Tuesday, April 25, 2017

MEMANDIKAN ANAK

Seharian mengasuh anak, tidak terasa waktu sudah sore, belum dimandikan. Ibunya di warung kalau nanti pulang pasti akan menyalahkan saya. 

"Nai, mandi dulu!"

"Mau sama Bapak."

"Ayo."

Mendengar itu dia sangat gembira. Saya harus berterima kasih kepada istri yang telah rajin memandikan Si Nai sejak bayi, nyaris setiap hari sehingga sekarang dia sudah terbiasa, sebab kalaulah tidak, mungkin sekarang saya ajak mandi bukannya gembira tapi sungkan.

"Jangan sama bapak, biar Nai aja!" larangnya saat saya mau menyiramkan air ke badan dia. Mungkin dia suka kaget kalau orang lain menyiram. Maka dia sendiri yang menyiramkan air, dia sendiri yang membilaskan sabun. Cuma bagian punggung dia minta saya yang menyabuni. Tangan dia sendiri tidak sampai.

Teringat kaki saya yang pecah-pecah karena sering lalai menyikatnya, saya berpikir Si Nai jangan sampai mengalami seperti saya. Maka saya ambil sikat cuci, saya pegang kaki dia, mengangkatnya, dan menyikat bagian telapak.

"Hahaha .... hahaha ... aku geli Bapak, aku geli!"

"Harus disikat biar bersih, nanti pecah-pecah kayak punya Bapak." kembali saya sikat.

"Hahaha ... hahaha ... haha ..."

"Satu kaki lagi."

"Hahaha, ... hahaha ... hahaha .... "


Monday, April 24, 2017

AKU ORANG PANDAI

Air beriak tanda tak dalam, tong kosong bunyinya nyaring. Orang yang tidak punya pengetahuan biasanya banyak bicara. Sedang orang berilmu, seperti air tenang tapi menghanyutkan. Dia tenang, tapi sekali orang meloncat masuk, langsung tenggelam. Dia tidak banyak bicara tapi sekali bicara, orang tertarik sama apa yang dikatakannya dan terpengaruh.

Seperti itulah saya sewaktu sekolah. Termasuk siswa yang tidak banyak bicara. Teringat hari itu jadwal test lisan pelajaran komputer. Siswa dipanggil satu per satu ke dalam kelas, dan tiba giliran saya, si guru bertanya, "Apa yang dimaksud dengan hardware?"

Mendapat pertanyaan itu saya tidak menjawab sepatah kata pun, hanya bengong, diam, tidak menjawab apa-apa, tidak banyak bicara, dan ini sangat membanggakan, berarti saya seorang berilmu, dan lihatlah apa yang terjadi kemudian. Setelah saya diam tidak menjawab apa-apa, justru si guru yang menjawab, "Hardware adalah perangkat keras." tuh kan, tidak harus lelah memikirkan jawaban, dengan sendirinya jawaban itu keluar dari si penanya sendiri.

Selanjutnya guru itu bertanya lagi, "Apa yang disebut dengan software?"

Tapi kali ini saya mencoba menjawab dengan merujuk kepada jawaban pertama dari si guru: "Software perangkat yang tidak keras."

Mendengar itu si guru tersenyum, dan itu pertanda saya sudah melakukan hal luar biasa, membahagiakan seorang guru.

"Software itu perangkat lunak." pungkasnya,.

Meski itu bagus, orang berilmu tidak selamanya harus diam. Jika memang perlu dan dibutuhkan, dia harus bicara dan menjawab dengan ilmu yang dia punya.

Begitulah ketika dalam sebuah sesi pelajaran Bahasa Inggris, saat itu gurunya seorang gadis, belum menikah, dia mengawali pelajarannya dengan pertanyaan-pertanyan bahasa Inggris. Ketika siswa lain hanya diam, saya menjawab dengan ilmu yang saya bisa.

Dia bertanya, saya jawab, YES.

Dia bertanya lagi, saya jawab, NO.

Dia bertanya lagi, saya jawab, YES.

Dia bertanya lagi saya jawab, NO.

Mendengar itu dia berhenti bertanya, kemudian sambil menatap tajam bicara, "Dana, kalau  kamu tidak suka sama saya silakan keluar!!"

Dengan panik dan gelagapan saya menjawab, "Saya suka sama ibu!"

"Tapi saya tidak suka sama kamu."

Itulah kali pertama ucapan jujur perasaan suka saya ditolak seorang wanita. Dan dari kejadian itu saya mendapatkan pelajaran, jangan pernah mengatakan suka kepada seorang guru Bahasa Inggris.

