Wednesday, January 27, 2016

ILMU MENJUAL BUKU

Pagi ini, saya membaca kartun bagus.

"How To Master The Art Of Selling"

MENGUASAI SENI MENJUAL

Ditulis Tom Hopkins, ilustrasi oleh Bob Byrne. Disajikan dalam bentuk komik, menjadikan buku ini nyaman dibaca. Sekarang, saya sedang sangat membutuhkan ilmu menjual, terutama ilmu menjual buku.

Buku ini banyak memberikan pelajaran.

Satu hal penting yang harus selalu disadari seorang penjual adalah kata-kata. Kata bisa merusak, bisa juga menghasilkan penjualan. Jadi, anggaplah kata-kata itu alat bersisi tajam yang harus dipakai dengan bijaksana.

"PELAJARI KATA KATA YANG TEPAT UNTUK DIUCAPKAN DAN CARA MENGUCAPKANNYA, DAN ANDA AKAN MAMPU MENCIPTAKAN SITUASI PENJUALAN YANG MENGUNTUNGKAN KEDUA BELAH PIHAK."

*   *   *

Sembilan kepribadian yang harus dimiliki seorang penjual.

Pertama, dia sangat bersyukur dirinya menjadi seorang penjual. Rasa syukur itu akan terpancar dari penampilan dan air muka yang saat orang melihat akan langsung tertular keceriaan.

Dua, sangat peduli kepada pembeli. Dia selalu berusaha memastikan pembeli mendapatkan keuntungan nyata dari pembelian mereka.

Tiga, berusaha memaksimalkan kemampuan dirinya dalam menjual.

Empat, hasratnya ingin menjadi kaya dengan membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

Lima, punya hasrat bergelora untuk sukses. Dia tak pernah menyerah dalam meraih tujuan, tidak peduli seberapa pun banyaknya tantangan yang dihadapi.

Enam, sadar sesadar-sadarnya dengan realita bahwa seorang penjual berpotensi gagal. Karena itu, dia selalu siap dengan kemungkinan.

Tujuh, sangat perhatian kepada pembeli secara personal, dan pandai memberikan penghargaan.

Delapan, seorang penjual tidak pernah baper dengan penolakan.

Sembilan, percaya pada pendidikan yang terus menerus. Mereka terus mempelajari teknik penjualan, mereka terus mempelajari keterampilan-keterampilan baru.

Untuk sementara, itu saja yang bisa saya sampaikan.

KISAH NASKAH BUKU YANG TERJUNGKAL

Kepada sebuah penerbit, saya pernah mengirimkan naskah, kemudian tertolak.
Ditendang, terjungkal.
Segitu sadiskah?
Tidak juga, hehe, itu cuma hiperbolis.
Inti sederhananya, tertolak.
Wajar!
Naskah saya AsJad: Asal Jadi.
Menerbitkan buku butuh pertimbangan matang. 
Bagi penerbit besar, publikasi buku bukan semata berbagi karya,
Tapi juga soal usaha.
Karena yang dicetak dalam jumlah puluh ratusan, tapi ribuan
Mereka mengeluarkan modal besar.
Desain sampul itu mahal, layout itu mahal, cetak itu mahal. 
Satu kali cetak, buku harus ribuan.
Satu kali cetak, sedikitnya bisa habis uang puluhan bahkan ratus juta
Mencetak buku begitu saja tanpa pertimbangan matang sukses di pasar sama saja bunuh diri.

Sedikit saya tahu itu setelah sungai umur menghanyutkan saya masuk lubuk penerbitan. Menjadi orang "dalam", melihat langsung naskah yang benar-benar siap diterbitkan itu seperti apa. 

Di sinilah saya benar-benar melihat, penerbitan sebuah buku itu butuh pertimbangan besar. 
Sebuah naskah harus meyakinkan, harus bagus. 
Selain bermanfaat dan pesannya kuat, harus benar-benar memikat.
Yang ketika orang memulai membaca, mereka harus tersedot ke dalam cerita. 

Dalam mengedit pun tidak asal.
Mata dituntut melotot lebar. Lebar selebar-lebarnya.
Jangan sampai satu kata pun salah.
Penyajian uraian kalimat sangat diperhatikan, hanya kalimat-kalimat bagus dan enak dibaca yang boleh bertahan. Sisanya, bagian kurang menarik yang hanya mengganggu uraian--tampa ampun, tiada maaf, bagian itu harus terjungkal, tersikat delet,  terbuang.

Misal saat mau menerbitkan "Gara-Gara Indonesia". Sebelum masuk dapur editor, buku itu cukup tebal. Untuk mendapatkan hanya materi yang menarik pembaca, sekitar seratus halaman dibuang. Bagi yang sudah punya buku ini, buku Gara-Gara Indonesia yang ada di tangan Anda sekarang--itu hasil seleksi super ketat. 

Itu bukan buku asal-asalan. Asal cetak, asal terbit, asal keluar, asal masuk pasar. Yang sekarang beredar, bukan sekedar catatan sejarah campur baur asal tulisannya panjang. Setelah Pak Agung--sebagai sarjana sejarah--sangat nikmat dalam menuliskannya, kemudian masuk dapur editor, setiap bab naskah itu diseleksi ketat. Kemudian, sekitar 100 halaman dipotong paksa. Dan yang tersisa, hanya sajian fakta sejarah yang, bukan hanya memotivasi, namun juga gurih dibaca. 

Maka siapa saja membaca buku itu akan merasakan. Banyak sekali fakta, yang padahal mungkin tidak sengaja dimaksudkan humor, tapi orang akan tertawa-tawa.

Buku lainnya "Mengejar-Ngejar Mimpi". Naskah asal lebih dari 500 halaman, 
Masuk dapur editor, kemudian 200 halaman divonis kurang menarik
Tanpa ampun, bagian itu harus terjungkal.
Sekarang yang tersisa, tinggal 312 halaman, hanya bagian yang saat dibaca, betul-betul menenggelamkan. Maka,
Naskah "Mengejar-Ngejar Mimpi" yang sekarang masuk pasar adalah buku berbahaya. Sekali orang mulai baca, dia bisa lupa. Lupa pekerjaan. Terjebak. Tak sanggup "meninggalkan" buku sebelum selesai membaca. Dan meski dia simpan karena bacaan tertunda, akan terus teringat, untuk ingin kembali dan kembali membaca kisah Dedi Padiku itu sampai selesai.

Seorang staf JNE pernah datang ke kantor. Saking menariknya buku itu, dia sampai curhat panjang menceritakan lagi banyak bagian isi buku itu yang terus membuatnya teringat-ingat. 

Naskah novel "Love Spark In Korea" wah apalagi. Mata saya sendiri menyaksikan, editing dilakukan sampai bermalam-malam, sampai bergadang-gadang. 

Sekali lagi, itu dilakukan itu karena penerbit tidak mau rugi dan merugikan.

Merugikan?
Ya, merugikan pembeli.
Jangan sampai, setelah orang korban uang, buka buku dan baca, baru satu dua halaman sudah jenuh, lalu kehilangan selera buat menyelesaikan. Akhirnya, buku yang dibelinya tidak manfaat.

Sunday, January 24, 2016

SEPOTONG COKLAT DI TANGGA

Dini hari, bangun sendirian, kerja, kemudian saat lelah, berbaring di barisan kursi samping meja bundar. Dari kolong terdengar, suara keresek plastik, seperti diseret, namun saya tengok, tidak ada apa-apa.

