Kamu masih ingat bukan waktu itu, saat kita rasakan hidup penuh kekurangan, diam di rumah tidak menghasilkan uang, kamu meminta saya pergi. Ya sudah, saya berangkat dalam keadaan tidak tahu mau mencari kerja apa dan ke mana. Singgah ke rumah orang tua, saya curhat kepada mereka, kemudian Bapak menyarankan supaya pergi saja ke Banjar. Beberapa waktu lalu, Teh Enah, kakak sepupu saya, menceritakan di sana banyak peluang jualan sayuran. Tinggal menyediakan lapak berupa hamparan, nanti bakal ada pemasok sayur datang dan kita tinggal menunggui dan menjual. Itu laris sekali.
Saya tertarik, maka berangkatah ke sana.
=====
Buku tulis lusuh ini saya bawa ke mana-mana, ke meja kerja, ke warteg saat makan, ke tempat tidur. Sudutnya udah rampung-rampung dimakan kecoa. Di dalamnya banyak sekali gambar karya anak kecil. Gambar ayam sedang mematuk makanan, gambar jari dipasang cincin, gambar kupu-kupu, gambar ular hijau. Ini memang buku tulis bekas keponakan saya. Sebagian halamannya masih tersisa, kemudian saya manfaatkan buat menuliskan apa saja yang ingin saya tuliskan saat itu, saat masih kerja sebagai petugas tukang tagih di Perusahaan Listrik Negara.
26 Februari 2009
Catatan ini saya buat ketika masih kerja sebagai kerka PLN freelance alias tidak resmi alias bebas alias gajinya tidak menentu. Kerja di sini saya mendapatkan tugas menagih ke rumah orang-orang yang telat bayar, dan jika berhasil, saya mendapatkan komisi empat ribu rupiah dari setiap tagihan.
Teras rumah sederhana ini hanya semen tanpa keramik. TV disetel dengan volume keras, maka salam saya teriakkan dengan lebih keras.
Melihat nama, sepertinya pemilik rumah ini orang tua. Tapi setelah saya mencatat nomor Kwh listrik, seorang pemuda muncul Mungkin ini anak pemilik rumah ini, pikir saya.
Sangat kaget ketika saya menyebutkan nama yang tertera di kwitansi tagihan, dia mengaku itu adalah namanya. "Kapan mau bayar?"
"Biasa, tanggal satu." jawabnya ketus.
Tanggal satu lewat sebulan, umpat saya dalam hati. Tidak tahu malu banget orang ini, di depan pegutas PLN dia biarkan televisi menyala keras, sedang listriknya tidak mau dian bayar segera!
Saya serahkan kertas kwitansi kepadanya,
"JEBRUG!!!' suara pintu dibanting terdengar saat saya pergi meninggalkan rumah itu. Batin jadi tertekan. Kok pekerjaan saya seperti ini, menagih listrik kepada orangb yangb tidak mau bayar.
Dan lebih tertekan lagi saat menuju rumah berikutnya, naik bukit, dan karena pagi hari ini ngantuk, badan terasa lemas.
Rumah sederhana lagi yang saya datangi. Rumah seperti ini mudah ditebak, pasti pemiliknya akan susah bayar. Dan benar saja, "Uangnya kurang, hanya sepuluh ribu rupiah." katanya beralasan, sedangkan di kertas kwitansi tertulis delapan belas ribu rupiah.
Seterusnya dari rumah ke rumah saya berjalan tanpa hasil. Kertas masih banyak, dan jarak dari rumah ke rumah sangat jauh, jalannya terjal-terjal, tinggi-tinggi. Seorang ibu yang ditanya menunjuk rumah Pak Dahuri di belakang madrasah.
Saya berjalan ke sana tanpa harapan, tanpa semangat. Berjalan hanya sebatas menunaikan kewajiban seorang suami yang mempunyai kewajiban menghidupi istrinya di rumah. Ketika sampai, tampak seorang kakek jompo ditemani istrinya yang juga sudah tua tengah duduk di bangku kayu. Orang-orang semacam ini selain susah bayar, pasti akan susah ditanya karena pendengarannya sudah mulai berkurang. Setelah dekat, benar saja tampak telinga si kakek tinggal dua.
Maka saya datang ke sana tanpa permisi dan langsung saja melihat kwh listrik, mencatat nomor.
"Berapa yang harus dibayar semuanya?" tanpa diduga si nenek bertanya.
Saya sebutkan sejumlah uang, dan si nenek masuk rumah mengambil uang dan saat keluar, sambil menyerahkan uang dia berkata, "Tuh, rambutan metik!"
Tadi saat datang ke sini tidak kelihatan pohon rambutannya berbuah. Sekarang setelah diberitahu saya teliti, ternyata di ujung ranting-ranting banyak buah bergelayutan. Setahu saya buah dari rambutan dengan pohon tinggi begini rasanya kecut, selain dagingnya pun susah lepas dari biji, jenis rambutan yang bahkan kampret pun sungkan mencurinya. Sebenarnya enggan memetiknya, tapi lumayan buat hiburan mulut.
"Enak?" tanya saya dengan kurang ajarnya. Saya itu mau diberi bukan harus membeli, pake nanya enak dan tidaknya segala.
"Enak, tuh metik aja!" suruh Si Kakek, "Pake bambu metiknya. Tuh." dia menunjuk ke samping rumah.
Dan rambutan itu sangat mudah dipetik. Cukup ujung bambu dijepitkan, diputar sekali, rantingnya langsung patah. Baru sekali petik, penasaran langsung saya coba pencet sebiji, keluar biah putih lonjong dari dalamnya. Disantap ternyata manis dan tidak lengket dengan bijinya. Bisa dipisah.
Maka segala pikiran buruk tadi berubah total. Perjalanan hidup selalu tak terduga. Kakek nenek ini ternyata masih normal, pendengarannya masih baik, dan berbeda dari yang lain, dia dengan sangat mudah membayar dan juga baik hati sekali, membolehkan memetik rambutannya.
Ketika saya duduk di teras menelan satu persatu buah, si kakek menyuruh memetik lagi. Tidak saya sia-siakan, langsung memetika lagi, merasa terlalu banyak, memetik saya hentikan, tapi si kakek masih menyuruh,. Si Nenek ambil keresek besar, dan kini Eno teman kerja saya meneruskan memetik, sampai sekeresek besar itu penuh sekali rambutan.
Dalam sekali terima kasih saya ucapkan.
"Kalau punya cucu, mungkin cucunya pun diberikan." ucap saya ceplas ceplos pada Eno.
Si Nenek ternyata menderngar, "Oh memang ada, dia sering manggung."
Kemudian dengan bangga si nenek menceritakan cucunya. Dalam kepala saya terbayang lenggak-lenggok seorang gadis berjoget sambil menyanyi dangdut. Saya hanya tertawa dalam hati. Seberapa banyak sih laki-laki yang benar-benar berselera pada perempuan pedandut.
Sekeresek besar rambutan berhasil saya gondol dari pasangan orang tua ini.
"Ada juga ya orang yang sudah mah dia mau bayar, mau pula dia memberi."
Tiba-tiba rute perjalanan di depan ini menjadi sangat menyenangkan. Jalan kamung turun memanjang, mengitari perkebunan karet. Pemandangan baru bagi saya di hari-hari ini. Allah Maha tahu pada sifat cepat bosan manusia, menjadikan dari hari ke hari kehidupan saya tidak sama, terus unik dan berbeda. Jalan kampung yang berbeda dari kampung saya. Di sini jalan kampung bahkan dihotmik seperti jalan kota, dan di suatu cabang jalan, dua ekor anjing hampir tertabrak motor kami.
* * *
Apa yang kulakukan malam harinya di sana?
Tidak seperti di rumah yang malas shalat ke masjid, di Kota Banjar ini pergi ke masjid terus, karena shalat di rumah suasananya kurang mendukung. TV menyala nyaris sepanjang hari sampai malam.
Malam jumat ini anak-anak ramai berdatangan. Seorang kakek datang ke masjid sebelum isya. Berkali-kali dia tanyakan berapa menit lagi ke waktu Isya. Sengaja dia datang ke sini sebab malam ini di mesjid ini akan ada pengajian. Tampaknya dia sudah tak sabar ingin segera waktu isya.
Sama dengan saya yang juga tidak sabar, ingin segera masuk waktu isya. Bahan peledak sudah sangat berdesakan di dalam pantat, telah agak lama kentut ini ditahan. Malas wudlu lagi. Tibanya waktu isya terasa begitu lama.
Waktu Isya datang setelah shalat. Rasanya ingin pulang saja. Ngantuk, tadi siang makan kangkung Tapi kabarnya, pengajian di sini biasa bagi-bagi snack, jadis ayang bila saya tak mendapatkanna. Parah, selera rendah.
Di samping itu ada penasaran lainnya, kalau penceramahnya menyenangkan, lumayan ilmu saya bertambah. Maka saat pengajian saya antusias, "Tapi bagaimana dengan sumbangan ke Palestina, lalu dijadikan iklan di TV untuk kampanye partai?"
"Oh, itu sedekah disalahgunakan, tidak boleh."
Dan interaksi tanya jawab itu membuat kepala ini kembali segar, saya pandang sekali lagi memastikan bahwa, nggak mungkin ikut memikirkan pertanyaan saya. Karena jelas-jelas di TV di muskim kampanye ini, kebaikan-kebaikan dikamera dan disiarkan untuk menarik simpati rakyat.
* * *
Rumah Teh Enah sangat ribut. Malam di kamar mau tidur tidak bisa tenang. Suara sinetron terdengar memenuhi rumah. Sekarang saya sedang terbaring tidur di kamar, di atas kasur keras saya mencari-cari sisi nikmat tinggal di sini. Mencari sisi nikmat dari terganggunnya tidur oleh suara TV di depan kamar.
Sineteron sedang berlangsung.
Sambil memandang pulau pada dinding kamar yang terbentuk dari kelupasan-kelupasan tembok, saya dengarkan baik-baik dialog dalam sinetron itu. Dibayangkan seolah-olah itu sandiwara radio yang dulu sering saya tunggu dan setia saya nikmati dari radio bapak mertua. Ternyata menyenangkan, Dari ucapan ke ucapan tokohnya, sambung menyambung, imajinasi saya bermain, membayangkan orang dengan raut wajahnya saat mengucapkan sebuah kata. Sangat menyenangkan.
Ribut suara TV malah menjadi sebuah kesenangan, membawaku kepada kenangan indah, yang hasilnya, kasur keras terasa menjadi sangat empuk.
* * *
Di rumah Teteh ini lantai kotor, tumpukan cucian dibiarkan. Sampah di halaman ditolelir, tidak ada paksaan pada anak-anak untuk bersih-bersih. Tapi orang tua berbuat yang terpenting, memenuhi kebutuhan mereka.
Ini membuat saya merasa betah dan merdeka tinggal di sini. Berbuat berbuat berdasarkan inisiatif dan kebebasan memilih. Kerja cara ini lebih bersemangat daripada disuruh-suduh.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment