Monday, April 17, 2017

SI NAI SUDAH PINTAR

Sejak SMA saya sudah mempelajari pengasuhan anak. Ini kegenitan, saat itu sudah ingin menjadi bapak. Sayangnya belum ada yang mau jadi ibu buat anak saya.

Dan butuh waktu lama untuk mencari orang yang mau. Sampai akhirnya ada seorang wanita kampung dari daerah gunung. Dia mau.

Saya menikahinya dalam keadaan tidak saling mengenal. Karena kalau dia sudah kenal saya, bahaya, bisa-bisa menolak, tidak mau menikah dengan saya. Soalnya saya dengan dia punya perbedaan yang sangat prinsipil. Dia suka pria, saya suka wanita.

Diberikan anak cerdas itu kebahagiaan.

Semakin besar, semakin pintar bicara, sudah bisa membaca buku, sudah bisa membaca Al-Qur'an, sudah bisa menasihati orang tua.

Kami makan bersama, dia langsung ngeh saya lupa berdoa, "Bapak kok tidak Allahumma bariklana?"

"Oh iya ya." 

Setelah kencing, dia teriak dari dalam rumah, "Pak, setelahnya siram lagi ya!"dia mendekat, kemudian menceduk air, dan memberi contoh menyiramkan ke kloset, "Begini nih!!"

Dia menguap, tidak menutup mulut, dinasihati ibunya, "Nai, kalau nguap itu tutup, kalau tidak, setan bisa masuk ke mulutmu."

"Setan tuh banyaknya di mulut mamah. Suka marah-marah melulu sama Nai."

No comments:

Post a Comment

Mau Betulin Hape