Siangnya, sepotong coklat di tangga yang menuju ke lantai empat. Tidak mau saya sebutkan mereknya, supaya tidak jadi iklan, tapi supaya lebih jelas, baiklah, saya sebutkan, Beng-Beng. Sudah kosong, tinggal plastiknya saja. Enak sekali coklat itu, dan beberapa menit kemudian, ketika saya berjalan menuruni tangga dari lantai tiga menuju lantai dua, di bawah barisan kursi tempat pak Agung kerja, terlirik plastik bungkus Beng-Beng juga. Saya pegang, ternyata masih ada isinya. Tapi sebagian sisi robek, kecil, pasti bekas tikus. Oh, jangan-jangan, ini Beng-Beng yang suara keresek plastiknya terdengar tadi malam, dini hari saat sendirian.

Bengbeng bekas gigitan tikus itu tidak saya buang. Tapi disimpan di atas kulkas. Khawatir, jika saya buang nanti ada orang menanyakan bengbengnya, saya punya barang bukti. Tanpa barang bukti, bisa-bisa nanti saya yang tertuduh. Menjawab dicuri tikus, tapi orang tetap berpikir, bengbeng itu dimakan olehku.

Curiga, pasti yang di tangga pun asalnya ada isinya, tapi dimakan si tikus sampai habis, dan yang ini, mungkin baru diseret tapi keburu ketahuan, jadi dia kabur ketakutan. Wah jangan-jangan banyak bengbeng lainnya. Jangan-jangan dia mencuri dari dusnya. Tapi dari mana. Tidak mungkin dari dalam kulkas. Tak mungkin tikus bisa membuka.

Desi biasanya menyimpan makanan. Saya periksa ke mejanya. Ternyata iya, di kolong satu dus tergeletak, salah satu sudutnya sudah berlubang. Bekas gigitan tikus. Aduh, sayang sekali.



Saya simpan saja di lemari.




Wah, Des, kenapa tidak disimpan di kulkas? Di sini menyimpan makanan sembarangan suka dicuri si monyong.

Oh ya, bagi yang ingin mengenal Dessy, bisa tanyakan ke akun yang menggambar lukisan ini. Silakan klik DI SINI

Saturday, January 23, 2016

LATAR SHOOTING SINETRON "GO BMX"

Kerja di Kota Depok menjadikan saya dekat dengan lokasi shooting. Seringkali mendapati mobil parkir di muka toko, dan di depannya tertulis kata "Film", para kru berkeliaran, tapi artisnya entah di mana, mungkin sudah duluan masuk Mall. Seringnya shooting sinetron "Tukang Bubur Naik Haji." pernah juga shooting sinetron "3 Semprul Mengejar Sorga" yang--kalau tidak salah, disutradarai oleh Andhika Pratama.

Tapi itu tidak terlalu berkesan. Sinetron dengan latar shooting di Mall rasanya biasa. Ada sinetron tak biasa. Go BMX yang ditayangkan MNCTV, shootingnya di tempat terbuka, yang ternyata sering saya lewati.

Berawal dari kebiasaan meluangkan waktu berolah raga. Lari melewati jalan sunyi di samping rel kereta. Pada samping jalan yang banyak penduduknya, suatu ketika saya lihat mobil bak memuat kotak listrik besar, kemudian seperangkat kamera. Seorang pria duduk memegang bundelan kertas. Tak salah, itu kertas skenario. Ini sedang shooting. Saya beranikan diri bertanya,

Shooting film apa?"

"Sinetron."

"Sinetron apa?"

"Go BMX."

Penasaran ingin melihat bintang, sekaligus proses shootingnya. Tapi berkali-kali lewat, dan melihat para kru, tak juga saya melihat. Padahal sangat penasaran. Soalnya, selain shooting di tempat terbuka, sinetron ini menjadi luar biasa karena para bintangnya bukan cuma dituntut hafal naskah, tapi juga keterampilan antraksi. Berdiri dengan sepeda, meloncat, mengejar mobil, bahkan jungkir balik, yang mana, tentu saja ini tidak bisa hanya mengandalkan trik kamera, para pemain harus betul-betul orang yang bisa.

Bintang utamanya, Okke Oktavianus memang seorang ahli. Ini bukan tipuan kamera.


Atau ini


Itu benar-benar meloncat. Ini videonya.


Beberapa kali saya cek  youtube, adakah adegan di tempat saya lewat? Tidak saya temukan juga. Tapi ketika saya buka lagi untuk ke sekian kalinya... Nah...


Itu dia, saya sering lewat di sana. Tempat itu, ya tempat itulah.

Si Udin sedang beraksi melewati besi-besi berat buat persiapan pembangunan jalan tol (3). Tempatnya persis di samping jalan tempat biasa saya lari dan lewat (2). Tuh di sana kelihatan gedung hotel di belakang DETOS, kelihatan juga sedikit bagian puncak gedung MARGO HOTEL. Bagi orang Kota Depok, atau sudah lama tinggal di sini, pasti sudah tak asing lagi dengan dua gedung itu, DETOS dan MARGO HOTEL.

Video ini saya dapatkan dari acara syukuran episode ke-50 Sinetron "Go BMX".


Menurut saya, ini salah satu kehebatan film. Seperti karya seni lainnya, film bisa mengubah tempat biasa menjadi istimewa. Ini tempat sebenarnya huh apaan. Hanya jalan samping kereta yang sering di lewati mobil pengangkut sampah, tidak jauh dari sini, berbaris rumah-rumah tukang rongsokan. Seringkali saat lewat saya harus menahan nafas karena bau bangkai tikus. Bahkan karena mau dibangun jalan tol, di tempat ini banyak besi bergelimpangan. Karena berantakannya tempat, saya sempat bertanya, apa menariknya buat dipakai latar film layar kaca?

Tapi setelah melihat tayangan ini, ternyata, tempat biasa jadi kelihatan luar biasa.

Thursday, January 21, 2016

DARI BUKU KETIKA MAS GAGAH PERGI

Dari buku novel Ketika Mas Gagah Pergi, kemudian diangkat ke layar lebar. Ini adalah hari perdana. Saya langsung menontonnya.

*   *   *

Sekalipun duduk paling pinggir itu enak, bisa dengan mudah ke luar jika ada keperluan, saya pilih duduk paling pojok. Pak Agung saya minta menempati kursi saya, dan saya menempati tempat duduknya. Semula saya memilih duduk pada kursi paling sudut tiada maksud apa-apa, selain supaya Pak Agung mudah jika nanti mau keluar. Tapi lama-lama, ternyata saya rasakan di sana tempat duduk ternyaman. Dengan duduk di sana, saya merasa bebas, tidak perlu menahan-nahan perasaan, tidak perlu malu, di harus berkali-kali mengusap air keharuan.

Sangat mengharukan, sangat mengharukan, sangat mengharukan. Cerita orang yang mendapatkan hidayah ke jalan yang benar memang sangat mengharukan. Cerita perubahan seseorang kepada jalan keshalihan memang sangat mengharukan. Saya tidak punya kata bagus selain mengharukan, sebab kalau saya ganti menjadi kata sedih sangatlah tidak tepat. Kalau tidak percaya, mari kita coba: Cerita tentang orang yang mendapatkan hidayah ke jalan yang benar sangat menyedihkan. Tuh kan, kurang enak kedengarannya. Lebih enak memilih kata, mengharukan, karena yang saya maksud adalah menyentuh perasaan, mengundang hati buat jatuh cinta.


Apa yang mengharukan adalah proses seseorang mengenal kebenaran. Sebenarnya sentral paling mengharukan adalah perubahan seorang Gita, yang begitu mencintai kakaknya, Mas Gagah. Akan tetapi pada awal kisah, bagian paling menyentuh dari perubahan terjadi pada Ibu Mas Gagah. Akting profesional Wulan Guritno, tanpa banyak bicara dia berhasil mengundang keharuan. Setelah sebelumnya dia heran kenapa anak pria satu-satunya itu berubah dari seorang hedonis gaya remaja pada umumnya menjadi sosok yang mencintai agama, ternyata perubahan itu pun berdampak pada jiwa kemanusiaannya. Gagah anaknya ini menjadi peduli pada orang pinggiran, dan saat sang ibu ikut ke sana, melihat apa saja yang selama ini anaknya lakukan, sambil berjalan perlahan, bibirnya gemetaran, mata berkaca-kaca, mendekati seorang nenek yang sedang merajut kerudung, yang diberdayakan "Sang Mas Gagah."

