Menjadi orang tua harus dewasa dan bijak. Harus pandai memilihkan permainan buat anak. Jangan terseret arus zaman dengan membiarkan anak main game di handphone, sebaliknya kenalkanlah mereka dengan permainan di alam. Contohnya saya, pulang ke rumah, mengajak anak saya yang baru berusaha 5 tahun itu bermain permainan yang bernuansa alam, yaitu "Plant and Zombie".
"Wah Pak ini lebih besar!" katanya mengagumi iPod yang saya bawa, yang sebelumnya dia main pake hape iPhone kecil.
"Dengan ini kita bisa main bareng. Bapak mengurus tanaman, Nai yang mengumpulkan mataharinya,"
"Ayo!! Asiiiiikkk!"
Sebenarnya itu cuma modus biar saya tetap bisa main game seru itu.
Saya tengkurap di lantai, dia duduk di samping. Sementara telunjuk saya sibuk bercocok tanam, telunjuk Si Nai menunggu matahari dan jika muncul langsung dia sentuh. "Krulung!!!" terdengar suara bersama tambahnya point.
Tapi mungkin karena bosan, lama-lama jari Si Nai tak hanya menyentuh matahari, tapi juga ikut-ikutan menanam. Saya jadi sebel.
"Heh!! Nai mengumpulkan matahari saja, biar Bapak yang menanam."
"Oh iya."
Zombie semakin banyak, suasana makin sibuk, akibatnya sekarang saya yang lupa. Melihat matahari banyak bermunculan, saya sentuh dengan telunjuk, dan "Krulung!!!" point bertambah.
"Matahari kan bagian Nai! Jangan sama Bapak!!"
"Itu karena Nai malah membiarkan saja tidak mengumpulkannya, jadi Bapak kumpulkan." saya mencari-cari alasan. Padahal sebenarnya lupa.
Lama-lama jadi kacau. Pembagian tugas sudah tidak jelas lagi. Tangan anak usia lima tahun, dan bapak-bapak usia kelapa tiga berlalu-lalang tak karuan. Yang menjengkelkan, kalau tangan Si Nai menyentuh sekop, lalu menyentuh tumbuhan penembak dan akibatnya jadi hilang.
Sudah cape-cape menanam sekarangb malah dihapus. Mana Zombinya sudah banyak lagi. Kalau pohon penembaknya kurang, Si Zombie bisa menyerang otak.
Dan benar saja, otak saya kena Zombie .....
"Aduh!!! Nai mah gak seru! Sudah ah Bapak mah. Silakan Nai bermain sendirian!!"
Dengan jengkel saya tinggalkan, dan membiarkannya main sendirian. Begitulah saat di rumah. Sekarang saya sudah kembali menginap di tempat kerja. Kalau ingat lagi kejadian itu sekarang, tiba-tiba menyesal. Kok saya begitu ya. Kasihan Si Nai tidak punya Bapak dewasa.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment