Sebagai orang bodoh, saya tidak tahu strategi menulis kecuali satu, yaitu menulis seenaknya. Itu saja yang saya jalankan selama ini. Kalau ada ide, baru tuliskan. Kalau tidak ada ya diam, tidak bisa menulis apa-apa. Memaksakan berpikir keras mencari inspirsai, rasanya cape, malas, tapi alasan terpentin sebenarnya tentu saja karena: tidak bisa. Jarang sengaja mencari ide. Baru jika ide itu sendiri datang ke dalam kepala, dan ada kesempatan menuliskannya, langsung ketik ke blog, wall facebook, grup atau microsoft word. Tulisan ini idenya datang tadi mendengar hujan dan lari naik tangga buat ngangkat jemuran di lantai 3. Tiba-tiba saja ingin menulis tentang ini, tentang kebodohan saya.
Karena saya bodoh juga, maka seringkali tidak malu menuliskan kembali hasil karya orang dan menyampaikannya kepada para siswa, atau kepada ibu-ibu pengajian. Sewaktu masih suka mengisi materi kerohanian di SMA misalnya dulu, paling tidak bisa mikir sendiri, tapi pergi ke Perpustakaan Desa, membuka majalan dan membuka berita bagus di sana, kemudian sendiri duduk membaca dan menuliskan ulang sambil membumbuinya dengan candaan atau renungan.
Mikir dan menemukan sendiri bahan tulisan tidak bisa. Seperti tadi juga, ada video mampir ke whatsapp, di sela kerja nonton dan sangat menyentuh, sampai keluar air mata, terpikir, sepertinya bagus buat dituliskan, maka langsung saja tulis dan bagikan lewat social media, banyak yang suka dan share, padahal tulisan itu tersusun bukan dari kecerdasan, kepintaran, dan pengetahuan yang saya punya, justru keluar dari kebodohan dengan cara menuliskan kembali percakapan dan adegan dari video karya orang.
Nah, tulisan tentang berbagai jenis makan yang kemarin dishare ke wall facebook kemudian dilike, komen dan share banyak teman itu juga sama dihasilkan dari kebodohan. Di situ kan saya nulis macam-macam jenis makan. Ada makan teman, makan hati, makan uang haram, makan uang suap, lengkap dengan devinisinya. Tulisan itu jelas-jelas hasil memindahkan tulisan orang alias copas. Jadi ceritanya, setelah makan bakso dan membaca iklan teh botol sosro di taplak meja, saya pulang ke kantor, mencari barangkali di google ada tulisan yang sama, dan ternyata ada. Langsung saja copy dan tempel ke wall facebook dan menambahkan sedikit cerita saya sendiri saat menemukannya.
Benar-benar dihasilkan dari kebodohan, Jelasnya ibarat murid bodoh di kelas yang tidak bisa mikir sendiri buat mengisi ulan, maka dia mencontek hasil berpikir orang.
Itulah makanya saat tulisan saya bagikan, kemudian ada orang mengkritik logikanya, saya tidak bisa menjawab. Dulu sih suka membantah, sampai terjadi perdebatan panjang yang malah hanya semakin mempertunjukkan kebodohan saya. Sekarang malas, malu. Kalau ada bantahan semacam itu, lebih suka langsung menyerah. Masalahnya yaitu, tidak punya argumentasi bagus buat menjawab. Yaitu tadi sebabnya, hehehe, saya menulis bukan atas nama kecerdasan, tapi: kebodohan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Tidak sengaja menemukan mancing gaya baru di youtube. Dengan botol plastik bekas minuman. Pulang kampung sore, tidak sabar ingin segera pa...
-
Ketika orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam tulisan, saya berlomba menjadi yang terburuk. Ketika orang berlomba berusaha memperli...
-
Kita tidak bisa menyebut sebuah nama ketika pikiran lupa Ilmu datang ke dalam pikiran kita oleh Allah, dan Dia bisa menghilangkannya kapan...
No comments:
Post a Comment