Ini film yang sangat indah, setelah orang menunggu begitu lama, kini mereka dapatkan sajian memuaskan. Sebuah film dengan pesan moral yang kaya, berisi keteladanan, keberanian, keshalihan, kehanifan, kecintaan kepada agama.

Film ini banyak memberikan keteladanan tentang istiqomah menjalankan sunnah. Tentang keberanian menyampaikan kebenaran walau satu ayat, seperti dicontohkan pemeran Yudi yang dengan berani dakwah di angkutan, sekalipun berkali-kali, orang-orang manampilkan wajah malas, membantah, tidak suka, Yudi tetap tersenyum dan tenang menyampaikan ceramah.

Masih banyak yang ingin saya sampaikan, tapi rasanya cape kalau harus nulis terlalun panjang. Yang jelas, film ini menjadi hebat karena diangkat dari karya hebat. Ketika Mas Gagah pergi, sampai sekarang telah menembus cetakan keenambelas. Setelah nonton filmnya, saya jadi kangen ingin membaca bukunya. Jika di film tadi hanya bisa menikmati kisahnya satu jam lebih sedikit. Bersama buku, saya bisa meresapi kata-katanya sampai kapan saja, di mana saja, mungkin di atas dak gedung, sambil tengkurap, disinari langit pagi yang mulai terang.

Itulah kesan yang saya dapatkan setelah nonton film "Ketika Mas Gagah Pergi".

Menontonnnya Anda takkan menyesal. Saya sendiri tidak menyesal. Satu-satunya penyesalan saya adalah duduk paling sudut. Padahal Pak Ardian, rekan kerja bagian manajemen berkata, kalau saja tadi duduk di dekatnya, dia punya Pop Corn yang mau dia bagi dengan saya. Aduh.

Wednesday, January 20, 2016

BUKU CATATAN HATI SEORANG ISTRI

Tidak perlu gengsi sekalipun Anda seorang laki-laki, atau seorang suami, untuk membaca buku CATATAN HATI SEORANG ISTRI, terutama bagi Anda yang ingin belajar bagaimana menyusun kisah romantis berdasarkan kisah nyata, buku ini penting dibaca. Dari buku ini, Anda bisa belajar meramu plot, mengolah kata, bagaimana mencubit rasa penasaran pembaca,

Menjadi selektor lomba menulis kisah romantis menuntut saya terus membaca cerita yang dikirimkan, Saya perhatikan, sebagian besar karya ditulis para newbie, penulis pemula seperti saya, yang masih dalam tahap belajar. Tulisan yang benar-benar menukik ke dalam perasaan hanya beberapa, padahal begitu ingin, supaya asyik membacanya, tulisan-tulisan terkirim itu benar-benar karya hasil pengeditan ketat, hasil perenungan mendalam, hasil kerja-keras penulisnya untuk memberikan karya sebaik-baiknya, namun ternyata, tulisan yang benar-benar mengayun-ayun perasaan tidak banyak, padahal saya begitu haus ingin membaca kisah demikian.

Dan dalam kehausan itu, tadi tengah malam, iseng saya mengambil sebuah buku yang jilidnya sudah terkelupas. Saya buka sembarangan, entah langsung ke halaman berapa, dan mulai membaca, kalimatnya langsung "merenggut" nyawa. Nyawa saya "ditarik" paksa ke dalam cerita, meragasukma dengan perasaan tokohnya.

CATATAN CINTA SEORANG MUALAF

"Di manakah hati seorang lelaki saat menyaksikan hancurnya kebahagiaan seorang perempuan? Saat istrinya berlari ke dalam kamar, mencoba mengunci dan melukai diri sendiri... memutuskan urat nadi agar kehidupan berhenti?"

