Tangan ini menjamah pahanya kemudian kuangkat, dan kulemparkan. Itu paha manekin di gudang. Tadi saya memindahkannnya karena menghalangi jalan. Jadi teringat istri di rumah, tapi kamu tidak perlu menanyakan apa hubungannya.
Pokoknya aku jadi teringat istri di rumah. Apa jika aku hidup bersama dia setiap hari akan mendapatkan kecukupan uang dan makan seperti yang kurasakan sekarang?
Jika aku tinggal di rumah, sanggupkah aku menghidup istri dan anak?
Sanggupkah aku menghidupi istri dan anak dengan hasil dari menjual tulisan?
Aku sudah mendapatkan rumus membuat cerita yaitu, MEMBUAT KARAKTER, BERIKAN TUJUAN, KASIH RINTANGAN, KEMUDIAN BERI PENYELESAIAN, itu rumus cerita, tinggal mempraktikkannya.
Aku juga punya modal yaitu keluarga yang darinya aku bisa menuliskan kisah selama aku di rumah. Kisahku bersama istriku, berbagai drama bersamanya, berbagai percakapan bersama si nai, dan banyak hal untuk melukiskan keindahan di rumah. Semua itu bisa menjadi bahan tulisan yang bisa dibukukan yang jika ditawarkan kepada orang mungkin mereka akan penasaran, karena selama ini mereka telah mengenal tulisan saya.
Tentu saja supaya mereka percaya dengan kualitas tulisan saya, harus saya edit dulu buku yang ingin saya jual itu dengan editan keras sehingga saya sendiri sangat suka dengan tulisan saya. Istri saya suka dengan tulisan saya, dan orang lain pun suka dengan tulisan saya.
Kapankah aku akan memulainya?
Sekarang juga.
Sekarang juga saya harus mulai menggarap buku, sehingga nanti dari hasil penjualan buku ini saya sudah mempunyai modal untuk bekal saat menulis di rumah, biar sambil menulis di rumah saya sambil menerima orderan buku dari orang-orang.
Tapi buku apa yang bisa saya garap sekarang.
Saya bisa menulis tentang segala hal di sini, segala yang saya lakukan dalam keseharian dengan gaya saya sendiri tentu saja, memakai sastra. Tentang saya yang merindukan keluarga, tentang saya dan barang barang yang ada di kantor saya, tentang saya yang sehari-hari ngopi, tentang makan, tentang meja yang berantakan, apa lagi ya, tentang saya dan buku-buku, tentang kecemasan, tentang ketakutan, banyak hal bisa saya bicarakan dalam buku yang ingin saya garap.
Sesederhana apa pun moment kebersamaan dengan anak saya berusaha menuliskannya, karena itu sangat berharga. Bersama dengan dia hanya 3 hari dalam sebulan, itu pun dipotong dengan jam sekolah karena saya tidak mungkin membersamainya di kelas. Dulu pernah membersamai anak di kelas, tapi kemudian istri membahasnya di rumah karena saat di kelas saya ngobrol banyak hal dengan seorang ibu guru yang masih muda, dan si ibu guru muda itu menyampaikan apa yang saya obrolkan dengan dia kepada istri saya. Sialan!
Moment-moment sederhana di rumah langsung saya catat di iPod punya Mbak Asma Nadia yang bisa saya bawa-bawa. Saya tulis dengan singkat saja, garis besarnya, kemudian tulisan itu saya bawa ke kota dan setelah ada kesempatan, saya buka kembali dan garap menjadi cerita yang lebih panjang, sambil menghiasinya dengan candaan-candaan.
Tapi sekarang setelah sehari semalam di kantor, jauh dari keluarga, saya merasa tidak ada lagi yang bisa saya tuliskan. Tidak ada lagi kebersamaan dengan si nai dan percakapan dengannya yang menarik buat saya tuliskan, tidak ada lagi kebersamaan dengan istri, jauh dari rumah dan kasurnya yang nyaman, jauh darin makanan enak masakan istri saya, jauh dari wanginya baju yang istri cuci dan setrika. Rasanya tidak ada yang bisa saya ceritakan.
Padahal sebenarnya masih ada, bahkan banyak, saya bisa menceritakan banyak hal. Din meja kerja saja banyak hal bisa saya ceritakan.
Saya bisa merenngkan botol teh yang isinya baru saja saya habiskan kemudian menuliskannya,. Siapa tahu hasil perenungan itu memberikan kesimpulan jika botol itu sebenarnya mengandung pesan perdamaian, botol itu memberikan pesan cinta, atau mungkin nasihat tentang kebahagiaan. Potongan-potongan kertas berserakan itu sebenarnya bisa diceritakan, meja kerja, gelas plastik bekas minuman, minyak wangi yang kubeli, buku harian, colokan, listrik, jika direnungkan, sebenarnya itu bisa menjadi cerita menarik yang layak dibagikan kepada orang-orang, dan supaya tulisan itu berharga saya harus bisa merenungkan filosofisnya, membahas sejarahnya, merenungkan pesan moralnya, dan cerita cerita seputar benda itu yang pernah terjadi di dunia.
Wednesday, April 19, 2017
Tuesday, April 18, 2017
PENGALAMAN PAS KERJA DI PLN
Kamu masih ingat bukan waktu itu, saat kita rasakan hidup penuh kekurangan, diam di rumah tidak menghasilkan uang, kamu meminta saya pergi. Ya sudah, saya berangkat dalam keadaan tidak tahu mau mencari kerja apa dan ke mana. Singgah ke rumah orang tua, saya curhat kepada mereka, kemudian Bapak menyarankan supaya pergi saja ke Banjar. Beberapa waktu lalu, Teh Enah, kakak sepupu saya, menceritakan di sana banyak peluang jualan sayuran. Tinggal menyediakan lapak berupa hamparan, nanti bakal ada pemasok sayur datang dan kita tinggal menunggui dan menjual. Itu laris sekali.
Saya tertarik, maka berangkatah ke sana.
=====
Buku tulis lusuh ini saya bawa ke mana-mana, ke meja kerja, ke warteg saat makan, ke tempat tidur. Sudutnya udah rampung-rampung dimakan kecoa. Di dalamnya banyak sekali gambar karya anak kecil. Gambar ayam sedang mematuk makanan, gambar jari dipasang cincin, gambar kupu-kupu, gambar ular hijau. Ini memang buku tulis bekas keponakan saya. Sebagian halamannya masih tersisa, kemudian saya manfaatkan buat menuliskan apa saja yang ingin saya tuliskan saat itu, saat masih kerja sebagai petugas tukang tagih di Perusahaan Listrik Negara.
26 Februari 2009
Catatan ini saya buat ketika masih kerja sebagai kerka PLN freelance alias tidak resmi alias bebas alias gajinya tidak menentu. Kerja di sini saya mendapatkan tugas menagih ke rumah orang-orang yang telat bayar, dan jika berhasil, saya mendapatkan komisi empat ribu rupiah dari setiap tagihan.
Teras rumah sederhana ini hanya semen tanpa keramik. TV disetel dengan volume keras, maka salam saya teriakkan dengan lebih keras.
Melihat nama, sepertinya pemilik rumah ini orang tua. Tapi setelah saya mencatat nomor Kwh listrik, seorang pemuda muncul Mungkin ini anak pemilik rumah ini, pikir saya.
Sangat kaget ketika saya menyebutkan nama yang tertera di kwitansi tagihan, dia mengaku itu adalah namanya. "Kapan mau bayar?"
"Biasa, tanggal satu." jawabnya ketus.
Tanggal satu lewat sebulan, umpat saya dalam hati. Tidak tahu malu banget orang ini, di depan pegutas PLN dia biarkan televisi menyala keras, sedang listriknya tidak mau dian bayar segera!
Saya serahkan kertas kwitansi kepadanya,
"JEBRUG!!!' suara pintu dibanting terdengar saat saya pergi meninggalkan rumah itu. Batin jadi tertekan. Kok pekerjaan saya seperti ini, menagih listrik kepada orangb yangb tidak mau bayar.
Dan lebih tertekan lagi saat menuju rumah berikutnya, naik bukit, dan karena pagi hari ini ngantuk, badan terasa lemas.
Rumah sederhana lagi yang saya datangi. Rumah seperti ini mudah ditebak, pasti pemiliknya akan susah bayar. Dan benar saja, "Uangnya kurang, hanya sepuluh ribu rupiah." katanya beralasan, sedangkan di kertas kwitansi tertulis delapan belas ribu rupiah.
Seterusnya dari rumah ke rumah saya berjalan tanpa hasil. Kertas masih banyak, dan jarak dari rumah ke rumah sangat jauh, jalannya terjal-terjal, tinggi-tinggi. Seorang ibu yang ditanya menunjuk rumah Pak Dahuri di belakang madrasah.
Saya berjalan ke sana tanpa harapan, tanpa semangat. Berjalan hanya sebatas menunaikan kewajiban seorang suami yang mempunyai kewajiban menghidupi istrinya di rumah. Ketika sampai, tampak seorang kakek jompo ditemani istrinya yang juga sudah tua tengah duduk di bangku kayu. Orang-orang semacam ini selain susah bayar, pasti akan susah ditanya karena pendengarannya sudah mulai berkurang. Setelah dekat, benar saja tampak telinga si kakek tinggal dua.
Maka saya datang ke sana tanpa permisi dan langsung saja melihat kwh listrik, mencatat nomor.
"Berapa yang harus dibayar semuanya?" tanpa diduga si nenek bertanya.
Saya sebutkan sejumlah uang, dan si nenek masuk rumah mengambil uang dan saat keluar, sambil menyerahkan uang dia berkata, "Tuh, rambutan metik!"
Tadi saat datang ke sini tidak kelihatan pohon rambutannya berbuah. Sekarang setelah diberitahu saya teliti, ternyata di ujung ranting-ranting banyak buah bergelayutan. Setahu saya buah dari rambutan dengan pohon tinggi begini rasanya kecut, selain dagingnya pun susah lepas dari biji, jenis rambutan yang bahkan kampret pun sungkan mencurinya. Sebenarnya enggan memetiknya, tapi lumayan buat hiburan mulut.
"Enak?" tanya saya dengan kurang ajarnya. Saya itu mau diberi bukan harus membeli, pake nanya enak dan tidaknya segala.
"Enak, tuh metik aja!" suruh Si Kakek, "Pake bambu metiknya. Tuh." dia menunjuk ke samping rumah.
Dan rambutan itu sangat mudah dipetik. Cukup ujung bambu dijepitkan, diputar sekali, rantingnya langsung patah. Baru sekali petik, penasaran langsung saya coba pencet sebiji, keluar biah putih lonjong dari dalamnya. Disantap ternyata manis dan tidak lengket dengan bijinya. Bisa dipisah.
Maka segala pikiran buruk tadi berubah total. Perjalanan hidup selalu tak terduga. Kakek nenek ini ternyata masih normal, pendengarannya masih baik, dan berbeda dari yang lain, dia dengan sangat mudah membayar dan juga baik hati sekali, membolehkan memetik rambutannya.
