosong, tinggal plastiknya saja. Enak sekali coklat itu, dan beberapa menit kemudian, ketika saya berjalan menuruni tangga dari lantai tiga menuju lantai dua, di bawah barisan kursi tempat pak Agung kerja, terlirik plastik bungkus Beng-Beng juga. Saya pegang, ternyata masih ada isinya. Tapi sebagian sisi robek, kecil, pasti bekas tikus. Oh, jangan-jangan, ini Beng-Beng yang suara keresek plastiknya terdengar tadi malam, dini hari saat sendirian.
Bengbeng bekas gigitan tikus itu tidak saya buang. Tapi disimpan di atas kulkas. Khawatir, jika saya buang nanti ada orang menanyakan bengbengnya, saya punya barang bukti. Tanpa barang bukti, bisa-bisa nanti saya yang tertuduh. Menjawab dicuri tikus, tapi orang tetap berpikir, bengbeng itu dimakan olehku.
Curiga, pasti yang di tangga pun asalnya ada isinya, tapi dimakan si tikus sampai habis, dan yang ini, mungkin baru diseret tapi keburu ketahuan, jadi dia kabur ketakutan. Wah jangan-jangan banyak bengbeng lainnya. Jangan-jangan dia mencuri dari dusnya. Tapi dari mana. Tidak mungkin dari dalam kulkas. Tak mungkin tikus bisa membuka.
Desi biasanya menyimpan makanan. Saya periksa ke mejanya. Ternyata iya, di kolong satu dus tergeletak, salah satu sudutnya sudah berlubang. Bekas gigitan tikus. Aduh, sayang sekali.
Saya simpan saja di lemari.
Oh ya, bagi yang ingin mengenal Dessy, bisa tanyakan ke akun yang menggambar lukisan ini. Silakan klik DI SINI


No comments:
Post a Comment