Begitulah bunyi kalimat pembukanya. Penasaran, saya baca terus ke bawah,

"Saya berharap mengenalnya.

Seorang perempuan yang membawa kesedihannya dalam ruang maya. Sebut saja namanya Lisa. Kami bertemu, berbicara... tapi kesempatan untuk mengenal lebih dekat, tidak pernah terealisasi. Bukan karena kesibukan. Anggapan bahwa masih ada hari esok, bahwa kami masih akan bertemu dan berbagi cerita, membuat saya merasa tidak khawatir kehilangannya. Lupa bahwa fana adalah keniscayaan dalam kehidupan. Tak ada yang abadi. Tidak juga dalam persahabatan online yang terjalin."

Terus dan terus membaca dari halaman ke halaman, nah ini dia, kisah yang saya harapkan. Bahasanya tidak membosankan, ceritanya tidak pasaran, unik, beda, bikin penasaran. Romantis, unik, dan menegangkan, menjadikan kisah kisah buku ini tidak murahan.

Monday, January 18, 2016

Buku 55 Kisah Rahasia Bahagia

Rahasia kebahagiaan sering tak terduga. Semula mengira pada banyak mendapatkan, nyatanya pada banyak memberikan. Semula mengira pada santai dan diam, nyatanya pada kerja dan berkeringat.

Betul bahagia itu saat dimuliakan orang, tapi kebahagiaan lebih mendalam terasa saat memuliakan orang. Rahasia kebahagiaan itu banyak. Lewat ucap dan keteladanan, Rasulullah banyak mengajarkan.

Siapa meragukan kemuliaan Muhammad Saw, bahkan orang non muslim sekalipun banyak mengakuinya. Beliau diakui pemimpin berpengaruh terbesar. Buku 100 Tokoh Berpengaruh Dunia menempatkannya di urutan pertama.

Akan tetapi dalam kemuliaannya, beliau tak pernah segan memuliakan orang. 

Yang belum pernah mendengar, mungkin susah percaya Nabi Saw. pernah mencium tangan seorang yang, mungkin dalam pandangan awam, berprofesi rendah. Tangan tukang batu,  bukan cuma kias tapi nyata, beliau benar-benar menciumnya. 

Yaitu sepulang dari Perang Tabuk, saat mendekati Kota Madinah, pada salah satu sudut jalan, Rasulullah Saw. berjumpa seorang tukang batu, dan melihat tangannya melepuh kehitam-hitaman karena seringnya terpanggang matahari. Penuh kasih ditatapkan itu tangan dan bertanya , "Mengapa tanganmu kasar sekali?"

"Ya Rasulallah pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, kemudian belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan buat memberi nafkah keluarga, itulah sebabnya tangan ini menjadi kasar."

Tangan kasar karena mencari nafkah yang halal, betapa rasa kagum rasul berlelehan. Diambilnya tangan itu, digenggam, kemudian diciumnya seraya bersabda, "Hadza yadun la tamassaha naarun abada. Inilah tangannya yang takkan tersentuh api neraka selamanya."

Ini sebuah rahasia. Apa yang Rasulullah lakukan itu mengandung rahasia. Sepertinya membanting martabat, tapi ini sudah jadi fakta, tindakan Rasulullah tak menjadikan hina. Sebaliknya, menjadikan beliau mulia. Tindakan mengagumkannya ini, tercatat ketat dalam sejarah.

Dari tindakan Rasulullah ini pula kita belajar rahasia kebahagiaan. Saat sebagian besar kita mengira bahagia didapat dengan dihormat, diharga, dan dimulia, nyatanya rahasia bahagia terdapat pada berusaha menghormat, mengharga, dan memulia.

Buku berjudul "Tangan Yang Dicium Nabi" akan membawa Anda membongkar rahasia demi rahasia kebahagiaan, dari satu kisah ke kisah lainnya. Inilah buku dengan 55 Kisah Rahasia Bahagia.

Mau Betulin Hape