DUNIAKU YANG TIDAK SEMPURNA: CATATAN TENTANG RADITYA DIKA

Berani tampil dengan ketidaksempurnaan.
Berani tetap nyaman dalem ketidaksempurnaan
Berani berkarya meski jauh dari kesempurnaan
Berani menikmati ketidaksempurnaan
Berani menghargai ketidaksempurnaan


Itulah yang saya pelajari dari Raditya Dika


Saya belajar dengan kebiasaan menulisnya. Dia bilang, untuk menulis orang berpikir dia harus mempunyai suasana tenang, dalam kamar wangi dan musik romantis. Menurut Raditya Dika, tidak harus. Dia menulis di mana saja, kapan saja Di bioskop, di mobil, di pesawat, di mana saja sempatnya menulis, dia menulis.

=====

Banyak orang menyarankan gue membuat kolam renang di halaman samping, di sana ada lahan luas gitu. Tapi gue mendengar dari temen kalau air itu biasa dipake nongkrong makhluk halus. Ya sudah daripada repot bikin, trus malah jadi masalah, lebih baik gak usah. Trus juga di air itu biasa banyak kodok, yang suaranya bisa mengganggu kalau malam. Gue gak mau, tidur terganggu.

==

Kali ini gue mau mandi, tapi maaf, buat om-om yang baca buku ini, gue gak bisa menggambarkan detail mandinya seperti apa.

Nah, sekarang gue udah beres mandi. Sama aja sih, gak ada bendanya sama sebelum mandi.


Saya suka ketawa pas mau ngopi, taglinenya itu lho, "Ngopi dulu, kalau gak ngopi, nggak uuuhh..." apa sih itu maksudnya, gak ngerti. Uuh itu bahasa apa. Tapi karena segala sesuatu di alam semesta ini ada maknanya, kemungkinan, "Uuuh" yang Radit maksud adalah ungkapan rasa nikmat.

*   *   *

Berusaha tidak menyakiti orang lain.

Berusaha untuk tidak mempunyai musuh.

Hal lain yang saya pelajari dari Raditya Dika dia berusaha untuk tidak mempunyai musuh. Ketika Ernest bilang Raditya Dika orangnya mudah sekali berbelok, hari ini benci sama orang, eh besoknya jadi suka. Seperti pernah ada seorang yang sedang dibicarakan buruk di media, tapi kemudian memfollow Radit, tiba-tiba bilang, "Eh ternyata oke-oke aja."  Radit menjawab, "Gue mencoba netral. Jika ada orang memfollow gue, berarti dia menyukai sesuatu dari hidup gue."

"Berarti lo ada kesamaan dan karena itu lo sama dia sehati."

"Nah, betul!"

Ringan, apa adanya, tidak banyak mikir, tidak membela diri dengan argumentasi yangb aneh-aneh. Menurut saya ini pelajaran luar biasa.

*   *   *

Pagi ini untuk kedua kalinya saya mendengarkan Raditya Dika menceritakan 5 Quote yang mengubah hidupnya:

Pertama, dari Salman Aristo. Ketika dia bertanya, bagaimana bisa menulis di tengah kesibukan. Mas Salman menjawab, jadi penulis itu jangan cengeng. Kalau memang sibuk, ya cari cara supaya bisa tetap menulis di tengah kesibukan. Maka setelah itu, Radit menulis di mana saja dan kepan saja. Dia pernah nulis di Imac, bioskop di Singapura, pernah menulis di mobil, di pesawat. Kesibukan justru harus dijadikan tantangan buat kita untuk tetap produktif.

Kedua, dari Ayahnya sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan uang yang akan datang sama kamu, lakukan saja yang terbaik, dengan sendirinya nanti uang datang sama kamu.

Ketiga, Komedi adalah tentang menceritakan kejujuran. Dengan jujur kamu menjadi lucu.

Keempat, Draft pertama akan selalu menjadi kotoran. "Jadi kalau kamu nulis, tulis, tulis, tulis aja terus dan tidak perlu memikirkan buruk tidaknya, karena draft pertama memang biasanya jelek. Jadi kalau kalian sekarang sedang mendevelove sebuah cerita atau skenario film atau buku, kalau tulisanmu jelek, gak papa. Kalau tulisan gue jelek gak papa, karena gue bisa memperbaiki di draft-draft berikutnya, itu yang membuat gue cukup produktif, karena kerjanya cuma nulis terus, gak peduli jelek, gak peduli bagus. Kalau jelek ya udah nanti gue perbaiki, kalau bagus alhamdulillah. Itu yang membuat gue produktif sampai saat ini."

Kelima. Neil Geiman adalah penulis favorit gue dan dia sempat ngasih pidato untuk orang yang baru lulus kuliah. Pidatonya namanya "Make Good Art". Jadi dia bilang, kalau elo sedang berada dalam kesusahan, lo gak tahu mau ngapain, lo baru patah hati, pokoknya "Make Good Art. Udah, berkarya aja. Bikin sesuatu dari apa yang lagi lo rasain. Dan quote itu ngubah diri gue banget. Salah satu petikannya adalah gini: Go and make interestingb mistakes, make amazing mistakes, make glorious and fantastik mistakes. Break rules. Leave the world more interesting for your being here." Dia bilang, udah lo bikin seni aja, lo berkarya aja. Terus kalau memang elo melakukan kesalahan dalam proses berkarya Lo, bebaskan diri lo dari rasa bersalah. Dia bilang, bikin kesalahan semenarik mungkin, bikin kesalahan yang seamazing mungkin, bikin kesalahan yang fantastik dan benar-benar istimewa. Jadikanlah kehadiran lo di dunia ini untuk menjadi lebih menarik dan berwarna. Asyik banget kan? Nah gara-gara quote itu gue jadi merasa harus bereksperimen. Gue merasa gak bisa diem aja dan gitu-gitu doang. Gue harus bereksperimen dan kalau eksperimen gue itu gagal atau gue melakukan kesalahan gara-gara eksperimen itu, maka gak papa yang penting kesalahan itu harus keren, kesalahan itu harus menarik, dan gue melakukan sesuatu di luar hal yang gue nyamankan.

===


Raditya Dika itu saking lucunya, bahkan saat dia makan pun saya tertawa. Pas lagi di bangkok pesan Subway, biasanya dia makan dengan lahap, gigitan demi gigitan besar seperti orang lapar, dan parahnya lagi dia senang menskipnya sehingga makan itu menjadi sangat cepat, jadi semakin kelihatan orang lapar belum makan lima hari. Tapi kali ini, dia tidak bisa makan cepat seperti tadi, entah di gigitan ke berapa, lidahnya mengecap rasa lain, rasa yang selama ini menjadi musuhnya, yaitu pedas. Trus setelah itu, dia tidak bisa lagi makan dengan lahap, dan harus memilih-milih mana cabe, mana bukan cabe, jadi seperti makan ikan mujair, harus memilih mana daging mana duri. Dan setelah beres makan, cabe itu terkumpul numpuk di depannya. Hahaha. Saya nonton ini di video sewaktu dia di Bangkok.

====

Oh ya, saya mah kalau ketahuan takut pedas kan malu. Ketika ada orang lain merendahkan, "Ah cemen kamu, laki-laki takut pedas." saya suka gengsi dan berusaha berani makan pedas. Pernah saya memberanikan diri makan pedas, eh setelahnya panas dalam parah. Sakit gigi gak ketulungan. Akhirnya saya simpulkan, pedas memang musuh saya. Tapi tetap saya memandang diri sendiri takut pedas sebagai hal yang memalukan.

Raditya Dika tidak. Dia bahkan merasa tidak apa-apa di video-videonya menunjukkan jika dia tidak tahan dengan pedas.


BERJUANG DI KAMPUNG

Mesjid sunyi itu saya masuki tanpa khawatir dicurigai orang. Mengapa harus khawatir, saya bukan pencuri dan masjid itu umum untuk orang-orang mencari kedamaian hati, sedangkan saya ingin mencari tambahan ilmu dengan membaca buku yang terdapat di raknya.

Buku agama ini saya ambil dari lemari penuh debu. Buku agama tulisan para cendikia muslim dunia. Pergi ke manapun saya harus mendapatkan tambahan ilmu, atau setidaknya ada buku yang dapat saya buka dan baca. Dan mulailah buk itu saya buka dan baca sambil tengkurap melepas leah badan karena jauh perjalanan menuruni gunung untuk belanja ini. Namun tak lama, kelelahan itu memberatkan bibir mata, saya baringkan badan di sajadah masjid, terlelap, dan ketika tersadar matahari di luar telah panas menyengat. Sepertinya telah dekat ke tengah hari. Kepala terasa sakit untuk bangun. Ingin sebenarnya lebih lama lagi tiduran di masjid ini. Tapi saya kemudian teringat suatu tekad igin menjadi jaya di desa.  Dan tiduran seperti ini sangat tidak pantas dilakukan oleh orang yang mempunyai impian besar. Kini ngantuk sudah hilang, kupaksakan diri keluar masjid setelah sebelumnya merapikan buku ke lemari. Dingin udara kering musim kemarau segera terasa saat turun ke halaman masjid namun itu suatu kenikmatan sebab akhirnya sinar matahari menghangatkan badan di sepanjang jalan.

Sampai ke toko tempat belanja, barang telah dikemas rapi. Selembar uang seratus ribuan saya serahan kepada pemilik toko. Ternyata kurang. Untunglah pemilik toko ini baik, dia tulis di bukunya sisa kekurangan uang saya untuk dibayar pada belanja berikutnya.

Kardus besar penuh belanjaan saya angkat dan pikul di atas bahu dan bawa memulai perjalanan pulang mendaki gunung.

Sinar matahari yang menerpa wajah berusaha saya halangi dengan kardus. Takut juga jika panasnya menghitamkan wajah. Bahu mulai pegal saat jalan aspal naik itu saya daki.

Jalan tedu ke tengah rumah penduduk saya pilih daripada terus melalui jalan aspa. Orang-orang dengan apik menata jalan naik itu. Mereka lapisi dengan pecahan-pecahan batu kecil penghindar licin bila ada hujan. Lelah hati ini bila membayangkan masih panjangnya perjalanan pulang saya. Terlebih ini naik, setiap kali berakhir satu jalan mendaki, di depannya telah menanti jalan mendaki berikutnya.

Di sebuah ujung jalan naik bahuku tak kuat lagi menahan pegal kardus saya turunkan dan santai saya duduk menikmat semilir angin di bawah keteduhan pohon. Berbeda dengan tadi saat kulitku merasa sengsara kedinginan, kini tiupan angin itu terasa menyejukkan, tak lain jalan naik dan beban berat ini menjadi suatu pertolongan dari Alla untuk menikmatinya.

Saya duduk menatap pemandangan indah di depan. Tampak indah percampuran warna hamparan rumah orang-orang dengan rimbun daun pepohonan dna jauh di kota kecamatan terlihat tower-tower berdiri merajai.

Dekat di depan dan belakangku rumah orang-orang sederhana berdiri. Kukuh percaya diri tanpa rasa takut longsornya tebing. Namun pemandangan paling menggoda mata adalah sebuah layangan yang tersangkut di ranting pohon albasi. Itu mengingatkanku pada kebandelan di masa keci. Di musim layangan hampir tak pernah habis luka tangan dan kakiku karena seringnya berlari ke hutan dan kali mengejar layangan putus lalu naik pohon jika layangan itu tersangkut, dan layangan dalam tatapan saya sekarang terlihat aman-aman saja tersangkut di sana. Setiap anak mungkin melihat pohon itu terlalu tinggi.

Lama saya menatapnya dengan teliti kini objek itu menjadi keasyukan tersendiri. Seoerti di masa dulu, bila ada yang tersangkut di pohon pertama saya teliti pohongan talinya, mengingat ketika layangan itu putus tentu membawa sisa tali. Jika ada tali itu bisa saya tarik dan kemungkinan nanti layangan yang di atas sana pun bisa tertarik juga dan jatuh, lumayan, eh tapi buat apa? Setua ini masih mau main layangan? Cari duit Dana cari duit!!! Lihat dirimu sengsara begini!

Untunglah talit itu tidak terlihat. Jika terlihat mungkin aku penasaran dan mencoba menariknya. Gagal ditarik, makin penasaran, ingin mengambilnya langsung ke atas, kemudian naik, dan setelah berhasil mengambil malah tertarik untuk mencoba main layangan, panas panasan, siang sampai sore. Sadar Dana sadar!!!

Perjalanan saya teruskan. Beberapa jalan mendaki saya lalui tanpa henti, masuk ke sebuah lapangan depan sekolah, kemudian naik lagi jalan kampung sangat jauh dan panjang sampai tiba ke areal pemakaman, bertemu dengan seorang tetangga sedang berdiri di sisi pohon aprika. Setelah saling sapa dengan sya dia berkata,

"Suruh Bapak mertuamu datang ke sini, banyak daun Aprika."

"Emangnya mau ditebang?"

"Ya," jawabnya dengan wajah datar.

Kulanjutkan lagi perjalanan memikul kardus belanjaan, tapi kemudian langkah terhenti, masih ada hal lain yang ingin saya tanyakan,

"Kapan nebangnya?"

"Sebentar lagi. Nanti juga terdengar deru mesinnya ke sana."

Setelah tadi perjalanan naik mendaki sekarang berubah menjadi turun, tapi lelah tidak pernah berubah, sama saja, dan pikulan rasanya semakin berat, bahu semakin pegel, sebab selama berjalan turun ini badan harus menahan berat tekanannya.

Sebentar lagi perjalanan akan sampai dan pikiran berputar pada pesan penebang pohon tadi. Dia menitipkan pesan supaya saya menyuruh bapak mertua mengambil daun pohon aprika untuk makanan kambing. Tapi bapak kan di sawah. Terlalu repot bagi saya untuk pergi ke sawah memberitahunya. Belum lagi kalau dianya sedang sibuk kerja, paling dia nyuruh saya buat mengambil daun itu. Daripada pergi ke sawah tidak ada gunanya, lebih baik saya sendiri saja yang mengambil.

Keringat bercucuran di dahi, tampak istriku berdiri memegang tiang menyambut kedatangan saya. Gigi rapinya dia buka memperlihatkan cerah hati dan kebahagiaannya. Sampai di dekat dia barang masih saya pikul dan baru diturunkan di dalam warung. Saya biarkan dia membuka dan membereskannya ke etalase. Lalu saya ceritakan padanya, di sana ada orang mau menebang pohon Aprika dan dia menyuruh saya supaya memberitahu bapak,

"Tapi biar saya saja yang membawanya ke sana, nanti setelah terdengar deru mesin."

Tak lama kemudian raung gergaji mesin terdengar. Saya berdiri mau pergi, "Ke rumah duku mau ngambil golok."

"Di sini juga ada." kata istri.

"Punya siapa?"

"Nini." istri lari ke dapur, kemudian muncul di pintu menyodorkan sebilah golok. Saya ambil, teliti, dan kembalikan lagi padanya.

"Saya ambil golok saya saja."

Berlari saya pulang ke rumah membawa golok tanpa sarung itu di dapur.

Kesempatan yang saya nantikan itu sekarang tiba. Akan saya buktikan golok keropos hasil temuan saya itu, yang saya kikir dan asah denga tekun, yang gagangnya saya buat sendiri dari kayu nangka itu, bisa digunakan buat kerja. Sebelumnya orang-orang mencibir saya dan mengatakan pekerjaan saya tidak ada gunanya ketika membuat gagang golok dari kayu nangka dan kata mereka, kerja saya akan susah dan sia-sia karena tekstur kayu nangka itu kacau. Tapi saat itu saya tetap melakukannya dengan keyakinan, golok terbuag ini bisa kembali berguna, dan dengan ini saya ingin membuktikan jika saya bisa menjadikan hal tidak berguna menjadi berguna.

Dan sekaranglah saatnya saya berbangga diri dengan membuktikan golok yang sudah terbuang itu bisa kembali berguna. Begitulah kata hati saat pergi ke tempat penebangan kayu aprika. Penuh semangat saya daki jalan menuju ke dekat daerah lapang dan tiba di sana saat matahari telah sangat tinggi panas menyorot. Pohon telah bergelimpangan jatuh. Tetangga saya menunjukan cara mengumpulkannya, pekerjaan ini memang baru bagi saya, dan karenanya itu suatu ilmu baru, biar pun sebenarnya kesel sama orang ini, pake ngajarin segala, mengumpulkan daun dan ranting pohon itu perkara mudah.

Daun-daun itu terus saya tumpuk tanpa menyadari berapa kemampuan pikulan saya, hingga ketika sekitar daun-daun dua pohon beres saya kumpulkan, barulah bersiap mengikatnya, masalahnya ke mana saya mesti mencari tali. Tidak mungkin mengambil tali dari pohon milik orang.

Maka mencari ke daerah lapangan dengan mata awas, siapa tahu di sana ada, dan saya dapati di sisi lapang ada pohon pisang kering, dan coba saya ambil untuk mengukat namun rapuh, dan coba mencari lagi tali lain di sisi lain lapangan.

Di satu sudut tergeletak tali bambu dengan tali itulah ranting dan daun aprika saya ikat menjadi dua ikatan besar. Sebatang bambu saya tajamkan dengan golok asal jadi tadi. Ternyata ampuh, dua ikat besar daun aprika berhasil saya pikul meski kemudian terasa berat dan lepas lagi. Saya rasakan salah satu tali pengikatnya akan lepas.

Secara asal-asalan saya ikat lagi dan coba pikul. Alangkah sakitnya punggung tertekan pemikul bambu itu. Dan seluruh badan terasa pegal menahan pikulan saat menuruni kalan terjal.

Ketika mulai tampak di kejauhan istri menyambut, saya bersikap konyol dengan berjalan terseok-seok seakan pikulan itu begitu berat, dan kuharap dia tertawa ngakak namun dia tertawa biasa saja.

Di depan warung pikulan daun dijatuhkan. Bahu terasa saki bekas tekanan bambu, padahal perjalanan membawa daun ini masih jauh. Saya harus mengantarkannya ke sawah, naik melalui gang rumah-rumah dan pinggian kaki gunung.

Lelah saya lepas di bangku warung. Istri mendekat menawarkan air gula asam gelas kemasan, dan saya tolak, dan kemudian dia menyodorkan air putih. Saya minum.

Penat reda. Perjalanan siap saya mulai lagi. Namun beda dengantadi pikulan daun akan coba saya satukan.

"Baguslah begitu," kata istri "Dahan-dahannya pangkas dulu, biar agak ringan."

Saya biarkan dia mengambol daun-daun masih berdahan dan memangkasnya hingga tuntas.

Daun siap diikat, tidak sulit lagi, kini tali dapat saya ambil dari warung, tapi rapia.

Dua ikat daun itu kini telah menyatu menjadi ikatan besar, tanpa menunda lama saya segera pikul dan bawa ke wawah meninggalkan sirti yang sibuk membereskan sisa dedaunan gugur yang berserakan di depan warung.

Mulailah perjalanan saya melewati rumah-rumah. Entah bagaimana keadaan diri saya saat itu di mata orang-orang saat mereka menyapa. Kepalaku hampir hilang dimakan banyaknya dedaunan yang saya pikul.

Hampir tiba di sawah saya agak angkat pikulan hendak melihat ke rumah orang yang dulu menghina saya habis-habisan, untuk sekedarnya saya dan dia saling menyapa agak akrab  setelahnya saya diam kembaloi.

Barangkali melihat kehidupan saya sangat sengsara dengan pikulan berat dan banyak ini, tapi bagi saya sendiri, ini sebuah kebanggan, harga diri dan identitas asli seorang desa, beginilah seorang yang hidupnya dekat dengan alam, akrab dengan alam dan bersentuhan dengan alam.

Jauh perjalanan ternyata hanya jika dipikirkan saja. Setelah dijalani, terasa semuanya singkat dan sebentar saja. Pematang-pematang panjang, jalan kecil tepi seloka yang naik dan jauh, kaki gunung terasa pendek setelah sampai ke sawah bapak mertua.

Ditakdirkan dia ada di tengah berdiri dekat gubuk, baru saja beres ngobrol dengan seseorang, dan wajahnya cerah tertawa lebar. Semua kulihat dari bawah tumpukan daun yang sedikit diangkat.

Daun dijatuhkan di depan kandang domba. Dan saya menuju bapak melewati rumah kayu kecil gudang padi. Dari jendela dapur, asap mengepul. Tercium aroma air hasil sadapan aren buat bahan gulan merah.

Bapak teriak pada Emak, "Dinginkan lahang!"

Dan tak butuh waktu lama, secangkir lahang Emak sodorkan ke samping saya.

Bapak tampak sibuk memotong kayu-kayu kering di atas jerami. Saya menontonnya sambil menikmati gula, lalu merasa kasihan setelah melihatnya tak mampu memotong sebuah dahan.

"Tangan Bapak sakit," ujarnya, "kayunya keras."

"Biar saya yang potong." saya menawarkan bantuan.

"Kalau mau ya silakan."

Dan benar saya, kayu itu sangat keras. Gergaji seringkali terselip dan macet. Tapi saya menggergaji dengan cara mengelilingi kayu, dan cara itu membuat proses pemotongan menjadi sangat lama.

Adzan Dzuhur belum terdengar padahal hari teras melebihi tengahnya. Sorot matahari terasa sangat panas. Saya coba berdirikan jari tangan di atas tanah dan tampak bayangan memanjang ke timur, dan ini pertanda waktu sudah dzuhur. Matahari sudah tergelincir ke sebelah barat.

Saya pulang tanpa pamit pada siapa-siapa. Ema dan Bapak mertua saat itu tidak ada entah ke mana. Harus pamit pada domba saya tidak mau.




Saturday, April 22, 2017

NOVEL KOMEDO

Kayaknya saya harus menulis novel komedi saja, dibuat dari keseharian dan catatan catatan masa lalu yang belum sempat saya pindahkan dari buku ke komputer. Kemudian saya bisa menambah-nambahkan biar ada kelucuan di sana.

Inilah saatnya saya menerapkan teori humor yang sekarang sedang saya pelajari

1. Sesuatu menjadi lucu jika tidak terduga
2. Sesuatu menjadi lucu karena ironi. Cara membuat ironi, membuat konsep tapi faktanya beda. Kamu itu ganteng banget, wajahmu penuh dengan korengan. Orang mengusahakan sesuatu tapi yang terjadi sebaliknya, misalnya orang berusaha mendapatkan banyak uang tapi hidupnya semakin susah. Orang berusaha menyadarkan orang lain supaya menjadi penyabar dengan marah-marah.
3. RULE OF THE THREE, jadi menyebutkan tiga hal yang prinsipnya sama, tapi yang ketiga, sesuatu yang tidak terduga. Contohnya:

TENTUKAN KARAKTERNYA: SAYA
TUJUANNYA: MENGHIDUPI KELUARGA, ISTRI
RINTANGANNYA: SUSAH, PERGI KE BANJAR, DAGANG SAYURAN, GAGAL, MALAH KE PERPUSTAKAAN, BANYAK MEMBACA
TENTUKAN JALAN KELUARNYA: SAKIT

Tidak boleh mengeluh dalam hidup ini, karena suatu saat kepedihanmu sekarang akan menjadi kisah yang sangat menarik.

Thursday, April 20, 2017

PIPIS BERSUARA

Padahal tidak seharusnya, tapi entah kenapa jika saya shalat dalam keadaan di ada Pak Isa di kantor saya suka ketakutan

Beres shalat ada panggilan, segera masuk ruangan kantor, ternyata mau rapat. Lausng duduk ke sana padahal saya kebelet pipis. Mau ke kamar mandi dulu khawatir menghambat rapat, maka langsung saja saya duduk, saya harap rapat ini pendek dan singkat.

Pak Isa membicarakan bisnis percetakan buku dari para penulis pemula, untuk menawarkan fasilitas kepada mereka. Jika naskah mereka ingin mendapatkan pengeditan ketat maka ada biaya editing, dan jika ingin mendapatkan layout menarik menambah lagi lauout. Ini sebuah pelayanan untuk membantu orang-orang, akan tetapi kita pun harus mendapatkan uang darinya.

Selesai hal itu dia sampaikan, saya kira sudah. Ternyata salah seorang peserta rapat ada yang menyampaikan rencananya melakukan pengiriman barang ke Malaysia dan ini cukup pelik karena buku yang akan dikirimkan cukup banyak. Tidak bisa dikirim hanya buku saja, tapi harus ada orang ikut ke sana. Makin panjang saja rapat. Kebelet pipis semakin mendesak-desak.

Sedang begitu, hape Pak Isa berdering, saya bahagia, berarti ada kesempatan mencuri waktu ka toilet, tapi Pak Isa terus bicara, dan hanya menoleh saja ke hapenya. Saya terus menunggu dia mengangkat hape itu dan menyebut halo, saat itulah saya akan beranjak dari kursi dan menyelesaikan desakan kebutuhan paling penting di dunia ini, dan ketika akhirnya diangkat, saya pergi, masuk toilet dan tanpa menutup pintu, saya puaskan diri dengan meluncurkan air seni ke tengah kloset, menyiram bagian airnya dan terdengar "Currrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr......."

Di luar terdengar orang tertawa-tawa. Bukannya GR tapi saya yakin sepertinya mereka membicarakan saya, dan benar saja saat keluar, semua pasang mata menatap, dan saya tersenyum saja kepada mereka, kemudian Pak Isa bicara, "Hai, kalau kencing jangan menyiram ke bagian airnya, itu  suaranya terdengar jelas ke mana-mana. Masa kamu pipis orang sekantor tahu." Disebut begitu saya hanya tersenyum, dan baru sadar ternyata itu tindakan yang sangat memalukan, namun supaya saya tidak dianggap terlalu buruk saya berkata, "Oh ya ada yang kencingnya biar tidak bersuara, itu disemperotkan ke dinding." biar mereka mikir apa yang saya lakukan masih lebih baik, tapi tidak seorang pun menanggapi.

Wednesday, April 19, 2017

SETIAP PAGI TERBANGUN

Setiap pagi terbangun sambil berkata dalam hati, HARI INI SAYA HARUS BISA MENYELESAIKAN SEBUAH BUKU.

Atau kalau tidak, HARI INI SAYA HARUS KHUSYUK MENGGARAP BUKU.

Novel ang sedang saya garap harus saya teruskan dan menulisnya dengan indah, dengan senang hati, seharian ini.

Akan tetapi biasanya apa yang terjadi?

Siangnya tidak mengerjakan apa pun, pikiran kacau, malah melakukan hal lain, dan akhirnya, saya tidak menghasilkan seperti apa yang direncanakan.

Lebih banyak nonton video tidak berguna, membaca hal-hal lain yang tidak berhubungan, banyak makan, ngantuk, dan penjualan sepeser pun tidak menghasilkan.

Facebookan, posting sana posting sini, komen sana komen sini, tidak terasa siang, kemudian sore, kemudian malam, tengah malam, dan tidak terasa sampai lagi ke waktunya tidur dan belum menghasilkan apa pun yang berarti.

Seperti pagi ini, terbangun karena mau pipis, dan ketika membuka mata, maka yang teringat adalah menulis. Kemudian turun, membuka laptop, membuka facebook, menulis beberapa kalimat di blog yaitu tulisan ini, tanpa saya tahu akan menjadi karya atau tidak.

Saya menulis sudah lama sekali dan sudah menghasilkan banyak tulisan, tapi entahlah, saya tidak tahu tulisan tersebut tidak menjadi apa-apa. Tidak menjadi sebuah buku yang layak dijual. Saya tidak tahu apa sebabnya.

Lama-lama bingung mau meneruskan dengan tulisan, apa, terasa perut menjadi mulas, badan diruntuhkan ke kursi sebelah, agak lama merasakan kepala berat, kemudian saya pikir, ini mungkin perut yang mau mengeluarkan isina. Ke toilet, membuang, dan saat itu, terpikir segala macam yang membuat kepala pening rasnya. Terpikir saya yang banyak mengalami kegagalan dan belum juga menghasilkan karya, tapi pikiran itu segera saya singkirkan dan kembali mengingat untuk menikmati saja apa yang ada sekarang, tidak mengingat apa pun yang memusingkan, tapi menikmati saja ketenangan sekarang. Sekarang sedang berada di kamar mandi, tidak perlu memikirkan hal lain karena itu sangat memberatkan kepala.

Waktu shubuh datang tidak segera bersuci dan shalat, tapi terus saja main lap top, menulis blog, membuka facebook, malah sempay-sempatnya melihat artis Seng Lotta, hanya untuk memastikan mirip tidaknya dia dengan salah seorang teman saya di Tasikmalaya.

Karena handuk di lantai tiga, saya naik dulu ke sana, ke luar ke ruangan torn di bawah kanopi tempat di mana saya memasang jemuran untuk mengeringkan handuk. Mengambilnya dan turun kembali ke lantai satu untuk mandi di sana. 

Saya selalu meniatkan kepada diri sendiri untuk melakukan mandi dan wudlu dengan segera, tapi tidak. Sebelum mandi malah bercermin dulu melihat rambut yang mengembang dan acak-acakan. Ada sehelai uban di sebelah belakang, kemudian tangan tergoda untuk mencabutnya, tapi susah, dan kubatalkan, dan itu menghabiskan waktu saja. Mencabut uban itu tidak ada gunanya.

Setelah mandi, kembali naik tangga, dan selalu saya jarang naik tangga dengan tenang, selalu dengan setengah berlari, atau berjalan cepat dengan melewati beberapa anak tangga, biar segera sampai ke atas, memakai baju, dan sarung kemudian mengambil sajadah dan melaksankaan shalat shubuh. Dimulai dengan shalat sunnat, namun anehnya ingat shalat itu di awalnya saja, seterusnya, pikiran entah terbangb ke mana, tahu-tahu shalat sudah sampai ke salam dan selesai.

Wudlu seperti biasanya, dengan was-was, tidak bisa memulainya dengan lancar. Padahal tinggal membasuh muka dengan sengaja, tapi entah kenapa di bagian itu saya suka merasa berat, dan pikiran suka tiba tiba menjadi kacau. Padahal saya ingin segala sesuatunya saya lakukan dengan lancar dan penuh keyakinan.


==== 


Rutinitas saya setiap pagi adalah keluar mencari jajanan. Terkadang nasi uduk, terkadang bubur ayam. Tapi karena penjual nasi uduk menaburkan irisan telur langsung dengan tangan tanpa sendok, saya jadi tidak suka melihatnya. Itu tangan kan habis megang apa belum dicuci.

Tukang bubur ayam juga begitu, mengambil suiran ayam dan kerupuknya langsung dengan tangan tanpa alat, saya jadi sungkan. Kenapa ya mereka tidak punya rasa empati kepada pembeli? Apa tidak berpikir ya kami itu merasa jijik kerupuk dan suiran ayam itu dipegang langsung. 

Makanya sekarang saya tidak mau lagi beli, lebih baik ke warung sebelah, membeli dua buah roti dua ribuan dan satu buah biskuit seribuan. Paket hemat lima ribu rupiah langsung kenyang, ngantuk, dan pagi bisa kembali terhiasi dengan badan lelah dan ketiduran. Selamat bobo.


====

Bangun tidur saya langsung membuat video, meniru para artis itu yang merekam kesehariannya sendiri untuk diposting di youtube. Sangat tidak penting, tapi saya khawatir suatu saat ini sangat penting.


Mau Betulin Hape