Padahal tidak seharusnya, tapi entah kenapa jika saya shalat dalam keadaan di ada Pak Isa di kantor saya suka ketakutan
Beres shalat ada panggilan, segera masuk ruangan kantor, ternyata mau rapat. Lausng duduk ke sana padahal saya kebelet pipis. Mau ke kamar mandi dulu khawatir menghambat rapat, maka langsung saja saya duduk, saya harap rapat ini pendek dan singkat.
Pak Isa membicarakan bisnis percetakan buku dari para penulis pemula, untuk menawarkan fasilitas kepada mereka. Jika naskah mereka ingin mendapatkan pengeditan ketat maka ada biaya editing, dan jika ingin mendapatkan layout menarik menambah lagi lauout. Ini sebuah pelayanan untuk membantu orang-orang, akan tetapi kita pun harus mendapatkan uang darinya.
Selesai hal itu dia sampaikan, saya kira sudah. Ternyata salah seorang peserta rapat ada yang menyampaikan rencananya melakukan pengiriman barang ke Malaysia dan ini cukup pelik karena buku yang akan dikirimkan cukup banyak. Tidak bisa dikirim hanya buku saja, tapi harus ada orang ikut ke sana. Makin panjang saja rapat. Kebelet pipis semakin mendesak-desak.
Sedang begitu, hape Pak Isa berdering, saya bahagia, berarti ada kesempatan mencuri waktu ka toilet, tapi Pak Isa terus bicara, dan hanya menoleh saja ke hapenya. Saya terus menunggu dia mengangkat hape itu dan menyebut halo, saat itulah saya akan beranjak dari kursi dan menyelesaikan desakan kebutuhan paling penting di dunia ini, dan ketika akhirnya diangkat, saya pergi, masuk toilet dan tanpa menutup pintu, saya puaskan diri dengan meluncurkan air seni ke tengah kloset, menyiram bagian airnya dan terdengar "Currrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr......."
Di luar terdengar orang tertawa-tawa. Bukannya GR tapi saya yakin sepertinya mereka membicarakan saya, dan benar saja saat keluar, semua pasang mata menatap, dan saya tersenyum saja kepada mereka, kemudian Pak Isa bicara, "Hai, kalau kencing jangan menyiram ke bagian airnya, itu suaranya terdengar jelas ke mana-mana. Masa kamu pipis orang sekantor tahu." Disebut begitu saya hanya tersenyum, dan baru sadar ternyata itu tindakan yang sangat memalukan, namun supaya saya tidak dianggap terlalu buruk saya berkata, "Oh ya ada yang kencingnya biar tidak bersuara, itu disemperotkan ke dinding." biar mereka mikir apa yang saya lakukan masih lebih baik, tapi tidak seorang pun menanggapi.
Thursday, April 20, 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment