Air beriak tanda tak dalam, tong kosong bunyinya nyaring. Orang yang tidak punya pengetahuan biasanya banyak bicara. Sedang orang berilmu, seperti air tenang tapi menghanyutkan. Dia tenang, tapi sekali orang meloncat masuk, langsung tenggelam. Dia tidak banyak bicara tapi sekali bicara, orang tertarik sama apa yang dikatakannya dan terpengaruh.
Seperti itulah saya sewaktu sekolah. Termasuk siswa yang tidak banyak bicara. Teringat hari itu jadwal test lisan pelajaran komputer. Siswa dipanggil satu per satu ke dalam kelas, dan tiba giliran saya, si guru bertanya, "Apa yang dimaksud dengan hardware?"
Mendapat pertanyaan itu saya tidak menjawab sepatah kata pun, hanya bengong, diam, tidak menjawab apa-apa, tidak banyak bicara, dan ini sangat membanggakan, berarti saya seorang berilmu, dan lihatlah apa yang terjadi kemudian. Setelah saya diam tidak menjawab apa-apa, justru si guru yang menjawab, "Hardware adalah perangkat keras." tuh kan, tidak harus lelah memikirkan jawaban, dengan sendirinya jawaban itu keluar dari si penanya sendiri.
Selanjutnya guru itu bertanya lagi, "Apa yang disebut dengan software?"
Tapi kali ini saya mencoba menjawab dengan merujuk kepada jawaban pertama dari si guru: "Software perangkat yang tidak keras."
Mendengar itu si guru tersenyum, dan itu pertanda saya sudah melakukan hal luar biasa, membahagiakan seorang guru.
"Software itu perangkat lunak." pungkasnya,.
Meski itu bagus, orang berilmu tidak selamanya harus diam. Jika memang perlu dan dibutuhkan, dia harus bicara dan menjawab dengan ilmu yang dia punya.
Begitulah ketika dalam sebuah sesi pelajaran Bahasa Inggris, saat itu gurunya seorang gadis, belum menikah, dia mengawali pelajarannya dengan pertanyaan-pertanyan bahasa Inggris. Ketika siswa lain hanya diam, saya menjawab dengan ilmu yang saya bisa.
Dia bertanya, saya jawab, YES.
Dia bertanya lagi, saya jawab, NO.
Dia bertanya lagi, saya jawab, YES.
Dia bertanya lagi saya jawab, NO.
Mendengar itu dia berhenti bertanya, kemudian sambil menatap tajam bicara, "Dana, kalau kamu tidak suka sama saya silakan keluar!!"
Dengan panik dan gelagapan saya menjawab, "Saya suka sama ibu!"
"Tapi saya tidak suka sama kamu."
Itulah kali pertama ucapan jujur perasaan suka saya ditolak seorang wanita. Dan dari kejadian itu saya mendapatkan pelajaran, jangan pernah mengatakan suka kepada seorang guru Bahasa Inggris.
Monday, April 24, 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment