Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa
Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan saja
Sekalipun berpengetahuan, kita tidak bisa menyebut diri pintar
Pengetahuan kita bisa hilang dari otak kapan saja
Malu menyebut diri pintar
Kalau memang ilmu ini punya saya kenapa tidak bisa saya gunakan sekehendak saya
Kenapa tidak bisa saya gunakan buat mendapatkan sesuatu seperti yang saya inginkan
Saya ingin banyak uang, kalau memang punya saya kenapa ilmu ini tidak bisa saya gunakan untuk mendapatkan banyak uang
Ini artinya ilmu ini bukan punya saya
Berarti sebenarnya saya bodoh, tidak tahu apa-apa.
Saya mengetahui ilmu akhlak mulia, tapi ternyata sewaktu-waktu akhlak saya tidak mulia, padahal akhlak mulia itu berat dalam timbangan amal di hari kiamat, padahal tahu nabi bersabda akhlak mulia itu ciri sempurnanya keimanan seseorang, tapi kenapa saya masih saja suka melakukan akhlak yang tidak mulia, kenapa pengetahuan tentang akhlak tidak menjadikan saya seorang seperti yang saya inginkan?
Ini berarti sebenarnya saya bodoh.
Jadi betapa sangat memalukannya jika saya mengaku diri pintar, alangkah memalukannya jika saya mengaku diri cerdas
Kalau memang pintar, kenapa tidak bisa menjadi kaya, kenapa tidak bisa menghasilkan uang banyak, kenapa tidak bisa menjadi orang mulia, kenapa tidak bisa menolong orang sebanyak mungkin,
Friday, March 24, 2017
GAMPANGAN
Ada orang yang menginginkan dunia segera kiamat, ada juga yang ingin dunia tetap kuat
Ada orang yang berusaha mempertahankan hubungan, ada juga yang mudah sekali memutuskan
Ada orang yang berusaha mempertahankan kehidupan, ada juga orang berusaha mempercepat kematian
Ada masalah sedikit, begitu mudahnya bilang, SUDAH KITA PUTUS. Ada masalah sedikit, mudah sekali teriak, KITA CERAI!!
Ada masalah sedikit,LO GUE AND!!
Orang mudah mengatakan itu biasanya merasakan hubungan hambar, hubungan yang seperti sudah putus padahal masih nyambung, merasakan dirinya sudah mati padahal masih hidup,
Karena ucapaannya seperti itu
Tapi ada juga orang yang berusaha menghidupkan.
Seperti para ulama yang meski sudah diambil kesehatannya mereka berusaha memberika yang terbaik buat hidup, terus memperdalam ilmunya untuk mereka ajarkan demi baiknya kehidupan, maka mereka itu setelah meninggalpun masih hidup.
Maksud saya, dalam menjalani hidup jangan berusaha mati, kalau sedang menjalanin hubungan jangan gampang bicara putus,
Ada ibu hamil, begitu gampang ke bayinya berusaha menggugurkan kandungan, namun ada yang gagal dan akibatnya si bayi keluar dalam keadaan lemah dan cacat.
Jika dalam hubungan ada masalah, nikmati saja, nanti setelah melalui itu akan menemui juga masa-masa manisnya.
Jangan dulu memikirkan putus
Jika dunia masih utuh kenapa harus teriak KIAMAT!
Kiamat untuk diimani bukan untuk dijadikan bahan pengacau dan pencemas pikiran.
Kita dihidupkan ke muka bumi untuk menjadi orang bahagia, bukan untuk menjadi orang susah.
Kalau bicara yang baik-baik saja
Kalau bertindak yang baik-baik saja
Kalau tidak bisa membicarakan kebaikan lebih baik diam, dan biarkan masalah itu selesai dengan sendirinya.
Ada orang yang berusaha mempertahankan hubungan, ada juga yang mudah sekali memutuskan
Ada orang yang berusaha mempertahankan kehidupan, ada juga orang berusaha mempercepat kematian
Ada masalah sedikit, begitu mudahnya bilang, SUDAH KITA PUTUS. Ada masalah sedikit, mudah sekali teriak, KITA CERAI!!
Ada masalah sedikit,LO GUE AND!!
Orang mudah mengatakan itu biasanya merasakan hubungan hambar, hubungan yang seperti sudah putus padahal masih nyambung, merasakan dirinya sudah mati padahal masih hidup,
Karena ucapaannya seperti itu
Tapi ada juga orang yang berusaha menghidupkan.
Seperti para ulama yang meski sudah diambil kesehatannya mereka berusaha memberika yang terbaik buat hidup, terus memperdalam ilmunya untuk mereka ajarkan demi baiknya kehidupan, maka mereka itu setelah meninggalpun masih hidup.
Maksud saya, dalam menjalani hidup jangan berusaha mati, kalau sedang menjalanin hubungan jangan gampang bicara putus,
Ada ibu hamil, begitu gampang ke bayinya berusaha menggugurkan kandungan, namun ada yang gagal dan akibatnya si bayi keluar dalam keadaan lemah dan cacat.
Jika dalam hubungan ada masalah, nikmati saja, nanti setelah melalui itu akan menemui juga masa-masa manisnya.
Jangan dulu memikirkan putus
Jika dunia masih utuh kenapa harus teriak KIAMAT!
Kiamat untuk diimani bukan untuk dijadikan bahan pengacau dan pencemas pikiran.
Kita dihidupkan ke muka bumi untuk menjadi orang bahagia, bukan untuk menjadi orang susah.
Kalau bicara yang baik-baik saja
Kalau bertindak yang baik-baik saja
Kalau tidak bisa membicarakan kebaikan lebih baik diam, dan biarkan masalah itu selesai dengan sendirinya.
DAFTAR BUKU-BUKU TERBITAN ASMA NADIA
101 DOSA PENULIS PEMULA Rp. 58000
CATATAN HATI SEORANG GADIS Rp. 59000
CINTA LAKI-LAKI BIASA Rp. 59000
SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2 Rp. 64000
SAKINAH BERSAMAMU Rp. 55000
CATATAN HATI DI SETIAP DOAKU Rp. 53000
SAKINAH BERSAMAMU Rp. 55000
CINTA 2 KODI Rp. 73000
AISYAH PUTRI Rp. 49000
ANTARA CINTA DAN RIDHA UMMI Rp. 59000
ASSALAMUALAIKUM BEIJING Rp. 54000
BAD DREAM AND HOT CHOCOLATE Rp. 27000
CATATAN HATI IBUNDA, Rp. 56000
CATATAN HATI PENGANTIN Rp. 59000
CATATAN HATI YANG CEMBURU Rp. 50000
CATATAN HATI SEORANG ISTRI Rp. 55000
CINTA 2 KODI Rp. 73000
CINTA DI UJUNG SAJADAH Rp. 59000
GARA-GARA INDONESIA Rp. 42000
HUMORTIVASI Rp. 49000
JANGAN BERCERAI BUNDA Rp. 55000
KETIKA MAS GAGAH PERGI Rp 49000
MY LOVELY RIMIEES Rp. 27000
NO EXCUSE Rp. 57000
PESANTREN IMPIAN Rp, 57000
SALON KEPRIBADIAN Rp. 56000
SURGA YANG TAK DIRINDUKAN Rp. 59000
THE JILBAB TRAVELER Rp. 58000
POPULAR WANABBE Rp. 29000
Thursday, March 23, 2017
DULU INGIN PINTAR, SEKARANG INGIN JADI ORANG BODOH
Dulu saya menulis untuk mempertunjukkan kepandaian. Supaya orang lain menghargai, dan menganggap saya cerdas. Supaya orang terkagum-kagum melihat saya mempunyai pengetahuan banyak. Supaya dengan kisah yang saya sampaikan orang lain menjadi takjub, terharu dengan cerita sedih, kemudian berterima kasih dan hormat kepada saya dengan bertambahnya pengetahuan mereka.
Ternyata semua yang saya inginkan itu tidak tercapai. Saya berharap orang menghargai saya, nyatanya mereka malah membantah, dan karena tidak enak, terjadilah perdebatan. Saya tidak mau kalah dengan pendirian saya, dan orang lain pun terus mengemukakan argumentasinya. Saya ingin kelihatan lebih pandai dari orang lain, orang lain pun sama, mereka tidak mau menjadai rendah karena kalah adu argumentasi dengan saya.
Cape!
Jadi sekarang saya ingin bersenang-senang.
Dengan memamerkan kebodohan, menjadi pakar kebodohan dan pembodohan. Menampilkan diri sebagai orang bodoh dan ternyata ini sangat enak, tidak punya beban.
Saya tidak perlu takut salah saat meluncurkan tulisan, toh saya orang bodoh yang sangat layak menerima perbaikan.
Jika nanti ada orang menyebut saya tidak berpendirian, saya terima saja, namanya juga orang bodoh, tidak punya pendirian karena dia terus mencari apa yang terbaik buat hidupnya.
Dengan menjadi orang bodoh, saya bisa bergaul dengan siapa saja, saya bisa dekat dengan siapa saja, saya bisa bicara dengan siapa saja. Saya bisa berbicara dengan orang yang kerjanya membodoh-bodohkan orang lain, karena bicara dengan orang semacam itu bisa membuat saya bahagia, orang itu menyebut kesejatian saya.
Bergaul dengan orang yang senangnya menghargai orang lain apa lagi. Lebih menyenangkan.
Tuesday, March 21, 2017
SEBAGAI ORANG BODOH
Sebagai orang bodoh, saya tidak tahu strategi menulis kecuali satu, yaitu menulis seenaknya. Itu saja yang saya jalankan selama ini. Kalau ada ide, baru tuliskan. Kalau tidak ada ya diam, tidak bisa menulis apa-apa. Memaksakan berpikir keras mencari inspirsai, rasanya cape, malas, tapi alasan terpentin sebenarnya tentu saja karena: tidak bisa. Jarang sengaja mencari ide. Baru jika ide itu sendiri datang ke dalam kepala, dan ada kesempatan menuliskannya, langsung ketik ke blog, wall facebook, grup atau microsoft word. Tulisan ini idenya datang tadi mendengar hujan dan lari naik tangga buat ngangkat jemuran di lantai 3. Tiba-tiba saja ingin menulis tentang ini, tentang kebodohan saya.
Karena saya bodoh juga, maka seringkali tidak malu menuliskan kembali hasil karya orang dan menyampaikannya kepada para siswa, atau kepada ibu-ibu pengajian. Sewaktu masih suka mengisi materi kerohanian di SMA misalnya dulu, paling tidak bisa mikir sendiri, tapi pergi ke Perpustakaan Desa, membuka majalan dan membuka berita bagus di sana, kemudian sendiri duduk membaca dan menuliskan ulang sambil membumbuinya dengan candaan atau renungan.
Mikir dan menemukan sendiri bahan tulisan tidak bisa. Seperti tadi juga, ada video mampir ke whatsapp, di sela kerja nonton dan sangat menyentuh, sampai keluar air mata, terpikir, sepertinya bagus buat dituliskan, maka langsung saja tulis dan bagikan lewat social media, banyak yang suka dan share, padahal tulisan itu tersusun bukan dari kecerdasan, kepintaran, dan pengetahuan yang saya punya, justru keluar dari kebodohan dengan cara menuliskan kembali percakapan dan adegan dari video karya orang.
Nah, tulisan tentang berbagai jenis makan yang kemarin dishare ke wall facebook kemudian dilike, komen dan share banyak teman itu juga sama dihasilkan dari kebodohan. Di situ kan saya nulis macam-macam jenis makan. Ada makan teman, makan hati, makan uang haram, makan uang suap, lengkap dengan devinisinya. Tulisan itu jelas-jelas hasil memindahkan tulisan orang alias copas. Jadi ceritanya, setelah makan bakso dan membaca iklan teh botol sosro di taplak meja, saya pulang ke kantor, mencari barangkali di google ada tulisan yang sama, dan ternyata ada. Langsung saja copy dan tempel ke wall facebook dan menambahkan sedikit cerita saya sendiri saat menemukannya.
Benar-benar dihasilkan dari kebodohan, Jelasnya ibarat murid bodoh di kelas yang tidak bisa mikir sendiri buat mengisi ulan, maka dia mencontek hasil berpikir orang.
Itulah makanya saat tulisan saya bagikan, kemudian ada orang mengkritik logikanya, saya tidak bisa menjawab. Dulu sih suka membantah, sampai terjadi perdebatan panjang yang malah hanya semakin mempertunjukkan kebodohan saya. Sekarang malas, malu. Kalau ada bantahan semacam itu, lebih suka langsung menyerah. Masalahnya yaitu, tidak punya argumentasi bagus buat menjawab. Yaitu tadi sebabnya, hehehe, saya menulis bukan atas nama kecerdasan, tapi: kebodohan.
Karena saya bodoh juga, maka seringkali tidak malu menuliskan kembali hasil karya orang dan menyampaikannya kepada para siswa, atau kepada ibu-ibu pengajian. Sewaktu masih suka mengisi materi kerohanian di SMA misalnya dulu, paling tidak bisa mikir sendiri, tapi pergi ke Perpustakaan Desa, membuka majalan dan membuka berita bagus di sana, kemudian sendiri duduk membaca dan menuliskan ulang sambil membumbuinya dengan candaan atau renungan.
Mikir dan menemukan sendiri bahan tulisan tidak bisa. Seperti tadi juga, ada video mampir ke whatsapp, di sela kerja nonton dan sangat menyentuh, sampai keluar air mata, terpikir, sepertinya bagus buat dituliskan, maka langsung saja tulis dan bagikan lewat social media, banyak yang suka dan share, padahal tulisan itu tersusun bukan dari kecerdasan, kepintaran, dan pengetahuan yang saya punya, justru keluar dari kebodohan dengan cara menuliskan kembali percakapan dan adegan dari video karya orang.
Nah, tulisan tentang berbagai jenis makan yang kemarin dishare ke wall facebook kemudian dilike, komen dan share banyak teman itu juga sama dihasilkan dari kebodohan. Di situ kan saya nulis macam-macam jenis makan. Ada makan teman, makan hati, makan uang haram, makan uang suap, lengkap dengan devinisinya. Tulisan itu jelas-jelas hasil memindahkan tulisan orang alias copas. Jadi ceritanya, setelah makan bakso dan membaca iklan teh botol sosro di taplak meja, saya pulang ke kantor, mencari barangkali di google ada tulisan yang sama, dan ternyata ada. Langsung saja copy dan tempel ke wall facebook dan menambahkan sedikit cerita saya sendiri saat menemukannya.
Benar-benar dihasilkan dari kebodohan, Jelasnya ibarat murid bodoh di kelas yang tidak bisa mikir sendiri buat mengisi ulan, maka dia mencontek hasil berpikir orang.
Itulah makanya saat tulisan saya bagikan, kemudian ada orang mengkritik logikanya, saya tidak bisa menjawab. Dulu sih suka membantah, sampai terjadi perdebatan panjang yang malah hanya semakin mempertunjukkan kebodohan saya. Sekarang malas, malu. Kalau ada bantahan semacam itu, lebih suka langsung menyerah. Masalahnya yaitu, tidak punya argumentasi bagus buat menjawab. Yaitu tadi sebabnya, hehehe, saya menulis bukan atas nama kecerdasan, tapi: kebodohan.
Sunday, March 19, 2017
TIPS SUKSES MENULISA ALA DANA
Pernahkah kamu membaca aturan menulis?
Seberapa banyak aturan menulis yang bisa kamu terapkan ke dalam tulisan kamu?
Apa kamu tidak merasaka kepusingan menulis sambil terus memikirkan aturannya?
Setelah sekian banyak mempelajari teori menulis, apakah kamu benar-benar bisa menghasilkan tulisan hebat luar biasa?
Kalau tidak, mungkin sudah saatnya kamu mendengar aturan dari saya.
Aturan menulis dari saya tidak banyak, cukup satu, tapi yakinlah, dengan satu aturan ini, kamu akan menghasilkan tulisan luar biasa.
Satu aturan yang siapa pun bisa melakukanna, bahkan orang yang sebelumnya tidak pernah belajar menulis sedikit pun.
Apa aturan itu?
Aturan menulis dari saya adalah, JANGAN MENTAATI ATURAN, dan MENULISLAH SEENAKNYA!!!
Menulislah seenaknya.
Sejak saya suka menulis di social media, inilah yang terus saya dengungkan kepada siapa saja, tidak peduli mereka mendengar atau tidak, tidak peduli mereka suka atau tidak, tidak peduli mereka menerima atau tidak, saya terus berkata, cara menulis terbaik hanyalah satua, yaitu, MENULISLAH SEENAKNYA.
Diri kamu telah dilahirkan unik dan istimewa, jika malah mengikuti aturan orang lain yang belum tentu cocok buat kamu atau tidak, yang bisa jadi malah menutupi keunikan dan keluarbiasaan dirimu, menurut saya itu tindakan yang patut disayangkan.
Pernahkah melihat seekor burung yang hinggap di ranting pohon mangga. Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah sebagai burung dia harus mentaati aturan yang dibuat teman-temannya? Tidak, dia hanya menjadi burung yang taat pada ketentuan alam yang telah Allah tetapkan kepada nalurinya. Saat harus berketurunan, dia mendatangi betina kemudian melakukan perkawinan, dan saat sang betina akan bertelur, secara naluriah dia mencari rerumputan untuk membuat sarang. Mereka tidak membuat aturan apa pun yangb membuat hidupnya menjadi rumit dan susah, mereka hanya mengikuti aturan hidup yang sudah Allah ilhamkan kepada nalurinya. Mereka telah diciptakan sebagai burung bersama keluarbiasaannya, maka mareka tidak harus lelah membuat aturan hanya ingin diakui sebagai burung bersayap dan bisa terbang.
Entah kenapa kita begitu antusias mencari aturan menulis yang dibuat orang-orang. Mungkin mengira dengan aturan itu tulisan kita akan menjadi hebat luar biasa, dan diakui banyak orang, laris di pasaran. Padahal penulis yang karyanya luar biasa dan disukai banyak pembaca bukan penulis yang menghasilkan karyanya dengan meringkus diri dengan banyak aturan. Mereka, saya yakin melakukan seperti ide yang saya sampaikan, yaitu MENULIS SEENAKNYA.
Tema apa yang menurut mereka enak dibahas, maka tema itulah yang mereka tuliskan. Dengan gaya bahasa paling enak mana mereka menuliskan idenya, maka gaya bahasa itulah yang mereka gunakan. Tokoh dengan nama apa yang enak buat karakter utamanya, maka nama itulah yang mereka gunakan. Enak enak enak, asyik asyik asyik, itu saja sebenarnya pedoman mereka dalam melahirkan tulisannya.
Mereka merasakan keasyikan bercerita, mereka rasakan begitu enak jarinya menyentuh tuts keyboar untuk menuturkan kisah menarik, mendebarkan, asyik, dan luar biasa yang ada dalam kepalanya, dan mereka tuliskan terus ceritanya sampai tamat, maka jadilah hasilnya pun berupaya karya yang asyik dibaca, mendebarkan, membuat pembaca penasaran.
MENULIS SEENAKNYA berarti mengizinkan dirimu yang luar biasa terlahir menjadi sebuah karya unik berbeda dan istimewa di tengah karya-karya yang sudah ada. Tidak ada penerbit yang mau menerbitkan, tenang saja, cetak saja olehmu sendiri, dan terbitkan sendiri dengan tampilan seperti yang kamu inginkan.
Itu pun kalau ingin menjadi penulis bodoh seperti saya, tapi kalau tetap ingin menjadi penulis cerdas dan pintar, teruslah pelajari teori menulis sebanyak-banyaknya, hafalkan, dan pikirkan, semoga menghasilkan karya luar biasa, menjadi pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan.
Menjadi bebas dengan cara sendiri dan gaya sendiri, dan mengekspresikan diri sepuas puasnya, sehabis-habisnya, sesempurna-sempurnanya.
Tidak perlu memikirkan penerbit yang mensyaratkanmu ini itu, judulnya harus menarik, openingnya harus menarik, isinya harus menarik, bahasanya harus menarik, endingnya harus ada kejutan, harus memberikan sesuatu yang berharga. Tidak perlu memikirkan semua itu. Menulis mah menulis aja, sekali lagi, menulis SEENAKNYA, seenakmu! Memuntahkan semua potensi dalam dirimu tanpa harus dihambat oleh aturan yang, pembuat aturannya sendiri seringkali tidak bisa melakukan aturanya.
Saya menuliskan ini tanggal 19 sampai 20 Maret, dan tulisan ini cukup menjadi bacaan saya saja, kecuali jika memang ada orang membuka laptop dan membuka akun blogger ini, atau mungkin yang nyasar ke blog saya, boleh-boleh saja membaca. Sebab jika saya publikasikan kemudian nanti orang membaca, saya merasa ini hanya akan menjadi tulisan omong kosong penuh kesia-siaan. Cukup menjadi bacaan saya sendiri, buat diamalkan saya sendiri, dan biarlah yang tampil lebih dahulu ke depan orang lain hanya kesuksesan tulisan saya.
Baru, jika nanti orang bertanya apa rahasianya, maka tinggal saya perlihatkan saja tulisan ini.
Seberapa banyak aturan menulis yang bisa kamu terapkan ke dalam tulisan kamu?
Apa kamu tidak merasaka kepusingan menulis sambil terus memikirkan aturannya?
Setelah sekian banyak mempelajari teori menulis, apakah kamu benar-benar bisa menghasilkan tulisan hebat luar biasa?
Kalau tidak, mungkin sudah saatnya kamu mendengar aturan dari saya.
Aturan menulis dari saya tidak banyak, cukup satu, tapi yakinlah, dengan satu aturan ini, kamu akan menghasilkan tulisan luar biasa.
Satu aturan yang siapa pun bisa melakukanna, bahkan orang yang sebelumnya tidak pernah belajar menulis sedikit pun.
Apa aturan itu?
Aturan menulis dari saya adalah, JANGAN MENTAATI ATURAN, dan MENULISLAH SEENAKNYA!!!
Menulislah seenaknya.
Sejak saya suka menulis di social media, inilah yang terus saya dengungkan kepada siapa saja, tidak peduli mereka mendengar atau tidak, tidak peduli mereka suka atau tidak, tidak peduli mereka menerima atau tidak, saya terus berkata, cara menulis terbaik hanyalah satua, yaitu, MENULISLAH SEENAKNYA.
Diri kamu telah dilahirkan unik dan istimewa, jika malah mengikuti aturan orang lain yang belum tentu cocok buat kamu atau tidak, yang bisa jadi malah menutupi keunikan dan keluarbiasaan dirimu, menurut saya itu tindakan yang patut disayangkan.
Pernahkah melihat seekor burung yang hinggap di ranting pohon mangga. Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah sebagai burung dia harus mentaati aturan yang dibuat teman-temannya? Tidak, dia hanya menjadi burung yang taat pada ketentuan alam yang telah Allah tetapkan kepada nalurinya. Saat harus berketurunan, dia mendatangi betina kemudian melakukan perkawinan, dan saat sang betina akan bertelur, secara naluriah dia mencari rerumputan untuk membuat sarang. Mereka tidak membuat aturan apa pun yangb membuat hidupnya menjadi rumit dan susah, mereka hanya mengikuti aturan hidup yang sudah Allah ilhamkan kepada nalurinya. Mereka telah diciptakan sebagai burung bersama keluarbiasaannya, maka mareka tidak harus lelah membuat aturan hanya ingin diakui sebagai burung bersayap dan bisa terbang.
Entah kenapa kita begitu antusias mencari aturan menulis yang dibuat orang-orang. Mungkin mengira dengan aturan itu tulisan kita akan menjadi hebat luar biasa, dan diakui banyak orang, laris di pasaran. Padahal penulis yang karyanya luar biasa dan disukai banyak pembaca bukan penulis yang menghasilkan karyanya dengan meringkus diri dengan banyak aturan. Mereka, saya yakin melakukan seperti ide yang saya sampaikan, yaitu MENULIS SEENAKNYA.
Tema apa yang menurut mereka enak dibahas, maka tema itulah yang mereka tuliskan. Dengan gaya bahasa paling enak mana mereka menuliskan idenya, maka gaya bahasa itulah yang mereka gunakan. Tokoh dengan nama apa yang enak buat karakter utamanya, maka nama itulah yang mereka gunakan. Enak enak enak, asyik asyik asyik, itu saja sebenarnya pedoman mereka dalam melahirkan tulisannya.
Mereka merasakan keasyikan bercerita, mereka rasakan begitu enak jarinya menyentuh tuts keyboar untuk menuturkan kisah menarik, mendebarkan, asyik, dan luar biasa yang ada dalam kepalanya, dan mereka tuliskan terus ceritanya sampai tamat, maka jadilah hasilnya pun berupaya karya yang asyik dibaca, mendebarkan, membuat pembaca penasaran.
MENULIS SEENAKNYA berarti mengizinkan dirimu yang luar biasa terlahir menjadi sebuah karya unik berbeda dan istimewa di tengah karya-karya yang sudah ada. Tidak ada penerbit yang mau menerbitkan, tenang saja, cetak saja olehmu sendiri, dan terbitkan sendiri dengan tampilan seperti yang kamu inginkan.
Itu pun kalau ingin menjadi penulis bodoh seperti saya, tapi kalau tetap ingin menjadi penulis cerdas dan pintar, teruslah pelajari teori menulis sebanyak-banyaknya, hafalkan, dan pikirkan, semoga menghasilkan karya luar biasa, menjadi pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan.
Menjadi bebas dengan cara sendiri dan gaya sendiri, dan mengekspresikan diri sepuas puasnya, sehabis-habisnya, sesempurna-sempurnanya.
Tidak perlu memikirkan penerbit yang mensyaratkanmu ini itu, judulnya harus menarik, openingnya harus menarik, isinya harus menarik, bahasanya harus menarik, endingnya harus ada kejutan, harus memberikan sesuatu yang berharga. Tidak perlu memikirkan semua itu. Menulis mah menulis aja, sekali lagi, menulis SEENAKNYA, seenakmu! Memuntahkan semua potensi dalam dirimu tanpa harus dihambat oleh aturan yang, pembuat aturannya sendiri seringkali tidak bisa melakukan aturanya.
Saya menuliskan ini tanggal 19 sampai 20 Maret, dan tulisan ini cukup menjadi bacaan saya saja, kecuali jika memang ada orang membuka laptop dan membuka akun blogger ini, atau mungkin yang nyasar ke blog saya, boleh-boleh saja membaca. Sebab jika saya publikasikan kemudian nanti orang membaca, saya merasa ini hanya akan menjadi tulisan omong kosong penuh kesia-siaan. Cukup menjadi bacaan saya sendiri, buat diamalkan saya sendiri, dan biarlah yang tampil lebih dahulu ke depan orang lain hanya kesuksesan tulisan saya.
Baru, jika nanti orang bertanya apa rahasianya, maka tinggal saya perlihatkan saja tulisan ini.
Saturday, March 18, 2017
KREK!!!
Tengah malam, tidak tahu ke mana mesti menitipkan diri buat menginap, seorang pria mencari koran lalu membawanya ke tengah terminal, memasuki kawasan parkir bus, dan mencari salah satu kolong yang dirasanya aman. Kolong bus dengan hangat mesin yang masih tersisa dirasanya cukup buat menyelamatkan badan dari siksaan dingin. Sebelum mata dia pejamkan, dipeluknya ban bus besar itu dan membayangkan seakan itu istri gendut tercintanya di desa.
Dini hari, sekitar jam 02.30, seorang sopir masuk ke dalam bus, menghidupkan mobil. Ini jadwalnya jalan. Harusnya gemuruh mesin itu sedikit menyadarkan si pria dan membangunkannya, tapi tidak. Tenang saja dia tertidur. Bahkan saat gas ditekan, dan gemuruh mesin kian keras, pria di kolong bus tetap mendengkur, malah semakin keras seakan tidak mau tersaingi suara mesin bus, sampai ketika sopir memasukkan gigi, dan kakinya menekan gas buat memundurkan mobi, pria ini tetap diam, dan...
"Krekk kreekkkek!!!" ban belakang melindas.
Beberapa detik berselang, kembali
"Krekkeekkk!!! ban depan melindas, dan tanpa mau peduli apa yang telah terjadi di kolong busnya, sopir itu menjalankan mobil pergi menju lokasi naik para penumpang.
Adzan subuh terdengar. Si pria bangun, merangkak keluar dai kolong bus, hendak ke masjid, dan
"Krrekk!!!" kakinya menginjak botol plastik bekas yang tadi terlindas ban mobil angkutan di samping bus yang kolongnya dia pakai tidur.
Dini hari, sekitar jam 02.30, seorang sopir masuk ke dalam bus, menghidupkan mobil. Ini jadwalnya jalan. Harusnya gemuruh mesin itu sedikit menyadarkan si pria dan membangunkannya, tapi tidak. Tenang saja dia tertidur. Bahkan saat gas ditekan, dan gemuruh mesin kian keras, pria di kolong bus tetap mendengkur, malah semakin keras seakan tidak mau tersaingi suara mesin bus, sampai ketika sopir memasukkan gigi, dan kakinya menekan gas buat memundurkan mobi, pria ini tetap diam, dan...
"Krekk kreekkkek!!!" ban belakang melindas.
Beberapa detik berselang, kembali
"Krekkeekkk!!! ban depan melindas, dan tanpa mau peduli apa yang telah terjadi di kolong busnya, sopir itu menjalankan mobil pergi menju lokasi naik para penumpang.
Adzan subuh terdengar. Si pria bangun, merangkak keluar dai kolong bus, hendak ke masjid, dan
"Krrekk!!!" kakinya menginjak botol plastik bekas yang tadi terlindas ban mobil angkutan di samping bus yang kolongnya dia pakai tidur.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Saya lebih suka tulisan dengan bahasa ringan tapi mendalam. Tulisan-tulisan Pak Agung misalnya, di buku "Gara-Gara Indonesia" dan ...
-
Disulamnya sapu tangan itu dengan penuh penghayatan Melukis gambar rembulan Rembulan merah muda, Dan dua ekor merpati terbang di kedua sis...




