Ketika saya duduk di teras menelan satu persatu buah, si kakek menyuruh memetik lagi. Tidak saya sia-siakan, langsung memetika lagi, merasa terlalu banyak, memetik saya hentikan, tapi si kakek masih menyuruh,. Si Nenek ambil keresek besar, dan kini Eno teman kerja saya meneruskan memetik, sampai sekeresek besar itu penuh sekali rambutan.
Dalam sekali terima kasih saya ucapkan.
"Kalau punya cucu, mungkin cucunya pun diberikan." ucap saya ceplas ceplos pada Eno.
Si Nenek ternyata menderngar, "Oh memang ada, dia sering manggung."
Kemudian dengan bangga si nenek menceritakan cucunya. Dalam kepala saya terbayang lenggak-lenggok seorang gadis berjoget sambil menyanyi dangdut. Saya hanya tertawa dalam hati. Seberapa banyak sih laki-laki yang benar-benar berselera pada perempuan pedandut.
Sekeresek besar rambutan berhasil saya gondol dari pasangan orang tua ini.
"Ada juga ya orang yang sudah mah dia mau bayar, mau pula dia memberi."
Tiba-tiba rute perjalanan di depan ini menjadi sangat menyenangkan. Jalan kamung turun memanjang, mengitari perkebunan karet. Pemandangan baru bagi saya di hari-hari ini. Allah Maha tahu pada sifat cepat bosan manusia, menjadikan dari hari ke hari kehidupan saya tidak sama, terus unik dan berbeda. Jalan kampung yang berbeda dari kampung saya. Di sini jalan kampung bahkan dihotmik seperti jalan kota, dan di suatu cabang jalan, dua ekor anjing hampir tertabrak motor kami.
* * *
Apa yang kulakukan malam harinya di sana?
Tidak seperti di rumah yang malas shalat ke masjid, di Kota Banjar ini pergi ke masjid terus, karena shalat di rumah suasananya kurang mendukung. TV menyala nyaris sepanjang hari sampai malam.
Malam jumat ini anak-anak ramai berdatangan. Seorang kakek datang ke masjid sebelum isya. Berkali-kali dia tanyakan berapa menit lagi ke waktu Isya. Sengaja dia datang ke sini sebab malam ini di mesjid ini akan ada pengajian. Tampaknya dia sudah tak sabar ingin segera waktu isya.
Sama dengan saya yang juga tidak sabar, ingin segera masuk waktu isya. Bahan peledak sudah sangat berdesakan di dalam pantat, telah agak lama kentut ini ditahan. Malas wudlu lagi. Tibanya waktu isya terasa begitu lama.
Waktu Isya datang setelah shalat. Rasanya ingin pulang saja. Ngantuk, tadi siang makan kangkung Tapi kabarnya, pengajian di sini biasa bagi-bagi snack, jadis ayang bila saya tak mendapatkanna. Parah, selera rendah.
Di samping itu ada penasaran lainnya, kalau penceramahnya menyenangkan, lumayan ilmu saya bertambah. Maka saat pengajian saya antusias, "Tapi bagaimana dengan sumbangan ke Palestina, lalu dijadikan iklan di TV untuk kampanye partai?"
"Oh, itu sedekah disalahgunakan, tidak boleh."
Dan interaksi tanya jawab itu membuat kepala ini kembali segar, saya pandang sekali lagi memastikan bahwa, nggak mungkin ikut memikirkan pertanyaan saya. Karena jelas-jelas di TV di muskim kampanye ini, kebaikan-kebaikan dikamera dan disiarkan untuk menarik simpati rakyat.
* * *
Rumah Teh Enah sangat ribut. Malam di kamar mau tidur tidak bisa tenang. Suara sinetron terdengar memenuhi rumah. Sekarang saya sedang terbaring tidur di kamar, di atas kasur keras saya mencari-cari sisi nikmat tinggal di sini. Mencari sisi nikmat dari terganggunnya tidur oleh suara TV di depan kamar.
Sineteron sedang berlangsung.
Sambil memandang pulau pada dinding kamar yang terbentuk dari kelupasan-kelupasan tembok, saya dengarkan baik-baik dialog dalam sinetron itu. Dibayangkan seolah-olah itu sandiwara radio yang dulu sering saya tunggu dan setia saya nikmati dari radio bapak mertua. Ternyata menyenangkan, Dari ucapan ke ucapan tokohnya, sambung menyambung, imajinasi saya bermain, membayangkan orang dengan raut wajahnya saat mengucapkan sebuah kata. Sangat menyenangkan.
Ribut suara TV malah menjadi sebuah kesenangan, membawaku kepada kenangan indah, yang hasilnya, kasur keras terasa menjadi sangat empuk.
* * *
Di rumah Teteh ini lantai kotor, tumpukan cucian dibiarkan. Sampah di halaman ditolelir, tidak ada paksaan pada anak-anak untuk bersih-bersih. Tapi orang tua berbuat yang terpenting, memenuhi kebutuhan mereka.
Ini membuat saya merasa betah dan merdeka tinggal di sini. Berbuat berbuat berdasarkan inisiatif dan kebebasan memilih. Kerja cara ini lebih bersemangat daripada disuruh-suduh.
Saya tertarik, maka berangkatah ke sana.
=====
Buku tulis lusuh ini saya bawa ke mana-mana, ke meja kerja, ke warteg saat makan, ke tempat tidur. Sudutnya udah rampung-rampung dimakan kecoa. Di dalamnya banyak sekali gambar karya anak kecil. Gambar ayam sedang mematuk makanan, gambar jari dipasang cincin, gambar kupu-kupu, gambar ular hijau. Ini memang buku tulis bekas keponakan saya. Sebagian halamannya masih tersisa, kemudian saya manfaatkan buat menuliskan apa saja yang ingin saya tuliskan saat itu, saat masih kerja sebagai petugas tukang tagih di Perusahaan Listrik Negara.
26 Februari 2009
Catatan ini saya buat ketika masih kerja sebagai kerka PLN freelance alias tidak resmi alias bebas alias gajinya tidak menentu. Kerja di sini saya mendapatkan tugas menagih ke rumah orang-orang yang telat bayar, dan jika berhasil, saya mendapatkan komisi empat ribu rupiah dari setiap tagihan.
Teras rumah sederhana ini hanya semen tanpa keramik. TV disetel dengan volume keras, maka salam saya teriakkan dengan lebih keras.
Melihat nama, sepertinya pemilik rumah ini orang tua. Tapi setelah saya mencatat nomor Kwh listrik, seorang pemuda muncul Mungkin ini anak pemilik rumah ini, pikir saya.
Sangat kaget ketika saya menyebutkan nama yang tertera di kwitansi tagihan, dia mengaku itu adalah namanya. "Kapan mau bayar?"
"Biasa, tanggal satu." jawabnya ketus.
Tanggal satu lewat sebulan, umpat saya dalam hati. Tidak tahu malu banget orang ini, di depan pegutas PLN dia biarkan televisi menyala keras, sedang listriknya tidak mau dian bayar segera!
Saya serahkan kertas kwitansi kepadanya,
"JEBRUG!!!' suara pintu dibanting terdengar saat saya pergi meninggalkan rumah itu. Batin jadi tertekan. Kok pekerjaan saya seperti ini, menagih listrik kepada orangb yangb tidak mau bayar.
Dan lebih tertekan lagi saat menuju rumah berikutnya, naik bukit, dan karena pagi hari ini ngantuk, badan terasa lemas.
Rumah sederhana lagi yang saya datangi. Rumah seperti ini mudah ditebak, pasti pemiliknya akan susah bayar. Dan benar saja, "Uangnya kurang, hanya sepuluh ribu rupiah." katanya beralasan, sedangkan di kertas kwitansi tertulis delapan belas ribu rupiah.
Seterusnya dari rumah ke rumah saya berjalan tanpa hasil. Kertas masih banyak, dan jarak dari rumah ke rumah sangat jauh, jalannya terjal-terjal, tinggi-tinggi. Seorang ibu yang ditanya menunjuk rumah Pak Dahuri di belakang madrasah.
Saya berjalan ke sana tanpa harapan, tanpa semangat. Berjalan hanya sebatas menunaikan kewajiban seorang suami yang mempunyai kewajiban menghidupi istrinya di rumah. Ketika sampai, tampak seorang kakek jompo ditemani istrinya yang juga sudah tua tengah duduk di bangku kayu. Orang-orang semacam ini selain susah bayar, pasti akan susah ditanya karena pendengarannya sudah mulai berkurang. Setelah dekat, benar saja tampak telinga si kakek tinggal dua.
Maka saya datang ke sana tanpa permisi dan langsung saja melihat kwh listrik, mencatat nomor.
"Berapa yang harus dibayar semuanya?" tanpa diduga si nenek bertanya.
Saya sebutkan sejumlah uang, dan si nenek masuk rumah mengambil uang dan saat keluar, sambil menyerahkan uang dia berkata, "Tuh, rambutan metik!"
Tadi saat datang ke sini tidak kelihatan pohon rambutannya berbuah. Sekarang setelah diberitahu saya teliti, ternyata di ujung ranting-ranting banyak buah bergelayutan. Setahu saya buah dari rambutan dengan pohon tinggi begini rasanya kecut, selain dagingnya pun susah lepas dari biji, jenis rambutan yang bahkan kampret pun sungkan mencurinya. Sebenarnya enggan memetiknya, tapi lumayan buat hiburan mulut.
"Enak?" tanya saya dengan kurang ajarnya. Saya itu mau diberi bukan harus membeli, pake nanya enak dan tidaknya segala.
"Enak, tuh metik aja!" suruh Si Kakek, "Pake bambu metiknya. Tuh." dia menunjuk ke samping rumah.
Dan rambutan itu sangat mudah dipetik. Cukup ujung bambu dijepitkan, diputar sekali, rantingnya langsung patah. Baru sekali petik, penasaran langsung saya coba pencet sebiji, keluar biah putih lonjong dari dalamnya. Disantap ternyata manis dan tidak lengket dengan bijinya. Bisa dipisah.
Maka segala pikiran buruk tadi berubah total. Perjalanan hidup selalu tak terduga. Kakek nenek ini ternyata masih normal, pendengarannya masih baik, dan berbeda dari yang lain, dia dengan sangat mudah membayar dan juga baik hati sekali, membolehkan memetik rambutannya.
Ketika saya duduk di teras menelan satu persatu buah, si kakek menyuruh memetik lagi. Tidak saya sia-siakan, langsung memetika lagi, merasa terlalu banyak, memetik saya hentikan, tapi si kakek masih menyuruh,. Si Nenek ambil keresek besar, dan kini Eno teman kerja saya meneruskan memetik, sampai sekeresek besar itu penuh sekali rambutan.
Dalam sekali terima kasih saya ucapkan.
"Kalau punya cucu, mungkin cucunya pun diberikan." ucap saya ceplas ceplos pada Eno.
Si Nenek ternyata menderngar, "Oh memang ada, dia sering manggung."
Kemudian dengan bangga si nenek menceritakan cucunya. Dalam kepala saya terbayang lenggak-lenggok seorang gadis berjoget sambil menyanyi dangdut. Saya hanya tertawa dalam hati. Seberapa banyak sih laki-laki yang benar-benar berselera pada perempuan pedandut.
Sekeresek besar rambutan berhasil saya gondol dari pasangan orang tua ini.
"Ada juga ya orang yang sudah mah dia mau bayar, mau pula dia memberi."
Tiba-tiba rute perjalanan di depan ini menjadi sangat menyenangkan. Jalan kamung turun memanjang, mengitari perkebunan karet. Pemandangan baru bagi saya di hari-hari ini. Allah Maha tahu pada sifat cepat bosan manusia, menjadikan dari hari ke hari kehidupan saya tidak sama, terus unik dan berbeda. Jalan kampung yang berbeda dari kampung saya. Di sini jalan kampung bahkan dihotmik seperti jalan kota, dan di suatu cabang jalan, dua ekor anjing hampir tertabrak motor kami.
* * *
Apa yang kulakukan malam harinya di sana?
Tidak seperti di rumah yang malas shalat ke masjid, di Kota Banjar ini pergi ke masjid terus, karena shalat di rumah suasananya kurang mendukung. TV menyala nyaris sepanjang hari sampai malam.
Malam jumat ini anak-anak ramai berdatangan. Seorang kakek datang ke masjid sebelum isya. Berkali-kali dia tanyakan berapa menit lagi ke waktu Isya. Sengaja dia datang ke sini sebab malam ini di mesjid ini akan ada pengajian. Tampaknya dia sudah tak sabar ingin segera waktu isya.
Sama dengan saya yang juga tidak sabar, ingin segera masuk waktu isya. Bahan peledak sudah sangat berdesakan di dalam pantat, telah agak lama kentut ini ditahan. Malas wudlu lagi. Tibanya waktu isya terasa begitu lama.
Waktu Isya datang setelah shalat. Rasanya ingin pulang saja. Ngantuk, tadi siang makan kangkung Tapi kabarnya, pengajian di sini biasa bagi-bagi snack, jadis ayang bila saya tak mendapatkanna. Parah, selera rendah.
Di samping itu ada penasaran lainnya, kalau penceramahnya menyenangkan, lumayan ilmu saya bertambah. Maka saat pengajian saya antusias, "Tapi bagaimana dengan sumbangan ke Palestina, lalu dijadikan iklan di TV untuk kampanye partai?"
"Oh, itu sedekah disalahgunakan, tidak boleh."
Dan interaksi tanya jawab itu membuat kepala ini kembali segar, saya pandang sekali lagi memastikan bahwa, nggak mungkin ikut memikirkan pertanyaan saya. Karena jelas-jelas di TV di muskim kampanye ini, kebaikan-kebaikan dikamera dan disiarkan untuk menarik simpati rakyat.
* * *
Rumah Teh Enah sangat ribut. Malam di kamar mau tidur tidak bisa tenang. Suara sinetron terdengar memenuhi rumah. Sekarang saya sedang terbaring tidur di kamar, di atas kasur keras saya mencari-cari sisi nikmat tinggal di sini. Mencari sisi nikmat dari terganggunnya tidur oleh suara TV di depan kamar.
Sineteron sedang berlangsung.
Sambil memandang pulau pada dinding kamar yang terbentuk dari kelupasan-kelupasan tembok, saya dengarkan baik-baik dialog dalam sinetron itu. Dibayangkan seolah-olah itu sandiwara radio yang dulu sering saya tunggu dan setia saya nikmati dari radio bapak mertua. Ternyata menyenangkan, Dari ucapan ke ucapan tokohnya, sambung menyambung, imajinasi saya bermain, membayangkan orang dengan raut wajahnya saat mengucapkan sebuah kata. Sangat menyenangkan.
Ribut suara TV malah menjadi sebuah kesenangan, membawaku kepada kenangan indah, yang hasilnya, kasur keras terasa menjadi sangat empuk.
* * *
Di rumah Teteh ini lantai kotor, tumpukan cucian dibiarkan. Sampah di halaman ditolelir, tidak ada paksaan pada anak-anak untuk bersih-bersih. Tapi orang tua berbuat yang terpenting, memenuhi kebutuhan mereka.
Ini membuat saya merasa betah dan merdeka tinggal di sini. Berbuat berbuat berdasarkan inisiatif dan kebebasan memilih. Kerja cara ini lebih bersemangat daripada disuruh-suduh.
HUMOR ADALAH
Tadi mas jalan mencari makan dapat inspirasi untuk membuat cerita.
Ceritanya
Suatu malam saya dirampok seorang penjahat. Gila, dia menodongkan pistol "Berikan semua barangmu! Kalau tidak, lihat ini."
Tapi saya tidak takut, paling itu pistol bohongan, maka dengan tenang saya bertanya, "Itu ada pelurunya nggak?"
Dia jawab, "Eh pake nanya! Ya ada lah, lihat ini." dia arahkan moncong pistol itu ke kepalanya, menarik pelatuk, dan "DORRRRR!!!" dia jatuh dan mati.
Buset!! Ternyata benar ada pelurunya! Saya jadi takut, maka semua barang dalam tas saya serahkan sama dia.
=====
Humor adalah melanggar logika, menghancurkan ekspektasi, dan memberikan sebuah kejutan
Ceritanya
Suatu malam saya dirampok seorang penjahat. Gila, dia menodongkan pistol "Berikan semua barangmu! Kalau tidak, lihat ini."
Tapi saya tidak takut, paling itu pistol bohongan, maka dengan tenang saya bertanya, "Itu ada pelurunya nggak?"
Dia jawab, "Eh pake nanya! Ya ada lah, lihat ini." dia arahkan moncong pistol itu ke kepalanya, menarik pelatuk, dan "DORRRRR!!!" dia jatuh dan mati.
Buset!! Ternyata benar ada pelurunya! Saya jadi takut, maka semua barang dalam tas saya serahkan sama dia.
=====
Humor adalah melanggar logika, menghancurkan ekspektasi, dan memberikan sebuah kejutan
Monday, April 17, 2017
BUNGA CENTE MANIS
Meski kata-kata ini sangat kuno dan menyebalkan, saya akan tatap menuliskannya: SAYA SANGAT MENCINTAIMU
Baru beberapa hari meninggalkan rumah, kerinduan di dada berdesakan lagi. Tapi saya laki-laki, harus tegar. Ini perjalanan saya menuju cita-cita.
Gambaran masa depan di kepala saya, hidup di kampung, di rumah menghidupimu, tak mau seperti orang lain, tak mau sama dengan tetangga-tetangga kita, saya hanya ingin di rumah, diam di kamar manghadapi laptop menulis karangan. Diam di kamar bersenang-senang dengan buku-buku, membaca-baca, namun tetap bisa menghidupimu dengan honor tulisan-tulisan saya.
Kamu tahu mpian saya impian yang selalu membuatmu tertawa dan benci. Karena kegemara saya yang satu ini tak kunjung pula menghidupi. Memang salah saya, tak pernah mengirimkannya, karena tak pernah mengetiknya, karena komputernya tak punya. Namun itulah impian yang tak mungkin saya lepaskan sampai kapan pun.
Dan saya gembira cita-cita itu masih terpegang erat sampai hari ini, sejak memproklamasikannya dulu delapan tahun lalu di depan kelas, disaksikan guru, kawan-kawan dan gemuruh deras air selokan di sebelah belakang: SAYA INGIN MENJADI PENGARANG.
Biarlah keterpisahan ini menjadi proses. Saya ingin kerja di Banjar dan tinggal di Teteh sebab di rumahnya ada komputer. Dengan komputer itu saya bisa mengarang, dan bila nanti karangan itu laku dijual dan uangnya cukup untuk membeli laptop, insya Allah saya akan pulang.
Sungguh saya sangat tak tega membayangkanmu malam-malam begini di rumah mematikan lampu-lampu rumah sendirian di kamar. Karena itu ingatlah pesan saya sebelum berangkat beberapa hari lalu: "Rawatlah bunga CENTE MANIS itu. Jangan lupa menyiramkanya bila hari tidak turun hujan. Beri lagi pupuk bila tampak pohonnya menjadi kurus dan jagalah bunga bunganya dari gangguan ulat."
Barangkali dengan cara itu kamu akan terus merasa dekat dengan saya, sebab hanya saya yang mau merawat bunga dari semak belukar itu, sedangkan orang lain meski bunga ini kelihatan sangat indah, di kampung kita tidak seorang pun di kampung kita tidak ada yang mau merawartnya.
Baru beberapa hari meninggalkan rumah, kerinduan di dada berdesakan lagi. Tapi saya laki-laki, harus tegar. Ini perjalanan saya menuju cita-cita.
Gambaran masa depan di kepala saya, hidup di kampung, di rumah menghidupimu, tak mau seperti orang lain, tak mau sama dengan tetangga-tetangga kita, saya hanya ingin di rumah, diam di kamar manghadapi laptop menulis karangan. Diam di kamar bersenang-senang dengan buku-buku, membaca-baca, namun tetap bisa menghidupimu dengan honor tulisan-tulisan saya.
Kamu tahu mpian saya impian yang selalu membuatmu tertawa dan benci. Karena kegemara saya yang satu ini tak kunjung pula menghidupi. Memang salah saya, tak pernah mengirimkannya, karena tak pernah mengetiknya, karena komputernya tak punya. Namun itulah impian yang tak mungkin saya lepaskan sampai kapan pun.
Dan saya gembira cita-cita itu masih terpegang erat sampai hari ini, sejak memproklamasikannya dulu delapan tahun lalu di depan kelas, disaksikan guru, kawan-kawan dan gemuruh deras air selokan di sebelah belakang: SAYA INGIN MENJADI PENGARANG.
Biarlah keterpisahan ini menjadi proses. Saya ingin kerja di Banjar dan tinggal di Teteh sebab di rumahnya ada komputer. Dengan komputer itu saya bisa mengarang, dan bila nanti karangan itu laku dijual dan uangnya cukup untuk membeli laptop, insya Allah saya akan pulang.
Sungguh saya sangat tak tega membayangkanmu malam-malam begini di rumah mematikan lampu-lampu rumah sendirian di kamar. Karena itu ingatlah pesan saya sebelum berangkat beberapa hari lalu: "Rawatlah bunga CENTE MANIS itu. Jangan lupa menyiramkanya bila hari tidak turun hujan. Beri lagi pupuk bila tampak pohonnya menjadi kurus dan jagalah bunga bunganya dari gangguan ulat."
Barangkali dengan cara itu kamu akan terus merasa dekat dengan saya, sebab hanya saya yang mau merawat bunga dari semak belukar itu, sedangkan orang lain meski bunga ini kelihatan sangat indah, di kampung kita tidak seorang pun di kampung kita tidak ada yang mau merawartnya.
STAND UP
Mengerjakan sesuatu itu harus dengan perlahan dan penuh ketertiban. Jangan tergesa-gesa sebab tergesa itu bisa menyebabkan kesalahan. Kecuali kalau Anda mempunyai kelihaian seperti saya. Contoh sederhananya saja memakai celana. Tadi saya memakai celana dengan lincah. Hanya dengan beberapa gerakan, celana sudah terpasang. Siap jalan ke meja kerja, terraba oleh tangan, kenapa sakunya menggantung di luar gini ya. Saya lihat, ternyata kebalik.
--------------------------
Saya ini orangnya tidak suka biasa-biasa. Tidak mau seperti orang kebanyakan. Dari dulu ingin menjadi orang luar biasa. Mau lebih hebat dari mereka. Misalnya waktu sekolah, orang lain pulang, saya ikut olah raga beladiri karate, silat, biar jadi jagoan seperti Power Ranger.
Hari itu mau ujian praktek silat, mau dinilai. Orang lain diam, santai, saya aksi-aksian di kebun samping sekolah, biar kelihatan hebat.
Kebun itu baru saja dibabat, dibersihkan dari semak belukar dan rerumputan. Tumbuhan-tumbuhan merambat masih berserakan. Saya buat tumbuhan itu jadi tali, trus diikatkan dari pohon kelapa ke pohon jambu mete. Untuk melakukan loncat tinggi. Saya akan melakukan aksi loncat tinggi pake tongkat melawan seorang teman.
Si teman ini badannya pendek. Dengan sebuah tongkat, dia mengambil ancang-ancang, lari, dan meloncat.
Sempurna! Dia bisa melewati tali dengan baik.
Hah!!! Badan saya lebih tinggi. SAYA BISA MELONCAT DENGAN LEBIH HEBAT.
Bersiap, mengambil ancang-ancang, lari, dan meloncat dengan sebuah tongkat, dan loncatan saya lebih hebat. Jadi saat melalui tali, kaki saya tersangkut. Terjerat, maka badan jatuh ke bawah tali dan kepala duluan menuju tanah. Itulah hebatnya saya. Teman saya tidak melakukan itu. Dia mah biasa-biasa.
Malah itu masih kurang hebat. Karena pas mau jatuh ke tanah itu, tangan kiri saya berusaha menahan kepala sampai sikut patah, sendi tulang nyaris lepas.
Kurang luar biasa apa coba saya? Teman saya tidak mungkin bisa melakukan itu. Anda juga yang membaca ini saya yakin tidak ada yang berani melakukannya.
Saya? Hmmmh, tidak mau meloncat biasa-biasa!
Karena patah, dibawa ke tukang urut. Besoknya, datang lagi ke sekolah dengan penampilan luar biasa! Tangan kiri dibalut kerudung emak dan digantungkan ke leher. Teman sekolah tidak ada yang pake begituan. Saya doang. Saya memang orang hebat luar biasa.
=====
Biar kelihatan gagah dan laki banget, saya mau nulis tentang politik ah.
Kekacauan perekonomian negeri ini diakibatkan pemerintah yang kurang bijak menangani permasalahan. Coba kalau saya yang jadi presiden, dijamin deh lebih amburadul.
Korupsi masih membudaya dan susah dibuang. Masih banyak pejabat senang mengambil uang yang bukan haknya. Kayaknya menyelesaikan masalah korupsi itu susah banget. Coba kalau saya jadi pejabat? Korupsi itu urusan gampang! Pasti bisa saya selesaikan. Jadi setiap kali saya mendapatkan kesempatan memegang uang, akan saya lakukan kegiatan korupsi sampai selesai.
Bagaimana mungkin saya tidak korupsi, lihat saja sekarang, jadi rakyat jelata saja suka bicara seenaknya sama orang lain, bagaimana kalau jadi pemerintah, yang merasa punya wewenang dan kekuasaan, pasti akan lebih seenaknya lagi berbicara dan bertindak pada orang lain.
Gimana, sudah bagus belum tulisan berbau politik punya saya?
Kayaknya belum ya. Belum dilengkapi istilah-istilah keren gitu. Saya coba deh.
Penyelesaian ekonomi di negeri ini semakin terdistorsi dengan reboisasi di tingkat milisi dengan musisi. Infrastruktur yang kurang memadai itu diakibatkan oleh sanitasi yang semakin membudaya di kalangan otonomi daerah. Itulah sebabnya fluktuasi keuangan negara yang kurang signifikan mengakibatkan lemahnya daya beli di tingkat marginal.
Kok makin puyeng ya?
Ada yang punya obat cacing?
SI NAI SUDAH PINTAR
Sejak SMA saya sudah mempelajari pengasuhan anak. Ini kegenitan, saat itu sudah ingin menjadi bapak. Sayangnya belum ada yang mau jadi ibu buat anak saya.
Dan butuh waktu lama untuk mencari orang yang mau. Sampai akhirnya ada seorang wanita kampung dari daerah gunung. Dia mau.
Saya menikahinya dalam keadaan tidak saling mengenal. Karena kalau dia sudah kenal saya, bahaya, bisa-bisa menolak, tidak mau menikah dengan saya. Soalnya saya dengan dia punya perbedaan yang sangat prinsipil. Dia suka pria, saya suka wanita.
Semakin besar, semakin pintar bicara, sudah bisa membaca buku, sudah bisa membaca Al-Qur'an, sudah bisa menasihati orang tua.
Kami makan bersama, dia langsung ngeh saya lupa berdoa, "Bapak kok tidak Allahumma bariklana?"
"Oh iya ya."
Setelah kencing, dia teriak dari dalam rumah, "Pak, setelahnya siram lagi ya!"dia mendekat, kemudian menceduk air, dan memberi contoh menyiramkan ke kloset, "Begini nih!!"
Dia menguap, tidak menutup mulut, dinasihati ibunya, "Nai, kalau nguap itu tutup, kalau tidak, setan bisa masuk ke mulutmu."
"Setan tuh banyaknya di mulut mamah. Suka marah-marah melulu sama Nai."
Sunday, April 16, 2017
MAIN PLANT SAMA SI NAI
Menjadi orang tua harus dewasa dan bijak. Harus pandai memilihkan permainan buat anak. Jangan terseret arus zaman dengan membiarkan anak main game di handphone, sebaliknya kenalkanlah mereka dengan permainan di alam. Contohnya saya, pulang ke rumah, mengajak anak saya yang baru berusaha 5 tahun itu bermain permainan yang bernuansa alam, yaitu "Plant and Zombie".
"Wah Pak ini lebih besar!" katanya mengagumi iPod yang saya bawa, yang sebelumnya dia main pake hape iPhone kecil.
"Dengan ini kita bisa main bareng. Bapak mengurus tanaman, Nai yang mengumpulkan mataharinya,"
"Ayo!! Asiiiiikkk!"
Sebenarnya itu cuma modus biar saya tetap bisa main game seru itu.
Saya tengkurap di lantai, dia duduk di samping. Sementara telunjuk saya sibuk bercocok tanam, telunjuk Si Nai menunggu matahari dan jika muncul langsung dia sentuh. "Krulung!!!" terdengar suara bersama tambahnya point.
Tapi mungkin karena bosan, lama-lama jari Si Nai tak hanya menyentuh matahari, tapi juga ikut-ikutan menanam. Saya jadi sebel.
"Heh!! Nai mengumpulkan matahari saja, biar Bapak yang menanam."
"Oh iya."
Zombie semakin banyak, suasana makin sibuk, akibatnya sekarang saya yang lupa. Melihat matahari banyak bermunculan, saya sentuh dengan telunjuk, dan "Krulung!!!" point bertambah.
"Matahari kan bagian Nai! Jangan sama Bapak!!"
"Itu karena Nai malah membiarkan saja tidak mengumpulkannya, jadi Bapak kumpulkan." saya mencari-cari alasan. Padahal sebenarnya lupa.
Lama-lama jadi kacau. Pembagian tugas sudah tidak jelas lagi. Tangan anak usia lima tahun, dan bapak-bapak usia kelapa tiga berlalu-lalang tak karuan. Yang menjengkelkan, kalau tangan Si Nai menyentuh sekop, lalu menyentuh tumbuhan penembak dan akibatnya jadi hilang.
Sudah cape-cape menanam sekarangb malah dihapus. Mana Zombinya sudah banyak lagi. Kalau pohon penembaknya kurang, Si Zombie bisa menyerang otak.
Dan benar saja, otak saya kena Zombie .....
"Aduh!!! Nai mah gak seru! Sudah ah Bapak mah. Silakan Nai bermain sendirian!!"
Dengan jengkel saya tinggalkan, dan membiarkannya main sendirian. Begitulah saat di rumah. Sekarang saya sudah kembali menginap di tempat kerja. Kalau ingat lagi kejadian itu sekarang, tiba-tiba menyesal. Kok saya begitu ya. Kasihan Si Nai tidak punya Bapak dewasa.
"Wah Pak ini lebih besar!" katanya mengagumi iPod yang saya bawa, yang sebelumnya dia main pake hape iPhone kecil.
"Dengan ini kita bisa main bareng. Bapak mengurus tanaman, Nai yang mengumpulkan mataharinya,"
"Ayo!! Asiiiiikkk!"
Sebenarnya itu cuma modus biar saya tetap bisa main game seru itu.
Saya tengkurap di lantai, dia duduk di samping. Sementara telunjuk saya sibuk bercocok tanam, telunjuk Si Nai menunggu matahari dan jika muncul langsung dia sentuh. "Krulung!!!" terdengar suara bersama tambahnya point.
Tapi mungkin karena bosan, lama-lama jari Si Nai tak hanya menyentuh matahari, tapi juga ikut-ikutan menanam. Saya jadi sebel.
"Heh!! Nai mengumpulkan matahari saja, biar Bapak yang menanam."
"Oh iya."
Zombie semakin banyak, suasana makin sibuk, akibatnya sekarang saya yang lupa. Melihat matahari banyak bermunculan, saya sentuh dengan telunjuk, dan "Krulung!!!" point bertambah.
"Matahari kan bagian Nai! Jangan sama Bapak!!"
"Itu karena Nai malah membiarkan saja tidak mengumpulkannya, jadi Bapak kumpulkan." saya mencari-cari alasan. Padahal sebenarnya lupa.
Lama-lama jadi kacau. Pembagian tugas sudah tidak jelas lagi. Tangan anak usia lima tahun, dan bapak-bapak usia kelapa tiga berlalu-lalang tak karuan. Yang menjengkelkan, kalau tangan Si Nai menyentuh sekop, lalu menyentuh tumbuhan penembak dan akibatnya jadi hilang.
Sudah cape-cape menanam sekarangb malah dihapus. Mana Zombinya sudah banyak lagi. Kalau pohon penembaknya kurang, Si Zombie bisa menyerang otak.
Dan benar saja, otak saya kena Zombie .....
"Aduh!!! Nai mah gak seru! Sudah ah Bapak mah. Silakan Nai bermain sendirian!!"
Dengan jengkel saya tinggalkan, dan membiarkannya main sendirian. Begitulah saat di rumah. Sekarang saya sudah kembali menginap di tempat kerja. Kalau ingat lagi kejadian itu sekarang, tiba-tiba menyesal. Kok saya begitu ya. Kasihan Si Nai tidak punya Bapak dewasa.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan ...
-
Deri mengantar gurunya belanja ke kota, membeli pakan ikan. Melewati sebuah rumah makan, Deri heran, "Guru, kenapa si bapak itu makan p...