Wednesday, April 19, 2017

SETIAP PAGI TERBANGUN

Setiap pagi terbangun sambil berkata dalam hati, HARI INI SAYA HARUS BISA MENYELESAIKAN SEBUAH BUKU.

Atau kalau tidak, HARI INI SAYA HARUS KHUSYUK MENGGARAP BUKU.

Novel ang sedang saya garap harus saya teruskan dan menulisnya dengan indah, dengan senang hati, seharian ini.

Akan tetapi biasanya apa yang terjadi?

Siangnya tidak mengerjakan apa pun, pikiran kacau, malah melakukan hal lain, dan akhirnya, saya tidak menghasilkan seperti apa yang direncanakan.

Lebih banyak nonton video tidak berguna, membaca hal-hal lain yang tidak berhubungan, banyak makan, ngantuk, dan penjualan sepeser pun tidak menghasilkan.

Facebookan, posting sana posting sini, komen sana komen sini, tidak terasa siang, kemudian sore, kemudian malam, tengah malam, dan tidak terasa sampai lagi ke waktunya tidur dan belum menghasilkan apa pun yang berarti.

Seperti pagi ini, terbangun karena mau pipis, dan ketika membuka mata, maka yang teringat adalah menulis. Kemudian turun, membuka laptop, membuka facebook, menulis beberapa kalimat di blog yaitu tulisan ini, tanpa saya tahu akan menjadi karya atau tidak.

Saya menulis sudah lama sekali dan sudah menghasilkan banyak tulisan, tapi entahlah, saya tidak tahu tulisan tersebut tidak menjadi apa-apa. Tidak menjadi sebuah buku yang layak dijual. Saya tidak tahu apa sebabnya.

Lama-lama bingung mau meneruskan dengan tulisan, apa, terasa perut menjadi mulas, badan diruntuhkan ke kursi sebelah, agak lama merasakan kepala berat, kemudian saya pikir, ini mungkin perut yang mau mengeluarkan isina. Ke toilet, membuang, dan saat itu, terpikir segala macam yang membuat kepala pening rasnya. Terpikir saya yang banyak mengalami kegagalan dan belum juga menghasilkan karya, tapi pikiran itu segera saya singkirkan dan kembali mengingat untuk menikmati saja apa yang ada sekarang, tidak mengingat apa pun yang memusingkan, tapi menikmati saja ketenangan sekarang. Sekarang sedang berada di kamar mandi, tidak perlu memikirkan hal lain karena itu sangat memberatkan kepala.

Waktu shubuh datang tidak segera bersuci dan shalat, tapi terus saja main lap top, menulis blog, membuka facebook, malah sempay-sempatnya melihat artis Seng Lotta, hanya untuk memastikan mirip tidaknya dia dengan salah seorang teman saya di Tasikmalaya.

Karena handuk di lantai tiga, saya naik dulu ke sana, ke luar ke ruangan torn di bawah kanopi tempat di mana saya memasang jemuran untuk mengeringkan handuk. Mengambilnya dan turun kembali ke lantai satu untuk mandi di sana. 

Saya selalu meniatkan kepada diri sendiri untuk melakukan mandi dan wudlu dengan segera, tapi tidak. Sebelum mandi malah bercermin dulu melihat rambut yang mengembang dan acak-acakan. Ada sehelai uban di sebelah belakang, kemudian tangan tergoda untuk mencabutnya, tapi susah, dan kubatalkan, dan itu menghabiskan waktu saja. Mencabut uban itu tidak ada gunanya.

Setelah mandi, kembali naik tangga, dan selalu saya jarang naik tangga dengan tenang, selalu dengan setengah berlari, atau berjalan cepat dengan melewati beberapa anak tangga, biar segera sampai ke atas, memakai baju, dan sarung kemudian mengambil sajadah dan melaksankaan shalat shubuh. Dimulai dengan shalat sunnat, namun anehnya ingat shalat itu di awalnya saja, seterusnya, pikiran entah terbangb ke mana, tahu-tahu shalat sudah sampai ke salam dan selesai.

Wudlu seperti biasanya, dengan was-was, tidak bisa memulainya dengan lancar. Padahal tinggal membasuh muka dengan sengaja, tapi entah kenapa di bagian itu saya suka merasa berat, dan pikiran suka tiba tiba menjadi kacau. Padahal saya ingin segala sesuatunya saya lakukan dengan lancar dan penuh keyakinan.


==== 


Rutinitas saya setiap pagi adalah keluar mencari jajanan. Terkadang nasi uduk, terkadang bubur ayam. Tapi karena penjual nasi uduk menaburkan irisan telur langsung dengan tangan tanpa sendok, saya jadi tidak suka melihatnya. Itu tangan kan habis megang apa belum dicuci.

Tukang bubur ayam juga begitu, mengambil suiran ayam dan kerupuknya langsung dengan tangan tanpa alat, saya jadi sungkan. Kenapa ya mereka tidak punya rasa empati kepada pembeli? Apa tidak berpikir ya kami itu merasa jijik kerupuk dan suiran ayam itu dipegang langsung. 

Makanya sekarang saya tidak mau lagi beli, lebih baik ke warung sebelah, membeli dua buah roti dua ribuan dan satu buah biskuit seribuan. Paket hemat lima ribu rupiah langsung kenyang, ngantuk, dan pagi bisa kembali terhiasi dengan badan lelah dan ketiduran. Selamat bobo.


====

Bangun tidur saya langsung membuat video, meniru para artis itu yang merekam kesehariannya sendiri untuk diposting di youtube. Sangat tidak penting, tapi saya khawatir suatu saat ini sangat penting.


No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape