Ditendang, terjungkal.
Segitu sadiskah?
Tidak juga, hehe, itu cuma hiperbolis.
Inti sederhananya, tertolak.
Segitu sadiskah?
Tidak juga, hehe, itu cuma hiperbolis.
Inti sederhananya, tertolak.
Wajar!
Naskah saya AsJad: Asal Jadi.
Naskah saya AsJad: Asal Jadi.
Menerbitkan buku butuh pertimbangan matang.
Bagi penerbit besar, publikasi buku bukan semata berbagi karya,
Tapi juga soal usaha.
Tapi juga soal usaha.
Karena yang dicetak dalam jumlah puluh ratusan, tapi ribuan
Mereka mengeluarkan modal besar.
Desain sampul itu mahal, layout itu mahal, cetak itu mahal.
Mereka mengeluarkan modal besar.
Desain sampul itu mahal, layout itu mahal, cetak itu mahal.
Satu kali cetak, buku harus ribuan.
Satu kali cetak, sedikitnya bisa habis uang puluhan bahkan ratus juta
Mencetak buku begitu saja tanpa pertimbangan matang sukses di pasar sama saja bunuh diri.
Sedikit saya tahu itu setelah sungai umur menghanyutkan saya masuk lubuk penerbitan. Menjadi orang "dalam", melihat langsung naskah yang benar-benar siap diterbitkan itu seperti apa.
Di sinilah saya benar-benar melihat, penerbitan sebuah buku itu butuh pertimbangan besar.
Sebuah naskah harus meyakinkan, harus bagus.
Selain bermanfaat dan pesannya kuat, harus benar-benar memikat.
Yang ketika orang memulai membaca, mereka harus tersedot ke dalam cerita.
Yang ketika orang memulai membaca, mereka harus tersedot ke dalam cerita.
Dalam mengedit pun tidak asal.
Mata dituntut melotot lebar. Lebar selebar-lebarnya.
Mata dituntut melotot lebar. Lebar selebar-lebarnya.
Jangan sampai satu kata pun salah.
Penyajian uraian kalimat sangat diperhatikan, hanya kalimat-kalimat bagus dan enak dibaca yang boleh bertahan. Sisanya, bagian kurang menarik yang hanya mengganggu uraian--tampa ampun, tiada maaf, bagian itu harus terjungkal, tersikat delet, terbuang.
Misal saat mau menerbitkan "Gara-Gara Indonesia". Sebelum masuk dapur editor, buku itu cukup tebal. Untuk mendapatkan hanya materi yang menarik pembaca, sekitar seratus halaman dibuang. Bagi yang sudah punya buku ini, buku Gara-Gara Indonesia yang ada di tangan Anda sekarang--itu hasil seleksi super ketat.
Itu bukan buku asal-asalan. Asal cetak, asal terbit, asal keluar, asal masuk pasar. Yang sekarang beredar, bukan sekedar catatan sejarah campur baur asal tulisannya panjang. Setelah Pak Agung--sebagai sarjana sejarah--sangat nikmat dalam menuliskannya, kemudian masuk dapur editor, setiap bab naskah itu diseleksi ketat. Kemudian, sekitar 100 halaman dipotong paksa. Dan yang tersisa, hanya sajian fakta sejarah yang, bukan hanya memotivasi, namun juga gurih dibaca.
Maka siapa saja membaca buku itu akan merasakan. Banyak sekali fakta, yang padahal mungkin tidak sengaja dimaksudkan humor, tapi orang akan tertawa-tawa.
Buku lainnya "Mengejar-Ngejar Mimpi". Naskah asal lebih dari 500 halaman,
Masuk dapur editor, kemudian 200 halaman divonis kurang menarik
Tanpa ampun, bagian itu harus terjungkal.
Sekarang yang tersisa, tinggal 312 halaman, hanya bagian yang saat dibaca, betul-betul menenggelamkan. Maka,
Naskah "Mengejar-Ngejar Mimpi" yang sekarang masuk pasar adalah buku berbahaya. Sekali orang mulai baca, dia bisa lupa. Lupa pekerjaan. Terjebak. Tak sanggup "meninggalkan" buku sebelum selesai membaca. Dan meski dia simpan karena bacaan tertunda, akan terus teringat, untuk ingin kembali dan kembali membaca kisah Dedi Padiku itu sampai selesai.
Seorang staf JNE pernah datang ke kantor. Saking menariknya buku itu, dia sampai curhat panjang menceritakan lagi banyak bagian isi buku itu yang terus membuatnya teringat-ingat.
Naskah novel "Love Spark In Korea" wah apalagi. Mata saya sendiri menyaksikan, editing dilakukan sampai bermalam-malam, sampai bergadang-gadang.
Sekali lagi, itu dilakukan itu karena penerbit tidak mau rugi dan merugikan.
Merugikan?
Ya, merugikan pembeli.
Jangan sampai, setelah orang korban uang, buka buku dan baca, baru satu dua halaman sudah jenuh, lalu kehilangan selera buat menyelesaikan. Akhirnya, buku yang dibelinya tidak manfaat.
Ya, merugikan pembeli.
Jangan sampai, setelah orang korban uang, buka buku dan baca, baru satu dua halaman sudah jenuh, lalu kehilangan selera buat menyelesaikan. Akhirnya, buku yang dibelinya tidak manfaat.
No comments:
Post a Comment